Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Naru sakit


__ADS_3

“Haah.. Gue lelah sekali..”


Naru berhenti di anak tangga pertama untuk mengatur nafas sejenak. Mengurus kegiatan Olimpiade bersama Pak Hanif lumayan menguras tenaganya. Dia pun melanjutkan langkahnya menaiki tangga hendak ke perpustakaan. Dengan jaket yang dia jinjing di bahunya dia mencoba untuk terus bertahan.


“Haah..”


“Haah..”


“Haah..”


“Itu kan Naru” Batin Nuha


Nuha bersama tiga sahabatnya hendak menuju kelas namun langkahnya terhenti melihat sekilas Naru yang sedang menaiki tangga menuju ke perpustakaan. 


“Teman-teman”


“Iya Nuha?” Tanya Fani


“Aku.. Umm.. Aku ke perpus dulu ya..” Ucap Nuha pelan


Asa yang melihat ke tangga langsung mengerti bahwa di sana ada Naru. Dia pun mengiyakan dan memberikan kepercayaan untuk Nuha.


“Oohh..” Ucap Asa sambil melirik ke Sifa


“Nih Nuha, air mineral. Barang kali nanti butuh” Fani memberikan air mineral yang baru saja dia beli dan langsung memberikannya kepada Nuha


“Iya. Makasih ya Fani.. Makasih teman-teman” Ucap Nuha


“Sama-sama” Mereka bertiga langsung tersenyum manja


Nuha melangkahkan kakinya menghampiri Naru yang sudah menaiki setengah tangga. Langkah Naru terlihat tidak biasanya bagi Nuha. Nuha melihat Naru dari belakang sedikit berbeda dan tampak kelelahan.


“Naru?”


Naru yang mendengar suara Nuha mulai menoleh, namun biasan sinar matahari cukup mengganggu kepalanya. Kepalanya sedikit pening dan keseimbangan tubuhnya mulai oleng. Naru hampir terpeleset dan akan jatuh mengenai Nuha. Khawatir Nuha tidak mampu menahan tubuhnya, Naru mencengkeram erat pegangan tangga untuk menguatkan diri.


“Naru.. Naru..”


Panggil Nuha dimana Naru sedang setengah sadar jatuh di pelukan Nuha. Mereka terduduk di anak tangga dan Nuha sangat kebingungan. Naru tidak bergerak sama sekali, tubuhnya benar-benar jatuh di pelukan Nuha.


“Naru.. kamu berat..” Ucap Nuha kesusahan


“Nuha..” Ucap Naru lirih. Matanya terpejam dan dia semakin tertunduk lemas


“Haah..”


“Haah..”


“Naru, nafasmu berat. Tubuhmu panas. Kamu sakit?”


“Nuha.. aku sayang kamu” Gumam Naru

__ADS_1


“Eh?, umm.. disaat seperti ini masih bisa bilang sayang” Nuha menghela nafas sejenak


“Apa yang harus aku lakukan, Naru?” Bisik Nuha sedikit sedih


Naru mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Sebiji obat yang telah ia persiapkan dari rumah. Ketika hendak berangkat ke sekolah Naru menyadari bahwa dirinya sedikit tidak enak badan namun dia harus memaksakan diri untuk masuk sekolah karena masih ada yang harus dia kerjakan.


Beberapa buku yang harus dia pinjam lagi dari perpustakaan, untuk persiapan olimpiade sesi kedua. Naru berencana setelah meminjam buku dari perpustakaan dia akan pergi ke UKS untuk mengistirahatkan diri. Namun, ternyata tubuhnya sudah tidak kuat lagi.


“Obat?” Tanya Nuha


“Naru, bertahanlah. Jangan pingsan, aku mohon” Pinta Nuha kebingungan


“Tenanglah Nuha. Tolong minumkan obat ini untukku, setelah itu aku akan istirahat sebentar dan aku akan sembuh” Pinta Naru yang terengah-engah


Nuha membenarkan kepala Naru yang jatuh dipelukannya dan memindahkannya dipangkuannya. Beruntung Fani membawakannya air mineral, dia bisa meminumkan obat kepada Naru bersama meminumkan air mineralnya.


Tubuh Naru benar-benar menguap, Nuha sampai bisa merasakan uap panas Naru di seluruh tubuhnya. Dia sedih melihat kekasihnya terbaring lemah dan sakit.


“Naru..”


Nuha mengecek suhu panas di dahi Naru dengan telapak tangannya, berharap panasnya bisa segera mereda. Ia memandangi lembut kekasihnya yang sedang tidur dipangkuannya. Menyelimutinya dengan jaket Naru sendiri.


“Ho-Hoee~ Naru tidur dipangkuanku” Nuha tersipu malu


Peluh pun menetes, keringat mulai keluar dari beberapa kulit di tubuh Naru. Cukup banyak hingga membekas di bajunya dan sela-sela rambut yang membuat rambutnya jadi sedikit basah. Benar-benar obat dengan dosis tinggi. Naru jadi sedikit menggigil.


“Naru, keringatmu dimana-mana”


Nuha mulai menyeka beberapa keringat yang keluar dari kening dan leher Naru. Suhu panas tubuhnya mulai menurun dan raut wajah Naru perlahan kembali tenang. Bahkan, dia bisa tersenyum dan melanjutkan tidur nyenyaknya di pangkuan Nuha.


“Naru, aku kaget tiba-tiba kamu sakit. Untung saja aku menolongmu. Kalo tidak, kamu bisa jatuh tersungkur ke bawah tangga”


“Eh?” Nuha mengingat sesuatu


“Umm.. Ini seperti diriku dulu. Dulu aku juga hampir jatuh dari tangga karena sakit. Beruntung sekali ada yang menolongku, dan ternyata itu kamu Naru”


“Aku tidak menyangka bahwa itu adalah Naru. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Naru. Aah.. Naru, kenapa kamu mengganggu pikiranku” Nuha tersipu malu


“Lucu sekali” Batin Naru


“Naru, kapan kamu bangun? Kakiku mulai kesemutan” Keluh Nuha


Naru semakin terkikik geli mendengar Nuha yang sedang berbicara sendiri. Hingga dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya dan mulai tertawa.


“Naru? Kamu sudah bangun? Kamu mimpi ya?” Nuha melirik Naru dipangkuannya


“Naru, bangun! Kakiku kesemutan”


“Gak mau Nuha” Naru tidak ingin bangun dari tidurnya


“Kamu manja ya” 

__ADS_1


“Iya, aku sedang ingin dimanja. Nuha..”


“Naru! Kamu membuatku malu!” Muka Nuha semakin merah dan kepalanya memanas.


“Siapa bilang suruh ngomong kayak gitu. Jangan memancing perasaan cowok, cintaku” Naru langsung bangun dan menjewer kedua pipi Nuha sampai melar


“Itai! Sakittt!”


“Nuha.. aku sayang kamu, aku cinta kamu” Naru semakin gemas menjewer kedua pipi Nuha


“Lepaskan! Besok aku tinggal aja pipiku di rumah kalo kamu jewer terus kayak gini Naru. Naru lepasin!” 


Ucapan Nuha yang kurang jelas semakin terdengar lucu bagi Naru. Nuha terus memberontak dengan memukul-mukul bahu Naru. Hingga suara perut Naru menghentikan perbuatannya.


“kruk.. krrukk.. Krrruuukk~”


“Habis sembuh pasti langsung lapar” Sindir Nuha


“Yuk ke kantin” Ajak Naru


“Tapi ini kan sudah jam masuk kelas Naru. Kamu juga tidurnya lama sekali. Masa tambah ke kantin juga. Nanti semakin ketinggalan pelajaran Naru..”


“Kamu mau kembali ke kelas? Ya udah sana” Ejek Naru


“Uumm..” Nuha menggeleng-gelengkan kepala sedikit tersipu malu


“Manis sekali..” 


Naru mengalungkan jaketnya diperutnya kemudian menggandeng tangan Nuha. Menuntunnya menuruni tangga dan menggandengnya berjalan menuju kantin. Beberapa bekas keringat masih terlihat, namun Naru seperti telah hidup kembali. Tenaganya sudah pulih dan tubuhnya terlihat segar.


“Syukurlah.. kamu sudah sehat Naru”


“Makasih ya Nuha”


“Umm..”


Mereka masih terus melanjutkan perjalanan. Nuha memandangi Naru yang terlihat sangat menawan. Pantulan sinar matahari mengenai sela-sela rambutnya yang sedikit basah karena keringat, menambah ketampanannya terpancar bagi Nuha. 


“Naru sangat tampan” Gumam Nuha


“Iya Nuha?”


“Eh? Gakpapa..”


“Aku semakin menyukai Naru, tapi aku takut..” Batin Nuha


Nuha tertunduk hingga mempengaruhi jalannya. Bukan tersandung tapi terjegal oleh kakinya sendiri. Naru yang menyadari itu langsung berhenti. Merasa sangat khawatir.


“Nuha, ada apa?”


Nuha mencengkeram erat pengangan tangannya di tangan Naru. Seerat mungkin untuk menahan perasaannya yang sedikit sakit. Tanpa basa-basi Naru langsung memeluk Nuha. Memeluk hatinya, perasaannya, hingga benar-benar bisa menyembuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2