
"Nuha sudah lebih baik tidak ya hari ini?, Mungkin kalo aku ajak dia jalan-jalan dia akan jauh lebih baik"
Gumam Naru, sambil melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dia meminjam kursi roda dan akan membawanya ke ruangan Nuha. Dengan percaya diri, seolah obrolan dia dengan Muha kemarin tidak terlalu mempengaruhinya. Naru bisa mengendalikan masalahnya sendiri.
Hari ini, Nuha terlihat sudah lebih baik. Selang oksigennya pun sudah dilepas. Dia sedang makan dengan lahap bersama Ibu. Tangannya lumayan sudah bisa ia gerakkan dengan bebas, namun kakinya masih terasa kaku dan sakit. Naru mengetuk pintu.
"Tok tok tok"
"Ibu, ada orang yang datang?"
"Siapa ya? Ibu lihat dulu ya Nuha"
Ibu sedikit kaget melihat kedatangan Naru, tapi beliau malah senang dan menyambutnya dengan ramah. Ibu mempersilahkan Naru masuk ruangan sembari Naru memberi salam untuk Ibu Nuha.
"Siapa Ibu?" Nuha ikut melirik
"Nuha, lihat Ibu bawa siapa?" Ucap Ibu
"Siapa?"
Naru muncul dari balik belakang ibu, membawa sebuah kursi roda. Membuat Nuha semakin sumringah. Ekspresinya keluar dengan sangat natural dan jujur. Ibu kaget sekaligus senang.
"Waah, kamu semakin sehat kalo ada yang menjenguk?" Canda Ibu membuat Nuha tersipu-sipu
"Hai Nuha.."
"Mau.. aku ajak jalan-jalan?" Tanya Naru
"Tapi, aku kan belum bisa jalan Naru"
Naru langsung memicingkan bibirnya sambil tersenyum-senyum heran.
"Siapa suruh harus jalan kaki, gak tau apa aku bawa kursi roda ini untuk apa?" Gumamnya
Ibu tertawa kecil mendengar obrolan mereka yang begitu akrab, "Kalian itu akrab sekali.. Apa jangan-jangan?"
"Uhuk! Uhuk uhuk.. uhuk uhuk uhuk"
Nuha sengaja batuk, ingin mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Naru semakin memicingkan bibirnya saja melihat tingkah Nuha.
"Dia masih canggung dan tidak percaya diri dengan hubungannya sendiri" Batin Naru
"Ibu aku minta air" Nuha berpura-pura kebingungan
"Iya iya"
Ibu membantu dan mengurus Nuha menyelesaikan segalanya. Setelah itu beliau memberi izin kepada Naru untuk mengajak Nuha jalan-jalan menggunakan kursi roda.
__ADS_1
Naru membantu Nuha duduk di kursi roda dan mendorongnya beranjak keluar ruangan. Ibu tersenyum dan menghargai kedekatan mereka.
Roda kursi berjalan dengan baik, tanda bahwa Naru telah mendorongnya dengan cukup aman dan santai. Mereka berdua saling melempar senyum.
"Kita mau kemana Naru?"
"Ke kebun binatang" Jawab Naru santai
"Wwe? Whheee?!"
"Mana mungkin ke kebun binatang Nuha. Tau aja kamu, kita hanya jalan-jalan sekitar rumah sakit saja"
"Baiklah"
"Lihat Nuha, Di sana ada taman. Aku bawa kesana ya"
"O-okei"
Naru mendorong dan membawa Nuha menuju taman rumah sakit. Taman yang sudah diberi jalan setapak memudahkan Naru membawa Nuha ke sana dengan kursi roda.
"Uwa~ bagus banget tamannya, Naru"
"Kamu suka?"
"Um!"
Nuha terkagum-kagum melihat taman Rumah Sakit tersebut. Ada jembatan kecil di atas kolam ikan koi yang bisa dilewati. Seperti sebuah sungai namun kecil, ikan Koi berenang-renang mengikuti arus air. Di sebelah sana ada air mancur yang dikelilingi tangga bunga-bunga yang berwarna warni. Beberapa pepohonan juga ikut menghias pemandangan di taman tersebut.
"Kita berhenti di sana Naru" Pinta Nuha
Nuha meminta Naru membawanya mendekati kolam ikan koi. Nuha terkesima melihat jernihnya air dan cerahnya warna warni ikan koi. Gemericik air di dekatnya memberikan kenyamanan.
"Andai aku bisa main air bareng ikan-ikan koi itu"
"Kasian ikannya Nuha, mereka akan terganggu dengan kakimu yang usil itu"
"Hemph!!"
"Aku bisa membawamu ke suatu tempat kalo kamu ingin main air" Ajak Naru santai
"Gak mau ah" Ketus Nuha
Nuha tidak percaya Naru akan mengajaknya bepergian atau piknik sungguhan. Ia memang tidak terlalu mengharapkannya terlalu tinggi. Karna ia memang menginginkan hubungannya dengan Naru itu terlihat santai dan tidak muluk-muluk.
"Dasar gadis mageran!" Sindir Naru dengan lembut
Naru dan Nuha saling bercanda dengan asik. Terlihat dari kejauhan tiga gadis menghampiri Nuha, ternyata mereka adalah Asa, Sifa dan Fani. Lambaian dan panggilan dari mereka begitu menyenangkan.
__ADS_1
"Nuhaa..!"
"Eh?!" Nuha langsung menoleh diikuti Naru
"Nuha! Ternyata kamu sakit yah? Maaf ya kita baru tahu kalo kamu ternyata sedang sakit" Ucap Sifa
"Hei Bro! Tadi ada guru matematika cariin Elo" Ucap Asa kepada Naru
"Nuha, apa yang sedang terjadi padamu?" Tambah Fani
"Kalian itu ambil nafas dulu, jangan kayak wartawan aja bebas banget kasih pertanyaan orang" Ejek Naru
"Wah! Berani ya kamu Naru!!" Tambah Sifa
"Nuha, kok kamu gak ngabarin kita sih kalo kamu sedang di rumah sakit?" Tanya Fani
"Ack? Iya.. Maaf ya, aku gak fokus sama HP" Jawab Nuha dengan polosnya
"Nuha! Kami bisa marah-marah loh sama kamu kalo kamu kek gini terus, begitu pendiam dan tidak mau berbagi cerita sama kita" Ucap Sifa
"Maaf teman-teman"
"Tuh kan hanya minta maaf saja" Sifa mulai kesal
"Trus juga, kenapa harus ada Naru terus sih yang ngedahuluin kita?!"
Entah kenapa Sifa mulai tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia terlihat begitu kesal dan marah melihat Nuha yang selalu bersama Naru. Selalu ada Naru didekat Nuha.
"Sifa, ada apa denganmu?" Tanya Fani heran
Asa menarik Naru dan mengajaknya berbincang empat mata saja. Entah apa yang akan mereka perbincangkan. Sedangkan, Sifa masih ingin meluapkan emosinya, Nuha dan Fani kebingungan.
"Nuha, kamu tau? Aku.. aku sudah putus dengan pacarku. Sedangkan, sedangkan kamu terlihat menjauh dari kita. Kamu seperti lebih suka bersama Naru daripada bersama kita" Ucap Sifa mulai terisak berlutut di samping Nuha
"Sifa?" Nuha mulai takut
"Nuha, aku ingin marah-marah tapi aku terlalu sedih"
"Sifa.. Aku.. Aku.."
"Nuha, maafkan aku.. Tapi, aku menjadi benci melihat hubunganmu bersama Naru"
"Sifa?! Kok kamu ngomong gitu?" Fani bingung
"Fani, tolong bela lah aku. Apa karna satu sekolah pacaran itu bisa langgeng dan menyenangkan?! Trus, kalo beda sekolah akan timbul banyak salah paham dan pertengkaran?"
"Sifa, kamu boleh kok nangis dan marah-marah. Kita siap untuk menerima itu semua, tapi jangan memojokkan Nuha juga donk" Balas Fani
__ADS_1
"Bukan cuma itu saja Fani. Bahkan, Dilan saja bisa jatuh cinta kepada Nuha" Ucap Sifa dengan suara yang lebih rendah
Nuha mendengarnya, ia kebingungan dan tidak mampu membantu Sifa memecahkan masalahnya. Ia hanya terus menerima pernyataan Sifa, walaupun ia mulai sakit hati menerima segala ucapan Sifa.