
“Gays, ini kan hari sabtu. Kita ngemall yuk sepulang sekolah”, ajak Sifa.
Selesai dari kantin, Nuha bersama tiga sahabatnya berjalan hendak kembali ke kelas. Sebelum bel masuk berbunyi, mereka berjalan-jalan di sekitar lapangan tengah untuk melihat para siswa yang sedang bermain bola.
Sangat seru, banyak penonton yang bersorak sorai memberikan semangat antar pemain. Pemain yang hanya terdiri per regu lima orang dan satu kiper saja sudah menghebohkan para penonton.
“Tadi, kamu bilang apa Sifa?”, tanya Asa terganggu dengan suara para suporter.
“Ngemall. Nanti, sepulang sekolah kita ngemall yuk?”
“Harus itu?”
“Harus donk”
“Ngapain sih ngemall segala, kok tiba-tib-”
Sifa langsung menginjak kaki Asa dengan sengaja. Seketika Asa menjerit kesakitan.
“Whats wrong?!”
“Sstt!!”, Sifa langsung merangkul leher Asa dan menariknya sedikit menjauh dari Nuha dan Fani. Membisikkan suatu kalimat yang tidak diketahui oleh Nuha dan Fani.
Sembari Sifa dan Asa sedang berbisik-bisik, sebuah bola terbang bebas mengarah ke Fani. Nuha dan Fani yang sedang menonton permainan bola tersebut, keduanya langsung kaget dan gagap tingkah.
“Fani, awas!!”, Nuha berusaha bergerak untuk melindungi Fani.
Hampir saja bola mengenai kepala Nuha, Naru datang menghadang bola tersebut dengan punggungnya. Tendangan yang cukup kuat memberikan suara, “bug!”.
Fani jatuh terduduk karena kaget, sedangkan Naru reflek memeluk Nuha.
Seorang pemain datang menghampiri bola yang telah mengenai punggung Naru. Dia menjadi sungkan untuk meminta maaf karena terheran-heran melihat pemandangan yang tidak biasa baginya. Naru memeluk Nuha di tempat umum.
“Are you okey, Nuha?”, tanya Naru.
“Hoe?”, Nuha kaget dengan suara yang berbeda itu.
Nuha mengeluarkan kepalanya dari pelukan Naru dan melihatnya dengan seksama. Sontak dia kaget setengah mati, bahwa yang memeluknya ternyata bukan Naru. Melainkan Rafly.
“Nuha?”, tanya Fani kaget.
“Nuhaa?!!”, Asa dan Sifa juga ikut kaget.
“Si- si- si- si- siapa kamu?!”, Nuha langsung mendorong Rafly untuk melepaskan diri dari pelukannya. Suaranya bergetar dan hatinya berdebar kencang karena ketakutan.
“Maafkan saya!”, ucap pemain tersebut dan langsung berlari melarikan diri.
“Cekrek!”, Raffy memotret adegan Nuha bersama Rafly.
“Hahaha.. kena kau gadis naif!”, ejek Raffy.
“Nuha, kamu gak papa?”, tanya Rafly memastikan.
__ADS_1
“Naru, kupikir kamu Naru. Kenapa kamu harus memelukku!”, Ucap Nuha tertunduk. Suara keras nan bergetar itu menandakan bahwa Nuha benar-benar ketakutan dan malu.
“Ayo! Marahlah, rambut sapu ijuk. Hahaha”, timpal Raffy.
“Raffy, jangan seperti anak kecil!”, bentak Rafly sambil meraih ponsel Raffy.
“Eits!”, Raffy langsung menolak dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Nuha masih tertunduk malu, dia benar-benar takut semua siswa melihat kearahnya. Dia berusaha menyembunyikan mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Naru datang dengan membawa jaket varsitynya. Membentangkan lebar di atas kepala Nuha, “Whusss”. Biasan sinar matahari dan angin sepoi memberikan keindahan suasana. Bentangan jaket pun jatuh lembut di kepala Nuha.
“Seeetss”
Naru menuntun Nuha meninggalkan tempat dimana Nuha berada. Menjauh dari pasang mata yang menghakimi tajam keberadaan Nuha bersama Rafly.
“Woh hoo.. super hero datang”, sindir Raffy terkekeh.
“Kalian berdua ini jahat sekali!”, bentak Asa langsung mendorong bahu Raffy.
“Cowok kasar yang tidak bisa memperlakukan gadis dengan baik”, tambah Sifa.
“Berikan tidak ponsel itu!”, Asa semakin berani.
“Teman-teman, jangan ribut disini. Banyak yang melihat ke arah kita”, ucap Fani.
“Berikan ponsel itu”, Asa semakin mendorong Raffy.
“Gue bisa lebih kejam kalo kalian semakin berani dengan gue”, ucapnya santai.
“Raffy, ayo pergi dari sini!”, ucap Rafly menarik lengan Raffy.
“Sudah Asa, kita selesaikan nanti lagi”, pinta Fani menghadap Asa yang akan mengejar Raffy. Sifa ikut merangkul lengan Asa untuk menenangkan emosinya.
“Kasihan Nuha, teman-teman”, ucap Asa lirih.
“Sudah, gakpapa. Naru sudah datang untuk melindunginya”, balas Sifa.
“Ayo kita segera kembali ke kelas”, ajak Fani.
Asa masih memberikan tatapan tajam kepada kepergian Raffy dan Rafly. Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kelas mereka.
“Hebat elo Rafly”, puji Raffy.
“Gue reflek tadi.”, ucap Rafly merasa bersalah.
“Masa? Haha.. Gue gak percaya kalo itu reflek. Elo pasti sengaja”, Raffy mulai menyindir.
“Elo jangan macam-macam untuk menyebarkan foto itu ya”, ancam Rafly.
“Ngancam gue?! Tumben?”
__ADS_1
Rafly hanya bisa terdiam.
“Inilah akibatnya kalo elo terlibat dengan cewek. Sedikit pun elo melibatkan diri dengannya, maka elo akan semakin penasaran terhadap dirinya”, sanggah Raffy.
“Gue gak tau kenapa, kenapa gue harus reflek tadi”, jawab Rafly tidak mengerti.
“Itu karna perasaanmu sudah tergerak olehnya, Rafly. Hahaha..”
Raffy terus berjalan sambil membanggakan dirinya. Dia benar-benar tidak merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat kepada Nuha. Mengambil kesempatan licik untuk memotret adegan Rafly yang memeluk Nuha.
“Tanpa sadar, elo juga tertarik dengan gadis itu kan Raffy?”, tanya Rafly memberikan clue.
"Mana mungkin gue tertarik sama sapu ijuk itu?!", ucap Raffy langsung kesal sambil fokus melihat-lihat hasil potretannya.
"Elo jadi suka sekali menganggunya. Meskipun elo tampak kasar padanya, tapi itu sudah memberikan tanda", ejek Rafly.
"Jangan sembarangan ya elo Rafly", jawab Raffy menarik kerah baju Rafly.
"Haha. Ingat ya, gue itu juga bisa seperti elo Raffy. Tapi, gue lebih bisa mengendalikan diri dari pada elo yang mudah grasa grusu"
"Jangan memancing emosi gue!"
"Tuh! Emang bener elo itu mudah dipancing. wakakakak", pungkas Rafly meninggalkan Raffy untuk duduk menjauh darinya.
Di samping itu...
"Asa, sudahlah. Tenangkan diri", ucap Fani mengelus pundak Asa.
"Udah my bestie, tenang semua. Mumpung gak ada Nuha", ucap Sifa bisik-bisik.
"Gays, hari senin kan hari lahirnya Nuha. Ayo kita buat kejutan lagi untuknya. Makanya, nanti kita ngemall bertiga aja", imbuhnya.
"O iya bener. Tadi, kamu sudah bisikin aku saat di lapangan tadi ya?, langsung buyar gara-gara tragedi tadi. Huh!", kesal Asa.
"Oke, aku lanjutin. Nanti, sepulang sekolah sebisa mungkin kita pergi ngemall tanpa sepengetahuan Nuha. Biar dia gak ikut ataupun curiga", ucap Sifa.
"Bisa itu, bisa diatur", kata Fani.
"Kira-kira apa ya kejutan buat dia? Kado apa yang cocok gitu untuk Nuha yang sekarang?", Asa berfikir.
"Maka dari itu, nanti kita ngemall sambil lihat-lihat sambil mikirin buat kejutan hari lahir Nuha besok hari senin"
"Okei!!", Asa dan Fani langsung tos berdua.
"Eh, aku juga ikutan tos donk", Sifa cemburu.
"Oke oke, ayo!"
Asa, Sifa dan Fani terkikik geli dan saling tos bersama.
Naru membawa Nuha ke UKS. Tanpa kata, membuat Nuha semakin bertanya-tanya di dalam benak hatinya.
__ADS_1
Nuha memegang erat jaket Naru yang menutup rapat seluruh wajahnya. Tidak ingin menampakkan wajahnya dihadapan Naru.