Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Selamat hari lahir, Nuha


__ADS_3

Selesai merayakan kejutan hari lahir bersama BestFANS, Nuha pergi ke taman belakang sekolah. Dia menemui kedua kucingnya, Soya dan Mayo.


Melihat gudang kosong yang tiba-tiba bersih dan rapi di sudut sana, Nuha menghampirinya.


"Siapa yang membuat ini semua? Naru kah?", gumam Nuha.


"Apa Naru ke sini, Soya Mayo?", tanya Nuha.


"Meong"


"Ahihihi..", Nuha jadi terkikik geli sendiri.


"Wah! Bagus banget kandang kalian. Besar juga, ada mainannya juga. Kalian pasti betah di dalam sini?"


Soya dan Mayo masih berada di luar kandang. Entah siapa yang menaruh kandang sebagus itu di dalam gudang kosong. Kandang yang terbuat dari jari-jari besi berwarna hijau. Ukurannya 1x1 meter. Lengkap dengan alas tidur, mainan panjatan, makanan, minuman dan pasir.


Nuha pun keluar dan berniat memanjat pohon. Pohon yang sangat sempurna untuk dinaiki.


"Kenapa aku gak dari dulu ya manjat ini pohon, pohon ini sangat nyaman untuk dinaiki. Hmm.. Ini berkat kamu Hawa", Nuha tersenyum.


"Syukurlah, aku benar-benar bersyukur. Hari lahirku masih bisa aku rayain lagi bersama sahabat-sahabatku"


"Kuharap Naru kesini", ucap Nuha terpejam sambil mulai menyandarkan kepalanya di batang pohon besar di sampingnya.


Naru datang dengan membawa tas ranselnya. Dia langsung bisa melihat keberadaan Nuha di atas pohon.


"Apa memanjat pohon sudah menjadi hobi baru kamu?", tanya Naru menengadah dan berkacak pinggang.


"Eh?", Nuha terbangun.


"Nuha, bolehkah aku ikut naik?"


"Emang bisa?"


"Kamu meremehkanku?"


"Silahkan saja", ucap Nuha sedikit angkuh.


Naru langsung melompat naik, hanya dengan tiga aksi dia sudang bisa duduk di batang pohon tempat duduk Nuha.


"Ce-cepat sekali", Nuha terkesima.


"Aku kan pemain basket Nuha, kalo cuma melompat tinggi mah kecil buat aku"


"idih sombongnya"


"Kamu ini, gadis pendek pun juga jago panjat pohon. Gak takut jatuh"


"Udah kebiasaanku kali, jatuh", Nuha menyeringai.


"Ha aah", Naru hanya bisa melepas nafas pasrah.


"Kamu bawa tas mau kemana Naru?", tanya Nuha penasaran.


"Ini? Penasaran ya?"


"Penasaran apa? Isinya? Emang isinya apa?"


"Nih", Naru membuka tasnya dan memberikan sebuah jaket varsity baseball yang dilipat berwarna salem kombinasi warna putih, dengan lengan warna biru muda. Dia memang tidak berniat untuk membungkusnya menjadi kado.


"Apa ini? Untuk aku?"


"Iya, spesial untuk Nuha yang paling istimewa"


"Hmm?", Nuha menerimanya sambil mengangkat alisnya sebelah karena masih bingung.

__ADS_1


"Kok kayak gak mau nerima gitu?"


"Habisnya.. Aku masih belum mengerti apa maksudnya kamu memberikanku jaket ini?", tanya Nuha tertunduk sambil kagum melihat jaket pemberian Naru.


Naru membiarkan waktu terdiam sejenak. Ia memandangi Nuha yang tampak ayu tertunduk melihat jaket pemberiannya.


"Selamat hari lahir ya Nuha", ucap Naru singkat.


"Eh?", Nuha langsung menoleh kaget.


"Sweet Seventeen my girl", Ucap Naru menghibur sambil memperlihatkan kedua telapak tangannya yang ia lukis tulisan Sweet di telapak tangan kanannya dan seventeen di telapak tangan kirinya.


Raut wajah Nuha pun berubah, matanya yang masih bingung berubah lebar berbinar-binar. Kedua pipinya terangkat dan mulutnya terbuka senang. Nuha merasa gembira.


"Naruu!", Nuha langsung memeluk Naru.


"Ops! Hati-hati donk Nuha"


Naru tertawa kecil sambil menahan keseimbangannya. Dia kaget, Nuha yang tiba-tiba memeluknya dengan perasaan gembira.


"Naru, maafkan aku karna tidak memberitahukan tentang hari lahirku"


"Aku sudah berusaha untuk itu Nuha", jawab Naru ramah.


"Gimana kamu bisa tau tentang hari lahirku?"


"Dengan kartu ajaib"


"Kartu ajaib?"


"Kartu matematika ajaib waktu di rumahmu itu"


"Ooh.. Kamu ternyata serius dengan itu ya, kupikir itu hanya candaan belaka"


"Candaan?, Aku gak pernah seperti itu Nuha, aku itu selalu serius kepadamu"


"Ahahaha"


"Coba pake! Pas gak ditubuhmu?", pinta Naru.


"Oke, bentar".


Nuha melebarkan jaket yang terlipat itu dan mulai melepas satu persatu kancingnya. Memakainya dan merapikannya di tubuhnya. Begitu sangat pas dan manis.


Seketika angin pun berhembus kencang, udara dingin sedikit merasuk dan beberapa dedaunan beterbangan menganggu romansa mereka.


"Kamu cantik Nuha", puji Naru tulus.


"Cantik itu relatif Naru, masih ada gadis yang lebih cantik dari aku", ucap Nuha masih sibuk membenahkan jaketnya.


Naru langsung mengambil kecupan manis di bibir Nuha. Nuha kaget dengan ciuman yang tiba-tiba harus dia terima. Ia mencoba tenang dan mengendalikan suasana.


Angin semakin menganggu suasana mereka. Helaian rambut Nuha melambai-lambai berantakan. Namun, Naru terlihat semakin tampan dengan rambutnya yang terkena hembusan angin.


"Tidak ada gadis yang lebih cantik dari kamu Nuha. Aku sangat mengagumimu. Di mata aku, hanya ada kamu seorang", ucap Naru serius menatap wajah Nuha yang tersipu malu. Dekat, sangat dekat.


"Naru?", ucap Nuha lirih.


"Apa aku boleh untuk selalu jatuh hati kepadamu, Nuha? Kamu begitu mempesona"


"U- umm..", jawab Nuha berdebar-debar.


Naru pun tersenyum. Dia sudah menyadari bahwa cuaca akan semakin buruk atas tanda angin dingin yang mengganggu romansa mereka. Dia pun mengajak Nuha untuk turun.


"Ayo Nuha turun"

__ADS_1


"Eh?", Seketika Nuha menyadari sesuatu.


"A- aku tidak bisa turuuun!!"


"Kenapa bisa?"


"Aku itu gak bisa turun dari pohon, Naru!"


"Trus ngapain kamu suka-suka panjat pohon segala kalo kamu gak bisa turun sendiri, Untung aku ada disini"


"Kalo di rumah aku biasa pake tangga", Nuha mengalihkan matanya.


"Trus kalo disini?", tanya Naru balik.


"Gak tau"


"Ya udah jatuhkan aja dirimu sekarang"


"Naru! Kamu jahat!"


"Katanya udah biasa jatuh?"


"Naru..", ucap Nuha sedih, dia merasa menyesal atas kesombongannya sendiri.


"Bantu aku turun", pinta Nuha.


"Bantu gimana?", tanya Naru pura-pura.


"Bantu, tangkap aku", ucap Nuha dengan suara pelan. Dia memalingkan wajahnya karena sungkan dan malu.


"Bantu apa Nuha?, aku gak denger"


"Naru!"


"Iya apa?"


"Jangan pura-pura gak tau apa-apa"


"Nuha, lihat! langit sudah sangat mendung hlo. Kalo kamu gak segera turun aku tinggal"


"Kamu itu suka becandain aku ya Naru jelek!"


Nuha sudah tidak ingin lagi berdebat dengan Naru. Tanpa basa basi lagi dia langsung menjatuhkan dirinya.


Seketika Naru langsung menangkapnya dengan sigap. Meskipun Nuha berani melakukannya, namun sebenarnya Nuha sangat ketakutan karena terlihat jelas jadi matanya yang terpejam erat.


"Dia suka sekali menyembunyikan perasaannya. Gadis yang tidak jujur", batin Naru.


Naru pun melangkahkan kakinya dan berjalan masih menggendong Nuha. Sangat santai dan senang.


"Naru?, kok aku gak diturunin?", tanya Nuha bingung.


"Enggak"


"Trus kita mau kemana?"


"Kembali ke kelas lah"


"Iya aku turunin dulu donk"


"Gak mau"


"Naru! Jangan membuatku malu!"


"Kamu malu punya pacar aku?, aku akan umumin ke seluruh sekolah bahwa kamu adalah pacarku"

__ADS_1


"Eh?!"


__ADS_2