
"Aduh, aku capek banget belajar terus. Kayaknya, aku gak sanggup deh kalo lulus sekolah nanti lanjut lagi kuliah. Arrggh!!" Asa mengacak-acak rambutnya.
"Sudahlah Asa, jangan banyak mengeluh", Ajak Sifa menenangkan.
"Iya, lagian kan pelajaran kelas 3 ini tinggal ngulang-ulang aja pelajaran dari kelas 1 dan kelas 2. Jadi, dibawa santai aja Asa." Tambah Fani.
"Ah! Kamu Fani, kalo ngomong gampang banget. Pokoknya aku sebel! Sebel! Sebel! Mana tryout nanti di kelas tambahan", Asa semakin mengeluh.
Asa terus mengeluhkan padatnya jadwal untuk belajar. Semakin hari semakin banyak saja yang harus dipelajari dan direview kembali. Kesalahan yang harus ia sesali juga karena ia tidak rajin mencatat, sehingga ia kebingungan hendak belajar mulai dari mana lagi.
"Hei! Inikan sudah jam istirahat, gak baik kalo harus mikirin pelajaran lagi. Baiknya kita ke kantin aja yuk!", Ajak Nuha.
"Wah! Nuha, bisa aja kamu", Fani setuju.
"Hai, Asa!", Sapa Rama.
Tiba-tiba, Rama mendekati Asa. Cowok berkulit sawo matang dan tinggi, tidak ada angin tidak ada hujan melibatkan diri kepada Asa. Nuha, Fani dan Sifa terheran-heran melihat sapaan dari Rama untuk Asa.
"Ke kantin yuk. Aku traktir deh!"
"Ada angin apa ini elo ngajakin Asa ke kantin?", Sindir Sifa
"Ye, suka-suka gue lah"
"Gak asik banget sih elo. Mau deketin Asa ya?!"
"Sifa!" bentak Asa.
"Ya, kali aja kalo Asa gue traktir makan di kantin dia gak bakal galak lagi seperti kemarin. Gue hanya mau minta maaf untuk itu", Ucap Rama.
Nuha dan Fani terkikik mendengar ucapan Rama.
"Kalo gue sih langsung mau kalo ada yang ntraktir makan, mumpung gratis. Iya gak Nuha, Fani?"
Nuha dan Fani mengangguk pasti.
"Udah ah! Elo pergi aja sana Rama. Hus! Hus! Ato sama Sifa aja tuh dia mau tuh elo traktir! Kalo gue mah Ogah!"
"Bener-bener galak banget nih cewek!", Rama langsung pergi begitu saja.
"Ayo, Cepet.. Keburu masuk lagi nih pelajarannya!", Ajak Nuha menyelesaikan masalah
"Yuk, yuk, yuk!", Sifa dan Fani saling menarik tangan Asa, mengajak pergi bersama ke kantin.
Di kantin, Nuha, Asa, Fani dan Sifa mulai mengantri membeli makanan. Sifa melirik ke segala penjuru ruang kantin untuk mencari meja yang kosong. Di sana ia melihat Naru sedang makan sendirian, sedangkan di sampingnya pas sekali ada meja yang kosong yang cukup untuk tempat duduk mereka berempat.
Sifa mulai berinisiatif. Ia akan langsung mengambil meja tersebut sebelum ada orang lain yang mendudukinya.
"Eh, titip punyaku yah!", Ucap Sifa
"Mau kemana kamu Sifa?", Tanya Fani
"Aku cariin tempat buat kita duduk nanti, takut diambil orang. Kan kantin sudah mulai penuh nih!"
"Bagus!", Asa langsung mengacungkan jempolnya.
Selesai juga mereka bertiga mengantri makanan. Mereka pun menuju dimana Sifa berada. Nuha tidak terlalu memperhatikan bahwa ada Naru di dekat meja tempat Sifa berada.
"Hai, Gays! Sini!", Teriak Sifa. Teriakannya menarik perhatian Naru.
Naru menoleh ke arah di mana suara Sifa berada. Ia melihat Nuha berjalan membawa makanan. Ia senang melihat Nuha kembali. Ia mulai memperhatikan Nuha sedetail mungkin, hingga kedipan mata Nuha pun bisa ia hitung karena begitu konsentrasinya dia.
"Ehhem! Nuha!", Kata Sifa.
"Iya Sifa?"
"Lihat deh kananmu!"
"Ada apa?", Nuha melihat ke kanannya tapi lebih ke arah bawah tempat duduknya.
"Iih! Bukan di bawah! Angkat kepalamu!"
"Mana?", Nuha ganti melihat ke arah atap.
"Kebanyakan! Ngeselin banget nih anak!"
"Itu loh, lurus di depan situ!", Asa membenarkan kepalanya.
Ternyata tepat di kanannya, Nuha melihat Naru. Lurus dan sejajar, Naru memberikan senyuman untuk Nuha.
"Cieeeee", Ucap Asa, Fani dan Sifa bersamaan.
Nuha benar-benar tidak bisa berkutik. Ia ingin memalingkan mukanya karena begitu tersipu malu. Tapi, ia bingung. Rasanya wajahnya menjadi beku dan tidak bisa digerakkan. Dan, tanpa sadar ia masih melihat ke arah Naru.
__ADS_1
"Aku jatuh cinta padamu"
Seketika Nuha berasap karena mengingat kembali perkataan Naru yang membuatnya jadi senyum-senyum sendiri.
"Samperin dulu aja", Pinta Sifa.
"Eh? enggak ah", Nuha langsung tersadar, dan membenarkan duduknya kembali.
"Samperin aja, gakpapa", Fani ikutan
"Cepatlah, Nuha! Keburu pergi Narunya. Tuh, dia hampir selesai makan!", Sifa semakin gemas.
"I- iya iya..", Jawab Nuha terbata-bata.
Nuha hampir berdiri, tiba-tiba Dilan datang memukul kepala Naru dengan gulungan poster.
"Ini dia si anak! Main kabur aja terus!", Ucap Dilan marah.
"Tenang aja kenapa sih!", Jawab Naru santai.
"Elo gak lihat mata gue ini jadi item gara-gara begadang sendirian ngerjain tugas kita?!"
"Iya, Sorry.."
"Iya Sorry? Gampang banget ngomongnya!"
"Gue ganti deh, kalo ada tugas buat kita berdua lagi, gue sendiri aja yang akan kerjain", Ucap Naru.
"Okei, bisa juga.. Eits, tapi ada lagi yang gue minta"
"Minta apa?"
"Beliin Ice Coffe shake satu buat gue!"
"Iya, gue belikan."
Nuha yang hendak berdiri, tertahan dan tidak jadi berdiri. Ia kembali duduk dan sedikit menyembunyikan dirinya dari Dilan.
"Aduh, ada Dilan", Keluh Nuha.
"Ada apa Nuha?", Tanya Fani penasaran.
"Eng-enggak, hehehe."
"Hayo ada apa?", Tambah Asa.
"Hemm..", Asa, Sifa dan Fani saling melirik mata.
"Teman-teman, balik yuk", Nuha mulai tidak tenang.
"Ada apa sih?!", Sifa ikut kebingungan karena masih konsen menghabiskan makanannya.
"Ya udah, sama aku aja Nuha. Aku sudah selesai makan kok", Ucap Fani
"Kamu memang baik Fani", Nuha terharu
Nuha dan Fani beranjak duluan kembali ke kelas meninggalkan Asa dan Sifa. Meninggalkan Naru juga Dilan. Ia tidak berani menunjukkan wajahnya kepada Dilan karena malu akan sikapnya yang konyol saat di angkot kemarin.
Asa dan Sifa masih menghabiskan makanannya. Tiba-tiba Dilan sudah berdiri di samping mereka. Mereka kaget setengah mati.
"Astaga! Dilan!", Ucap Asa kaget
"Ha-hai Dilan", Sifa pun menyambutnya dengan sedikit ketakutan.
"Ada apa denganmu?"
Asa heran melihat penampilan Dilan yang sedikit berantakan, bawah matanya hitam dan senyumnya datar.
"Mana Nuha?"
"Nuha?"
"Iya, mana dia?"
"Oh, dia sudah balik ke kelas duluan sama Fani"
"Oh.."
"Ada perlu apa nanti gue sampein?"
"Bilang aja kalo gue nyariin dia", Dilan langsung beranjak pergi kembali ke mejanya.
"Ada apa sih dengan dia?"
__ADS_1
"Aku juga gak tau"
Asa dan Sifa kebingungan.
...****************...
Waktu Tryout pun tiba. Beberapa siswa di kelas tambahan D mulai berdatangan dan duduk mempersiapkan diri. Nuha juga sudah siap di tempat duduknya.
"Hai Nuha", Sapa Naru.
"H- Hai", Nuha sedikit memalingkan muka.
Guru pun memasuki kelas dan segera membagikan lembar tryout kepada siswa-siswanya.
Para siswa pun mulai serius mengerjakan tryoutnya masing-masing. Keadaan ini membuat Nuha tidak senang. Sehingga Nuha juga ikut serius mengerjakan tryoutnya sendiri. Begitu hening dan sangat serius.
Sebenarnya tidak seperti itu, tidak seserius itu. Mulai beberapa menit kemudian, para siswa saling menoleh dan memberi kode jawaban.
"Nuha?"
"Iya?"
"Nomor 9 jawabanmu apa?"
"Eh? Naru gak tahu jawabannya?", Batin Nuha
"Um.. C."
"Terima kasih"
"Kalo nomor 11?"
"Ee.. Umm.. A"
"Nomor 7?"
"D"
Setelah itu, Naru terus mengulanginya meminta jawaban kepada Nuha. Bahkan bisa lebih dari 10 soal, sisanya ia menebak-nebak sendiri tentang jawaban Nuha. Dan itu membuat Nuha menjadi kesal.
"Kalo nomor 21?"
"Ssstt.. Udah deh Naru!", bisik Nuha tegas.
"Hehe, okei"
"Ada apa sih dengannya?!", Batin Nuha heran.
Naru menyadari bahwa dirinya sangatlah pandai, ia bisa langsung melesat dan naik tingkat di kelas A. Tapi ia mencoba menyamakan dirinya dengan Nuha. Supaya bisa selalu bersama dengan gadis kesayangannya.
Waktu tryoutnya pun selesai, para siswa mulai mengumpulkan lembar tryoutnya dan berjalan meninggalkan ruang kelas. Hanya Nuha yang masih kembali duduk dan termenung sendiri.
"Hufff, akhirnya bisa bernafas lega", Ucapnya.
"Yuk, pulang", ajak Naru.
"Kenapa kamu melakukan itu Naru?"
"Melakukan apa?"
"Kamu kan sangat pandai. Kamu pasti akan mendapat nilai sempurna. Tapi, gara-gara aku mungkin nilaimu akan berkurang. Kamu sengaja ya?"
Tiba-tiba Naru mengecup lembut kening Nuha. Ini kali pertama Naru memberanikan diri mencium gadis yang telah menjadi pacarnya itu.
"Deg", membuat Nuha langsung membisu.
Nuha menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. Isak tangisnya pun mulai terdengar.
"Eh? Kenapa? Kok nangis?"
"Naru, aku gak suka kamu jadi seperti ini"
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Kamu jangan membatasi prestasimu hanya karena aku. Aku tidak mau menjadi penghambat bagimu"
"Kamu bicara apa?"
"Naru, aku yakin kamu punya impian yang sangat besar dan cita-cita yang sangat tinggi. Memiliki harapan untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan bekerja di tempat yang terbaik pula. Aku tidak ingin menghambatmu"
"Maksudnya?"
"Untung aku bisa langsung menyadarinya walaupun ini baru pertama. Tapi, tolong, jangan lakukan ini lagi Naru" Nuha kembali terisak-isak.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan menangis. Aku mengerti kok, maaf ya. Jangan menangis lagi, Nuha. Okei?"
Nuha terdiam.