Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Pikir aja, sendiri.


__ADS_3

Naru menghela nafas karena bingung. Ia tidak bisa mengendalikan pikirannya karena dipenuhi oleh Nuha. Mendengar Nuha bernyanyi kemarin membuat hatinya semakin tersentuh. Bunga hati yang Nuha berikan kepadanya semakin tumbuh bersemi indah.


Naru terbayang-bayang Nuha yang semakin hari semakin mempesona, semakin hari semakin ceria dan semakin hari semakin menggemaskan.


"Astaga.. membuatku frustasi saja"


Seorang guru mendatangi kelasnya, Pak Hanif guru matematika, "Selamat pagi, apa Naru ada di kelas?", sapa beliau.


"Eh, Elo dicari Guru tuh", Ucap Dilan mendorong-dorong kursi Naru yang berada di depannya.


Naru tersadar dari lamunannya, "Iya-iya gue tau".


Naru berjalan mendekat kepada guru, "Pak Hanif, Ada yang bisa saya bantu Pak?".


Beliau langsung mengajaknya ke ruang guru sekarang, "Naru, sebentar lagi akan ada Olimpiade matematika. Saya harap kamu bisa membantu saya untuk mempersiapkan dan membimbing siswa yang akan mengikuti olimpiade tersebut", ucap beliau.


"Berapa anak yang akan ikut?"


"Tiga anak. Ini daftarnya"


"Baiklah Pak, saya akan melakukannya"


"Saya akan buatkan jadwalnya dulu kalo begitu"


"Iya Pak"


"Terima kasih Naru, kamu memang sangat bisa saya andalkan", pungkas Pak Hanif.


"Sama-sama pak"


Naru keluar dari ruang guru, ia menghela nafas lega, "Syukurlah, aku bisa mempunyai kesibukan. Masih bisa memiliki waktu untuk membantu guru membimbing siswa kelas 2 untuk mengikuti olimpiade matematika"


Dilan diam-diam mengikutinya dan menunggunya dari balik dinding ruang guru, "Masih punya waktu luang juga ya Elo", sindirnya.


"Maksud Lo?", tanya Naru balik.


"Iya.. selama ini kan elo sibuk pacaran mulu sama Nuha, bahkan elo rela menurunkan nilaimu demi bisa bersamanya terus. Jika elo tidak terlalu memikirkan Nuha, bisa saja nilai tryoutmu sempurna dan elo bisa sekelas lagi dengan gue", jelas Dilan.


"Jangan mengkaitkannya dengan Nuha"


"Apa aku terlihat menyalahkan Nuha?"


"Pikir aja sendiri.."


"Hahaha.. tinggal 2 hari lagi, pikirkan 3 permintaan yang elo inginkan. Karna elo telah berhasil mengalahkan gue tanding basket kemarin. Tapi, Kalo elo gak mau ya gue gak akan maksa", Dilan merangkul Naru dan mengajaknya pergi ke kantin.


"Mau ngapain ke kantin?"


"Jajanlah"


"Trus, kenapa harus ajak-ajak gue?"


"Biar kita makin akrab", Jawab Dilan percaya diri.


Naru benar-benar lega melihat Dilan sudah kembali seperti Dilan yang biasanya. Mereka terus mengobrol untuk mempererat pertemanannya kembali.


Jam masuk setelah istirahat berbunyi, membuat Nuha harus kembali lagi ke kelas. Karena, dia baru saja menjenguk dua kucing kesayangannya di belakang sekolah.

__ADS_1


Naru datang mengagetkannya, "Nuha!"


"Si-siapa?!"


Ia lalu mendekatkan wajahnya sejajar di depan wajah Nuha, menarik masker yang menutupi wajahnya.


"Aku Naru ya.."


"Naru?", Nuha langsung gugup menerima tatapan manis dari Naru. Tidak biasanya dia memakai masker.


"Yap! Bareng ya ke kelasnya"


"O- okeii"


"Oya, Nuha. Nanti istirahat kedua, ke perpus yuk", ajak Naru sambil berjalan santai.


"Eh?"


Dua gadis adik kelas melihat kebersamaan Naru dan Nuha. Tapi, mereka belum yakin apa benar ia Naru dibalik masker hitamnya. Juga, mereka tidak mengenal gadis yang bersamanya bernama Nuha.


Mereka berdua ternyata kandidat siswa yang akan mengikuti olimpiade matematika, bernama Keisha dan Lala. Dengan Naru sebagai asisten pendamping guru yang akan membimbing mereka berdua.


"Yang pake masker Itu Kak Naru kan?", Keisha yang telah mengenal Naru sedang memperhatikan kebersamaan Naru dan Nuha.


"Kak Naru? Siapa?", tanya Lala.


"Itu, Kakak kelas yang akan membantu membimbing kita"


"Membimbing kita untuk olimpiade matematika?"


"Iyalah. Masa kamu lupa sih?, kan udah dikasih tau guru. Aku sih udah tau siapa itu Kak Naru"


"Dia ganteng banget lho"


"Masa sih?"


"Nanti aku ceritain deh siapa itu Kak Naru. Yang penting, kita harus segera masuk kelas dulu", pungkas Keisha.


"Iya, Keishaa"


Nuha memasuki kelasnya dan bertemu dengan the BestFANS, mereka mulai saling mengobrol.


"Oya, nanti istirahat kedua ke perpus yuk!", Ajak Sifa.


"Perpus?", Tanya Nuha


"Iya!"


"Ngapain?", tanya Nuha lagi. Membuat Asa dan Fani malah melongo terheran-heran.


"Belajarlah, masa ngapain?"


"Perpus?", Nuha masih mempertanyakannya.


"Iya, kenapa sih kamu?"


"Eng-enggak, Sifa. Soalnya tadi Naru juga tiba-tiba ngajak aku ke perpus", balas Nuha spontan.

__ADS_1


"Ooooooo..", Ucap mereka bertiga kompak.


"O?", Nuha akhirnya sadar dan menjadi salah tingkah dihadapan ketiga sahabatnya.


"Eh?, eeee.. bukan begitu, bukan begitu", Nuha terus melambaikan tangan dan menggelengkan kepalanya menolak tebakan-tebakan dari ketiga sahabatnya.


"Oooo, jadi kamu udah janjian dulu sama Naru ke perpus? Makanya tadi diajakin Sifa malah terbengong-bengong sendiri", Sindir Asa.


"Bu-bukan begittuuu", Wajah Nuha memerah.


"Gakpapa Nuha, kamu boleh kok sama Naru. Tapi, kita bertiga tetap ke perpus yes!", Ucap Sifa dengan manja.


"Ahahahaha..", Mereka bertiga terus menggoda Nuha hingga Nuha kehabisan kata-kata.


Istirahat kedua, Nuha, Asa, Sifa dan Fani berjalan menuju perpustakaan. Mereka langsung pasang mata mencari-cari keberadaan Naru. Ternyata, Naru tidak terlihat sama sekali oleh mereka. Nuha lega, tapi ketiga sahabatnya kecewa.


"Huh! Yang dicari-cari gak ada!", Asa kesal.


Nuha menyembunyikan senyum senangnya.


"Ya udah, yuk kita duduk di sana", Ajak Fani.


"Kita gak cari buku dulu?", Tanya Nuha.


"Enggak ah! Gue jadi males", keluh Sifa.


"Kan yang ngajak kamu Sifa", timpal Nuha.


"Iya, iya.."


Sifa meletakkan buku yang sedang ia bawa dengan bolpoint untuk siap menulis. Ia mulai mencontoh buku catatan Fani yang ternyata ia selipkan di bukunya. Tanpa rasa bersalah, Sifa mencatat dengan santai. Ketiga sahabatnya menjadi bingung.


"Kamu kesini hanya mau nyalin catatannya Fani?", Asa heran.


"Iyalah, apa lagi?"


"Ya elah, kirain mau cari or pinjem buku gitu", Asa sedikit kesal. Tapi, akhirnya ia ikut bersantai dengan menyandarkan kepalanya lagi di meja, "Ya udah kalo gitu, aku mau tidur lagi", lanjutnya.


"Aku mah ngikut aja", balas Fani tersenyum santai.


"Katanya mau belajar? Gimana sih ini?", Nuha masih bingung.


"Ini aku sedang belajar Nuha, kan di perpus gak harus baca or pinjem buku dari perpus", balas Sifa lempeng.


"Kalo gini kan kita bisa belajar di kelas aja tadi", balas Nuha sedikit menggerutu.


"Kamu bilang apa tadi Nuha?"


"Eh? Enggak, enggak nggak nggak. Aku, cari buku dulu deh kalo gitu", balas Nuha gelagapan.


Nuha khawatir ucapannya membuat teman-temannya sakit hati, ia pun langsung beralasan mencari buku untuk mengalihkan perhatian.


"Duuh, kamu jahat banget deh Nuha ngomong gitu", Ucap Hawa tidal habis pikir.


"Iya aku tau, maafkan aku. Tapi, semoga mereka tidak mendengarnya tadi", Nuha merasa menyesal.


Nuha pun mencari buku sendiri. Ia sendiri pun bingung mau cari buku apa, belum terfikirkan di fikirannya. Ia terus berjalan perlahan berpindah ke rak satu ke rak yang lainnya. Hanya terus mengelilingi dan menyentuh buku-buku yang ia hampiri.

__ADS_1


"Duh, cari buku apa ya? Aku binguung~


__ADS_2