Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Kepalaku, pusing!


__ADS_3

"Aduh, kepalaku pusing", Nuha membuka pintu rumah kemudian duduk bersandar di sofa ruang tamu.


"Kamu memang payah Nuha", Ejek Hawa.


"Iya, aku tidur sebentar akan lebih baik kali ya", Nuha pun merebahkan dirinya di sofa dan tertidur sejenak.


Ibu masuk dari pintu belakang rumah, beliau habis selesai mengangkati jemuran yang sudah kering. Beliau melihat ke ruang tamu, ternyata Nuha sudah pulang dari sekolahnya.


"Nuha, kok kamu langsung tidur di sini? Ganti baju dulu gih sana", Pinta Ibu lembut.


"Ibu, kepalaku pusing", Jawab Nuha lirih.


"Kok bisa pusing? Kak Muha mana?"


"Kakak masih sibuk di kampus. Aku disuruh pulang naik angkot sendiri"


"Duh kasihan anak ibu, sini ibu pijitin sebentar", Ibu memijat pelan kepala Nuha hingga membuat Nuha semakin nyaman dan mulai melanjutkan tidurnya.


"Eh, malah tidur lagi. Ya udah, ibu tinggal dulu ke dapur"


Ibu meninggalkan Nuha tertidur di sofa, dan pergi ke dapur hendak memasak. Suara ketukan irisan pisau, suara air keran yang mengalir, suara kompor dan suara-suara kesibukan ibu di dapur memberikan backsound kenyamanan suasana di rumah.


Suara-suara yang berkesan yang selalu dirindukan setiap orang rumahan.


Pukul setengah 5 Muha pun pulang, mengetuk pintu dan membukanya, "Aku pulang".


Ia pergi ke dapur menyapa ibu terlebih dahulu, melewati Nuha yang tampak tertidur di sofa ruang tamu.


"Ibu?", Ucap Kak Muha.


"Udah pulang kamu Kak?"


"Iya Ibu"


"Ibu lagi masak nih, kamu istirahat dulu sana", Pinta Ibu.


"Iya Ibu. Ngomong-ngomong, Nuha kenapa bisa tidur di sofa?", tanya Muha.


"Oh, tadi dia bilang kepalanya pusing. Jadi ibu pijitin sebentar eh malah lanjut tidur. Ya udah, ibu tinggal lagi ke dapur", Ucap Ibu sambil terkikik ramah.


"Ya udah, Muha lihat Nuha dulu ya Ibu?"


"Iya. Jangan dijahilin dulu ya tapi, kasihan", Pungkas Ibu dengan senyum ramah.


Kak Muha jongkok memandangi Nuha yang tertidur dengan muka yang berantakan. Beberapa keringat keluar di dahi dan lehernya, bahkan aroma bau badan pun mulai menyengat hidung kak Muha.


"Kasihan adik kakak, pasti berat baginya buat naik angkot. Aku benar-benar tega terhadapnya. Maafin Kakak ya?", Kak Muha mengambil tisu dan menyeka keringat di dahi adiknya.


Terdengar suara kresek plastik yang menarik perhatian telinga Nuha. Kak Muha mulai mengayun-ayunkan sekantong plastik makanan yang akan membuat Nuha bangun dari tidurnya.


"Ayo Nuha bangun.. Ini ganti rugi yang kamu minta kan", Ucap Kakak dengan nada seperti hantu.


"Uwaaa!", Nuha langsung terperanjat bangun.


"Kakak sudah pulang? Hore! Kakak sudah pulang"


Kebiasan di waktu Nuha kecil terulang lagi. Ia memang selalu spontan mengucapkan kalimat itu saat ia masih kecil setiap kali ayahnya pulang dari kerja.


Nuha tidak menjadi teringat kembali dengan almarhum ayahnya karena ucapan yang baru saja ia ucapkan. Itu hanya spontanitas Nuha saja, tapi Kak Muha lah yang menjadi teringat kembali dengan almarhum ayahnya. Ia menjadi semakin kuat dan tegar untuk bisa menggantikan posisi ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.


"Ini ganti rugi yang kamu minta", Kak Muha mempertegas lagi ucapannya sambil menatap tajam.

__ADS_1


"Iya-iya kakak, terima kasih", Balas Nuha.


"Apa ya ini? Aku penasaran."


"Wah! Martabak, martabak Moza!!!"


"Uwaaa! Pasti enak", Histerianya.


"Udah, pusingnya ilang?", Sindir Kakak.


Nuha langsung mengangguk pasti. Ia berlari menghampiri ibu yang sedang di dapur, menarik tangan ibu dan mengajaknya duduk di sofa untuk bersama menikmati martabak moza yang Kak Muha belikan.


"Dasar rakus", Timpal kak Muha sambil tertawa lepas.


Ia meninggalkan Nuha untuk pergi ke kamar dan bersiap mandi. Kak Muha tidak langsung ikut menikmati bersama martabak yang ia belikan. Melihat Nuha kembali ceria sudah membuatnya lega dan tidak merasa bersalah lagi.


"Loh, Kakak mau kemana?"


"Mau mandi"


"Nanti habis loh kalo gak makan bareng?!"


"Habisin aja, buat kamu kok!"


Semakin mengeras suara mereka berdua, saling bersahut-sahutan dari ruang tamu dengan kamar mandi.


"Emang boleh kakak ikut ngehabisin?!"


"Iya jangan donk, kan ini buat akuu?!"


"Nah itu tau"


"Hish! kalian berdua ini kalo gak ibu berhentiin gak bakalan berhenti sampe tahun depan!"


Ibu ikut beradu


Nuha dan Kak Muha pun tertawa, ibu juga ikut tertawa. Nuha dan ibu pun menikmati martabak yang Kak Muha belikan. Benar-benar mengembalikan mood dan semangat Nuha.


"Ya ampun, martabaknya jumbo banget. Kita bisa kenyang deh, iya kan ibu?"


"Iya. Ternyata rasanya enak juga. Ada apa ini namanya? Moza? Apa itu?"


"Moza, keju ibu. Mozarella, keju yang bisa meleleh gitu kalo dipanasin sama makanan"


Ucap Nuha menjelaskan


"Duh, baiknya Kakak kamu itu. Jangan lupa sisain beberapa untuk dia ya"


Pinta Ibu


"Baik Ibu"


Nuha langsung berlari menuju dapur mengambil piring kecil untuk meletakkan sebagian martabak untuk Kak Muha.


Kak Muha pun selesai mandi dan masuk ke kamarnya. Nuha mengetahuinya dan mulai mengantarkan martabak bagian untuk Kak Muha. Ia mengetuk pintu dengan sopan.


"Kakak?"


"Iya apa?"


"Boleh masuk?"

__ADS_1


"Buka aja pintunya"


"Ini, aku bawain martabaknya buat Kakak"


"Tumben, ingat"


"Hemph!"


"Ahahaha, iya iya. Taruh aja di meja belajar Kakak"


Nuha berjalan masuk ke kamar Kak Muha dan menaruh martabaknya di meja belajar kakaknya. Nuha duduk sebentar di bangku tersebut.


"Kakak lagi capek ya?"


"Enggak, kenapa?"


"Eng- Enggak kenapa-napa"


"Gimana naik angkotnya tadi?"


"O iya benar. Kakak tega banget sih nyuruh aku naik angkot. Aku kan gak suka naik angkot"


"Iya kakak tau. Kakak kan sudah minta maaf, udah kakak belikan martabak juga. Masih kurang?"


"Eh, bukan begitu. Tapi kan ya tetap aja. Perasaan kan gak bisa dibohongi. Sebaik apapun Kakak bujuk aku naik kendaraan umum atau sebanyak apapun kakak rela belikan sesuatu buat aku mau naik kendaraan umum, tetap aja kalo aku takut gak bakalan bisa tenang."


"Untung kamu masih bisa pulang dengan selamat yah"


Ejek Kakak


"Jahat banget deh!"


"Tapi, tadi untung saja ada Na-"


"Ups" Nuha langsung menutup mulutnya


"Na?"


Tanya Kakak langsung menoleh tajam ke arah Nuha


"Na-, Na-"


Nuha masih kebingungan


"Na-, nada dering dari penumpang."


Iya, aku sampe lupa. Lucu banget, Nada deringnya sampe bikin semua penumpang tertawa lepas bersama"


"Kirain apa"


Ucap Kak Muha percaya


"Iya, tadi itu to Kak. Aku juga sempat ketakutan sampe tangan dan kakiku gemeteran. Eh, untung aja ada yang bikin ketawa. Jadi aku bisa sedikit lega, ternyata di angkot itu banyak juga penumpangnya."


Pandai sekali Nuha beralasan.


Nuha tiba-tiba langsung cegukan, tanda ia sedang berbohong.


"Aduh! Aku kebanyakan makan sampe lupa minum. Aku minum dulu ya Kakak"


Nuha langsung pergi keluar dari kamar kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2