
"Nuha, tunggu!", panggil Naru.
"Hei, elo mau kemana?", cegah Dilan.
Nuha menoleh, dia melihat Naru menatap ke arahnya namun dicegah oleh Dilan. Nuha melanjutkan berjalannya dan menuju ke kelas.
"Gue harus pergi", ucap Naru.
"Gak bisa. Kalo elo ingin pergi, cetak dua point baru gue izinin", Pinta Dilan sambil menyerahkan bola basket kepada Naru.
"Tapi, ini penting!"
"Haha, gue akan terus ganggu elo kalo elo selalu mencari-cari Nuha. Cepatlah! Keburu bel bunyi"
"Memang kampr*t ya elo itu"
Nuha berjalan, dia melihat di depannya ada Raffy yang sedang membawa setumpuk buku bersama Rafly di sampingnya.
"Kenapa bagian ambil buku harus gue sih", keluh Raffy.
"Kan ini piket elo Raffy, jadi wajarlah saling bagi tugas"
"Trus, ngapain juga elo harus ngintilin gue terus?!"
"Biar elo gak bikin masalah!"
"Kayak anak kecil saja", ejek Raffy.
Nuha menyeringai, matanya berubah jahil dan tubuhnya akan bergerak lagi tanpa bisa ia kendalikan. Dia berniat menerobos jalan di antara Raffy dan Rafly sekaligus menjatuhkan buku-buku yang dibawa oleh Raffy.
"Jangan, Hawa!", perintah Nuha dalam hati.
Nuha berjalan cepat, dan "bruk! Gedebuz gedebuz", suara buku-buku terjatuh berserakan.
Nuha merasa senang tanpa merasa bersalah. Dia menampakkan matanya tersenyum dan jempol terbalik seolah memberikan ejekan. Nuha pun pergi.
"Apa yang kau lakukan? Hah?!!", teriak Raffy.
"Bukankah dia Nuha?, gadis berkucir air mancur? Tapi, kenapa dia pakai masker?", gumam Rafly heran.
"Cepet bantuin gue Rafly!! Gue akan buat perhitungan sama dia nanti!!", bentak Raffy.
"Sudahlah Raffy, mungkin dia tidak sengaja"
"Tidak sengaja gundulmu?! Jelas-jelas dia tidak berhenti untuk minta maaf tapi malah ngacir gitu saja"
"Gue juga heran, apa yang salah dengan dirinya?", batin Rafly.
"Tuh bel udah bunyi! Cepatlah Rafly!!"
"Iya sabarlah Raffy, gue juga bantuin ini"
"Nah gitu donk kalo mau jadi saudara yang baik", ucap Raffy berkacak pinggang.
Melihat tingkahnya mulai aneh lagi, Nuha berbalik arah. Dia tidak kembali ke kelas melainkan berniat pergi ke taman belakang sekolah dan akan mengadili Hawa.
"Jika ini maumu, okei.. Akan aku turutin!!", gumam Nuha kesal.
__ADS_1
"Hawa!! Keluarlah!", pinta Nuha sambil melepas masker dan lakban yang menempel di mulutnya.
Nuha geleng-geleng kepala sendiri, tanda bahwa Hawa menolak perintahnya. Hawa mengendalikan Nuha untuk kembali ke kelas, namun Nuha berusaha untuk menolaknya.
Nuha berjalan ke arah pohon.
"Jika selangkah lagi kamu memerintahku, aku akan naik ke pohon", ucap Nuha.
Hawa memaksa Nuha untuk melangkahkan kakinya, Nuha kesal. Dia akhirnya memanjat pohon dengan bantuan batu besar dan beberapa potongan batang pohon yang berada di sekitar pohon tersebut.
"Hup!", dia melompat dan meraih batang pohon. Bergelantungan dan mengangkat tubuhnya hingga benar-benar terangkat dan sampai ke atas pohon.
"Sekarang kita tidak bisa turun, Hawa"
"Kalo kamu memaksaku untuk turun, aku akan melompat. Biar jatuh sekalian! Biar aku terluka sekalian! Aku tidak akan takut!, gerutu Nuha.
Akhirnya Hawa terdiam, Nuha pun terdiam. Keadaan sudah cukup tenang untuk mereka berdua. Nuha mencoba menyamankan diri duduk di atas pohon dengan bersandar.
Naru datang.
"Dia tidak ada di kelasnya, kupikir dia kesini. Tapi, kemana dia pergi?", ucap Naru sambil mencari-cari Nuha di sekitar taman belakang sekolah.
Samar-samar suara Naru terdengar di telinga Nuha. Nuha memfokuskan pandangannya, dan benar. Naru sedang mencari dirinya.
"Gawat! Ada Naru, Hawa", gumam Nuha.
"Hawa! Jangan macam-macam ya! Sekali kamu mencoba mengendalikanku, aku akan lompat!!", batin Nuha.
Tubuh Nuha mulai sedikit bergerak, membuat beberapa ranting bergoyang dan menjatuhkan dedaunan.
"Kresek.. Kresekk~"
"Jangan membuat suara", lirih Nuha.
Naru menoleh dan menyadari ada suara aneh di sekitarnya. Dia mencari dan memanggil Nuha kembali.
Nuha khawatir Naru akan mengetahuinya, dia terus berusaha untuk tenang. Berdoa supaya Naru segera meninggalkannya.
"Meong"
Suara Soya di bawah pohon yang menengadahkan wajahnya ke atas melihat keberadaan Nuha.
"Soya, di mana Nuha?", tanya Naru.
"Meong", Soya mencakar-cakar batang pohon tersebut.
"Kresek kressekk"
Naru pun mulai menengadahkan wajahnya ke atas. Seketika matanya terbelalak melihat Nuha sedang berada di atas pohon.
"Gi- gimana bisa kamu memanjat pohon Nuha?", tanya Naru heran.
"Hehehe..", jawab Nuha. Dia pun memakai lagi lakban dan maskernya.
"Nuha, ada apa? Ayo turun"
Nuha menggeleng-gelengkan kepala, menolak perintah Naru.
__ADS_1
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu lagi dariku?"
"Umm..", Nuha mengangguk.
Naru menghela nafas, "Ceritakan padaku ada apa?", ucapnya lebih ramah.
Nuha kembali menggeleng-gelengkan kepala.
"Nuha, kalo kamu gak mau turun, aku akan naik"
Nuha tetap menggeleng-gelengkan kepala. Air matanya mulai berlinang. Wajahnya yang tertutup masker, membuat Naru tetap jelas bisa melihat ekspresi Nuha.
"Kalo gitu, lompat aja. Aku akan menangkapmu. Sini", Naru tersenyum.
Nuha mulai sesenggukan. Hatinya benar-benar sedih menghadapi Hawa yang tidak jelas apa maksudnya dia mengendalikan dirinya dengan kasar.
"Aku sangat lemah Naru, aku takut, aku malu, aku tidak bisa mengendalikan Hawa", batin Nuha.
"Nuha, jangan menangis. Aku akan menolong, jangan khawatir", ucap Naru ramah.
Hawa menggerakkan tubuh Nuha. Nuha berusaha menolak. Dia mencengkeram batang pohon dengan kuat hingga kukunya mampu mengelupaskan kulit batang pohon tersebut. Membuat jari jemarinya sedikit sakit.
"Jangan Hawa", pinta Nuha.
"Nuha, turunlah", Naru membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Seketika Nuha melompat dan, "hap!" Naru menangkap Nuha dengan sangat sempurna.
Nuha langsung memeluk tubuh Naru dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnya di pundak Naru karena sangat ketakutan. Meremas erat pundaknya, membuat Naru sedikit kesakitan.
"Sa-sakit", batin Naru.
Naru masih tegap menggendong Nuha dan berusaha untuk tenang mengendalikan suasana.
"Tenanglah Nuha, aku ada disini", ucap Naru lembut.
Nuha terus sesenggukan tidak tahu harus berbuat apa. Dia terus menangis di pelukan Naru.
"Aku takut Naru", batin Nuha.
"Jangan takut, aku ada disini"
Nuha mulai melepaskan diri dari pelukan Naru, dia menundukkan kepalanya dengan tangan terus mengepal kesal.
"Nuha?"
Naru mencoba memahami dengan memegang lembut kedua pundak Nuha. Membungkukkan badannya untuk sejajar dengan wajah Nuha.
Seketika Nuha menghempas tangan Naru dan mendorong Naru hingga terjatuh. Naru kaget dengan respon Nuha.
Nuha semakin kesal, dia memandangi tangannya yang bergetar telah melukai Naru. Nuha mencoba menahan tangisannya namun air matanya semakin deras mengalir. Betapa sakit hatinya merasakan kesedihan tersebut.
"Hawa.. Ada apa denganmu?", batin Nuha.
Hawa memaksa Nuha melepas masker dan lakban yang menempel dimulutnya. Dia akan mengucapkan sesuatu.
"Hawa, jangan membuatku bicara", batin Nuha lirih.
__ADS_1
Nuha berusaha menahan dirinya supaya Hawa tidak berhasil mengendalikan dirinya. Namun, Nuha kalah.