
"Apa maumu, Dilan"
"Kita bicara empat mata di kelas. Ayo!"
Dilan dan Naru berjalan menuju kelasnya diikuti Dika dan Agung. Dilan menghadapkan kursinya ke hadapan Naru.
"Kalian berdua, jangan nguping pembicaraan kita", pinta Dilan dengan mata tajamnya.
"Iya-iya, okei!", balas Dika. Kemudian, dia dan Agung berjalan keluar kelas.
"Naru!"
"Sudahlah Dilan. Elo tuh marah-marah terus sama gue itu kenapa? Masih kurang puas ngehajar gue", tantang Naru.
"Elo?! Semakin berani ya!"
"Huuff", Naru pun menghela nafas.
"Katakan apa maumu?", tanya Naru legawa.
"Mau gue.. Elo.. Itu.. Harus jaga jarak sama Nuha!"
"Kenapa?"
"Ini sangat menyakiti mata gue, tauk?!"
"Mata doank?", tanya Naru santai.
"Enggak lah, bego! Hati gue, perasaan gue, sikap gue, pikiran gue, masih belum bisa menerima semua kecemburuan ini!"
"Baiklah, kalo itu bisa membuatmu lega. Berapa lama gue harus jaga jarak sama dia?"
"Apa? Elo, gak keberatan?"
"Katakan, Dilan"
"Oke oke.. Berapa ya? Hm, sudah kuputuskan. Sampai akhir semester ini", balas Dilan.
"Elo yakin?"
"Tapi, Naru! Gak hanya itu. Selama waktu itu, gue ingin bisa deket sama dia"
"Apa?!"
"Heh", Dilan terkekeh.
"Elo itu, udah gue kasih hati masih aja minta jantung. Kurang baik apa gue ke elo, Dilan?!"
"Iya itu terserah elo. Kalo enggak ya, gue akan gangguin Nuha terus sampe elo panas!"
"Ada syaratnya", balas Naru.
"Sialan loe, Naru! Apa syaratnya?!"
"Jangan sedikit pun elo nyentuh Nuha! Satu senti pun elo menyentuhnya, elo end sama gue"
"Ngeri banget loe, Naru!"
"Emang elo aja yang bisa bertindak sesuka hati"
"Naru!"
Dilan tidak segan-segan melayangkan pukulannya lagi ke pipi Naru. Naru terjatuh, sehingga menghebohkan teman-teman di kelas.
"Pukulan ini, masih belum cukup", geram Dilan merasa kesal terhadap Naru. Naru menatapnya tajam.
"Dilan, elo kenapa?", tanya salah satu teman kelasnya.
"Hari ini juga, gue akan jaga jarak sama dia", pungkas Naru.
__ADS_1
Dilan acuh dan beranjak pergi keluar kelas.
"Elo gakpapa, Naru?" tanya temannya.
"Iya, gakpapa. Santai aja", balas Naru.
Naru mulai duduk di tempat duduknya. Dia tidak menyangka, pertemanannya dengan Dilan menjadi semakin buruk saja.
Siang hari, di kelas tambahan Nuha ada tugas dari guru bahasa indonesia untuk membuat rangkuman berita sebanyak satu lembar HVS. Bersama guru, kelas Nuha diijinkan ke perpustakaan untuk mencari referensi dan ide.
Nuha bersama Asa dan Ziya mencari tempat duduk untuk mengerjakan tugas itu bersama-sama. Beberapa teman yang lain tampak bersunggung-sungguh untuk memikirkan idenya masing-masing.
"Kalian mau bikin apa, gays?" Tanya Ziya
"Umm.. Gue mau bikin berita tentang traveller ah", Jawab Asa menemukan idenya.
"Waah idemu bagus, Asa", puji Nuha
"Duuuh.. Kamu udah cepet amat dapat ide, Asa. Aku masih bingung nih. Bantu aku donk", Keluh Ziya.
"Aku juga bingung kok, Ziya" Ungkap Nuha
"Uuh, Kamu bener-bener sehati sama aku, Nuha", Peluk Ziya dengan lebaynya.
"Kamu bisa bikin berita tentang fashionmu itu, Nuha. Kamu kan pandai tentang fashion", Asa memberikan idenya.
Asa menjelaskan bahwa Nuha harus membuat berita tentang desain fashion ala-ala orang barat. Dia berfikir itu pasti akan bagus dan percaya bahwa Nuha pasti bisa melakukannya.
Melihat Asa memberikan ide untuk Nuha, Ziya terlihat iri, "Hla gue gimana donk?", Ziya semakin mengeluh.
"Hmm, apa ya?", Asa dan Nuha berfikir bersama.
"Aku bikin tentang film yang mau tayang dibioskop bulan ini aja kalo gitu", pikir Ziya.
"Nah tuh bagus", puji Nuha.
Mereka pun tertawa bersama. Nuha yang masih bingung mencari ide fashionnya itu mulai beranjak dari tempat duduknya. Mencari majalah-majalah ataupun koran manca negara untuk menambah referensi.
"Cekrek!"
Ito pun ikut datang dan langsung memotret wajah close-up Nuha dengan kamera polaroidnya. Kemudian, dia langsung pergi sambil tertawa dan mencari mangsa lagi.
Melihat Ito hanya berkeliaran dengan kamera polaroidnya, membuat guru menjadi menegurnya, "Ito, apa tugasmu sudah kamu selesaikan?" Tanya guru.
"Hehe.. belum Bu." Jawab Ito dengan pedenya.
"Lalu, ngapain kamu hanya berkeliaran begitu? Sana kerjakan tugasmu!" Perintah guru.
"Iya iya Buu.."
"Dilan itu, masih saja deketin Nuha. Gadis itu juga, apa sih keistimewaannya?", ketus Raffy sambil melipat tangannya bersandar di meja.
"Selesein aja tugasmu, Raffy!", pinta Rafly acuh.
"Gue mah sudah selesai. Saat Bu Diah memberikan perintahnya, gue langsung kerjaan itu tugas. Nih! kalo loe gak percaya", Raffy langsung menunjukkan tugasnya.
"Baguslah!"
"Elo gak mau curi-curi pandang ke cewek itu, Rafly?", ejek Raffy terkekeh jahil.
Rafly pun sejenak melihat keberadaan Nuha bersama Dilan. Sedikit menyipitkan matanya, kemudian dia kembali lagi menyelesaikan tugasnya.
"Kamu ngapain kesini?", tanya Nuha ketus sambil membuka-buka halaman majalah.
"Nuha, kamu lupa ya kalo kita udah temenan? Jadi, biarkan aku menjadi temenmu, yah? Hm?"
"Okei, tapi jangan usil lagi"
"Baiknya Nuha", Dilan tersenyum lebar.
__ADS_1
Nuha pun berhenti membuka halaman selanjutnya. Dia melihat fashion yang sangat bagus, membuatnya teringat lagi dengan Hawa.
"Lihat deh Hawa, Jika kamu memakai ini pasti kamu manis sekali", batin Nuha sedikit termenung.
"Aku, kembali dulu ya Dilan", pungkas Nuha.
"Eh, Nuha. Aku ikut ya"
"Kenapa dia?", sinis Nuha dalam hati
Nuha bersama Asa dan Ziya menikmati tugasnya masing-masing dan saling bertukar pikiran dan memberi masukan.
"Nuha", panggil Dilan yang duduk di sampingnya.
"Iya?"
"Nanti pulang, bareng ya", ajak Dilan.
"Eh?"
Membuat Asa dan Ziya ikut bertanya-tanya.
"Cekrek!"
Ito langsung mengambil gambar close-upnya Ziya dan Asa. Ziya yang terkejut mukanya langsung merah padam. Dia jadi kesal dan mengejar Ito yang langsung berlari. Suasana menjadi riuh. Semua mata melihat ke arah Ziya yang mengejar Ito.
Itooo!! Awas kau ya!! Dasar cowok gak sopan?!"
Nuha dan Asa malah cekikikan sendiri.
...****************...
Di kelas tambahan A
"Fani"
"Eh, Naru? Ada apa?"
"Bisa, bicara sebentar?"
"Oh, baiklah"
Naru mengajak Fani mendekat ke jendela kelas dan berbincang empat mata dengan serius.
...****************...
"Yey! Pulang juga", histeria Asa.
"Kalian, mau gue traktir?", ajak Dilan.
"Wah! Mau donk!", Asa langsung senang.
"Bentar donk Asa, kalo Nuha mau jadi gue traktir kalo Nuha gak mau ya gak jadi gue traktir"
"Heleh, gitu to", sinis Asa.
"Bilang iya, Nuha", senggol Asa.
"Iya"
Dilan pun senang.
Saat Nuha, Asa dan Dilan jajan Cakue, Nuha melihat Naru sedang menunggu jemputannya. Naru pun menoleh ke arahnya.
Belum selesai Nuha memberikan senyumnya, Naru langsung mengalihkan mukanya karena ada Dilan bersamanya.
"Naru?", gumam Nuha.
Naru pun langsung masuk ke dalam mobil jemputannya. Berat rasanya, mengabaikan senyuman manis itu.
__ADS_1
Fani yang melihat di belakang mereka dari jarak 3 meter pun terdiam, "Sabar ya, Nuha"