
...🖤🖤...
Tama sampai dikediaman nya ,dengan bergegas kaki pria dewasa berkaca mata terus melangkah , dengan membopong tubuh kecil Maira ,menaiki anak tangga menuju kamar .
Sesampainya di depan pintu kamar , Maira tersadar dan menyadari dirinya berada di dekapan seorang pria .
Cepat-cepat Maira menggerakkan telapak tangan nya , guna menutup wajah nya . "Tolong turun kan saya ?!" pinta Maira.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir pria angkuh Tama ,dengan terus melangkah tanpa melihat Maira . Tama membaringkan tubuh Maira yang basah diranjang milik nya , lalu bergegas keluar .
Diluar kamar..
Tama terlihat sedang melakukan panggilan telfon dengan seseorang, Tomy yang baru saja kembali hendak masuk kamar Tama , namun niat pria beranting satu itu diketahui oleh pria berkaca mata . Dengan cepat Tama mematikan ponsel pintar milik nya..
" Mau kemana TOMMM .. ?" cegah Tama sambil menarik kerah belakang pakaian Tomy.
Tomy yang merasa disebut nama nya , membalikkan badan perlahan..
"Apa sih Tam ! kayak narik ANAK KUCING saja , Lu . " dengan merapikan pakaian atas nya ,Tomy berkata .
"Elu belum buta kan Tam...., kening itu cewek berdarah , gue cuman takut ada cidera serius pada diri wanita muda bercadar itu !" Tomy berusaha mencari alasan.
" Nggak usah !" ucap sinis Tama dengan duduk santai bersandar di sofa menatap tajam pada Tomy . Tama paham akan pemikiran pria play boy macam Tomy ,yang ingin melihat wajah Maira .
"Gue sudah panggil dokter Hani untuk periksa itu cewek , elu mending bantu gue carikan pakaian buat dia !" tunjuk Tama ke arah kamar milik nya .
"Kok gue.. elu saja Tam! gue mah OGAH . " Tolak Tomy .
"Elu lupa atau amnesia !" tatapan tajam dari Tama membuat Tomy mengerti maksud perkataan atasan nya.
" Hadehhhh .... baik lah tuan muda Malik yang terhormat " dengan malas nya Tomy menjawab dan pada akhirnya pria itu pun melakukan perintah Tama .
**
Beberapa menit kemudian dokter Hani telah tiba , dan langsung masuk kedalam kamar Tama.
Tama menunggu dokter Hani yang sedang memeriksa keadaan Maira dengan perasaan cemas . Terlihat gestur tubuh pria berkaca mata yang sesekali berdiri dan duduk kembali , berdiri lalu duduk kembali begitu beberapa kali . Tomy yang melihat sahabat nya berprilaku tak wajar akan keadaan cewek yang baru ia tolong ,merasa risih tak tahan untuk diam saja...
__ADS_1
"Tenang sedikit lah Tammmm .. " pinta Tomy, "Cewek itu tidak akan mati.., elu tidak usah sekhawatir itu. ... ..?!" ucap Tomy selanjutnya.
"Nohhhhhh... laki- laki yang ada diseberang sana anteng- anteng saja dirumah ...., " tangan Tomy yang mengarah kecendela besar lantai 2 rumah Tama , menampak kan rumah seberang jalan lebih tepat nya di depan rumah Tama adalah rumah milik Chandra .
" Lagian sudah ada dokter Hani yang memberi tindakkan!?" Tama yang mendengar penjelasan Tomy , hanya melihat pintu kamar milik nya yang tertutup dengan tatapan khawatir.
30 menit berikutnya ,terdengar suara handle pintu terbuka ,
keluar dokter bermata sipit yaitu Hani dari dalam kamar dan menutup pintu nya kembali.
" Gimana .. ? dia nggak apa -apa kan , nggak ada luka serius kan .. ??" Deretan pertanyaan dari Tama yang terlontar.
Hani sekilas mengangkat sebelah alis nya mengarah ke Tama.
"Apa sihhh lu Tam... ? Aneh gue liat elu begini ! " sergah Hani melihat Tama.
Dan Tomy yang mendengar ocehan dokter bermata sipit itu tertawa terpingkal pingkal..
"Huaaahahahhaaaa...bener - bener ... apa yang elu bilang Han ...! Tama memang ANEH.." ujar Tomy sambil menepuk pundak dokter cantik itu.
" Ehhh.. elu juga ngapain SKSD banget sih Tom ? ! " Sambung dokter Hani dengan menurunkan tangan milik Tomy dari pundak nya.
..
" Cewek itu tidak apa- apa, untung luka dikening nya tidak terlalu dalam , dan bisa gue tangani ." jelas Hani .
" Tadi gue sudah membantu dia untuk ganti pakaian nya , setelah itu gue kasih obat agar mengurangi nyeri di kening nya, dia jangan terlalu banyak begerak dulu, takut nya dia masih pusing dan terjatuh karna kehilangan keseimbangan !!?" dokter Hani memberi penjelasan kepada Tama. " Gue harap elu menjaga itu cewek malam ini ." Omongan dokter Hani yang panjang kali lebar kali tinggi hanya di tanggapi satu kata oleh Tama.
"Heeeeemmmm ...!!"
**
Langkah dokter Hani yang akan menuruni anak tangga, mendadak tertahan . Dokter cantik bermata sipit itu mengarah kan tatapan nya kearah Tama , ingin sekali Hani menanyakan beberapa hal tentang wanita muda berkulit putih mengenakan kerudung besar yang berada dikamar nya saat ini, namun perkataan Tomy menyadarkan nya..
"Kenapa berhenti.. ? " Ujar Tomy dengan melangkah didepan nya . "Semakin sedikit yang elu tau makin baik buat kesehatan elu .." dengan menuruni anak tangga ,Tomy berujar .
Dokter Hani yang mendapat petuah dari sang play boy hanya mendengus nafas pasrah dan berlalu meninggal kan Tama .
__ADS_1
**
Disisi lain Nara berusaha menghubungi ponsel milik Maira, namun hasil nya nihil.
" Elu dimana siii Maii.. !?" ucap khawatir Nara.
Hari ini Nara menyusul Maira di Cafe milik Bintang , tapi sayang nya Maira telah pulang lebih cepat , karena ada kepentingan.
" Kalau begitu gue pergi nyusulin tuh bocah dulu yaa ?" pamit Nara dengan meraih tas milik nya.
" Hati - hati dijalan Raa !?" teriak Bintang kepada Nara .
Nara terlihat mengangguk ,dengan menutup pintu mobil .
**
Setelah mendengar cerita dari Bintang perihal kedatangan Angga, asisten dari Chandra ke cafe siang ini untuk memberikan sebuah kunci kendaraan untuk Maira atas perintah Chandra . Membuat Nara yakin ,kemana tujuan wanita muda bercadar Hitam.
Dengan kecepatan penuh Nara melaju memecah keramaian jalan.
" Gue datang Mai ... !?" gumam Nara dengan tatapan cemas , Nara seolah tau akan apa yang nanti menimpa sahabat kecil nya , tapi sepertinya kesialan menimpa wanita cantik itu.
" SIAL! " teriak Nara , " SIAL-sial ! kenapa musti sekarang sihh !?" keluh Nara dengan menendang - nendang ban mobil nya yang kempes.
" Terus gimana dengan Maira ?!" ucap khawatir Nara dengan ponsel yang berada di tangan .
"*No**mor yang anda tuju sedang tidak aktif mohon tinggal kan pesan suara dengan carrr* -, " Nara mematikan ponsel nya dan makin marah dibuat nya.
" Rosa aa... elu lagi ngapain si, pakek acara ponsel di nonaktifkan segala !?" oceh Nara dengan duduk di pembatas separator jalan.
Nara berdiri dan meraih ponsel nya , terlihat wanita galak itu menghubungi petugas derek .
Nara mengedarkan pandangan nya kearah sekitar dimana jalanan kali ini terlihat agak sepi , Nara melihat jam tangan nya yang menunjukkan hampir 10 malam , dan pada akhirnya Nara meninggalkan mobil milik nya di pinggir jalan dan menguncinya .
" Sepertinya gue musti mencari hotel deket sini !?" ucap Nara memutuskan , " gue tidak bisa pulang dan tidak bisa mencari Maira " perkataan Nara terdengar sedih.
...Tulisan Bersambung Q.C....
__ADS_1
...🖤🖤...