Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Maksudnya, suka?


__ADS_3

"Tuh kan telat."


Nuha mengeluh sambil melihat pintu gerbang sekolah yang segera ditutup oleh pak satpam. Setelah berterima kasih kepada kakaknya yang telah mengantarnya ke sekolah, Nuha pun bergegas turun dari sepeda motor dan berlari menuju gerbang sekolah.


"Jangan berlari!" Perintah kakak, tapi sepertinya perintahnya tidak Nuha hiraukan.


Nuha berlari menuju gerbang sekolah bersama beberapa siswa yang juga terlambat memasuki gedung sekolah. Tidak memperhatikan kondisi jalan yang sedikit lebih tinggi Nuha hendak tersandung lagi.


"Gawat! Aku akan jatuh." Nuha memejamkan mata bersiap-siap untuk tersandung.


Tiba-tiba ada yang menyambar tangan Nuha, menggandengnya berlari sampai memasuki gedung sekolah. Membuat Nuha tidak jadi terjatuh. Dari kejauhan, Muha melihat kejadian itu.


Nuha bergumam dan terus memperhatikan cowok itu dari belakang. Suasana menjadi lembut dan hangat. Nuha seperti diajak berlari oleh seorang malaikat.


"Jaket itu?" Gumam Nuha.


"Naru?", sahutnya.


Nuha melihat punggung yang memakai jaket itu membuatnya mengenang sesuatu lagi. Naru ternyata yang menyelamatkannya waktu lalu ketika Nuha hendak jatuh dari tangga. Hati Nuha sedikit berdegup, tapi dia mencoba untuk menghindari tebakan-tebakan dari perasaannya itu.


Dia mulai khawatir. Tidak ingin terbawa perasaan ketika ada orang yang baik kepadanya. Takut jatuh cinta dan tenggelam ke dalam hubungan percintaan, hubungan yang menurutnya adalah hubungan paling rumit sedunia.


"Maaf ya, membuatmu kaget", ucap Naru.


Nuha malah tidak bisa mengucap sepatah kata pun karena merasa terkesima bercampur canggung, hingga membuatnya berat untuk berucap dan mengendalikan hatinya, "deg deg.. Deg deg"


Naru berbalik ke arah Nuha dan meletakkan sesuatu di telapak tangannya. Nuha masih membatu dengan keadaannya. Hingga mulai tersadar karena ada sesuatu yang hangat di genggaman tangannya.


"Semoga kamu suka", Kata Naru kemudian pergi meninggalkan Nuha.


"Suka?"


Sebuah mainan bola lampu pantul yang biasanya berisi mainan ikan-ikanan kecil tetapi di dalam bola itu isinya mainan kucing yang lucu. Nuha tersenyum.


Di dalam kelas, Nuha sudah duduk dengan manis sambil bertanya-tanya tentang perkataan Naru tadi. Pikirannya belum fokus untuk terus memikirkan arti perkataan Naru.


"Suka.. Apa maksudnya suka?" Gumam Nuha seketika membuat wajahnya mulai memerah lagi.


Selesai upacara, Asa dan Sifa masuk ke kelas dan melihat Nuha sedikit aneh karena tersenyum-senyum sendiri


Fani yang mengikuti dari belakang, dia jadi merasa penasaran dengan obrolan teman sekelasnya yang berada di dekat pintu masuk kelas. Fani sejenak berhenti di bangku teman sekelasnya itu.


"Asik yah, kemarin bisa jalan sama cowok beda sekolah." Kata Ajeng merasa senang.

__ADS_1


"Wah! Akhirnya kamu pacaran juga sama Reza? Gak sia-sia aku kenalin dia sama kamu Ajeng" kata Nana.


"Apa? Pacaran?", respon Fani.


Mereka langsung acuh terhadap Fani.


"Heii! Anak baik sepertimu tidak pantas dengerin obrolan anak yang sudah gaul kayak kita ini.. ya kan Ajeng?" Jawab Nana dengan gaya sok gaulnya.


"Kalian itu yang sudah berlebihan!" Fani membalas dengan manyunnya dan beranjak pergi menuju ke bangkunya.


"Dasar! Mereka itu sudah suka sekali pacaran." Ketus Fani kepada ketiga temannya.


"Duniamu kurang luas Fani." Sifa menimpali perkataan Fani seolah Sifa malah membela teman sekelasnya itu.


Nuha, Asa dan Fani menjadi penasaran dengan ucapan Sifa. Sifa juga langsung berterus terang bahwa dia ternyata sudah punya pacar dari sekolah lain. Sontak ketiga sahabatnya itu kaget dan berteriak sekencang mungkin.


"APAAA!!!"


"Hehe, santai dong gays. Ke kantin yuk", ajak Sifa.


"Tapi kan tapi, kita butuh banget penjelasanmu, Sifa?!"


"Oke-oke, tapi nanti. Kita jajan dulu"


Saat perjalanan mereka berempat menuju kantin, Fani melihat Dilan sedang bermain basket di halaman sekolah bersama teman-temannya.


"Mana-mana?" Sambung Sifa berkaca-kaca.


Nuha hanya melihatnya dari tempat dia berada. Sekarang, Nuha dan Dilan sudah kembali tenang pada dunia masing-masing.


Para siswa bersorak untuk Dilan, dan Dilan tampak sangat mempesona saat dia ahli bermain basket.


"Dilaan!! Kamu hebat." Sifa ikut bersorak untuk Dilan.


"Mereka gak capek apa? Baru aja upacara, malah pada main basket", gerutu Asa berkacak pinggang.


Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menyambar bola basket Dilan dan dia adalah Naru. Nuha tersentak kaget. Dia menjadi fokus melihat Naru. Memperhatikannya dengan seksama dengan hati sedikit berdebar-debar.


"Siapa dia? Sok banget deh!" Ketus Sifa.


"Waaah dia gak mau kalah dari Dilan." Ejek Asa sambil melirik ke arah Nuha.


Nuha yang mulai tersadar menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Apa kamu mengenalnya, Nuha?" Tanya Fani.


"Eh? Dia.. dia itu salah satu siswa sekelasku di kelas D." Jawab Nuha sedikit grogi.


"APAAA!!!" Ketiga sahabatnya kaget.


"Waah.. cinta baru nih?!" Ejek Asa.


"Ma-Mana mungkin!" Nuha langsung berdehem dan jawabannya terdengar membentak, ia mencoba mengelak dari sindiran Asa.


"Uuuhh..." Asa malah semakin menyindir.


Tanpa ada yang menyadari, Naru melihat Nuha bersama teman-temannya dan dia tersenyum bisa melihatnya lagi. Dilan dan Naru masih terus bertanding.


Dilan dan Naru memang sudah saling kenal dan mereka adalah teman sekelas, tapi tidak ada persaingan di antara mereka berdua. Mereka berdua berteman baik.


Benar-benar mempesona Dilan dan Naru bertanding basket. Keringat mereka berkelap kelip di udara menunjukkan permainan mereka yang penuh semangat. Dilan dan Naru saling beradu mata dan gerakan yang membuat para penonton berdecak kagum dan bersorak hebat.


"Elo hebat juga Rui" Dilan memuji Naru sambil memberikan tos kepadanya.


Pertandingan Dilan dan Naru pun selesai. Mereka beristirahat bersama sambil meneguh air putihnya.


"Elo yang lebih hebat dari gue Dilan." Puji Naru balik.


"Walah? Gue? Tidak diragukan donk, seperti biasa.. Selalu bersinar di antara para gadis", Dilan malah menyombongkan diri.


"Cowok playboy mah bebas" Sindir Naru.


"Haha, Tahu aja Elo Rui dengan kebiasaanku. Tapi, cukuplah. Aku mau fokus jadi anak kelas 3 yang teladan, dan menjauhkan diri dari para gadis dulu", Jawab Dilan sambil menyeka keringatnya.


"Tumben? Kenapa?", tanya Naru.


"Iya. Setelah pertemuan gue dengan gadis imut bernama Nuha waktu lalu itu membuat gue seperti belum bisa move on. Gue jadi tidak tertarik lagi ngajak jalan para gadis yang lain. Jadi, gue ingin menyibukkan diri gue dengan hal-hal selain itu agar gue tidak terjebak di dalam perasaan aneh ini. Gue tahu perasaan apa ini."


"Gitu ya? Bener juga"


Naru dengan terang mengakuinya. Dilan melihat ke arah Naru. Terdiam dan Tiba-tiba dia memperlihatkan sebuah foto di ponselnya ke hadapan Naru. Foto Nuha waktu dia potret dari lantai atas, sehingga Nuha menengadahkan kepalanya ke atas melihat ke arah Dilan.


Seketika wajah Naru memerah dan keluar asap di atas kepalanya. Dilan jadi mencurigai Naru.


"Kau menyukainya yaaa" Sindir Dilan


"Gi-gimana bisa?! Gue kan gak mengenalnya" jawab Naru berbohong.

__ADS_1


"Benar juga yah! Ah! Gue akan cemburu kalo tiba-tiba ada orang yang menyukainya" Dilan menjadi kesal.


Naru terdiam, dia bingung mencari alasan lagi. Beruntung Dilan tidak menebak ekspresi hatinya karena Dilan sendiri sedang beradu dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2