
"Gedubrak!" Nuha tersandung.
Nuha ceroboh lagi karena melewati lantai yang posisinya lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tersandung cukup keras, hingga membuat lututnya kram dan tidak mampu untuk bangun.
Nuha masih belum bergerak, seorang cowok bercahaya mendekat di hadapannya. Kehadirannya membuat waktu menjadi bergerak perlahan. Nuha mengingat kenangan awal ia terjatuh tepat di tempat itu dan ada cowok lewat tapi dia malah lewat begitu saja tanpa mempedulikannya.
"Kamu gak papa?"
Nuha pikir itu hanya halusinasinya saja karena teringat kenangan masa lalu. Tapi ternyata, Naru datang menolong.
"Naru", balas Nuha tersenyum.
Naru pun mengajaknya duduk di kursi dekat tempat tersebut dan mengobrol. Lalu berkata, "Nuha, sejak awal aku tuh udah memperhatikanmu. Maaf ya kalo itu gak sopan. Pertama kali melihatmu terjatuh dan itu sungguh aneh. Haha. Tapi, saat kamu terjatuh kamu malah tersenyum dan tertawa kecil meski sering mengeluh sakit. Jadi, sejak itu, aku langsung jadi kagum kepadamu"
"Kagum? Suka?" sela Nuha.
"Tapi, sekarang akhirnya aku bisa menolongmu dengan baik," lanjutnya.
"Sekarang? Kenapa gak dari dulu?" tanya Nuha heran.
"Canggung"
"Apa?"
"Aku bersyukur, Nuha. Akhirnya sekarang aku bisa dekat denganmu. Dua tahun lebih beberapa bulan yang kupikir aku masih harus terus sabar menunggu tapi.."
"Tapi, apa?"
"Tapi.." ucap Naru di dalam hati.
"Naru, apa?", Nuha semakin bingung.
Tiba-tiba Kakak datang dengan santai bersama temannya, memergoki Nuha yang sedang duduk bersama Naru.
"Ka- kakak?!", Nuha kaget sambil nyengir.
"Apa-yang-sedang-kamu-lakukan-di-sini? Haah?!", Tanya Kakak dengan kasar.
"It-itu..", Nuha masih terbata-bata.
"Sana! Pergi ke kelasmu sekarang?!", Pinta Kakak sambil memicingkan matanya ke arah Naru
"Ok-ok-aa-ii..", Jawab Nuha
"Kamu juga?! Ngapain masih disini?" Ucap kasar kakak ke Naru. Naru hanya membalasnya dengan senyum kecut.
"Udah, jangan marah-marah Muha", Temannya menenangkannya.
"Maafin Kak Muha ya, dia memang sedikit galak", Canda temannya dengan ramah.
"Iya, gakpapa" Jawab Naru.
"Ya udah, kita pergi dulu. Sampai ketemu lagi", Teman Muha melambaikan tangan ke Naru dan mendorong Muha pergi menjauh darinya.
__ADS_1
"Gue heran sama Nuha adik gue. Sekarang dia jadi susah sekali diberitahu, sama kakaknya aja ngeyelnya minta ampun", Katus Muha.
"Namanya juga anak sekolah, udah SMA lagi. Ya wajar begitu. Kamu jangan terlalu mengusiknya, Muha"
"Haish!!"
...****************...
Matahari, mulai menaikkan levelnya hingga menyilaukan mata dan memusingkan kepala. Cahaya panasnya menembus ke jendela kelas tambahan D. Membuat para siswa mulai tidak fokus menyelesaikan tugas dari guru mereka.
"Baik anak-anak, satu minggu lagi tryout pertama akan datang. Tolong apa yang sudah guru ajarkan pada kalian, kalian pelajari ulang ya. Bapak harap, kalian bisa mengerjakan tryout dengan mudah dan mendapat hasil yang terbaik"
"Baik pak!", sahut seluruh siswa.
Nuha keluar dari kelas tambahannya dan ingin kembali ke kelasnya menemui ketiga sahabatnya.
"Nuha, tunggu!"
"Iya?", Nuha pun menoleh, dia langsung kaget tangannya dipegang Naru.
"Na- Na- Naru, A- Ada apa?"
"Kok kamu langsung pergi sih?"
"E- Emangnya kenapa?"
"Iya gakpapa sih, tapi kan"
"Hei Naru, kamu kenapa pegang-pegang tangan Nuha? Mau modus ya?!" sela Ziya si tomboy dengan matanya yang tajam.
Nuha memiringkan kepalanya karena bingung dengan maksud Naru, sedangkan Naru langsung berlalu begitu saja. Naru pun tersenyum tanpa sepengatahuannya.
Nuha berjalan keluar kelas, dia tidak tahu kalau Naru masih menunggunya di luar. Seketika Naru menarik Nuha ke dinding kelas, "dug"
"Na- Naru, kamu mau ngapain?!"
Nuha bersandar di dinding dan Naru ada di hadapannya. Naru mengunci pergerakan Nuha dengan kedua tangannya ia tahan di dinding.
Hati Nuha mulai berdebar-debar lagi. Pipinya memerah, berat rasanya menghindari grogi dan malu-malu menghadapi cowok itu.
"Ada apa Naru?"
"Nuha, Apa aku terkesan buruk di mata kakakmu?"
"Eh?"
"Soalnya, setiap kakakmu melihatku, dia terlihat serius dan menyimpan kekesalan yang amat dalam"
"Itu.. Hehe, gimana ya?", balas Nuha memalingkan mukanya karena tidak ingin menanggapinya secara serius.
"Tapi gakpapa lah. Aku akan berusaha sendiri, supaya aku bisa mendapat persetujuannya", balas Naru.
"Persetujuan?"
__ADS_1
Naru tersenyum dan melepaskan Nuha, "Udah Nuha, gak usah dipikirin. Aku kan cowok. Tadi, aku cuma merajuk saja kok"
"Maaf ya Naru", hanya itu yang bisa Nuha katakan.
"Santai aja Nuha. Ya udah, balik dulu gih. Nanti dicariin BFF kamu lagi."
"Iya"
Nuha berjalan meninggalkan Naru, sesekali ia melihat ke arah Naru. Sesekali ia melihatnya lagi dan Naru masih saja tersenyum.
Naru semakin hari semakin terlihat tampan. Dan Nuha masih bingung harus bersikap bagaimana. Ia masih merasa seperti anak kecil yang tidak bisa bersikap dewasa menghadapi perkembangan kehidupan anak sekolah, apalagi anak Sekolah Menengah Akhir.
"Kamu itu bahagia gak sih suka sama Naru?", tanya Hawa.
"Aku bingung mau jawab apa"
"Seperti prolog awalmu kan Nuha. Melibatkan diri dengan orang lain itu sangat merepotkan, apalagi harus punya pacar. Kamu serius akan merelakan zona nyamanmu itu?" Jelas Hawa.
"Kamu benar Hawa, ini sungguh perasaannya yang merepotkan. Tapi, jujur.."
"Jujur apa?"
"Jujur, aku sekarang menjadi lebih bahagia. Hidupku seperti dipenuhi kegembiraan. Hatiku rasanya selalu berbunga-bunga."
"Iya, semoga seperti itu terus ya Nuha, perasaanmu selalu bahagia dan jauh dari rasa kesepian", Hawa menyetujui kejujuran perasaan Nuha.
Nuha, Asa, Fani dan Sifa bertemu di kelas 12F Multimedia. Tidak disangka, Asa, Fani dan Sifa juga mengalami kepusingan akibat tugas dan teriknya panas sang matahari.
"Gila! Hari ini panas bener. Bahkan aku sampe gak bisa fokus ngerjain tugas dari guru", keluh Sifa terus menggerutu, diikuti Asa.
Fani yang mendapat ranking kedua saja mengeluh kesusahan mengerjakan soalnya, "Iya, aku juga merasa kesusahan ngerjainnya".
Nuha dan ketiga sahabatnya pun menghela nafas panjang di kursi teras kelasnya. Menghela nafas, menghela nafas sampai beberapa kali.
Muha dan temannya melewati mereka. Teman Muha berhenti berjalan tepat di hadapan Nuha dan ketiga sahabatnya. Ia terpaku kepada seorang gadis yang duduk diantara mereka. Seorang gadis berambut pendek, terlihat tomboy dan Manis baginya.
Nuha dan Muha saling melempar tatapan petir satu sama lain. Ketiga sahabatnya mulai bingung.
"Ha-halo kak Muha" Sapa Sifa.
"Ka-kak Muha bawa te-teman ya?" Sifa mencoba mencairkan suasana.
"Hai, aku temannya Muha. Kenalin, aku Yuki, panggil aja Kak Yuki", balas Yuki. Dia langsung menawarkan tangan pertamanya kepada Asa.
Yuki, Sayuki Malik. Pria tampan berkulit putih seputih salju dengan rambutnya yang pirang. Berkaca mata bulat dan sangat ramah. Sahabat Muha yang sama-sama telah menyelesaikan skipsinya. Dia akan ikut mengajar di kelas bersama Muha.
Asa hanya bengong tidak membalasnya. Sifa langsung menyosor seperti bebek. Ia menerima langsung tangan Yuki dan menjabatnya dengan perasaan gembira.
"Aku, aku Sifa kak."
"Mulai deh. Playgirlnya beraksi" tambah Asa.
Sifa hanya terkikik sendiri.
__ADS_1
Asa mengernyitkan dahinya sedikit curiga tapi ia mengabaikannya. Ia memang anti cowok dan anti cinta. Mana mungkin Yuki bakalan naksir padanya.
Sifa pun langsung menyadarinya kalau Yuki bakalan naksir Asa. Tapi ia mencoba menguji keduanya dengan sedikit mengganggu mereka. Sifa mulai memikirkan rencana-rencana liciknya.