
Hari sudah kembali pagi. Seolah waktu untuk Nuha terus tiduran masih saja kurang. Dia benar-benar tidak ingin bangun menghadapi hari-harinya. Sinar matahari mulai memaksa masuk melewati jendela dan gorden putihnya. Nuha mengeluh.
"Ha ah, sudah pagi saja" Ucapnya lirih sambil menutupi kedua matanya dengan lengan kanannya.
"Tok tok tok" Terdengar suara ketukan pintu.
Nuha langsung menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya dan kembali meringkuk tidur.
"Nuha bangun, ibu bawakan sarapan nih"
Nuha melirik, "Ibu, tidak usah repot-repot bawain aku sarapan. Nanti aku bisa turun sendiri ke dapur untuk makan"
"Mana mungkin, ibu tidak percaya"
Ibu meletakkan nampan berisi nasi putih, sup dan beberapa lauk seperti tempe dan ayam. Tidak lupa segelas air putih dan teh hangat untuk anak gadisnya tersayang.
"Kamu masih belum ingin masuk sekolah?" Tanya Ibu.
"Belum"
"Ya sudah.. Jangan lupa sarapan ya anak manis. Ibu tinggal ke bawah dulu untuk beresin sisa bawaan dari rumah sakit kemarin"
"Iya" Jawab Nuha kembali menarik selimutnya.
Ibu memang bukan ibu yang tegas. Dia begitu penyayang dan mudah sekali menuruti kemauan anak-anaknya. Tapi, bukan berarti dia ibu yang lemah, dia memiliki doa sebagai sumber kekuatannya.
"Aduuh.. Lama-lama pengap juga"
Nuha menendang-nendang sendiri selimutnya, merasa kesal sekaligus tidak nyaman. Sejak ia demam di rumah sakit dan pulang ke rumah dia belum menyentuh air mandi sama sekali. Uap panas mulai keluar dari tubuhnya. Tubuhnya kembali panas.
Dia terdiam memandang atap kamarnya sendiri. Menangis lagi karena teringat dengan Hawa. Hawa yang sudah tidak ada lagi untuknya. Nuha berusaha mengingat, kata-kata apa saja yang telah Hawa sampaikan kepadanya. Mungkin ada beberapa perkataan Hawa yang tanpa sadar menjadikan perkataan tersebut sebagai ucapan selamat tinggal. Sebuah tanda perpisahan.
"Apa yang membuatnya pergi meninggalkanku? Apa aku menyakiti hatinya?"
"Hawa.." Air mata Nuha masih saja mengalir.
"Kenapa.."
"Kenapa, Hawa?!"
"Hawaaaa?!!" Teriaknya sambil terus menangis layaknya anak kecil. "Hawa.. Hiks hiks.."
Nuha tidak habis pikir bahwa Hawa benar-benar akan meninggalkannya. Penyebabnya apa? Alasannya apa? Dia tidak bisa menemukannya.
"Mungkinkah? Karna aku menyalahkannya waktu di restoran bersama kakak ya? Trus dia, kecewa"
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja. Nuha langsung meraihnya dan membuka icon SMS. Seketika dia kaget dan tersadar, kenapa dia harus segera membuka ponselnya?
"Eh, ada SMS dari Asa. Tapi kok, aku langsung membukanya sih. Terpaksa aku harus membalasnya sekarang" keluhnya.
"Nuha, apa kamu sudah sembuh? Sudah pulang ato masih di rumah sakit?" Pesan dari Asa.
"Sudah Asa. Aku sudah di rumah." Balas Nuha
"Klunting" Suara nyaring balasan dari Nuha.
Asa pun langsung terperanjat senang SMSnya langsung dibalas Nuha, Fani dan Sifa ikut terkaget. Kelas yang sedang ada pelajaran PKn sedikit terganggu oleh ulah Asa.
__ADS_1
"Gays, SMS aku langsung dibalas Nuha" Seru Asa.
"Syukurlah" Balas Fani.
"Nanti sepulang sekolah kita jenguk yuk" Ajak Sifa.
"Ide yang bagus itu Sifa. Kebetulan kan nanti gak ada kelas tambahan. Jadi, kita bisa jenguk Nuha lebih cepat" Jawab Asa.
Sifa tersenyum bangga, Asa dan Fani ikut senang.
Setelah Nuha membalas SMS Asa, ia menjatuhkan dirinya dari tempat tidurnya, "Gedebug!" Suaranya terdengar hingga lantai bawah.
"Muha, apa Nuha jatuh lagi dari kasur?" Tanya Ibu khawatir.
Muha yang masih membantu ibu beres-beres rumah jadi ikut khawatir, "Muha coba cek di kamarnya ya Ibu" Ucapnya.
"Iya, yang baik ya sama adikmu" Pinta Ibu.
"Ibu, kayak aku gak tau waktu aja. Tenang saja, aku tidak akan mengganggunya disaat dia sedang sakit"
"Kamu memang kakak yang perhatian Muha" Puji Ibu.
Muha menaiki tangga dan menuju kamar Nuha. "Nuha" Ucapnya sambil mengetuk pintu.
"Kakak?"
"Boleh kakak masuk?"
"Masuk saja"
"Kamu gakpapa?"
"Gak papa. Kenapa?"
"Kamu jatuh dari kasur bikin kaget ibu dan kakak saja. Kamu beneran gakpapa?"
"Gak papa kakak"
"Sini dahimu" Kakak menyentuh dahi Nuha dengan telapak tangannya.
"Kamu demam lagi"
"Gak papa kakak"
"Gak papa gimana? Kalo suhu panasmu terus naik kamu akan merepotkan ibu lagi. Kamu tau itu?"
Ucapan spontan Muha tanpa sadar membuat Nuha langsung kecewa.
"Merepotkan ya?, umm.."
"Nuha.."
"Aku gak papa kakak" Ucapnya lirih.
"Nuha.."
"Aku gak papa ya gak papa. Apa yang bisa kakak ngerti dari aku"
__ADS_1
"Aku gak papa!" Tegasnya lagi.
Nuha tidak mempedulikan kakaknya yang mencoba membantu dan memberinya perhatian. Dia merangkak menuju laci meja belajarnya. Mencari note kecil pemberian dari Dilan.
Saat dia membuka laci dorong dengan paksa sebuah bola pantul pemberian Naru yang dia taruh satu tempat dengan note kecil pemberian Dilan pun bergerak-gerak dan memancarkan cahaya kelap kelip. Nuha fokus untuk membuka note kecil tersebut.
Sebuah perjanjian tertulis di sana, perjanjian yang dia buat bersama Hawa. Dia mulai membacanya. Janji untuk tidak terpisahkan lagi.
"Janji ini sudah sangat jelas, bahwa kita tidak akan terpisah lagi. Kamu tidak mengingkari janji kita ini kan Hawa" Ucap Nuha lirih.
Muha mendekat, "Hawa tidak meninggalkanmu Nuha."
"Kakak?"
"Kalo dia meninggalkanmu, pasti akan terjadi sesuatu pada dirimu. Dan kamu terlihat baik-baik saja tuh"
"Tapi, aku sedang tidak baik-baik saja"
"Tenangkan dirimu Nuha. Ini bukan dirimu. Kamu biasanya bisa lebih tenang saat menghadapi masalah. Jangan-jangan kamu adalah Hawa?"
"Kakak, jangan membuatku bingung"
"Hahaha.. Bola Naru minta diajak main tuh" Ucap Kakak mengalihkan perhatian dan beranjak pergi.
"Gimana kakak bisa tahu?" Batin Nuha
Bola pantul pemberian Naru masih berkelap kelip di dalam laci, membuat Nuha jadi mengambilnya. Dia tersenyum.
"Naru.."
"Bola ini masih berkelap kelip. Naru.."
"Entah kenapa.. Hatiku menjadi tenang" Nuha memeluknya.
Di sekolah, Asa, Sifa dan Fani masih melaksanakan pembelajarannya di kelas. Sebentar lagi, bel pulang akan berbunyi. Membuat mereka semakin tidak sabar.
Bel pulang pun berbunyi, Asa, Sifa dan Fani mulai merapikan perlengkapan belajar dan beranjak keluar kelas. Kak Yuki memanggil dari arah belakang mereka.
"Asa" Panggil Yuki
Ketiga gadis itu langsung berhenti berjalan dan menoleh bersamaan. Yuki semakin mendekati mereka.
"Kalian mau pulang?" Tanya Yuki
"Iya Kak, tapi kita-"
"Mau aku ajak lihat lokasi untuk syuting film pendek kita?" Tanya Yuki memotong ucapan Fani
"Mau donk kak" Jawab Sifa langsung
Asa tanpa segan langsung menampar pundak Sifa, membuat Sifa kaget dan bertanya-tanya, "Kamu kenapa sih Asa?"
"Kamu ini yang kenapa?!" Jawab Asa lebih tegas
"Kita kan mau jenguk Nuha" Sambungnya
"Eh? Hehehe.." Sifa jadi merasa sedikit bersalah.
__ADS_1