
Di kelas tambahan, Nuha duduk di kursinya sambil mengelinding-gelindingkan bola mainan yang diberikan Naru untuknya. Dia masih bertanya-tanya ditambah lagi dia jadi kepikiran bahwa Sifa ternyata sudah memiliki pacar.
"Nuha, dia datang!"
Tiba-tiba Hawa mengalihkan perhatian dan Nuha pun kaget dan gugup. Padahal, ternyata Hawa hanya menjahili Nuha dan Nuha dengan mudah tertipu. Hawa pun tertawa puas.
Naru memasuki kelas. Nuha yang melihat kedatangannya menjadi gugup dan hatinya berdebar-debar. Bola yang sedang ia mainkan, menggelinding ke arahnya. Pantulan kecil itu membuat cahaya lampunya pun berkelap-kelip.
"Ada apa Nuha?", tanya Naru sambil mengambilkan bola pantul yang terjatuh itu.
"Umm..", Nuha masih tidak kuasa berucap.
"Tadi malam, di tempat tinggalku ada bazar. Gak sengaja aku melihat ini saat jalan-jalan. Terlihat sangat berbeda dari bola mainan yang ada. Biasanya isinya mainan ikan-ikanan, namun ini kucing. Imut bukan?, Dan saat aku mengambilnya, bola ini bercahaya"
Nuha hanya bisa mendengarkan dan melihat ke arah Naru dengan seksama.
"Kamu, seperti bola ini Nuha. Kuharap kamu suka. Nih, aku berikan padamu."
"Te-"
Guru pun datang dan Naru segera duduk di kursinya. Materi di kelas Nuha hari ini matematika. Suasana kelas menjadi hening karena guru mulai menjelaskan materi yang disampaikan. Para siswa terlihat antusias dan mencatat dengan sungguh-sungguh.
Kemudian guru memberikan soal tanya jawab di papan tulis agar dikerjakan langsung oleh para siswa di papan tulis. Guru mulai mengarahkan pandangannya kepada para siswa, mencari-cari dan membuat seisi kelas menjadi berkeringat dingin. Guru menjadi tertawa geli.
Pak Hanif adalah seorang guru Matematika. Beliau suka menakuti-nakuti siswanya padahal itu hanya candaannya saja. Mudah diajak berkomunikasi dan suka sekali dengan humor.
"Kalian ini kenapa?" Canda beliau.
"Glek!"
"Oh? Rui Naru?, ada kamu di kelas ini toh. Beruntung sekali saya, coba kamu maju ke depan dan kerjakan soal latihan dari saya ini." Pintanya.
Naru berjalan maju dengan tenangnya. Melihat punggung Naru itu, Nuha masih saja terpana. Khayalan Nuha mulai lagi, ia melihat Naru begitu bercahaya, lembut dan menawan.
"Kalian tahu? Naru ini asisten saya hlo.." ucap beliau.
"Saya sering meminta bantuan kepadanya untuk mengajar di kelas-kelas. Saya bersamanya biasa ngajar untuk kelas 10 dan 11, jadi untuk kelas 12 ini banyak yang tidak tahu kecuali kelasnya sendiri, hahaha..."
Para Siswa malah terbengong-bengong sambil melongo.
"Ternyata, dia anak yang populer juga yaa", Nuha sedikit mengeluh dan sedih.
"Biasanya, orang populer itu banyak yang suka, Nuha" Bisik Hawa memanas-manasi.
"Begitu ya..", lirih Nuha.
__ADS_1
Nuha terlihat putus asa dan mulai memandang ke arah langit. Naru yang melihatnya dari depan kelas menjadi bertanya-tanya, "Aku tidak ingin melihatmu sedih Nuha", Gumam Naru dalam hati.
Naru sudah tidak tahan lagi dengan perasaan ini. Detik waktu semakin terasa terdengar sangat keras dan itu mengganggu pikirannya.
Pandangan Naru terus fokus kepada Nuha. Dia pun dengan cepat berjalan ke arahnya. Langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya berlari keluar kelas. Berlari dan berlari.
Naru membawa Nuha ke taman bukit sekolah. Nuha masih saja terdiam, karena mulutnya terasa terkunci.
"Maaf ya, Nuha. Aku, mengganggu perasaanmu."
Nuha menundukkan kepalanya.
"Nuha.."
"Nuha..." Ucap Naru sekali lagi
Naru langsung berlutut dihadapan Nuha, dia berniat memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi, melihat Nuha yang tiba-tiba meneteskan air mata. Hatinya pun bergetar. Dia menjadi merasa bersalah. Mungkin dia harus lebih menahan perasaannya lagi.
"Jangan menangis, Nuha" Ucap Naru seraya menyeka air mata Nuha yang sedikit mengalir.
"Umm.."
"Kamu bener-bener mengejutkanku. Kenapa harus pake nangis sih?"
Sambil menghela nafas, Naru duduk di ayunannya. Dia benar-benar terkejut dengan sikap Nuha yang tiba-tiba menangis. Sedangkan, Nuha masih saja terdiam.
Perlahan, Nuha berhenti menangis. Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Naru. Seperti biasa, Nuha terpesona melihat Naru yang terbias oleh sinar matahari. Dia melihat kenangannya kembali saat-saat pertemuannya dengan Naru yang tidak dia sadari itu.
Insiden-insiden itu ternyata menumbuhkan benih cinta di hati Nuha. Benih itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Perasaan senang, malu, canggung, salah tingkah, deg-degan, ragu-ragu dan cemburu membuat benih cinta Nuha semakin tumbuh dan berkembang. Berkembang indah di dalam hatinya hingga dia merasa sesak.
Perasaan yang berbeda dari apa yang dia rasakan kepada Dilan. Cinta telah hadir didalam hatinya.
"Naru.."
"Iya?", balas Naru dengan menatapnya lebih lembut.
Nuha selalu kesulitan memanggil nama Naru karena setiap dia hendak memanggil namanya hatinya berdebar-debar. Tapi, dia mencoba untuk mengakhiri perasaan yang tak tertahankan itu.
"Benarkah? Benarkah aku jatuh cinta padanya? Benarkah?!", batin Nuha meyakinkan diri sekali lagi.
Dia melihat Naru dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya pun masih berat untuk berucap. Selama ini, ternyata keberadaan Naru perlahan-lahan mampu membuat Nuha jadi sering tersenyum. Perkataan Naru sering membuat Nuha senang dan senyuman Naru mampu membuatnya percaya diri dan bahagia.
Cowok yang ia anggap kasar, cuek dan tidak peduli ternyata membuatnya jatuh cinta sendiri. Dan itu semata-mata bukan sifat aslinya, Naru sangatlah baik, peduli, periang dan percaya diri.
"Tersenyumlah Nuha. Karna, itu lebih baik bagimu"
__ADS_1
"Naru.."
"Umm.."
"Aku.."
"Aku.."
"Aku menyukaimu!", ucap Nuha yang ternyata masih tertahan. Ucapan itu hanya terucap dari batinnya saja.
"Aku..", ucapnya lagi.
"Umm, gak, gakpapa..", akhirnya Nuha menggeleng dan menarik nafas untuk bisa lebih legawa dan tersenyum.
"Syukurlah, kamu sudah bisa tersenyum", balas Naru.
"Eh?"
Angin pun berhembus sepoi-sepoi menggerakkan dedauan di sekitar taman. Mereka saling bertatapan mata lagi, hatinya saling beradu, saling tersenyum dan saling tersipu malu. Serasa Ruang dan waktu menjadi milik berdua saja. Sejenak saja.
Matahari semakin panas memberikan sinarnya. Terasa begitu menyilaukan dan menyengat. Bagi Naru itu tidak biasa. Kulitnya tidak kuat menerima panasnya matahari. Kulitnya mulai terlihat memerah seperti terpanggang. Dia mencoba berani menatap matahari dengan memayungi dahinya dengan telapak tangannya, tapi dia sudah tidak tahan lagi.
"Panasnya..." Keluh Naru.
Nuha bingung mulai mengkhawatirkan Naru, "Naru, kulitmu, kenapa?", Nuha mulai khawatir.
"Iya aku tau.. gak papa kok." Balas Naru.
"Gak papa gimana?" Nuha semakin bingung
"Ayo!"
Naru langsung menarik tangan Nuha dan mengajaknya berlari kembali ke kelas. Berlari berlawanan arah dengan teman-teman yang mulai berjalan pulang sehingga membuat mereka sedikit kesulitan. Tetapi, itu tidak bagi Naru, ia merasa sangat senang bisa berlari dengan menggandeng tangan Nuha.
"Aku, harus memastikan lagi perasaanku ini. Aku tidak boleh terburu-buru untuk mengungkapkan perasaanku ini kepada Naru"
"Setidaknya, aku kembali bahagia. Terima kasih Naru. Kamu, berhasil membuatku tersenyum lagi", batin Nuha.
Sampai di kelas, mereka mulai merapikan buku dan menggendong tas masing-masing.
"Kulitmu sudah tidak apa-apa?" Tanya Nuha.
"Tidak apa-apa" Senyum Naru.
"Syukurlaah.."
__ADS_1
"Jangan khawatir. Yuk pulang"
Ajak Naru sambil menggandeng tangan Nuha lagi. Nuha tersenyum, tapi dia menjadi merasa malu.