Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Soya, Mayo kenapa?


__ADS_3

Malam di Rumah Naru


"Mengapa tadi, Nuha diam saja ketika bertemu aku? Apakah dia sudah diberitahu oleh Fani tentang kesepakatanku dengan Dilan? Dan karenanya, dia jadi kecewa?" Gumam Naru sambil melihat foto yang diambilnya dengan kamera Kodak. Di dalam foto itu, Naru melihat wajah Nuha.


"Untung saja ayah mengajaknya berfoto bersama. Jadi, aku bisa mencuri satu foto wajah Nuha di dalamnya. Selebihnya, ada foto-foto dengan yang lain. Tehhee," Naru terkekeh gemas.


"Besok, aku akan mencetaknya dan memberikannya secara keseluruhan kepada Nuha. Pasti dia akan senang."


Naru meletakkan kameranya di atas meja belajar dan berjalan turun dari kamarnya. Di dapur, dia melihat Dina sedang mengambil camilan di dalam kulkas. Naru memergokinya.


"Dina?"


"Eh, Kak Naru."


"Kamu mau ngapain, Dina?"


"Aku mau mengambil camilan di dalam kulkas, kak. Kakak sendiri mau ngapain?"


"Aku ingin membuat es teh."


"Kakak, jika nanti mau mencetak foto-foto itu, jangan lupa memberi satu kepadaku, ya? Terutama yang ada foto Kak Nuha-nya." pinta Dina.


"Kamu sangat menyukai Nuha ya? Atau mungkin karena dia memiliki kakak yang ganteng?" tanya Naru.


"Iya-"


Belum selesai Dina melanjutkan jawabannya, dia menjadi terganggu oleh suara Ibunda yang sedang menelepon menggunakan bahasa Jepang. Dina bermaksud menguping.


"Kakak, diam dulu, ya. Sssttt, diam dulu," kata Dina sambil memintanya untuk tetap diam.


"Ada apa?"


"Ssttt"


"Mamiya? Apa kabar? Ada yang bisa aku bantu?" terdengar suara Ibunda dalam bahasa Jepang. Dina bermaksud untuk mencoba memahami pembicaraan itu.


"Lanjutkanlah mengupingmu itu. Aku akan kembali ke kamarku," kata Naru yang tidak peduli.


"Haish, Kak Naru ini, tidak memiliki rasa ingin tahu," keluh Dina sambil terus menguping. Dia mengetahui bahwa Ibunda menerima telepon dari sahabatnya di Jepang, bernama Mamiya. Kedua ibu-ibu itu masih menjalin komunikasi lewat telepon dan surat elektronik.


Namun, ada sesuatu yang sedang terjadi pada sahabat ibundanya. Raut sedih dan prihatin terlihat di wajahnya. Ayah datang ke tempat telepon dan menanyakannya.


"Ibunda, ada apa?" tanya ayah.


"Mamiya, suaminya terjerat kasus korupsi dalam perusahaannya. Untuk menyelesaikan masalahnya, dia ingin menitipkan Naomi kepada kita."


"Mengapa dia harus dititipkan kepada kita? Bagaimana dengan kerabatnya di sana?" tanya ayah.


"Saya tidak tahu pasti, Anata. Yang jelas, ia menitipkan Naomi pada kita agar anak itu tidak stres dan terhindar dari gosip-gosip. Kasihan, dia kan masih sekolah dan akan lulus seperti Naru."


"Jika Naomi dititipkan pada kita, lalu bagaimana dengan sekolahnya, Sayang?" tanya ayah.


"Anata, tidakkah kamu setuju jika Naomi tinggal bersama kita?", bujuk istrinya.

__ADS_1


"Apa?"


"Setidaknya kita bisa membantu mereka dengan merawat Naomi sampai masalah mereka selesai. Kita jangan biarkan dia menjadi terpuruk di sana."


"Jika itu yang menjadi keputusanmu untuk membantu mereka, aku akan mendukungmu dengan senang hati," jawab ayah.


"Terima kasih banyak, sayangku."


"Lalu, kapan Naomi berangkat ke Indonesia?"


"Besok."


"Jika itu yang terjadi, besok kita akan mengirimkan sopir dan anak-anak untuk menjemputnya di bandara."


Pembicaraan Ibunda dan ayah pun berakhir, tetapi Dina masih tetap menguping di dapur. Dia mengetahui semua detail percakapan ibundanya.


Keesokan Harinya di Sekolah


Esok harinya, di SMK Merdeka Surakarta. Di pagi hari yang cerah, Nuha masuk ke gerbang sekolah. Kemudian, Sifa dan Yeni berlari ke arahnya.


"Nuha!"


Sifa menyapanya dan Nuha membalasnya. Ujian Semester Gasal sudah selesai, hari ini akan ada remedial dan class meeting. Informasi tentang class meeting telah terpampang di pengumuman sekolah.


Nuha dan Sifa sudah terbiasa dengan hal itu. Saat ini, mereka sudah kelas 12, sehingga mereka langsung mengabaikannya.


"Senangnya sudah selesai ujian. Asik, kita akan bebas sepanjang hari hingga pengumuman nilai," kata Asa yang tiba-tiba muncul dan menginterupsi percakapan mereka.


"Menonton adik-adik kelas yang sedang berlomba pasti sangat menyenangkan juga," sahut Sifa dengan semangat.


"Nuha," panggil Fani.


"Iya, Fani?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Fani sambil mengecek di sekitar mereka.


"Apa itu?"


"Tapi gakpapa kalo Asa dan Sifa tau?"


"Eh? rahasia, kah?" tanya Nuha spontan.


"Hah? Emang ada rahasia?" seru Asa dan sifa serentak.


Asa dan Sifa langsung menaruh perhatian pada pembicaraan Fani tersebut, "Sudahlah, jangan menjadi rahasia-rahasiaan, Fani," pinta Sifa, semakin penasaran.


"Ya sudah, Fani. Gakpapa, omong saja," balas Nuha.


"Iya nih, omong aja, Fani," pinta Asa.


"Iya.. Umm, gimana ya cara mengatakannya?" gumam Fani, bingung. "Oke deh, aku ingin memberitahumu tentang Naru. Bahwa dia gak bisa ketemu dulu sama kamu sampe akhir semester, Nuha," jelas Fani.


"Eh, kok gitu?"

__ADS_1


"Pasti ada alasannya kan?", sanggah Asa.


"Iya bener, alasannya apa Fani?" lanjut Sifa.


"Maaf teman-teman, aku gak gak bisa kasih alasannya. Gak enak gitu mau kasih alasannya"


"Eeeehh"


"Ya sudah, gakpapa Fani. Lagi pula, Bapak Wito juga sedang melarang kelas kita untuk pacaran, kan. Jadi, tidak apa-apa," lanjut Nuha.


"Kalau begitu, kamu harus menjelaskannya pada Naru, Nuha," saran Sifa.


"Tapi, Bagaimana caranya?" tanya Nuha.


"Umm.. gini saja.. besok kita akan membuat rencana agar kamu bisa bertemu dengan Naru. Sebaiknya kita harus menghindari situasi agar tidak ada teman sekelas yang mengetahuinya-" namun, pembicaraan Sifa terputus karena Nuha mendengar suara kucing dan itu terdengar di kepalanya.


"Meong.."


"Soya?", kata Nuha.


"Ada apa, Nuha?" tanya ke-3 sahabatnya.


"Tidak apa-apa, aku harus keluar sebentar," jawab Nuha cepat.


"Kemana?" tanya Fani.


"Ke sana..."


Nuha keluar dari kelas dan langsung berlari menuju taman belakang sekolah. Perasaannya menjadi tidak enak, terganggu dan tidak tenang.


Di pintu gudang, Soya menyapa Nuha dengan tanggapan - "Meong".


"Soya, ada apa?" tanya Nuha saat masuk ke dalam gudang.


Tiba-tiba, raganya terasa lemah dan jantungnya berdebar kencang melihat seekor kucing tergeletak di sana.


"Mayo? Kenapa dia seperti itu?"


"Meong, meong," jawab Soya.


"Tidak, Soya. Mayo! Mayo! Gak mungkin kalo Mayo ma-"


"Mayo! Mayo! Bangunlah! Mayo!" teriak Nuha di depan kucing itu yang sudah tak bergerak, mungkin sudah tidak bernyawa.


"Mayo! Mayooo! Tidak! Bangunlah, Mayo! Kumohon" panggil Nuha mulai menangis. Sesenggukan hingga derai air mata sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis sejadi-jadinya.


Melihat kucing itu mati, Nuha sangat terpukul. Perasaan takut akan kehilangan mulai menyelimuti hatinya. Dia terus menangis dan memanggil nama kucingnya terus menerus, "Mayo! Mayo!" panggilnya terus tidak ingin menyerah.


"Naru! Naaruuu!!"


"Aku harus mencari Naru," keluhnya mulai berlari meninggalkan kucingnya itu untuk segera menuju kelas 12D MIPA.


"Naru.." Nuha terus berlari dan berlari sampai kecepatannya tidak bisa dia kendalikan dan membuatnya terjatuh dengan sangat keras. Nuha terjatuh di lantai beton sehingga lututnya terluka dan mengeluarkan darah, namun tidak peduli.

__ADS_1


"Naru," Nuha terus berlari tanpa mempedulikan rasa sakit dari lututnya.


__ADS_2