Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Kelas 12A


__ADS_3

"Asa, apa kita harus sering datang lebih awal untuk menghindari anak kembar itu", ucap Nuha sedikit tergopoh-gopoh.


"Iyap, betul!", jawab Asa yang terus menggandeng tangan Nuha berlari menuju kelas tambahan D.


"Hah hah.. Akhirnya sampai juga", Asa mengambil nafas sejenak. Nuha mulai berjalan masuk kelas, dan..


"Gedubrak!!", Nuha tersandung dan terjatuh.


"Astaga! Kamu jatuh Nuha", ucap Asa yang masih terengah-engah.


"I-iya, gara-gara gak pegangan", Nuha hanya bisa nyengir.


"Bentar ya, aku ambil nafas dulu", ucap Asa santai.


Raffy dan Rafly datang. Seketika Raffy menertawai cara Nuha terjatuh. Benar-benar sangat konyol baginya.


"Kayak anak kecil aja gampang tersandung. Hahaha..", ejek Raffy.


"Raffy! Sopan dikit donk sama cewek", sanggah Asa sambil membantu Nuha berdiri.


"Ngapain gue harus sopan sama dia. Dia aja bukan gadis baik-baik. Luarnya aja yang culun tapi hatinya, lebih cupu!!", ucap Raffy kasar.


"Apa lo bilang!", balas Nuha mendorong bahu Raffy.


"Tuh, berani kan dia!"


"Nuha?", Asa heran.


"Elonya aja cowok yang kasar", Nuha langsung menendang kaki Raffy dengan cukup keras.


"Sakit bodoh!"


"Sudah sudah, ayo cari tempat duduk", Rafly menarik tangan Raffy.


Nuha dan Asa mencari tempat duduk di barisan tengah. Sedangkan, Rafly duduk di depan Nuha. Raffy duduk di belakang.


"Eh, Elo kok duduk di depan sih Raffy", ucap Asa kesal.


"Gue bukan Raffy", jawab Rafly santai.


"Ops!!", Asa jadi sedikit sungkan menghadapi Rafly, karena dia orangnya lebih ramah dan bijak daripada Raffy.


"O-okei, ya sudahlah", imbuhnya.


"Nuha, kamu gakpapa?", tanya Asa.


"Iya gakpapa", jawab Nuha santai.


"Kamu tadi berani banget sama Raffy, aku salut deh sama kamu Nuha", puji Asa memberi jempol.


"Eh? Sa-salut. Ini gara-gara ulah Hawa", batin Nuha menundukkan kepala.


"Hihihi..", Asa hanya terkikik geli melihat Nuha yang menundukkan kepalanya karena tersipu malu. Asa sedikit memperhatikan Rafly yang berada di depan Nuha.


"Rafly lebih keren daripada Raffy", gumam Asa.


"Eh?", tiba-tiba Asa menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Ra-Rafly", panggil Asa.


"Hmm?", Rafly menoleh.


"Oh my gosh! Ganteng sekali dia", batin Asa.


"Ops!", Asa langsung menutup mulutnya dan menyadarkan kembali lamunannya yang sesaat.


"Rafly, kamu kok sudah punya uban?", tanya Asa jujur.


"Uban?", tanya Rafly balik.


Nuha pun ikut menoleh. Dia ikut memperhatikan apa yang sedang Asa bicarakan dengan Rafly yang berada di depannya.


"Iya, itu! Di dekat telinga kananmu. Ada beberapa helai rambut yang berwarna putih", ucap Asa.


"Benarkah? Gue malah gak menyadarinya", balas Rafly.


"Ya ampun, suaranya melelehkan hatiku", batin Asa.


"Asa?", tanya Nuha heran.


"Eh?, gakpapa.. Gakpapa.. Haha.."


Guru matematika pun memasuki kelas. Beliau mulai memberi salam dan mengabsen seluruh siswa.


Nuha bertanya-tanya. Rambut putih milik Rafly mengingatkannya pada kejadian yang pernah dia alami. Saat dia dibawa lari oleh cowok misterius di Car Free Day waktu lalu, dia melihatnya dari belakang terdapat rambut putih di dekat telinga kanannya.


"Apa dia Rafly?", batin Nuha.


"Anak-anak, ada yang bisa bantu bapak?", tanya Pak Hanif.


Seketika Asa langsung mengangkat tangan kanannya dengan pasti.


"Oh, kamu? Bisa?"


"Bi-bisa banget pak!! Saya akan sampaikan tugas tersebut ke kelas A", jawab Asa semangat.


"Baiklah, tolong ya", pinta pak Hanif.


"Iya pak", jawab Asa.


"Ayo Nuha!", Asa langsung mengajak Nuha ikut bersamanya.


"Eh, aku juga ikut?"


"Iyalah. Ayo!", jawab Asa senang.


Asa dan Nuha mulai berjalan keluar kelas. Mereka berjalan santai menuju kelas tambahan A. Asa tersenyum-senyum riang menantikan moment tersebut. Sedangkan, Nuha nurut saja karena tidak tahu apa-apa.


"Yes! Kita udah sampai"


Asa mulai mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


"Tok tok tok"


"Permisi.."

__ADS_1


Seluruh pasang mata mengarahkan pandangan dimana suara Asa berada. Walaupun jadi sangat sungkan dan grogi, Asa terus memberanikan diri demi mendapatkan kesempatan ini.


Fani dan Mei yang berada di kelas tersebut ikut melihat ke arah Asa, "Asa? Nuha?", Ucap mereka berdua.


Naru pun ikut tertarik. Dia mengarahkan pandangannya melihat kedatangan Asa bersama Nuha di belakangnya.


"Nuha?", batin Naru.


Langkah Asa jadi sedikit bergetar karena grogi memasuki kelas para siswa yang berprestasi dan memiliki kecerdasan yang maksimal. Nyalinya menjadi sedikit menciut.


Fani dengan tenang mendatangi mereka berdua. Membuat Asa sedikit termotivasi. Nuha sendiri tanpa sadar begitu fokus melihat keberadaan Naru.


Naru memberikan senyuman. Sedangkan, Nuha tersipu dan mulai memalingkan mata dengan bibir yang menahan senyum-senyum malu.


"Haha.. Manis sekali dia", batin Naru.


"Fani, ada tugas nih untuk kelas kalian", bisik Asa.


"Oh, ada tugas ya?, Okei akan aku sampaikan ke ketua. Kalian gabung aja di sini, mumpung kelas kosong", ajak Fani dengan senang hati.


"Bagus! Itulah yang aku harapkan", batin Asa berhasil.


"Eh? Emang gakpapa kita ninggalin kelas Pak Hanif?", tanya Nuha polos.


"Gadis kita yang satu ini memang sangat naif ya Fani", sindir Asa untuk Nuha. Dia pun merangkul pundak Nuha dan mengajaknya ke tempat duduk Fani.


"Kalian duduk aja di tempat dudukku dulu, aku akan menyerahkan tugas ini ke ketua", ucap Fani.


"Okei Fani. Good!", balas Asa.


"Hei Asa, Nuha. Sini!", pinta Mei melambaikan tangan memberi kode penyambutan untuk mereka berdua.


"Kebetulan dua kursi ini kosong. Gabung aja di sini. Santai aja mumpung kelas kita kosong", ucap Mei ramah.


"Tumben dia ramah", bisik Asa kepada Nuha.


Asa dan Nuha duduk di dekat Mei dan Fani di barisan tengah sebelah kanan. Nuha menoleh ke arah Naru yang berada di barisan belakang sebelah kiri.


Naru masih fokus memandang Nuha, Nuha memberanikan diri untuk memberikan senyuman ramah untuk Naru.


"Ciee.. Melirik pacar ya?", sindir Asa.


"Eh?", Nuha sedikit kaget.


"Ini memang rencana aku kok Nuha, buat bisa ketemu Naru di kelas A. Mumpung ada kesempatan", Asa terkikik.


"Nuha punya pacar? Mana?", tanya Mei penasaran dan mencari-cari siapa orangnya.


"Eng-enggaak.. Enggak Mei, enggak", Nuha mengelak.


"Enggak salah", bisik Asa kepada Fani.


"Jangan pacaran dulu ya kawanku, kita kan masih anak sekolah. Harus raih prestasi setinggi langit", ucap Mei bijak.


"Kamu pasti shock Mei tau kalo gadis culun dan senaif Nuha sudah punya pacar, hihihi", Asa terus terkikik geli bersama Fani sambil melihat ke arah Naru.


Naru merespon santai sambil kembali fokus dengan tugasnya.

__ADS_1


"Syukurlah, Nuha kembali menjadi dirinya sendiri", ucap Naru lega.


__ADS_2