
"Dia terlihat lemah sekali"
Naru mendekat. Duduk di kursi mendampingi Nuha yang belum mau membuka mata. Naru mencoba mengajak mengobrol dengan tenang.
"Hai Nuha, aku tadi hadir di kelas tambahan lho.. Perasaanku senang sekali sampai tidak sabar untuk segera bertemu lagi denganmu"
"Tapi.."
"Ternyata kamu disini" Naru menunduk sedih
"Apa kamu tidak senang melihatku disini Naru?" Tanya Hawa
Hawa ternyata ikut menjaga dan mendampingi Nuha.
"Aku senang, tapi aku sedih. Melihatmu terbaring disini membuatku betapa takutnya diriku kehilanganmu Nuha"
"Maafkan aku Naru, itu karna aku tidak bisa masuk ke dalam tubuh Nuha. Aku tidak tahu kenapa.."
"Apa kamu bertengkar lagi dengan Hawa, sehingga Hawa meninggalkanmu dan membuatmu tidur nyenyak disini?"
"Aku tidak meninggalkannya, bodoh! Bahkan Naru juga menyalahkanku"
Hawa kembali menangis. Tangisnya semakin keras. Membuat emosi Nuha tidak stabil lagi, irama detak jantung yang ditampilkan monitor naik turun dan bergerak cepat. Air mata Nuha mengalir.
"Kumohon terimalah Hawa kembali Nuha. Dia sedang menangisimu disini"
"Eh?" Hawa kaget
Naru menghapus air mata Nuha dan menggenggam erat tangannya. Menyayanginya dengan lembut di pipinya. Naru berusaha untuk tetap tenang, tapi kekhawatirannya bertambah saat melihat keadaan Nuha yang semakin melemah.
"Apa yang harus aku lakukan Nuha? Jika aku bisa memberikan setengah nyawaku untukmu, aku akan langsung memberikannya kepadamu"
Naru terpejam, menautkan jari jemarinya ke telapak tangan Nuha, memeluknya dan terus menyayanginya. Perlahan air matanya mengalir.
"Aku mencintaimu Nuha, aku sangat mencintaimu. Rasa cinta yang lebih dari rasa suka, rasa cinta yang lebih dari rasa sayang. I love you Nuha, bangunlah.."
Jari Nuha bergerak memberikan reflek kejut tanda untuk Nuha sendiri mulai menyadarkan diri. Nuha membuka mata.
"Naru.."
Mata Naru langsung terbelalak, bergetar dan sedikit berlinang-linang. Mendengar Nuha memanggilnya lagi, membuat Naru semakin jatuh ke dalam rasa cintanya kepada Nuha.
"Syukurlah.. syukurlah.." Rintih Naru
"Nuha.. Nuha!! Akhirnya kamu membuka mata" Hawa merasa sangat gembira
Nuha membuka matanya perlahan, terbuka kurang sempurna karena terhalang luka lebam di antara alis dan kelopak mata kanannya. Bahkan bagian putih matanya terdapat bercak merah akibat peradangan.
"Naru.." Ucap Nuha lirih
Naru menghapus sedikit air matanya sendiri yang mengalir. Mengambil nafas panjang dan memperbaiki suasana hatinya. Ia lebih ingin memberikan sikap tegar dan perhatian daripada merasa iba dan kasihan melihat keadaan pacarnya itu.
"Nuha.. Syukurlah"
"Naru, aku di rumah sakit?"
"Iya"
__ADS_1
"Ada apa denganku lagi?" Nuha berusaha bangun dan mengangkat tubuhnya untuk duduk
"Ja-jangan bangun. Tidur aja, itu lebih baik"
"Umm" Nuha menurut
"Gimana keadaanmu Nuha?"
"Aku? Aku baik-baik saja"
"Selalu saja begitu" Batin Naru
"Tapi, rasanya sakit Naru. Tubuhku, rasanya sakit semua"
"Itulah kenapa, kamu sedang di rumah sakit Nuha. Dokter telah mengobatimu kok jadi kamu gak usah khawatir lagi"
"Iya" Nuha kembali terdiam
"Nuha?"
"Um?"
"Apa, apa Hawa telah kembali ke tubuhmu?"
"Iya, kenapa?"
"Gakpapa" Naru tersenyum
"Naru, apa kamu yang mengantarkanku ke rumah sakit?"
"Bukan"
Naru tidak bisa memberikan jawaban, ia hanya tahu bahwa Nuha mengalami kecelakaan namun tidak mengetahui detail kejadiaannya. Naru mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nuha, aku, panggilkan ibu dan kakakmu dulu ya"
"I-ibu? Kakak? Mereka disini?"
"Iya" Naru pun berdiri hendak melangkah
Nuha langsung meraih tangan Naru mencoba menolak kepergiaan Naru. Nuha mulai menangis, ia mengingat teguran dari Kakaknya yang begitu keras dan sikap kakaknya itu yang tidak menyukai Naru.
"Ja-jangan Naru.. Gak mau.." Nuha sedih dan menangis. Alisnya yang terlihat begitu melengkung memberikan isyarat bahwa dia sedang mengalami kesedihan yang mendalam. Naru tersentuh
"Ada apa Nuha?"
"Gak mau.. jangan temui merekaa.."
"Tapi mereka akan senang melihatmu sudah sadar"
"Jangan Naru. Kakak akan tidak senang melihatmu disini"
"Jangan khawatir"
Ibu dan kakak akhirnya kembali ke ruangan Nuha. Kakak membuka pintu dan ibu mulai masuk ke dalam ruangan. Melihat Nuha sudah sadar, Ibu merasa lega dan senang.
"Nuha.." Ucap Ibu ramah
__ADS_1
Muha masih memberikan tatapan tajam kepada Naru. Nuha yang melihat ketengangan di antara mereka semakin tidak terkendali perasaan sedihnya.
"Nuha, sebentar yaa.." Naru melepas genggaman tangan Nuha dan beranjak keluar ruangan. Nuha semakin menangis
"Naru.. jangan pergi" Ucap Nuha lirih. Naru mencoba untuk tidak menghiraukannya.
"Kumohon kakak, jangan marahi Naru" Lirih Nuha
"Ibu.." Nuha memperlihatkan tangisannya kepada ibunya
"Syukurlah Nuha, kamu sudah sadar" Ibu memeluk Nuha dengan lembut
"Sayang.. apa tubuhmu begitu sakit sehingga kamu menangis seperti itu?" Ibu mencoba menghibur
"Aku tidak peduli dengan tubuhku ibu.. hatiku yang sakit" Nuha terus saja menangis
"Tenang saja.. Ibu menyukai temanmu itu kok Nuha"
"Tapi kakak tidak menyukainya.."
Muha berjalan entah mengajak Naru kemana, Naru hanya bisa mengikutinya dari belakang.
"Duduklah"
Muha mengajak duduk Naru di kursi tunggu sebuah ruangan besar.
"Kak, jangan pisahkan aku dari Nuha" Ucap Naru serius
"Jangan sok serius. Perjalanan kalian itu masih panjang. Tidak tau takdir apa yang akan mengubah kalian suatu saat nanti. Apa kau tidak memikirkan itu, bocah?"
"Aku telah memikirkannya kak. Akan kupastikan Nuha adalah takdirku untuk bersamanya selamanya"
"Siapa yang tahu.." Balas Muha santai
Naru terdiam.
"Kau tau.. kisah cinta anak sekolah itu hanyalah sesaat. Itulah kenapa sering disebut dengan cinta monyet" Lanjut Muha
"Cinta monyet?" Gumam Naru
"Aku tidak akan memarahimu atau mengajakmu bertengkar. Jadi, pikirkanlah itu. Jangan terburu-buru menjalin suatu hubungan. Apalagi kalian masih sekolah, masih banyak masa depan yang menanti kalian di depan sana"
"Aku, aku sangat mencintai Nuha. Aku benar-benar takut kehilangan dia" Naru merasa kalah
"Aku akan tetap mengizinkanmu berteman dengan Nuha. Tapi ingat, jangan terlalu dalam terbawa perasaan"
"Aku masih belum bisa mengerti.." Ucap Naru lirih
"Cinta itu rumit kan. Tidak semudah saat kamu sedang bahagia. Banyak emosi di dalamnya yang harus selalu kalian pelajari. Dan tidak semudah itu menjadi orang dewasa"
"Sial! Aku tidak mampu berdebat dengannya" Naru mulai kesal dan terus menundukkan kepalanya
"Lebih dewasalah bocah" Ucap Muha mengakhiri nasehatnya
Naru masih tertunduk. Dia pikir dia begitu keren untuk Nuha tapi ternyata ia masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari rasa keberanian.
"Terima kasih, tadi kau telah menyadarkan Nuha. Aku berhutang budi padamu" Pungkas Muha
__ADS_1
Muha berjalan sendiri meninggalkan Naru. Muha merasa bersalah karena harus menyakiti perasaan Naru. Tapi ia tetap bertekad supaya Naru bisa menghadapi masalahnya bersama Muha dan bisa lebih dewasa mengendalikan perasaan cintanya kepada Nuha.
"Aku tidak tahu esok kalian akan seperti apa" Gumam Muha