
"Naru mana sih? Katanya ngajak ke perpus?"
Gumam Nuha dengan masih memilah-milah buku yang dia cari. Setelah ia memandangi buku-buku di hadapannya, dia mulai melihat ke atas, menengadah melihat-lihat buku yang berada di rak atas.
Masih belum ketemu juga buku yang ia cari. Nuha pun iseng mengambil buku yang berada lebih tinggi darinya. Ia merasa percaya diri bisa meraihnya walaupun ekspektasinya tidak sesuai dengan realita.
"Mumpung gak ada yang lihat"
Nuha mulai jinjit dan meraih buku yang akan ia ambil
Nuha berhasil meraihnya, tapi tidak berhasil memegangnya. Buku itu jatuh dan menimpa kepalanya. Sontak ia kaget dan hilang keseimbangan. Hampir saja punggungnya menubruk rak buku di belakangnya, Naru datang menangkap punggung Nuha.
Nuha kaget dan langsung membalik badan menolak pertolongan orang tersebut. Sehingga, punggung Nuha lah yang menubruk rak di belakangnya. Rak sedikit goyah dan beberapa buku jatuh hendak mengenainya. Naru dengan sigap melindungi Nuha dan beberapa buku menimpa punggung Naru.
"Kamu ceroboh sekali Nuha"
Ucap Naru di balik masker hitamnya
"Si-siapa?"
Nuha masih menunduk melindungi kepalanya
Naru terdiam, tidak menjawab pertanyaan Nuha. Masih seperti itu untuk beberapa menit kemudian.
Nuha mulai melihat ke arah wajah yang sedikit lebih dekat di atasnya. Bola mata Nuha dan bulu matanya yang berkedip membuat Naru sejenak terpesona.
"Na-"
"Sssttt"
Belum selesai berucap, Naru langsung menutup mulut Nuha dengan telapak tangannya. Memberi isyarat untuk diam-diam berdua di sana.
"Kamu gakpapa Nuha?"
"Um.."
Nuha mengangguk
"Aku akan rapikan dulu bukunya"
Nuha hanya terdiam melihat Naru merapikan buku-buku yang terjatuh tadi. Melihat Naru yang tidak biasanya, Nuha bertanya-tanya kenapa ia memakai masker. Tumben sekali. Apa dia sakit.
"Naru?"
"iya?"
"Apa kamu sedang sakit?"
"Enggak, kenapa?"
"Tumben pake masker"
Naru telah selesai menata buku. Ia kembali fokus perhatian kepada Nuha.
"Biar gak dilihat orang"
"Orang? Siapa?"
"Adik kelas, Nuha"
"Siapa?"
Naru gemas mendengar Nuha mulai cerewet. Nuha yang biasa pendiam, cuek dan menutup diri kini bisa lebih terbuka kepada Naru. Ia seperti bisa bebas dan bicara sesuka hatinya saat bersama Naru.
"Sini aku kasih tahu"
Naru mengajak Nuha ke tempat yang lebih aman dari gangguan paparazi
"Nuha, dengarkan aku"
__ADS_1
Nuha diam dan menurut
"Setelah ini, aku akan sibuk Nuha. Mungkin, beberapa hari nanti aku tidak bisa menemuimu"
"Kenapa?"
Naru menghela nafas.
"Padahal aku sendiri yang gak mau jauh darimu, tapi sekarang aku memang harus menjauhimu dulu"
"Eh? Apa Dilan mengganggumu lagi?"
"Bukan karna dia kok. Karna ada tugas lain, tugas negara"
"Tu-tugas negara?!"
"Nuha, mana sih?"
Fani mulai mencari-cari Nuha. Sifa yang masih fokus mencatat dan Asa yang sudah nyenyak tidur tidak terlalu menghiraukannya.
"Sifa, aku cari Nuha dulu ya"
Fani mulai beranjak dari tempat duduk dan hendak mencari Nuha. Tiba-tiba sekilas mata Fani melihat Naru menggandeng Nuha berlari keluar perpus. Hanya sekilas mata yang mengganggu rasa penasaran Fani.
"Nuha kah tadi? Dia, pergi sama siapa?"
"Naru, pelan-pelan kalo berlari"
"Eh, ini udah pelan lho Nuha. Kamunya itu yang kalo lari secepat macan sampe gak lihat jalan"
"Haish!"
Naru akhirnya mengajak Nuha ke belakang sekolah. Tempat itulah yang paling nyaman dan cocok untuk mereka berdua bebas sesuka hati.
"Naru, katakan dengan jelas sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Naru melepas maskernya.
"Lalu, apa ada masalah?"
"Iya, Nuha. Aku akan sibuk membimbing mereka. Selama aku masih terikat dengan mereka, aku harus terus memberikan perhatian dan fokus bimbingan untuk mereka"
"Jadi, kita gak boleh ketemu dulu?"
Naru terdiam. Dia tidak ingin melanjutkan jawabannya kalau pertanyaan Nuha memang benar. Ia tidak ingin mengatakan bahwa hubungannya dengan Nuha akan mempengaruhi mood junior didikannya. Naru sendiri bingung hendak berkata bagaimana lagi.
"Nuha, awas!"
"Kyaaaa!!"
Naru langsung mengangkat tubuh Nuha dan menggendongnya dengan berani. Ia hanya menjahili Nuha supaya Nuha tidak terlalu memikirkannya dan merasa cemburu.
"Naru, ada apa?"
"Ada, ada kucing"
"Iih, becanda deh! Udah, turunin aku"
"Gak mau"
"Naru!"
"Kamu ini enteng banget sih Nuha? Apa makanan yang banyak kamu makan gak ada gizinya?"
"Naru!"
"Ahahaha.. aku lempar ke atas pohon ya"
"Naru!"
__ADS_1
"Gak mau!"
Nuha terus memberontak
"Nuha, tolong jangan dipikirkan lagi ya. Ini hanya sementara kok. Jadi, kuharap kamu enggak cemburu"
"Ce-? Cemburu?"
"Iya, kayak dulu itu"
"Enggak! Aku gak akan cemburu!'
"Ava iya? Aku gak percaya"
"Naru! Lepasin gak?! Soya Mayo tolongin aku"
Kedua kucing itu pun datang mendekati Naru. Naru menjadi tidak nyaman dan mulai bersin-bersin.
"Nuha, kamu sengaja ya?"
"Soya Mayo gigit kaki Naru"
"E, e, e, jangan. Nanti nggak aku kasih makan lagi lho"
Naru mulai berlari, sontak kedua kucing itu malah terus mengejarnya. Soya dan Mayo kira Naru hendak mengajaknya bermain, padahal Naru mencoba menghindari mereka. Nuha terus saja tertawa. Nuha pun ikut menyusul.
"Nuha, kendalikan kucing-kucingmu itu"
"Tidak mau, wek!"
Nuha malah mengejek Naru
"Aku akan memberimu hadiah kalo bisa menghentikan mereka"
"Hadiah apa? Kamu aja gak bawa apa-apa kok. Pasti cuma bohong"
"Iya, adalah pokoknya"
"Naru, soalnya kamu itu jadi suka becandain aku terus sih. Aku kan jadi kesel"
Naru mulai bersin-bersin tak terhenti.
"Ayo sini Soya, Mayo"
Kedua kucing itu pun langsung menurut. Mereka kembali kepada Nuha dan Nuha segera memberikan perhatiannya untuk mereka.
"Fiuh, syukurlah"
Naru mengatur nafas sejenak.
"Nuha, kemarilah"
"Enggak mau! Kamu nanti mau iseng lagi"
"Enggak Nuha, percayalah"
Nuha datang menghampiri Naru. Hanya beberapa langkah saja Nuha malah berlari, akhirnya dia tersandung dan terjatuh menabrak Naru. Naru yang goyah akhirnya ikut terjatuh juga. Nuha terjatuh menimpa tubuh Naru. Sontak, ia langsung menggelindingkan badannya ke sisi kanan. Jantung Nuha berdegup kencang.
Mereka terdiam sejenak. Mengatur nafas dan perasaan mereka. Nuha dan Naru jadi saling canggung. Kejadian yang hanya sekilas langsung membuat jantung mereka berdebar-debar.
Nuha merasa sangat malu sekali. Namun, Naru memberanikan diri. Dia menatap Nuha dengan serius.
"Nuha, ini salahku atau salahmu sendiri?"
Nuha memalingkan mukanya karena malu.
"Lihat aku Nuha"
Nuha memejamkan matanya erat mengarahkan wajah kepada Naru.
__ADS_1
"Ayo bangun, aku bantu"
Naru menarik kedua tangan Nuha dan menariknya duduk. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya dan itu adalah masker. Ia pun memakaikannya kepada Nuha dan tersenyum.