Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Jerawat manis


__ADS_3

"Ho- Hooeeee!!!"


Teriak Nuha di kamarnya. Seketika suaranya turun mengagetkan Ibu dan Muha yang sedang sibuk di dapur lantai bawah.


"Gimana bisa aku jerawatan?!"


Ada satu jerawat merah muncul di pipi kiri Nuha. Hanya satu dan sangat menganggu. Benar-benar akan menarik perhatian.


Selesai memakai seragam dan merapikan penampilan, Nuha pun keluar kamar dan menuruni tangga. Menyapa Ibu dan kakaknya.


"Biji merah apa itu?", tanya Muha.


"Ini jerawat kakak", jawab Nuha ketus.


"Kirain biji jambu", sindir Muha.


"Gimana ini kak? Aku malu kalo temen-temenku tahu aku jerawatan"


"Baru aja satu udah kebingungan. Gimana kalo seluruh wajah", Muha semakin puas mengejek.


"Kakak!", bentak Nuha.


"Iya iya. Nih", Muha mengambilkan hansaplast yang berada di laci mini bar.


"Buat apa ini?", tanya Nuha heran.


"Buat nutup itu jerawat", ucap Muha santai.


"Oo gitu ya. Okei, bisa juga ide kakak. Aku akan menempelkannya", jawab Nuha senang.


"Dasar", Muha semakin menyeringai.


************************************


Sesampainya di sekolah. Nuha berjalan menuju kelasnya. Naru yang menggendong tas dan memakai syal pemberian dari Nuha berlari menyusulnya.


"Nuha", sapa Naru.


"Naru?", jawab Nuha.


"Kenapa pipimu?"


"Ini?"


"Iya. Kamu terluka? Ada yang melukaimu?", Naru mulai khawatir.


"Ini..", Nuha menggeleng-gelengkan kepala.


"Ayo!", Naru langsung menggandeng Nuha dan mengajaknya ke UKS. Nuha duduk di kursi ruang UKS sedangkan Naru masih terus mempertanyakannya.


"Ada apa Nuha? Siapa yang melukaimu?"


"Umm.."


"Umm?"


"Ini jerawat", jawab Nuha memalingkan matanya.


"Nuha.. Kenapa jerawat harus ditutup dengan hansaplast?", Tanya Naru heran.


"Emang gak boleh?"


"Dasar Nuha naif. Sini" Naru mulai perlahan melepas hansaplast yang telah tertempel rekat di pipi Nuha.


"Sa-sakitt", Nuha tersipu malu.


"Iya aku tau, ini juga pelan-pelan kok. Tahan dikit ya", ucap Naru ramah.


"Umm.."

__ADS_1


Naru beranjak dan mencari sesuatu di almari UKS. Dia hendak mencari acne patch untuk Nuha kesayangannya.


"Kamu mau cari apa Naru?", tanya Nuha.


"Bentar", jawabnya.


"Ini dia", Naru pun berjalan kembali kepada Nuha.


Naru membelai lembut jerawat yang nongol di pipi Nuha. Membelai terus hingga membuat Nuha terkikik geli.


"Geli Naru"


"Haha.. Gatal ya?"


"Iya", Nuha tersenyum riang.


"Membuatku semakin gemas saja", batin Naru.


"Cuph!", dia pun mengecup jerawat Nuha.


"Na-Naru!"


"Hihi..", Naru hanya nyengir tanpa rasa bersalah.


Mereka berdua pun saling melempar senyum. Naru mulai menempelkan acne patch tersebut di jerawat Nuha. Kemudian berdiri dan akan mengantarkan Nuha kembali ke kelasnya.


Tiba-tiba Nuha menggigit bibir bawahnya. Matanya sedikit terbelalak namun kemudian menjadi sayu. Tangan kanannya menarik erat baju Naru sedangkan tangan kirinya menahan perutnya yang sedang sakit.


"Gawat! Sesuatu telah datang", batin Nuha.


"Nuha ada apa?"


"Ou tidak.. semakin mengalir", keluh Nuha di dalam hati.


"Nuha?"


Nuha masih berdiam diri, terus menahan rasa sakitnya. Dia tidak ingin malu di hadapan Naru atas apa yang sedang terjadi padanya. Seorang perawat UKS akhirnya tiba.


Sejenak Perawat mencoba memahami situasi dan kondisi dari Nuha. Akhirnya dia mengerti dan meminta Naru untuk keluar ruangan dan perawat mulai menutup rapat pintu UKS.


"Ada yang datang ya?", tanya Perawat.


"I-iya", jawab Nuha masih merasa nyeri.


"Saya ambilkan bantal penghangat pereda nyeri haid dulu ya. Setelah itu kalo sudah mendingan kamu bisa ganti di kamar mandi", ucap Perawat sambil menyerahkan satu buah pembalut celana untuk Nuha.


"Iya".


Nuha terpejam sejenak merasakan hangatnya dari bantal penghangat. Tidak merasa bahwa Naru sedang menunggunya di luar ruangan. Setelah terasa membaik, Nuha membuka mata dan mulai pergi ke kamar mandi UKS.


"Terima kasih Nona perawat", ucap Nuha.


"Sama-sama", jawab Perawat tersenyum.


Nuha sudah merasa lebih baik, kemudian dia keluar ruangan. Naru ternyata masih menunggunya di luar.


"Naru?"


"Nuha? Kamu gakpapa?"


"I-iya"


"Syukurlah"


"Kenapa kamu nungguin aku Naru?"


"Karna aku khawatir sama kamu"


"Aku.. Udah gakpapa kok"

__ADS_1


"Sini", Naru melepas jaketnya dan mengikatkannya di pinggang Nuha. Merapikan dan mengaturnya sejajar lebih sedikit dengan rok belakang Nuha.


"Tapi Naru?"


"Buat jaga-jaga"


"Tapi Naruuu", Nuha mulai tersipu malu.


"Gakpapa Nuha.."


Saat hendak melangkah, Nuha sedikit oleng dan tubuhnya hampir terjatuh. Naru langsung menangkap pundak Nuha.


"Katanya udah gakpapa?", sindir Naru.


"Umm.. Rasanya gak enak banget Naru", ucap Nuha lirih.


"Aku antar pulang aja ya kalo gitu"


Naru mengambil ponselnya dan menelefon sopirnya untuk bisa segera menjemputnya. Nuha mulai lemah lagi, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Naru memapahnya sampai di muka gerbang sekolah.


"Sabar ya Nuha"


"Umm.."


Mobil pun datang dan mereka segera masuk ke dalam mobil. Naru menemani Nuha duduk di kursi belakang. Nuha akhirnya terpejam dan menjatuhkan kepalanya ke lengan Naru.


Nuha merintih menahan rasa sakitnya akibat tamu yang tidak diundang datang secara tiba-tiba. Matanya yang terpejam terus saja gemetaran.


Mobil terus melaju. Naru mengambil ponselnya dan mencari tahu di goelgoel tentang apa saja yang dibutuhkan untuk wanita yang sedang mengalami datang bulan.


Setelah ia membacanya dengan seksama, Naru membuka aplikasi online shop lokal untuk membeli barang-barang yang diperlukan. Dia harap barang tersebut segera datang saat mereka tiba di rumah Nuha.


Mobil pun berhenti di depan rumah Nuha. Muha yang hendak berangkat kerja terhenti dan menstrandarkan motornya kembali.


Muha menghampiri mobil Naru dan melihat dari balik kaca bahwa Nuha ada di dalamnya. Dia pun membuka pintu dan segera menggendong Nuha untuk dibawa masuk ke rumah.


Muha membawa Nuha naik menuju kamarnya. Menidurkannya dan meninggalkannya.


"Kakak?", tanya Nuha


Muha menoleh.


"Naru di mana?"


"Di bawah"


"Tolong jangan marahi Naru ya Kak", pinta Nuha.


"Iya", jawab Muha datang tanpai intonasi.


Muha pun turun dan menemui Naru yang sedang berdiri menunggu di teras. Muha mempersilahkan Naru masuk ke rumah.


"Ku pikir kau akan membawanya pulang lagi"


"Maafkan saya di waktu itu"


"Sudahlah"


"Jagalah dia, aku mau berangkat kerja", ucap Muha datar.


"Nanti sore luangkan waktumu. Kita bertemu di Cafe Senja", pungkasnya mengakhiri pembicaraan.


Muha yang begitu dingin dan gaya berbicaranya yang tidak ekspresif itu keluar dan mulai menghidupkan mesin motornya. Memutar gas dan pergi.


Suasana begitu hening dan sepi. Ibu Nuha juga sedang tidak di rumah, padahal baru jam delapan pagi.


Naru berjalan menuju ke sebuah papan putih kecil di dinding dekat mini bar dapur. Tulisan hitam menarik perhatiannya.


Di papan tersebut tertulis beberapa kegiatan Nuha, Muha dan Ibunya. Kegiatan di hari ini. Hari ini ternyata ibu Nuha sedang pergi ke rumah temannya untuk membantu mengurus beberapa pesanan online shop.

__ADS_1


Nuha sendiri sekolah hingga jam 4 sore. Muha kerja sampai jam setengah 5 sore.


"Jam setengah lima ya", ucap Naru.


__ADS_2