
"Kamu mau makan apa, Nuha?" tanya Fani.
"Aku.. Es batu kristal aja," balas Nuha dengan wajah suram nan menyeramkan.
"Apa?"
Seketika mengagetkan ketiga sahabatnya, begitu pula Dina dan Naomi. Sedangkan, Naru masih saja menatap lurus melihat Nuha yang sedikit melamun.
"Dia, sedang cemburu tuh," bisik Sifa ke Asa.
"Ya udah, Fani. Ayo!" ajak Asa untuk segera memesan makanan di stand chicken steak. Sifa menemani Nuha yang sedang menghela nafas terus menerus.
"Nuha, cerialah," pinta Sifa kemudian menatap tajam ke arah Naru. Naru pun juga terlihat mencemaskannya.
"Ha ah, biar mereka selesein masalah mereka sendiri kalo gitu," batin Sifa pasrah karena perutnya juga sudah kelaparan akut.
"Nih, Nuha. Lagi jealous mood ya? Hihi," sindir Asa seraya memberikan segelas penuh es kristal.
"Hus! Asa!" senggol Fani.
Nuha mengunyak es batu kristalnya tidak peduli ketiga temannya melihatnya penuh keanehan. Mungkin seharusnya mereka khawatir, tapi melihat Nuha makan es batu, mereka malah saling tersenyum lucu.
Dina dan Naomi masih sibuk memilih-milih makanan di stand food yang mereka inginkan.
"Aku, ingin segera membawanya pergi," keluh Naru di dalam hati, karena sedang tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang ini.
Ketiga sahabat Nuha pun makan steak dengan perasaan yang tidak tenang karena melihat Nuha yang masih saja murung. Sedangkan, Dina makan nasi chicken katsunya dengan lahab. Naomi melihat kearah Naru yang sedari tadi menatap lurus ke arah kekasihnya itu.
"Lima belas menit lagi nih gays," ucap Asa.
"Ya udah yuk. Kita segera kembali," ajak Fani.
"Maaf ya Nuha karna membuatmu menunggu. Setelah ini, kamu pasti akan good mood lagi," saran Sifa.
"Yahhoo! Ayo nonton film," seru Asa.
"Nonton film? Aku ikut kak!!" seru Dina lebih keras.
"Baiklah, adik kecil. Ayo, sama kakak!" ajak Asa. Sehingga membuat Dina melonjak kegirangan. Dia langsung mendekat ke Asa sambil menggandeng tangan Naomi.
Asa, Dina dan Naomi saling berjalan beriringan. Diikuti Fani dan Sifa. Di belakang mereka ada Nuha dan Naru dengan sedikit menjaga jarak.
"Sifa, gakpapa kita biarin Nuha kek gitu?" bisik Fani.
"Gakpapa. Tenang aja, kan ada Naru"
"Tapi, mereka sedang diam aja"
"Mereka sedang mengatur waktu, Fani. Aku yakin, pasti Naru bisa membuat Nuha kembali ceria"
"Oke deh. Aku percaya sama kamu, madam cinta"
"Idih, madam cinta? Bagus juga tuh"
Fani dan Sifa malah berbisik dan saling tertawa gila.
Asa mengajak Dina untuk membeli tiket. Beruntung tiket masih ada, meski mereka tidak bisa duduk bersebelahan.
Waktunya tiba untuk masuk ke dalam gedung bioskop. Asa masuk bersamaan dengan Dina dan Naomi. Fani dan Sifa. Dan terakhir, Nuha dan Naru. Tapi Naru menghentikan langkah si Doi.
__ADS_1
"Nuha"
"Um", Nuha menoleh. Naru tersenyum, kemudian menggandeng tangannya. Dia mengajak Nuha berjalan pergi. Sifa yang merasakan itu, akhirnya bisa tersenyum lega, "Kerja bagus, Naru" batinnya.
"Na- Na- Naru, kita mau kemana?"
"Nuha. Ayo kita buat kesenangan bersama," ajak Naru gembira. Meski Nuha langsung senang dan bisa bergandengan tangan lagi, dia kemudian berhenti berjalan.
"Eh, Nuha?"
"Naru. Aku sangat senang saat kamu menggandeng tanganku. Tapi, kalo keadaan itu kembali lagi, apakah aku kuat menahan perasaan ini lagi?," ucap Nuha menunduk.
"Aku mengerti, Nuha. Makanya-"
"Naru", sela Nuha.
"Eh?"
"Cium aku Naru. Cium aku!!" ucap Nuha lebih keras dan menengadahkan wajahnya kepada Naru dengan yakin.
"Nuha?"
"Umm.."
"Ini, tempat umum Nuha. Aku, tidak bisa melakukannya"
"Naru"
"Nuha. Kamu sedang bukan dirimu sendiri. Maafkan aku Nuha jika aku membuatmu cemburu"
"Hiks hiks. Benar. Aku.. Aku sedang cemburu, Naruuu" seketika Nuha merangkul leher Naru sambil menangis, meski sedikit kesulitan karena harus jinjit.
Beberapa pasang mata mulai melihat ke arah mereka. Nuha tidak mempedulikannya, dia terus menangis di pundak Naru.
"Duh, manis sekali mereka ini"
"Kasihan, sedang bertengkar ya.."
"Semoga, si gadis bisa lega menangis di pelukan kekasihnya," ucap beberapa orang yang lewat.
"Naru, aku cemburu. Perasaanku menjadi aneh dan itu membuatku sedih, sangat sedih"
"Iya, aku mengerti. Aku akan jelaskan semuanya kepadamu. Jadi, bersabarlah dan jangan nangis. Ya?"
"Tapi.."
"Tuh, pake tapi lagi"
"Umm.. Baiklah"
"Gadis pinter. Aku akan menciummu kalo kamu sudah kembali pada dirimu sendiri. Sekarang, kita kembalikan dulu moodmu itu, okei?"
"Iya"
Naru mengajak Nuha bermain di area game zone. Nuha merasa aneh diajak Naru ke sana.
"Naru, kenapa kita kesini? Inikan mainan untuk anak-anak"
"Kamu kan juga masih anak-anak, Nuha"
__ADS_1
"hemph"
"Tuh lihat. Banyak remaja dan orang dewasa yang main di situ. Semua lengkap buat mereka. Kamu mau main apa, biar aku beli koinnya dulu"
Nuha duduk menunggu, sedangkan Naru membeli koin. Tiba-tiba ada seorang anak kecil menangis sedang mencari ibunya.
"Hua hua.. Mama.. Mama.."
"Eh?"
"Mama.. Mama dimana?"
"Eh? Adik kecil. Mama disini, dek," ucap Nuha dengan mudah sehingga langsung membuat cowok kecil itu berhenti menangis. Tapi, melihat dia bukan ibunya adik kecil itu hendak menangis lagi.
"Eeee jangan nangis lagi. Jangan nangis lagi ya", sela Nuha supaya dia tidak kembali menangis.
"Mama.."
"Kakak akan bantu kamu cari Mama. Jadi, jangan nangis lagi. Ya?"
"Iya"
"Bagus sekali," ucap Nuha tersenyum manis. Senyumannya membuat cowok kecil itu tersipu malu dan membuat cowok yang telah membeli koin di sana langsung jatuh cinta.
"Gimana bisa aku berpaling ke gadis lain, kalo hanya melihat senyum manis Nuha saja sudah membuatku klepek-klepek", batin Naru.
"Naru", sambut Nuha.
"Nuha, kamu hebat banget bisa bikin anak ini berhenti menangis. Padahal, kamu sendiri tadi nangis kan?"
"Kakak, juga habis nangis?" tanya adik kecil.
"Hehe, enggak," balas Nuha berbohong.
"Dia bohong dek, tadi dia nangis karena cemburu," ucap Naru sambil jongkok menatap sejajar kearah cowok kecil itu.
"Ja-jangan bilang seperti itu Naru!"
"Mama..", cowok kecil itu ingin menangis lagi.
"Tuh kan mau nangis lagi. Naru, gendong dia!", perintah Nuha dengan cepat.
"Sini. Kakak gendong, kita cari Mama sama-sama ya", ucap Naru dengan mudah.
"Mamanya kan disini", cibir Nuha sambil cemberut.
"Mamanya yang asli kali"
"Mama.."
"Nuha, mainkan sesuatu biar anak kita ini seneng," pinta Naru sambil memberikan beberapa koin kepada Nuha.
"Anak kita? Kamu aja Naru, aku kan gak biasa main di game zone seperti ini"
"Aku kan lagi gendong dia"
"Okelah. Baiklah. Aku akan tunjukkan kemampuan gameku ini. Jadi, lihat kakak ya cowok kecil," ucap Nuha mengakhirinya dengan mata membara.
Game pertama yang Nuha ingin mainkan adalah pukul tikus. Dia mulai memasukkan dua koin dan memegang alat pukul.
__ADS_1
"Hiyaaa!!"