Puzzle Teen Love

Puzzle Teen Love
Sifa dan Asa, End.


__ADS_3

"Belum satu minggu untukku buka mulut ke Nuha tentang Naru, Pak Suwito malah melarang kelas kami untuk pacaran", ungkap Fani di dalam hati.


Dia melihat sedih ke arah Nuha yang tidak tahu apa-apa. Dia juga melihat Sifa di depannya merasa terkejut dengan ucapan guru.


Fani menoleh ke belakang untuk melihat Asa, dan Asa hanya terdiam penuh amarah. Ujian Semester sudah di depan mata, tapi masalah datang disaat yang bersamaan.


Pak Suwito lebih memperjelas lagi ucapannya.


"Seperti yang telah kalian sendiri ketahui, dan para guru menjadi sangat prihatin dengan kelas kalian ini. Jadi, Bapak merasa tidak akan salah membuat keputusan ini. Bapak harap, kalian semua bisa memahaminya"


"Wahyu!", panggil beliau.


"E, iya pak?!"


"Bagikan selebaran ini ke teman-teman kamu"


"Um, baik pak!"


Beberapa siswa mulai menerima selebaran itu dengan masih bertanya-tanya tentang sebenarnya apa yang telah terjadi.


"Kenapa Pak Wito tiba-tiba melarang kita pacaran?"


"Memangnya, siapa yang pacaran di sini?"


"Raut wajah pak Wito terlihat sangat marah"


Di tempat duduk sisi lain, Aya menggerutu tidak jelas kepada Mega yang duduk di belakangnya.


"Apa ini karena apa yang telah terjadi kepada Ajeng?", tanya Aya berbisik.


"Mungkin, benar", jawab Mega pelan.


"Lalu, gimana keadaan Ajeng sekarang, Mega?"


"Dia, di.. di.. Dikeluarkan dari sekolah"


"Apa?!!"


"Ssttt.. Pelankan suaramu Aya!", pinta Vita yang duduk di sampingnya.


"Kasihan sekali Ajeng, padahal sebentar lagi kita lulus dari sekolah tapi perjalanannya putus di tengah jalan"


Sifa hanya bisa terdiam. Asa terlihat tidak peduli. Nuha juga jadi kebingungan, Fani tidak tahu hendak berbuat apa untuk ketiga sahabatnya itu.


"Gakpapa kan, Nuha?"


"Eh?"


"Kamu, gakpapa kan, Nuha?", tanya Fani sekali lagi.


"Aku? Aku sih.. Gakpapa, hehe", balas Nuha masih bingung.


Pak Wito menyampaikan lagi, "Selebaran itu adalah jadwal-jadwal ujian kalian. Untuk bulan desember ini, persiapkan diri kalian untuk segera Ujian Semester 1. Selanjutnya, atur jadwal kalian untuk mengikuti ujian selanjutnya. Bisa kalian baca sendiri. Oya, di bulan Desember, kelas tambahan akan diliburkan dulu"


"HOREEE!!


"Satu lagi. Pantau gerak gerik teman kalian. Jika kalian mendapati teman kalian pacaran, tolong laporkan pada saya!", perintah pak Suwito.


"APAA?!!!"


"Apa ini, tidak terlalu kejam Pak?!", elak Sifa.


"Biarkan saja pak! Tetap larang kami untuk pacaran. Saya setuju!!", sahut Asa tidak mau kalah.

__ADS_1


"Asa.. Sifa..", keluh Nuha dan Fani.


"Gimana ini Fani, kenapa Asa dan Sifa jadi kayak gitu?"


"Aku juga gak tau, Nuha. Padahal, olah raga tadi baik-baik aja kan? Setelah kita kembali dari parkiran itu, mereka sudah musuhan"


"Mungkin hanya sementara. Sifa dan Asa kan biasa gitu, semoga besok-besok bisa kembali akur", ucap Nuha berprasangka baik.


Fani tersentuh dengan prasangkaan baik Nuha, di samping itu dia menyimpan sesuatu yang masih dia rahasiakan dari Nuha.


"Satu minggu lagi, juga udah ujian", keluh Fani.


Istirahat pun tiba. Pak Suwito mengakhiri penjelasan dan pembelajarannya. Sifa dan Asa masih bersitegang. Sehingga, Nuha dan Fani akan ke kantin berdua.


"Nuha, ke kantin yuk", ajak Fani.


"Okei", balas Nuha sungkan sambil melihat Sifa dan Asa.


"Aku ikut yah", pinta Sifa.


"Cari muka aja terooos!!", gerutu Asa di tempat duduknya.


"Dah, ayo!", Sifa malah menarik tangan Nuha dan Fani segera. Mereka bertiga berjalan ke kantin.


Di kantin, Nuha dan Fani merasa canggung menghadapi Sifa. Padahal, Sifa terlihat santai dan apa adanya.


Nuha dan Fani jadi saling senggol satu sama lain.


"Hai, Nuha. Boleh gabung?", pinta Dilan.


"Dilan lagi?", batin Nuha heran.


"Maaf, Dilan. Bukannya aku ikut campur tapi, kelas kami sedang ada masalah. Jadi, bisa minta tolong supaya kamu gak deket-deket sama kita dulu", jawab Fani.


"Dia, gak mau pergi", sinis Nuha dalam hati.


"Gimana ini, Nuha?", bisik Fani.


"Gak tau", balas Nuha berbisik.


"Deketin dia aja terus", senggol Raffy iseng. Perbuatannya membuat Dilan hampir saja jatuh mengenai tubuh Nuha. Tapi, dia bisa menahannya dengan tangan kiri memegang sandara kursi Nuha dan tangan kanan menahan di meja.


"Ups!"


Sontak, Nuha dan Dilan jadi saling bertatapan mata. Kejadian itu, terlihat oleh Naru yang melihatnya dari kejauhan.


"Ck"


"Hahahaha", Raffy tertawa.


"Ka-kalian ini tidak sopan ya!!", bentak Fani.


"Fani?"


Tidak biasanya Fani membentak. Dia benar-benar berusaha untuk melindungi sahabatnya. Biasanya ada Asa, tapi dia sedang tidak ada.


"Kamu, gakpapa Nuha?", tanya Fani cemas.


"Sebaiknya, kita kembali aja ke kelas", ajak Sifa.


Sifa sendiri juga hanya bisa diam saja. Melihat itu, Nuha sudah tidak tahan lagi. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Dilan!", bentak Nuha.

__ADS_1


Meskipun tubuhnya bergetar dan suaranya terbata-bata dia terus berusaha untuk membuat pembelaan. Bahkan, dia berani memberikan telunjuknya.


"Dilan! Aku minta ya ke kamu. Kamu jangan suka deketin aku terus. Aku tu gak suka!"


"Dan kamu Raffy!! Berhentilah mengangguku! Sekali lagi kamu berani menggangguku, aku akan mendorongmu!"


Sejenak mengambil nafas..


"Sifa!", Nuha langsung memegang tangan Sifa.


"Tolong, tolong ceritain pada kami, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Asa..", ucap Nuha sedikit terisak. Dia mencengkeram erat kedua sisi roknya untuk menahan perasaan sedih itu.


"Nuha?"


Dilan dan Raffy pun merasa terpukul. Sedangkan, Fani dan Sifa merasa tersentuh. Ketiga gadis itu pun akhirnya beranjak dari kantin.


Naru sedih melihat keadaan Nuha. Namun, ekspresinya berubah tajam saat Dilan melihat ke arahnya. Naru pun pergi dari tempatnya.


...****************...


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, kalian akan tetap membelaku atau menyalahkanku?", tanya Sifa.


"Umm?", Nuha dan Fani saling bertatapan mata.


"Ini mungkin karna.. Asa menjadi marah kepadaku karna.. Karna.. Mungkin dia melihatku saat.. Saat aku.. Men- menci- mencium pipi kak Yuki", jawab Sifa.


"Hah?", Nuha dan Fani terperanga.


"Apaa?!!", Teriak mereka berdua langsung sadar.


"Denger sendiri kan kalian?!", tiba-tiba Asa datang.


"A- Asa?", Nuha dan Fani kaget dengan kedatangannya.


"Cewek ini, cewek ini sering sekali bikin masalah sama kita, Nuha, Fani! Kalian sadar gak sih?"


"Asa!"


"Sungguh nyebelin!"


"Nyebelin katamu?!", Sifa mulai berani.


"Asa, jangan marah", pinta Fani.


"Kenapa elo sangat marah? Gak perlu ikut repot juga kan sama urusan gue?", Sifa tetap membela diri.


"Elo itu ya, lebay! Sok! Kepedean! Sepertinya kita udah gak bisa cocok lagi, Sifa!", bentak Asa.


"Kok jadi rumit gini?", gumam Nuha.


"Kenapa Asa jadi semarah itu?", tambah Fani.


"Elo kenapa sih?!", Sifa mulai mendorong pundak Asa.


"Suka-suka gue donk dengan urusan gue!"


"Hemph!!"


"Ooh.. Gue tau.. Elo semarah itu apa karna, karna cemburu? Hah?", Sifa semakin pandai dan menyindir.


"Apa kamu bilang?"


"Jujur aja Asa..", Sindir Sifa.

__ADS_1


"Sudahlah! Pokoknya, sekarang juga, Elo Gue End!!"


__ADS_2