
"Naru, jangan bercanda deh. Kamu membuatku takut"
"Takut apa?, Oh, sekarang aku tau kelemahanmu apa Nuha. Kamu itu mudah sekali ketakutan. Ini bisa membuatku mudah untuk mengancammu"
"Naru?"
Nuha terdiam. Ia merasa aneh dengan sikap Naru yang tidak seperti biasanya. Ia memandang ke atas melihat leher dan dagu Naru yang menutupi wajah tampannya.
Naru terlihat sangat serius. Dia terus berjalan menggendong Nuha, membawanya ke dalam gudang kosong.
"Eh?", Nuha kaget.
Naru berdiri di depan kandang Soya dan Mayo. Menurunkan Nuha dan berkata, "Apa kamu sudah melihat ini Nuha?"
"Meong"
"Ha-hasying!"
"Meong"
Ternyata, Naru tidak serius membawa Nuha kembali ke kelas. Mengumumkan ke semua orang tentang pacar imutnya itu. Dia hanya bercanda saja.
Nuha mengambil kedua kucingnya dan memasukkannya ke dalam kandang. Sejenak bermain-main dengan mereka menggunakan jari telunjuknya.
"Terima kasih ya Naru, kamu memberikan mereka tempat tinggal sebagus ini", ucap Nuha.
"Syukurlah kalo kamu suka", jawab Naru ramah.
"Darimana kamu dapat uang sebanyak ini Naru?, uang sakuku aja kalo aku kumpulkan juga gak bisa ngumpul sebanyak ini", ucap Nuha menoleh.
"Iih.. Boros sekali kamu", Naru langsung menjewer kedua pipi Nuha.
"Au.. Aku serius Naru!"
"Tenang saja Nuha. Aku punya uang tabungan banyak kok. Uang itu dari beasiswa aku yang sering ikut lomba dan olimpiade"
"Jadi, gak usah khawatir ya cantik"
"Tapi Naru, ini terlalu berlebihan. Ini terlalu bagus. Mereka berdua kan hanya kucing biasa"
"Kucing biasa bagaimana?, Kamu sangat menyukai mereka, gimana aku hanya bisa diam saja. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu", ucap Naru memalingkan mukanya karena tersipu malu.
Hujan mulai turun.
"Nuha, kita akan terjebak hujan lagi"
"Kalo gitu ayo kita langsung balik aja"
Naru langsung menggelengkan kepala. Ia menolak untuk kembali ke kelas, melainkan ia ingin lebih lama bisa bersama Nuha.
"Ada apa Naru?"
"Bisakah kita disini saja?, aku ingin melihat hujan lagi bersamamu"
"Um.. Baiklah", Nuha tersenyum.
"Gimana tadi perayaan hari lahir kamu bersama bestie?"
"Sangat mengejutkan. Mereka benar-benar berhasil membuatku tertipu"
"Kok gitu?"
"Iya, gak seperti dua tahun yang lalu. Tadi tiba-tiba aku dikunci di dalam gudang olah raga. Trus, mereka buat kejutan deh di sana"
__ADS_1
"Eh?"
Nuha benar-benar tidak pandai bercerita. Dia bukan tipe orang yang mudah menceritakan apapun. Karena baginya, bercerita adalah hal yang membosankan dan membuatnya mudah kelelahan.
"Udah gitu aja?", Naru keheranan.
"Iya. Udah, gitu"
"Singkat amat"
"Naru, tidakkah kamu ingin memikirkannya lagi. Kenapa kamu begitu menyukaiku? Aku ini gadis yang tidak menarik, gak suka ngomong dan cuek. Kalo kamu kecewa, kamu bisa meninggalkanku"
"Berani sekali kamu bicara seperti itu Nuha?", Naru langsung menatap Nuha dengan serius.
"Aku harus berani, supaya aku bisa lebih yakin untuk diriku sendiri. Jujur, aku masih pesimis dengan hubunganku ini dengan Naru", batin Nuha.
"Nuha, percaya dirilah. Aku tidak pernah memikirkan tentang hal buruk apapun dari dirimu. Aku sangat bangga menyukaimu, bila perlu akan aku umumkan ke seluruh dunia bahwa aku sangat mencintaimu"
"Tapi, kamu pasti akan terganggu dengan itu kan, gadis naif", Naru langsung mencubit ke dua mulut Nuha.
"Menjalani kisah cinta sembunyi-sembunyi seperti ini pun juga sudah membuatku cukup senang. Eh, seneng banget malahan", ucap Naru ramah.
"Yakin gak nyesel sama aku?", Nuha masih meyakinkan.
"Enggak. Aku malah beruntung sekali bisa mendapatkan gadis langka sepertimu. Bahkan, Dilan aja bisa melirikmu. Trus, dua bocah kembar itu juga. Itu tandanya, pesonamu sungguh menghipnotis Nuha", canda Naru.
"Langka?, emang aku apaan?"
"Barang antik donk", lanjut Naru.
"Eeeehh..", Nuha sudah mulai lega.
"Syukurlah", batin Naru.
Nuha melepas jaketnya dan berniat memakaikannya kepada Naru. Tiba-tiba, benda kecil keluar dari saku jaket tersebut.
"Eh, apa itu yang jatuh?", Nuha bertanya-tanya.
Naru langsung menangkapnya, dan menyembunyikannya di belakang pinggangnya.
"Naru, itu apa?"
Naru menggelengkan kepala.
"Sini tanganmu", pinta Nuha sambil hendak memakaikan jaketnya ke tubuh Naru dengan terbalik.
"Untuk apa?"
"Aku khawatir kamu akan kedinginan lagi"
"Mana muat Nuha jaketmu"
"Iya gini donk makenya", jawab Nuha santai.
Naru patuh, Nuha mulai memakaikan jaketnya ke tubuh Naru.
"Nuha, aku punya satu hadiah lagi untukmu"
"Eh?"
"Berikan jarimu sini"
"Apa lagi?", tanya Nuha sambil menyerahkan jari jemari telapak tangan kanannya.
__ADS_1
"Jari mana yang paling kamu suka?"
"Umm..", Nuha berfikir sejenak.
"Nuha, kamu itu kalo mikir lama", balas Naru langsung menautkan sebuah cincin di jari manis Nuha.
"Na-Naru?", Nuha kaget.
"Yes. Syukurlah kalo pas sekali", Naru tersenyum ramah.
"Naruuu.. Kamu itu habis uang berapa untuk ini semua?!", Nuha malah kesal.
"Bilang makasih dulu donk"
"Makasih Naru.."
"Nah, gitu kan cantik"
"Ayo katakan! Habis berapa uang?!"
"Ra ha sia", Ucap Naru mesra di telinga Nuha.
Sekejap tubuh Nuha menjerit, dan wajahnya memerah.
"Nuha, Kak Muha telah mengizinkanku untuk menjagamu. Aku ingin melamarmu. Maukah kamu menikah denganku?", sejenak Naru terbengong dengan ucapannya sendiri.
"Naru?"
"Iya?"
"Kamu biasanya kedinginan kan?, tapi kenapa wajahmu sangat merah?"
Setelah Nuha yang tersipu malu, gantian Naru yang tersipu malu atas ucapannya sendiri. Ternyata, itu hanya ucapan Naru di dalam hati.
"Naru, wajahmu merah!", ucap Nuha panik langsung memegang kedua pipi Naru.
"Ti- tidak apa-apa kok", Naru memalingkan matanya.
"Apa kamu demam?", tanya Nuha polos, hendak menyentuh dahi Naru.
"Ti-tidak Nuha", Naru malah semakin panik. Dia tidak bisa mengendalikan ketenangannya hingga menjatuhkan Nuha ke lantai. Naru menahan diri dengan tangannya yang tegap supaya tidak menimpa tubuh Nuha.
"Naru kenapa?", Nuha semakin khawatir.
"It-itu.. Umm.. Tidak apa-apa", Naru mulai bangun untuk menghindari diri dan membiarkan Nuha tetap dengan posisinya.
"Huff, untung aku beneran gak ngomongin itu dihadapan Nuha. Aku terlalu tergesa-gesa", Batin Naru mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Naru?"
"Se-sebentar Nuha"
"Umm.."
Nuha mulai bangun dan menatap Naru sendu. Naru masih sibuk mengendalikan perasaannya, sedangkan Nuha berdebar-debar memandangi Naru.
"Ayo, Naru! Sadarlah!, jangan menjadi orang dewasa!", batinnya kesal sendiri.
"Naru, makasih ya atas cincinnya. Cincinnya bagus, ada namaku juga. Apa kamu juga punya satu?", tanya Nuha menunduk.
"Eh?"
"Naru, aku juga sangat menyukaimu. Bahkan tanpa kamu mencoba menembakku, aku sudah menyukaimu. Tapi, mungkin kamulah yang lebih dulu menyukaiku. Apakah ini yang dinamakan takdir?"
__ADS_1
"Nuha?"
"Perasaanku tidak pernah berubah Naru. Aku selalu jatuh cinta kepadamu. Sama persis saat pertama kali aku melihatmu menolongku saat aku hampir terjatuh dari tangga karena sakit. Cinta ini, aku pun juga tidak ingin menggantinya dengan siapapun. Tapi, aku takut. Takdir akan berkata lain", Ucapn Nuha mulai menangis.