
"Naru," lirih Nuha. Dia telah sampai di depan pintu kelas 12D MIPA.
Melihat kedatangan Nuha, Naru langsung terperanjat dari tempat duduknya dan menghampirinya. Apalagi, melihat keadaan Nuha yang menangis dan lututnya terluka. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Dilan yang melihat itu juga ingin segera menghampiri Nuha, tapi kedua temannya menahannya dengan menarik kedua tanganya. Membuat Dilan mengurungkan niatnya.
"Nuha, ada apa?" tanya Naru cemas.
"Naru, Naru," jawab Nuha masih menangis.
"Ayo", ajak Naru dengan menggandeng tangannya.
Naru berniat membawanya ke UKS tapi ternyata Nuha mengatakan sesuatu, "Mayo, Mayo Naru," ucapnya. Sehingga, membuat Naru masih belum bisa mengerti.
"Ya sudah, ayo kita lihat mereka," balas Naru.
Naru sedih melihat keadaan lutut Nuha yang terluka dan Nuha mengabaikan rasa sakit itu. Seolah dia begitu mengkhawatirkan kucingnya daripada dirinya sendiri.
Sampai di taman belakang sekolah, Nuha menarik tangan Naru untuk masuk ke dalam gudang.
"Ada apa, Nuha?" tanyanya lagi.
"Mayo," balas Nuha sedih dengan suara yang tidak bertenaga. Matanya sayu dan sedikit melamun.
"Tidak mungkin," sahut Naru pelan ketika melihat Mayo sudah tergeletak tidak bernyawa di dekat kandang.
"Tolong Mayo, Naru"
"Tapi Nuha, Mayo sudah-"
"Mayo sudah mati Naruuu," Nuha kembali menangis di hadapannya. Rasanya sakit, melihat kesedihan itu. Tapi, Naru berusaha tegar dan memberikan keteguhan untuk Nuha.
"Nuha, tenangkan dirimu dulu", pinta Naru dengan ramah.
"Hiks hiks"
"Kita kuburkan dia yuk," ajak Naru.
"Hiks Hiks"
"Soya, kamu pasti sedih melihat saudaramu telah tiada, kan? Pergilah ke Nuha, aku akan kuburkan Mayo di dekat pohon," ucap Naru.
"Meong"
Soya berjalan ke arah Nuha. Nuha pun langsung menerimanya dan menggendongnya dalam pelukannya.
"Meong," ucap Soya mencoba menenangkan Nuha.
"Kamu, sangat tegar. Soya," balas Nuha lirih.
Naru membungkus Mayo dengan selimut yang ada di dalam kandang. Kemudian dia berjalan ke arah pohon dan membuat lubang tanah di sana.
"Mayo.."
"Jangan menangis, Nuha", pinta Naru.
"Umm", Nuha mulai menghapus semua air matanya. Dia menatap sendu ke arah Mayo yang dikubur oleh Naru.
Lima belas menit pun berlalu, Naru telah selesai menguburkan Mayo. Dia mengajak Nuha untuk duduk sejenak di bawah pohon.
"Sudah, Nuha. Gak usah nangis lagi. Kan, tiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita ambil hikmahnya aja"
__ADS_1
"Tapi, Naru"
"Sudahlah, gak usah nangis. Yah!", balas Naru seraya merapikan wajah Nuha yang masih sembab.
"Aku ingin membawa Soya pulang ke rumah," ucap Nuha sambil melihat Soya terdiam di pelukannya.
"Kalo begitu, ayo kita rapikan kandangnya dan kita bawa pulang ke rumah," balas Naru setuju dan ramah.
"Naru, terima kasih"
"Senyum dulu donk, biar aku seneng"
"Hiks. Gak bisa, Naru"
"Ya udah. Aku telfon pak Sopir dulu ya biar bisa ikut bantuin beresin semuanya"
Lima belas menit menunggu, Nuha sudah mulai berhenti sesenggukan. Raut wajahnya mulai terlihat tenang, meski matanya masih sedikit merah.
"Yuk, Nuha," ajak Naru untuk masuk ke dalam gudang karena pak Sopir telah datang.
"Aden, apa yang bisa bapak bantu?"
"Tolong pak, bantuin beresin semua perlengkapan kucing ini. Dan kita bawa ke rumah Nuha"
"Baik, Aden!"
Pak sopir melipat kandang itu dan membawanya bersama alas tidur milih Soya dan Mayo. Naru membantu dengan membawakan makanan beserta wadah makan dan minumnya. Nuha masih saja menggendong Soya dengan sedih.
"Ayo, Nuha!" ajak Naru berjalan.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di sisi kiri luar gedung sekolah. Mulai masuk ke dalam mobil dan pak Sopir pun menyalakan mesin. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang.
"Iya sama-sama"
Sampai di rumah, kedatangan mereka bertiga disambut baik oleh Ibu. Tapi, melihat keadaan Nuha yang sedikit berantakan, Ibu langsung membantu menuntun Nuha masuk ke dalam rumah.
"Nuha, kamu kenapa Nak? Lututmu sampe berdarah gitu," ucap beliau cemas karena melihat darah mengalir dimana-mana tapi tidak segera dibersihkan.
Nuha duduk di sofa dan Ibu segera mengambilkan kotak P3K. Beliau membersihkan luka di lutut Nuha dan segera memberinya obat dan perban.
Sementara itu, Naru dan Pak sopir menurunkan semua perlengkapan kucing itu di depan rumah Nuha.
"Bapak pulang aja dulu ya pak, saya nanti bisa pulang sendiri naik ojek"
"Baik, Den. Tapi, jangan lupa nanti sore kita harus jemput Non Naomi di bandara"
"Iya, saya tau itu Pak"
Pak Sopir pamit pulang sedangkan Naru masih di rumah Nuha. Nuha menurunkan Soya dan menghampiri Naru yang masih di teras rumah.
"Naru"
"Nuha?"
"Kamu, gak pulang?" tanya Nuha sungkan.
"Aku, gak bisa ninggalin kamu gitu aja", batin Naru.
"Masuklah, Naru. Aku akan buatkan minuman untukmu"
"Iya, baiklah"
__ADS_1
Tiba-tiba, Ibu sudah membawakan dua es sirup dan camilan untuk ditaruh di meja tamu.
"Tolong, bantu Nuha ya Nak Naru," pinta Ibu seraya kembali lagi di dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, Ibu"
"Makasih ya Naru"
"Dasar! Sudah berapa kali kamu bilang makasih, Nuha tengil," balas Naru gemas sambil mencubit pipi kiri Nuha.
"Adududuh sakit", rintihnya.
"Kandangnya Soya, mau kamu taruh dimana Nuha? Biar aku bantu pasangkan"
"Gak usah Naru, biar kakak aja yang ngerjain nanti"
"Hah? Tadi siapa yang nangis kayak anak kecil lalu bawa kucing pulang dan langsung gak peduli? Nuha, kamu ini manusia atau robot sih?" tanya Naru heran.
"Jahat banget deh kamu Naru. Kamu jadi kayak kak Muha!", ketus Nuha.
"Akhirnya aku bisa ngerasain perasaan kakakmu itu", sindir Naru terkekeh gemas.
"Soalnya, aku masih sedih, Naru," ucap Nuha beralasan.
"Kalo sedih, nangis lagi donk," balas Naru dengan mudah lalu dia beranjak untuk memasang kembali kandang kucing itu dan menata semua perlengkapannya.
Naru memasangkan di pojokan ruang tamu. Menatanya serapi mungkin dan Soya pun langsung menghampirinya.
"Meong"
"Ha-Hasying!!"
"Meong"
Soya memakan makanan yang telah disiapkan oleh Naru. Kucing itu, makan dengan sangat lahab.
"Kamu juga harus makan, Nuha. Supaya gak sedih lagi", ucap Naru bermaksud membandingkannya dengan Soya.
"Iya, nanti"
"Nih"
Naru memberikan sebuah permen dan menyuapkannya ke mulut Nuha. Nuha menerimanya dengan senang hati.
"Nah gitu kan, jadi lebih baik"
"Hum hum," Nuha tersenyum manis.
"Aku seneng, kita bisa ketemu lagi Nuha"
"Iya, aku juga," balas Nuha tersipu.
"Kamu tenang aja ya Nuha. Santai aja dalam menjalani hubungan kita ini. Meskipun kita harus terpisah, kita akan bisa bersama lagi suatu saat nanti"
"Iya"
"Aku, benar-benar merindukanmu," Naru langsung memeluk gadis kesayangannya itu. Nuha kaget dan sedikit berlinang air mata.
Sejenak, mereka saling melepas rindu satu sama lain. Rindu ini, hanya ingin aku berikan hanya untuk kamu, Nuha. Aku juga, rindu ini, hanya ingin aku berikan hanya untukmu, Naru.
"Aku saaangat merindukanmu!"
__ADS_1