Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Sayang kamu, lah!


__ADS_3

Nuha berlari kecil keluar gerbang sekolah. Ia cukup senang menunggu seseorang akan menjemputnya pulang.


Jalanan sekolah tampak ramai oleh lalu lalang siswa yang pulang naik sepeda dan motor. Dan, beberapa siswa yang masih jajan di pinggiran jalan tersebut. Begitu ramai dan riuh oleh obrolan-obrolan mereka.


Sambil menunggu Kak Muha datang menjemput, Nuha membeli Cimol. Ia mengantri jajan dengan sangat baik. Hingga beberapa menit pun berlalu, jalanan mulai sepi dan para pedagang mulai pergi. Nuha mulai tidak tenang, "Kok Kak Muha lama ya?" tanyanya.


"Coba deh kamu telfon dia", Pinta Hawa.


Nuha mengambil ponselnya di tas, dan Kak Muha tepat sekali melakukan panggilan untuknya. Nuha langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Kakak lama banget sih?!", Jawabnya langsung.


"Nuha, tunggu. Dengerin Kakak dulu."


"Iya, baiklah. Apa?"


Kak Muha menjelaskan bahwa dia tidak bisa menjemput Nuha karena harus membantu dosen menyelesaikan sebuah Web desain. Maka dari itu, dia menyuruh Nuha pulang dengan angkutan umum daripada kelamaan menunggu.


Tapi, Nuha menolak. Karena, Nuha tidak pernah naik angkot dan dia sangat takut naik angkot jikalau angkot tersebut berbahaya dan tidak benar-benar mengantarkannya pulang sampai rumah. Sungguh, pemikiran yang diluar nalar.


Meski begitu, Kak Muha tetap memaksa Nuha untuk pulang menaiki angkot.


Nuha kesal mendengar keputusan dari Kakaknya. Ia kecewa Kakaknya tidak bisa menjemputnya. Mukanya manyun dan ia terus menghentak-hentakkan kakinya di jalan.


Sampai di jalan besar, ia melihat beberapa siswa nongkrong di warung pinggir jalan tersebut. Nuha khawatir karena tidak ada seorang siswi pun yang sedang menunggu angkutan umum. Beruntung ada dua orang ibu-ibu yang juga sedang menunggu angkutan umum.


"Duh Hawa, aku kan gak biasa naik angkutan umum. Gak pernah malah. Aku jadi sedikit takut nih, gimana?"


"Udah tenang aja. Aman pasti aman", Ucap Hawa menenangkan Nuha.


Sebuah bus pun datang, seorang ibu yang sedang menunggu tadi ternyata menaiki bus. Tinggal seorang ibu lagi, Nuha bertanya-tanya ibu tersebut akan menaiki apa ya nanti. Ia mulai tidak bisa tenang.


Benar-benar tidak ada siswi yang datang ikut menunggu angkutan umum seperti Nuha. Akhirnya, angkot yang ditunggu Nuha pun datang. Nuha masih terdiam di tempatnya. Dan ibu tersebut mulai menaiki angkot.


Tiba-tiba dua orang siswa yang sedari tadi nongkrong di warung pinggir jalan itu datang dan mulai menaiki angkot tersebut. Ternyata mereka adalah Dilan dan Naru. Dilan langsung menyerobot naik angkot sedangkan Naru terhenti mengangkat kakinya karena sekilas melihat Nuha. Iya, memang benar Nuha sedang terdiam di tempatnya.


"Nuha, sadar. Angkotnya sudah datang ituh," kata Hawa.


"Mbak, jadi naik angkot saya tidak mbak?" tanya sopir yang melihat Nuha sedang mematung.


Akhirnya Naru langsung meraih tangan Nuha dan mengajaknya naik angkot bersama. Seketika Nuha sadarkan diri. "Udah bang, jalan." Pinta Naru.


Nuha yang mulai sadar penuh langsung histeris tidak bisa mengendalikan kepanikannya, "Apa?! Aku di angkot?! Gak bisa! Gak bisa! Aku gak mau naik angkot! Aku takut naik angkot!"


"Hoe?"


Semua penumpang heran melihat tingkah Nuha, begitu pula Dilan. Nuha terus menunjukkan kepanikannya hingga tangan dan kakinya terus gemetaran.


"Tenanglah Nuha, tenang", pinta Naru.


"Kamu gak biasa naik angkot? Jangan takut, ada aku di sini", Naru terus menenangkan Nuha kesayangannya.


Tidak bisa dibohongi, bahwa Nuha sangat takut naik angkutan umum. Ia takut kalau angkutan umum tersebut tidak mengantarkannya pulang tapi malah mengajaknya pergi jauh, jauh menjauhi rumahnya.


Ia terdiam melihat banyak penumpang melihat ke arahnya. Bahkan ia pun terdiam melihat Dilan di depannya.


Nuha mengarahkan pandangannya ke jalan raya dari balik kaca angkot. Ia mengingat jalan tersebut jalan yang benar dan sesuai seperti arah jalan yang ia lewati setiap hari saat pergi dan pulang sekolah. Namun, itu tidak begitu lama. Angkot tersebut belok ke arah jalan yang Nuha tidak ketahui. Nuha mulai panik kembali.


"Itu- itu bukan jalan yang biasanya. Naru, Naru! Kita mau dibawa kemana?!! Aku ingin pulang"


"Ya ampun anak ini.", Batin Naru.


Naru langsung menutup kedua mulut Nuha dan mencoba memberi isyarat kepada Nuha untuk tenang, "Sssttt.. Nuha, tenanglah. Kamu ini kenapa sih?!", Bisik Naru.


"Aku mau pulang, tapi jalannya tidak lewat sini. Aku takut, aku takut kalo nanti kita diculik", Ucap Nuha sambil mengeluarkan air mata buayanya.


"Diculik? Hadeu.. Percaya sama aku, Nuha. Kamu pasti bisa pulang, sampai rumah!", ucap Naru yakin.

__ADS_1


Nuha tidak mengerti, namun akhirnya ia mulai terdiam dan bersabar menunggu bahwa angkot tersebut akan membawanya kemana.


Akhirnya, gang arah menuju rumah Nuha terlihat. Nuha langsung menghentikannya, "berhenti!!", ucap Nuha lantang.


"Dilan, mungkin lain kali aja aku ke rumahmu", Ucap Naru yang tiba-tiba menggandeng tangan Nuha untuk turun bersama dari angkot.


"Apa?! Trus tugas kita gimana?", Balas Dilan.


"Maaf, kita kebut besok aja", Ucap Naru santai sambil memberikan lambaian tangan selamat tinggal untuk Dilan.


Angkot pun mulai melanjutkan perjalanannya.


...******"YANG BENAR SAJAAA!"******...


"Yay! Akhirnya bisa sampai rumah jugaaa! Uwaaa!" Nuha menggeram merasa senang.


"Trus kamu ngapain di sini, Naru? Rumahmu daerah sini kah?", tanya Nuha dengan polosnya.


"Dia benar-benar tidak tau berterima kasih," sindir Naru sambil celingak-celinguk ke sekitar tempat tersebut. Ia melihat warung es degan dan ingin mengajak Nuha ke sana.


Nuha pun menoleh ke arah tersebut. Ia mulai paham dengan apa yang diinginkan Naru kepadanya.


"Okai, mau aku traktir minum es degan?"


"Nah, gitu kek dari tadi. Gak inget apa tadi yang nolongin siapa waktu di angkot."


Naru langsung mengambil langkah dan menggandeng tangan Nuha, berjalan menuju warung es degan tersebut.


"Permisi"


Naru menundukkan kepalanya dengan sambil membuka spanduk yang menghalanginya.


Hati Nuha menjadi berdebar-debar duduk bersanding dengan Naru di warung es degan. Ia sedikit melirik ke arah Naru, tapi Naru ternyata tampak bersikap santai dan cool.


"Nak Nuha bawa siapa ituh? Ganteng sekali", Puji si punya warung sambil menaruh dua es degan putih dihadapannya.


"Duh, Silau!", Gumam Nuha histeris.


"Temen, buk"


"Temen?", tanya Naru tidak percaya.


Ibu Warung hanya tertawa menghargai dan meninggalkan mereka berdua untuk mengurus urusan yang lain.


"Terima kasih ya Naru, kamu menyelamatkanku lagi", Ucap Nuha dengan tulus.


"Syukurlah"


"Untung ada kamu tadi"


"Iya.. sayang aja"


"Eh? Sayang apa?", tanya Nuha menoleh.


"Sayang kamu laah", balas Naru jujur.


"Iiih!", Nuha langsung mencubit tangan Naru, hingga Naru kaget kesakitan.


"Adududuh.. sakit Nuha!"


"Ini semua karna kakak. Tau aku takut naik angkot malah disuruh naik angkot. Sampai aku bikin malu lagi dihadapan Naru", gerutu Nuha.


Naru mulai lagi heran melihat tingkah aneh Nuha. "Bu! Tolong minta satu gelas es kristal ya bu", Pinta Naru. Dia mengerti bahwa Nuha suka mengunyah es kristal kebiasaannya saat dia merasa kesal.


Naru hanya terus memandanginya senang dan penuh gemas. Sambil menikmati es degannya ia terus membiarkan Nuha mengunyah habis es kristal pemberiannya.


"Udah, habis?", Tanya Naru santai.

__ADS_1


"Huff! Udah!", Nuha berdiri dan keluar dari warung.


Naru segera menyusulnya setelah membayar dan mengucapkan terima kasih kepada ibu warung.


Nuha seperti orang mabuk karena kebanyakan ngunyah es kristal, badannya sedikit menggigil, kepalanya sedikit pusing dan jalannya mulai tidak seimbang.


"Astaga. Nuha, sini. Kemarilah"


Nuha pun berhenti. Naru menghampirinya dan memakaikan jaketnya kepada Nuha.


"Boleh aku, memelukmu?", Pinta Naru.


Nuha terdiam, sedikit demi sedikit ia mendekatkan kepalanya ke bahu Naru. Naru menerimanya dengan lembut. Memeluk hangat kepala Nuha yang tertutup tudung jaketnya. Untuk beberapa saat, untuk beberapa menit.


"Aku sayang kamu Nuha. Bisakah kita lebih dari temen?"


Nuha terdiam tidak ingin menjawab, malah lebih ingin menikmati kenyamanan di pelukan Naru.


"Nuha, aku sudah menyukaimu sejak lama. Jadi, tidak mengapa kalau perasaan ini harus terus aku tahan sendiri. Tapi, setidaknya. Izinkan aku untuk mengatakannya"


"Me-mengatakan apa?"


"Aku menyukaimu. Aku jatuh cinta kepadamu"


"Deg!"


"Naru.. Aku.."


Hati Naru sedikit sesak, dia khawatir jawaban Nuha akan mengecewakannya. Tapi, dia berusaha akan tetap menerima keputusan itu.


"Sebenarnya, aku.."


"Aku juga menyukaimu- Tapi!", Ucap Nuha yakin tapi langsung menyela tegas ucapannya sendiri.


"Tapi, apa?"


"Aku, aku gak ngerti apa itu pacaran, jadi harus gimana?", balas Nuha memalingkan mukanya dengan suara pelan.


"Syukurlah", balas Naru lega.


"Eh?"


"Aku bersyukur kamu memiliki perasaan yang sama kepadaku. Bagiku itu sudah lebih dari cukup, Nuha"


"Be-benarkah begitu?"


"Iya. Aku juga tidak ingin kamu jadi terbebani dengan apa itu yang dinamakan cinta. Jadi, tetaplah jadi dirimu sendiri aja"


"Iya"


Sejenak waktu memberikan masa untuk Nuha dan Naru, "Apa, sudah lebih baik?", Tanya Naru.


Nuha mengangguk dan melepaskan dirinya dari Naru. Ia mengucap terima kasih lagi kepada Naru dan melepas jaket Naru dari badannya.


"Aku-, aku pulang sekarang yah", Ucap Nuha.


"Iya, baiklah", Jawab Naru sambil menerima jaketnya.


"Sampai ketemu lagi di sekolah?"


"Iya, sampai ketemu lagi"


Nuha dan Naru saling melempar senyum perpisahan. Nuha mengangkat tangannya dan melambaikannya kepada Naru. Naru menerimanya dengan senang hati.


Naru terdiam di tempatnya melihat kepergian Nuha yang semakin menjauh. Semakin menjauh dan semakin samar dimatanya.


"Rasanya, waktuku begitu hampa tanpamu, Nuha."

__ADS_1


__ADS_2