Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Matahari, Sore.


__ADS_3

"Nuha, tenagamu kuat juga ya buat main game?"


"Tentu saja. Itu karna aku sering main game online sama kakak di rumah"


"Beda kali. Apa karna dapat kekuatan dari cemburu?"


"Euh?"


Naru tersenyum. Mereka berjalan menaiki tangga menuju puncak lantai mall. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya tempat parkiran mobil, tapi ruangannya sangat luas. Mereka duduk di sana menatap langit sore yang sebentar lagi matahari akan tenggelam.


"Duduk dulu, Nuha" ajak Naru.


"Untung saja tadi si Naru kecil langsung ketemu ibunya. Aku sampe heran, usia segitu masa mau aja ditinggal sendirian ke toilet. Kan nangis jadinya," gumam Nuha.


"Naru kecil, manis sekali dia mengatakannya," batin Naru.


"Nih, Naru. Pensilmu"


"Buat kamu aja"


"Iya tapi kan"


Hasil bermain di game zone tadi Nuha bisa menukarkan tiket dari pukul tikusnya dengan penghapus. Sedangkan, Naru banyak memasukkan bola ke ring basket dan tiketnya ditukar dengan pensil. Sedangkan, tiket dari bermain hockey table bersama, mereka tukar dengan note kecil.


"Gimana perasaanmu? Seru tadi ngegamenya?"


"Seru juga, makasih ya Naru"


"Berarti, aku gak usah ceritain tentang Naomi kalo gitu"


"Naomi? Ya?.. Umm.. Ya jangan, Naru. Aku, aku ingin tahu tentang dia" ucap Nuha lirih dan menunduk.


"Tuh kan, sedih lagi"


"Umm.."


"Nuha, tersenyumlah," Naru langsung meraih muka Nuha dengan kedua telapak tangannya. Menatapnya lekat wajah yang dia buat manyun itu.


Nuha membalasnya dengan menatap tajam kemudian mengalihkan matanya.


"Kamu itu sangat cantik Nuha. Kenapa kamu bisa punya wajah seimut ini sih?! Membuatku gemas!"


"Nayu, janganmengalihkanpembicaraan," balas Nuha tidak jelas. Membuat Naru ingin tertawa.


"Baiklah. Naomi itu, anak dari sahabat Ibunda dari jepang. Kedua orang tuanya sedang ada masalah jadi dia dititipkan di rumah kami"


"Kenapa harus di rumahmu, Naru?" tanya Nuha manyun.


"Gak tau, Nuha. Itu keputusan Ibunda sendiri"


"Tapi, tetap saja aku.. merasa cemburu"


"Jangan berkata seperti itu"


"Naru! Apa yang harus aku lakukan jika aku terus cemburu seperti ini? Katakan!!" pinta Nuha serius sambil memegang erat kedua pundak Naru. Tatapannya serius tapi terlihat cemas. Naru terperanga sekaligus tersentuh. Gadis yang dia sayangi, sedang tidak bisa mengendalikan perasaannya.


"Kamu, sangat menyukaiku ya Nuha?" ucap Naru dengan menatap sendu.

__ADS_1


"Iya. Aku sangat menyukaimu. Makanya, makanya.. Aku bingung dengan perasaan sakit ini. Naru, aku bingung dengan perasaan ini"


Tenaga Nuha mulai melemah, tangannya sudah tidak bisa memegang pundak Naru. Tapi, seketika Naru langsung memeluknya. Memeluknya erat hingga ke relung hati.


"Naru. Maafkan aku, aku sedih lagi"


"Aku mengerti, Nuha. Maafkan aku ya, kalo keadaan ini mengganggu perasaanmu. Aku sangat menyayangimu, Nuha. Aku tidak ingin melihatmu sedih"


"Apa yang harus aku lakukan, Naru?"


"Eh? Kenapa dia yang harus merasa bersalah," batin Naru. "Seharusnya, aku yang bilang apa yang harus aku lakukan. Tapi pasti dia tidak akan suka dengan pertanyaanku ini dan tidak mau menjawabnya. Aku, harus gimana?," pikir Naru di dalam hati.


"Kamu harus percaya diri. Kamu harus mengatasi ini dengan berani, Nuha. Aku percaya kepadamu bahwa kamu pasti bisa. Kamu gadis yang sangat baik, tidak akan ada orang yang bisa menolak kebaikanmu itu"


"Aku tidak mengerti"


"Percayalah kepadaku. Aku tidak pernah ngobrol sedikit pun dengan Naomi. Dinalah yang sering menemanimu. Lagipula, Dina tau bahwa aku sudah menjadi milikmu. Dina juga sangat menyukaimu. Jadi, percayalah. Tidak ada yang perlu dicemaskan"


"Naru, kenapa Naomi itu terlihat sangat cantik?"


"Eh, apa?"


"Dia itu terlihat sangat cantik. Rambutnya lurus dan panjang. Wajahnya tenang dan sepertinya dia gadis yang ramah. Aku, aku merasa tersaingi"


"Beh? Begitukah?!" Naru langsung menatap Nuha konyol.


"Aku takut aku kalah cantik sama dia dan kamu jadi suka sama dia"


"Nuha konyol. Kamu bicara apa heh? Jadi ngelantur kemana-mana. Mana mungkin ada gadis yang bisa menandingi kecantikanmu. Cantikmu itu unik, gak ada gadis yang manis kalo bukan Nuha"


"Iya juga sih"


"Iya aku tau cantik itu relatif. Aku sadar semua wanita itu cantik. Punya pesonanya sendiri-sendiri. Hanya saja.. Hanya saya.."


"Apa lagi?!"


"Naru, kamu galak!"


"Apa?"


"Kenapa kamu jadi galak kayak gitu?"


"Eh? Bukan. Ini bukan galak Nuha. Aku hanya sedikit tegas dan gemas, iya gemas saja. Mungkin itu lebih baik, hehe"


"Aku gak mau kamu jadi suka sama dia"


"Itu gak mungkin Nuha"


"Takdir siapa yang tau," jawab Nuha cemberut.


"Iya takdir siapa yang tau. Tapi, aku akan membuat takdirku sendiri untuk terus menyukaimu"


Nuha langsung tersipu malu. Berat rasanya untuk menahan senyum-senyum malunya itu. Seketika, dia mengalihkan pembicaraan.


"Naru, matahari sore!" ucapnya dengan telunjuk mengarah ke pemandangan tersebut.


"Dia selalu terlihat cantik," gumam Naru sambil menghela nafas. Akhirnya, Nuha sudah kembali pada dirinya sendiri

__ADS_1


Nuha berjalan mendekati pagar pembatas untuk melihat lebih dekat suasana kota dan alam dari atas tempat dia berada. Naru menghampirinya.


"Naru, lihatlah! Dunia terlihat sangaaat luas!" ucapnya sambil terus melihat-lihat ke bawah.


"Bodoh! Jangan seperti itu Nuha!" Naru langsung menariknya menjauh sehingga mengagetkan Nuha sendiri. Mereka jatuh terduduk namun Naru langsung bisa memangkunya dengan baik.


"Jangan, jangan ceroboh Nuha," ucap Naru langsung memeluknya dari belakang. Dia sangat khawatir melihat tindakan berbahaya yang dilakukan Nuha.


"Ma- maafkan aku"


"Aku ingin melihat wajahmu lagi"


Nuha dan Naru saling melihat satu sama lain dengan duduk beralaskan lantai. Meski sedikit kotor, mereka enggan untuk beranjak.


"Itu tadi berbahaya, Nuha. Kalo jatuh gimana," ucap Naru dengan menatap lekat dan tersenyum ramah.


"Iya, maaf"


"Mendekatlah"


"Umm..", Nuha lebih mendekatkan diri dan memberikan wajah cantik itu untuk kekasihnya.


"Boleh?"


"Umm.."


"Cuuph", Naru memberikan kecupan manis di bibir sesuai apa yang diminta Nuha. Tidak hanya sekedar kecupan tapi ciuman yang sangat dalam, Naru memberinya lebih. Naru benar-benar menciumnya dengan sangat lama. Terus dan terus tidak peduli matahari yang terbenam terus menyaksikannya.


"Lagi?"


"Umm.."


Naru menciumnya sekali lagi. Perasaannya sangat tenang tapi perbuatannya semakin membuat Nuha kebingungan.


"Naru, aku merasa aneh", ucap Nuha dengan wajah yang semakin merah dan mata yang sangat sayu.


"Nuha, kita bisa jadi suami istri jika kita terus seperti ini," ucap Naru yang pipinya juga ikut memerah.


"Eeehh?!"


"Masih ingin lanjut?"


"Iya, tidak. Tidak, Naru," Nuha mulai memberikan penolakan.


"Maaf ya Nuha"


"Naru, kamu membuatku takut"


"Jadi?"


"Umm.. Jangan membuatku takut", balas Nuha tertunduk.


"Iya," Balas Naru ramah dan menepuk kepalanya.


"Mereka, sudah selesai belum ya nonton film?"


"Ya udah, kita balik aja kalo gitu. Kita tungguin aja mereka disana. Okei?"

__ADS_1


"O-okei"


__ADS_2