Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Bertengkar Dengan Kakak


__ADS_3

"Tumben kakak ajak aku makan disini. Kayak orang pacaran aja" Ucap Nuha yang tiba-tiba


Nuha memandangi di sekeliling tempat ia berada, banyak pelanggan dipenuhi oleh orang-orang muda dan berpasang-pasangan. Pemuda dan pemudi dalam jumlah banyak pun juga ada, cocok juga untuk menjadi tempat tongkrongan.


Ucapan Nuha tanpa sadar mengingatkan Kakak pada pokok pembahasan yang hendak ia bicarakan dengan Nuha. Muha mencoba menghargai kehidupan adiknya itu tapi sebagai seorang Kakak laki-laki, ia juga perlu memberinya nasehat dan tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga pengganti ayahnya.


"Seperti kau dan bocah tengil itu?"


"Eh?"


"Kakak mau tanya, sudah seberapa jauh hubungan kalian?"


"Seberapa jauh? Sejauh gimana maksudnya kak?"


"Kakak kan dulu sudah pernah bilang, bahwa kamu tuh jangan pacaran dulu. Kakak membebaskanmu untuk bisa berteman dengan siapapun, tentu kakak juga yakin kalo semua teman-temanmu itu baik. Tapi, kamu masih saja pacaran. Pacaran itu berbeda Nuha.."


"Naru orangnya baik, Kak"


"Sebaik apapun orang, kalo mereka sudah kenal yang namanya pacaran. Itu bahaya"


"Kenapa Kakak harus menakutiku?!"


"Kakak tidak menakutimu, kakak mengkhawatirkanmu. Sudah, makanlah dulu makananmu"


Daripada berdebat dan membuat Nuha kesal, Muha terus mencoba menguasai suasana. Apa yang ingin ia sampaikan bisa diterima baik oleh adik kesayangannya itu tanpa harus bertengkar dan adu mulut.


Satu setengah jam bimbingan Naru bersama Pak Hanif untuk ketiga siswa berbakat itu pun selesai. Pak Hanif dan Juna segera berkemas dan beranjak keluar ruangan. Lala masih menata bukunya sembari memperhatikan Keisha yang masih murung.


"Keisha ayo pulang" Ajak Lala


"Kamu duluan aja deh Lala"


"Tapi.."


"Udah! Kamu duluan ajah!!" Bentak Keisha


Naru berjalan menghampiri mereka yang sedang tidak rukun. Naru mencoba bertanya, "Lala, sebenarnya ada apa dengan Keisha?"


"Ke-Keisha.. sebenarnya.."


"Kak Naru! Aku tuh.. aku tuh suka sama kakak. Aku ingin jadi pacarnya kakak!!" Teriak Keisha memberanikan diri.


"Apa?", Naru kaget seketika.


Melihat Keisha berani mengungkapkan perasaannya, Lala malah menjadi bingung. Ia jadi sungkan melihat temannya itu menyukai kakak pembimbingnya dan merasa bersalah memiliki teman seperti Keisha.


"Coba deh dipikirin lagi" Pinta Naru sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Ta-tapi, aku langsung jatuh cinta pada kakak saat pandangan pertama"


Naru tersentak kaget, ia jadi sadar diri bahwa ia menyukai Nuha juga karena cinta pada pandangan pertama. Namun, ia tidak langsung mengungkapkannya kepada Nuha. Sehingga, Naru membutuhkan waktu untuk terus membuktikan cinta pada pandangan pertamanya itu.


"Gak semudah itu cinta pada pandangan pertama Keisha" Ucah Naru merendahkan suaranya mencoba menasehati.


"Aku hargai perasaanmu itu padaku, tapi.. coba deh dipikirin lagi. Karena, cinta itu gak semudah kita bayangkan", balas naru serius namun santai.


"Umm.." Keisha menunduk


"Oya!" Naru langsung memberi kepalan tangan di telapak tangannya sendiri. Keisha dan Lala pun langsung kaget


"Mau gak aku kenalin pada seorang cowok, tapi jangan mengharap pacar lho ya" Cengir Naru


Keisha masih menunduk sedangkan Lala menganggukkan kepalanya dengan pasti.


"Ini saatnya aku meminta bantuan pada tuan Jin Dilan" Naru tiba-tiba menyeringai.


Keisha dan Lala pun diajak Naru untuk segera pulang. Mereka bertiga berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Kemudian saling berpamitan.


"Apa Nuha sudah pulang ya?" Gumam Naru yang melihat area luar sekolah sudah terlihat sepi.


"Hei, Naru!" Teriak Asa yang mengendarai motor muncul dari arah parkiran.


Obrolan Asa, Sifa dan Fani bersama kak Yuki baru saja selesai. Sifa dan Fani sudah pergi ke seberang jalan untuk menunggu bus. Kak Yuki juga kembali masuk ke gedung sekolah.


"Okei, thanks" Ucap Naru singkat.


"Ini enak kak. Es degannya juga unik, pake dibakar segala dan bisa minum langsung dari wadah buahnya. Benar-benar kreatif penjualnya"


"Lututmu itu kenapa?" Tanya kakak tiba-tiba penasaran


"Ini?, jatuh kemarin karna kesenggol orang"


"Habis itu gak berani pulang, takut kakak memarahimu?"


"Bukan sih. Itu.. Bukan. Eh? Bukan apa-apa kak ceritanya panjang. Aku capek harus cerita terus. Tadi sudah dikepoin sama temen-temenku, aku juga terus berdebat dengan Hawa. Sekarang gantian kakak yang tanya. Aku bingung" Nuha memain-mainkan sedotannya.


"Pokoknya, kakak minta sama kamu. Jangan mengulangi perbuatanmu itu lagi. Berteman saja dengan si bocah nakal itu dan jangan pacaran. Kamu masih anak sekolah"


"Perbuatan apa sih kak?"


"Perbuatanmu yang gak pulang ke rumah"


"Oooh.. oke. Akan aku pastikan, aku akan selalu pulang ke rumah" Cengir Nuha


"Bisa gak janji sama kakak juga kalo kamu gak akan pacaran dulu sama bocah itu?"

__ADS_1


"Dia itu namanya Naru, kak. Jangan bilang bocah deh"


"Kamu membelanya?" Muha tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang membuat Nuha menjadi sadar.


"Tuh kan, dari awal kakak itu ingin mencoba menjelek-jelekkan Naru kan. Bilang aja langsung kalo kakak gak suka sama dia"


"Kakak gak suka sama dia"


"Kakak! Naru itu cerdas, berprestasi dan baik"


"Kalo dia seperti itu, kenapa dia berani menci- men- me- me-. Nuha, dengerin kakak. Kakak tidak ingin memarahimu ataupun mengajakmu ribut. Tapi tolong, dengerin nasehat kakak"


"Kau pasti sudah memberitahukan semuanya kepada kakak kan Hawa! Kau pun sama! Kau tidak bisa kupercaya!" Nuha marah


"Nuha, kakak bicara baik-baik"


"Nuha kesal sama kakak!"


Nuha berdiri. Dia menggeram kesal dan menampakkan wajah manyunnya seserius mungkin kepada kakaknya. Tanda bahwa ia sedang marah. Memalingkan muka dan beranjak pergi. Terus menyusuri jalan milik warung makan tersebut dan keluar. Ia bahkan berniat jalan kaki untuk ssgera pulang ke rumah, tidak peduli berapa jauhnya.


"Dia bahkan tidak mencoba minta maaf. Dia benar-bemar tidak mengerti dimana letak kesalahannya sendiri bahwa dia pun berani tidur di kamar cowok" Keluh Muha.


"Kamu tega ya Hawa!"


"Maafkan aku Nuha"


"Aku bahkan sampe tidak tahu bahwa kamu telah menceritakanku kepada kakak saat aku di rumah Naru"


"Aku itu selalu memahamimu Hawa, selalu menghargaimu. Tentang aku di rumah Naru, aku tau aku salah. Aku tau aku salah.. aku tau aku salah.." Nuha menangis


"Aku tidak ingin minta maaf karna kutau kakak tidak tau itu. Makanya aku mencoba menyembunyikannya. Aku tau aku salah.." Nuha terus sesenggukan berjalan sendiri


"Nuha, kendalikan dirimu. Kamu sedang nangis di pinggir jalan raya nih"


"Aku gak peduli"


Nuha terlihat berantakan, bahkan jalannya pun tidak sempurna. Ia melinggak melingguk kesana kemari seperti orang yang kehilangan tenaga.


"Nuha! Perhatikan jalanmu"


Nuha terdiam tidak peduli.


"Nuha!"


Rasanya Hawa ingin menarik Nuha kepinggir dan menghentikan tingkahnya, tapi ia tidak bisa melakukan perbuatan itu. Hanya bisa terus memanggil namanya dan meneriakinya.


"Nuha! Awassss!!!"

__ADS_1


"Kakaaakkk!" Teriak Hawa sekencang mungkin


__ADS_2