RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 100 KAK JASSON DAN SISKA


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu, alaramku bunyi pukul 05.00 pagi, tapi aku masih malas bangun, makanya aku snooze 10 menit, lumayan mataku masih bisa merem 10.menit lagi.


Pukul 05.10, alaramku kembali berbunyi, tapi karena mataku masih lengket jadi aku snooze 10 menit lagi.


Kembali alaramku berbunyi saat jam 05.20, kali ini alaram segera kumatikan dan aku langsung bangun. Nggak boleh molor lagi, karena nanti jam. 06.30, Gio akan menjemputku.


Aku segera mandi lalu bersiap-siap. Kemaren kita sudah janjian hari ini akan pakai kaos pink, dan celana trainning warna abu-abu muda. Kaosnya anak buah Gio yang design, gambarnya lucu, designnya bagus, warna kaosnya juga cantik. Overall saya suka... saya suka.... hehe...


Setelah rapi, aku pun ke dapur, mau bikin susu coklat aja, karena masih terlalu pagi, aku nggak pengen sarapan nasi.


Jam 06.25, mobil Gio sudah di depan pagar, aku pun segera keluar. Kulihat pintu depan mobil yang di sebelah pengemudi terbuka. Aku pun segera masuk.


"Morning, love... " Gio menyapaku dan mencium keningku begitu aku masuk mobil.


"Morning.... ", sahutku.


"Selamat pagi, mommy... ", Nia juga ikutan menyapaku.


"Selamat pagi juga sayang.... ", aku balas sapaan Nia. Aku menghadap ke belakang, kebetulan Nia lagi berdiri di tengah, berpegangan pada kursi Gio dan kursiku. Segera aku peluk pinggangnya dan aku cium kedua pipi dan keningnya.


"Kenapa pilih kasih? " Aku mendengar suara gumaman Gio.


"Maksudnya apa? " tanyalu.


"Kenapa kalo ketemu Nia selalu nyosor gemes? Tapi kalo sama aku nggak pernah gitu ?" Gio bertanya padaku.


"Nia kan anak kecil, yang memang lucu dan bikin grmes, jadi ya wajar kalo aku suka gemes dan menciumi Nia," jawabku.


"Sama aku nggak gemes? "


"Ya nggaklah !" sahutku cepat


Kulihat wajah Gio berubah, jadi nggak enak dilihat. Awan hitam tampak mulai datang, aku nggak mau bikin mood dia berubah jelek, jadi aku buru-buru menambah jawabanku barusan.


"Soalnya kalo sama kamu gemesnya cuma kadang-kadang, tapi kan aku syayaaaang banget sama kamu...", aku sengaja bilang sayangnya dengan suara sengau, karena aku tau Gio nggak suka kalo aku ngomong sayang kayak gitu....


"Love, harus, berapa kali aku ngomong? Aku nggak suka kamu bilang sayangnya kayak gitu, merinding tau aku dengernya!" Aku lihat Gio bergidik, dan itu membuatku ketawa.


"Tak.... " , Gio menjentik dahiku


"Auw.... Sakit, yang! "


"Rasain! Bandel sih! Sudah bolak-balik dibilangin masih aja sengaja! ", Gio mengomeliku.


Nggak apa deh diomeli, yang penting awan hitam yang datang tadi telah berhasil kuhalau.


"Kan aku bercanda.... Tapi aku sayangnya beneran, nggak bercanda", kataku sambil tersenyum.


"Sudah pinter ngambil hati aku, ya.... ", sahut Gio sambil menoleh ke arahku dan tersenyum. Gio menarik tanganku dan digenggamnya.


Nggak lama setelah itu, mobil Gio sudah sampai di sekolah Nia. Parkirannya sudah hampir penuh, rupanya sudah banyak yang datang. Setelah parkir, kami pun turun. Terlihat banner yang cukup besar bertuliskan "KELUARGA SEHAT, KELUARGA BAHAGIA"


Nia berjalan ditengah sambil menggandeng tanganku dan Gio.


"Nia seneng bisa ke sekolah sama mommy dan daddy," kata Nia saat kami berjalan bersama memasuki sekolahnya.


Aku dan Gio tersenyum mendengarnya. Kuelus kepala Nia lembut, "Mommy sama daddy juga seneng bisa nemeni Nia ke sekolah kayak gini."


Suasana di dalam sudah rame, sudah banyak orang tua dan murid yang berkumpul di lapangan.


"Kita selfie dulu, yuk ! Lucu nih, baju kita kembaran, dan juga mumpung kita masih pada keren, belum keringetan...," ajakku


"Iya, mom..., ayok kita foto dulu!", kata Nia dengan semangat. Kami pun foto bertiga beberapa kali, dengan berganti-ganti pose. Gio yang fotoin, pakai ponselnya.


Terdengar suara dari bapak guru yang membawa toa, mengarahkan para orang tua untuk berkumpul sesuai kelas anaknya masing-masing, karena acara akan segera dimulai.


Lomba pertama untuk anak, lomba lari bendera. Anak dusuruh lari sambil membawa lima bendera, dan harus menancapkan satu bendera di lima botol yang tersedia, di sepanjang area berlari sampai di garis finish. Kalau ada botol yang terjatuh, dianggap gugur. Nia berhasil menyelesaikan lomba dengan baik meskipun bukan yang tercepat.


Lomba kedua, untuk keluarga. Orang tua dan anak harus bekerja sama. Ayah matanya ditutup dan tangannya diikat, sedangkan ibu hanya matanya aja yang ditutup. Ibu harus menyuapi ayah, sesuai arahan dari anaknya yang memandu arah. Pemenangnya adalah yang habis paling cepat dan yang wajah ayahnya paling nggak belepotan. Aku lumayan cepat menyuapi Gio dan juga wajah Gio aman, hanya ada sedikit aja belepotan di dagu


Lomba yang terakhir anak membaca soal dari guru, membisikannya ke ibu, lalu ibu yang memperagakan soal tadi tanpa suara dan ayah harus bisa menjawab. Kebetulan soal yang kami dapat itu 'kami adalah keluarga bahagia'. Sangat mudah, karena di kaos yang kami pakai kan ada tulisan we are happy family, jadi aku tinggal tunjuk tulisan itu. Awalnya Gio menjawab sesuai tulisan itu dan mengulang jawaban yang sama sampai tiga kali, jarena aku masih menggeleng dan menunjuk pafa tulusan di kaos yang aku pakai, Gio baru akhirnya ngerti maksudku, Gio terjemahkan ke bahasa Indonesia dan benar. Di lomba, ini kami yang tercepat menjawab.


Nia seneng bukan main, sampai loncat-loncat kegirangan. Berkali-kali Nia menciumi aku dan Gio. "Mommy sama daddy hebat.... ", kata Nia.


Hari sudah menjelang siang, sudah jam 11.00, lomba telah selesai dan tinggal menunggu pengumuman serta pembagian hadiah. Sambil menunggu dibagikan nasi kotak.

__ADS_1


Karena capek habis lomba, badan keringetan, bikin perut laper, sehingga kami makan nasi kotak itu dengan nikmat.


Tibalah saat yang sudah ditunggu-tunggu. Pengumuman lomba. Di lomba pertama, Nia juara dua, di lomba yang kedua, kita dapat juara 3, tapi di lomba yang terakhir kita pemenangnya, jadi juara pertama.


Nia kembali loncat-loncat dan teriak kegirangan..." Yeiii... Kita menang... Kita menang semua lomba....."


Aku dan Gio ikut tersenyum senang, ngeliat Nia happy seperti itu.


"Thank you daddy, thank you mommy. Daddy sama momny hebat ! Ada tiga lomba dan kita dapat juara di semua lomba itu. Nia seneeeeng banget, " kata Nia, dengan senyum senang masih menghiasi wajah imutnya. Nia kembali mencium aku dan Gio sebagai tanda ucapan terima kasihnya.


Kami bertiga pun berpelukan senang. Nia membawa pulang 3 hadiah dan satu piala, karena hanya yang menjadi juara pertama saja yang mendapatkan piala.


Acara telah selesai, kami pun pulang. Di mobil...


"Sayang, kamu pulang ke rumah aku aja, ya... Istirahat siang di rumah aku, nanti sore kita jalan-jalan bertiga," ajak Gio.


"Nggak istirahat di cafe aja?' tanyaku, mengingat cafeku kan di sebelah sekolah Nia.


"Aku sama Nia nggak bawa baju ganti, yang," jawab Gio.


"Kalo gitu, kita mampir cafe dulu, ambil baju dan perlengkapanku," kataku.


"Siyaap, bu bos... ", sahut Gio


"Asiiik... Mommy ikut pulang ke rumah... ", teriak Nia senang. Aku hanya tersenyum dan mengelus kepala Nia, menanggapi omongan Nia barusan."


Akhirnya siang itu kita tidur bertiga di kamar Gio, soalnya tempat tidur Gio king size, jadi kita bertiga bisa tidur nyenyak dan nggak sempit.


Jam 16.00 aku terbangun duluan. Kulihat Nia dan Gio masih enak tidur. Aku merengangkan badanku sebentar dan segera duduk di tempat tidur. Kuamati wajah Gio. Alis matanya yang tebal, hidungnya yang mancung, kulit wajahnya yang bersih, menghasilkan pemandangan wajah seorang pria dewasa yang tampan.


Tiba-tiba Gio membuka mata dan betkata, "Apa kamu sudah puas memandangi dan mengagumi aku?"


"Iih.. Apaan sih? Ge-er! Siapa juga yang ngeliatin kamu...," aku mengelak.


Gio tersenyum, dihampirinya aku. Sekarang Gio duduk di sebelahku, ditangkupnya, wajahku, lalu dihadapkan padanya.


"Sekarang giliranku, aku mau memandangi dan mengagumi wajah cantik calon istriku." Cukup lama kami saling menatap. Sepasang mata coklat yang teduh itu memancarkan cinta, yang membuat hatiku menghangat. Gio semakin mendekatkan wajahnya, aku memejamkan mataku dan tiba-tiba "cup... ", Gio mengecup bibirku. Aku segera membuka mataku, kaget.


Gio tertawa melihat reaksiku. "Tadi merem, begitu dicium langsung melotot...", kata Gio.


"Kamu selalu bikin aku gemes, yang.... ", kata Gio sambil mengelus bahuku.


"Yang, aku mau bangunin Nia, kamu mandi dulu gih, katanya mau pergi...", kataku sambil melepaskan diri dari pelukan Gio.


"Kamu sih menggoda iman," kata Gio, dielusnya pipiku dan segera masuk ke kamar mandi.


Aku segera membangunkan Nia. Nia sudah membuka mata sebelum aku membangunkannya.


"Sudah bangun, sayang...," kataku sambil menarik tangan Nia untuk duduk.


"Nia seneng, Nia bisa tidur bareng mommy, apalagi pas Nia bangun mommy masih di sini," kata Nia sambil memelukku.


Gio sudah keluar dari kamar mandi. "Daddy sudah mandi, ayo sekarang giliran Nia yang mandi," ajakku.


"Nia mandi di kamar Nia aja, momny", kata Nia.


"Oke..., let's go....", aku menggandeng Nia dan berjalan keluar dari kamar Gio.


"Aku mandiin Nia dulu, yang... ", pamitku pada Gio.


"Ya... ", sahut Gio singkat.


Setelah memandikan dan mendandani Nia, aku pun segera mandi. Kami berdua sudah rapi, sudah siap untuk pergi. Kami keluar kamar, rencana mau manggil Gio di kamarnya, tapi ternyata Gio sudah duduk menunggu di ruang tamu.


Aku memakai atasan warna hijau spotlight dan celana panjang putih, Nia tadi memang minta pakai baju dengan warna yang sama denganku. Lucunya, tanpa kita janjian, Gio pun memakai kaos dan celana pendek yang warnya sama dengan yang aku dan Nia pakai.


"Lo... Kita kembaran lagi... ", kata Nia dengan senang. "Ayo foto lagi daddy... Foto lagi... ", rengek Nia.


"Iya... Sebentar daddy ambil ponselnya dulu," kata Gio sambil merogoh kantong celananya.


Kami pose muka jelek dulu, baru pose cantik.


"Buruan berangkat yuk... Biar nanti pulangnya nggak kemalaman, " ajakku.


Sampai di mall, karena masih sore, aku dan Gio menemani Nia main dulu. Jam 18.20, aku suruh Nia berhenti main, Nia pun menurut. Saat ini kami menuju restoran untuk makan.

__ADS_1


Selesai makan kami jalan-jalan. Saat itu, tanpa sengaja mataku menangkap sosok Siska yang sedang jalan bergandengan dengan cowok.


"Siska" Reflek tanpa mikir aku langsung memanggil, sambil berjalan menghampiri Siska. Gio dan Nia mengikuti aku dari belakang.


Siska pun menoleh dengan kaget, mungkin nggak nyangka bakal ketemu aku. Saat Siska menoleh, cowoknya ikutan noleh juga. Aku kaget campur seneng. Ternyata Siska jalan dengan kak Jasson.


"O... Jadi gini... Mentang-mentang sudah punya gandengan, ke Surabaya nggak ngabari aku. Oke.. Cukup aku tau aja....," kataku pura-pura kesel.


"Eh, nggak gitu juga, Van. Ini aku baru sampai, Jasson beliin aku tiket, terus barusan dia jemput aku di bandara dan langsung ke mall ini", Siska menjelaskan, supaya aku nggak marah.


"Aku nggak mau tau, ya...harus ada pajak jadian buat mak comblang", kataku.


"Itu urusan gampang.... ", kata kak Jasson.


"Beneran, ya...nanti bakal aku tagih", kataku lagi.


"Tenang aja.... ", sahut kak Jasson


"Berarti beneran sudah jadian, nih? " tanyaku memastikan.


Mereka tidak menjawab. Kak Jasson cuma tersenyum sedangkan Siska tersenyum dengan wajah yang memerah.


"Ya udah nggak usah dijawab.! Aku sudah bisa menebak." Dari bahasa tubuh mereka, aku yakin mereka sudah jadian.


"Terus nanti malam kamu tidur mana, Sis? Tidur di rumahku aja, ya... ", ajakku.


"Sudah aku beliin voucher hotel, Van," sahut Jasson.


"Kak Jasson harus inget ya....yang ngenalin kak Jasson sama Siska itu aku, jadi kak Jasson nggak boleh memonopoli Siska kayak gini! Oke kali ini nggak apa,, mengingat kalian baru jadian, tapi kalo lain kali kayak gini lagi aku bakal musuhin kalian!", aku memarahi kak Jasson dan mengancam mereka.


Tapi reaksi Kak Jasson dan Siska nggak sesuai sama harapan aku. Mereka bukannya takut, malah ketawa denger aku ngomel barusan.


"Kamu tuh lucu, dek....bikin gemes", Siska masih tertawa, sebelah tangannya mencubit pipiku.


"Tau ah!! Emang aku anak kecil apa digemesin !! Sudah sana terusin pacarannya! Aku nggak akan ganggu kalian!. Yang rukun, jangan berantem!! Bye.... ", aku pun segera pamit.


"Iya, bawel.... Bye...", sahut Siska sambil memelukku dan cipika cipiki.


"Ayo kita duluan, ya.... " pamit Gio


"Ya, Gio....bye.... ", sahut Siska


"Silahkan.... ", jawab kak Jasson


"Bye om, bye tante.... ", Nia juga ikutan pamit.


"Bye sayang.... ", sahut Siska dan kak Jasson.


Kami pun berjalan meninggalkan mereka, tangan kanan Gio memeluk pinggangku, tangan kirinya menggandeng Nia.


"Love..., tuh ada baju kembar buat orang tua dan anak, beli yuk... !" kata Gio saat melihat baju kembar yang dipajang di etalase sebuah toko. Gio menarikku, mengajak masuk ke toko itu.


Kami memilih model dan warna yang kita bertiga suka, mencobanya, sudah ngerasa cocok, langsung deh dibeli.


"Yang, aku seneng lo ngeliat Siska deket sama kak Jasson. Kayaknya mereka sudah jadian, orang sudah gandengan gitu..", kataku.


"Kayaknya gitu. Soalnya kalo belum pacaran nggak mungkin pake gandengan," jawab Gio.


"Nanti aku bakal telpon Fani. Kayaknya Fani juga nggak tau kalo Siska ke Surabaya. Biar nanti Siska diomeli sama Fani, " kataku sambil membayangkan Siska dikerjai Fani.


"Dasar usil !" kata Gio sambil tersenyum dan menarik hidungku.


"Sudah liat sendiri kan Siska sama kak Jasson!! Jadi mulai sekarang nggak usah cemburu nggak jelas sama kak Jasson kayak kemaren, ya!! " kataku.


"Aku cemburu kan karena aku cinta sama kamu, masak nggak boleh? ", sahut Gio.


"Boleh..! kamu cemburui, aku suka kok. Tapi kalo cemburu buta tanpa alasan yang jelas, aku nggak suka ! Bikin aku ill feel malahan."


"Iya, sayangku.... Sori. Jangan cemberut gitu ah ! Senyum dong...", aku masih cemberut.


"Mau senyum atau aku cium di sini?", ancam Gio sambil mendekatkan wajahnya.


"Eh...eh...!! Stop!!" , kataku sambil buru-buru pasang senyum manis, soalnya wajah Gio sudah makin dekat dan aku nggak bisa bayangin betapa malunya aku kalo sampai Gio cium aku di depan umum seperti ini.


Aku bisa melihat Gio tersenyum menang. Rupanya Gio cuma menakuti aku....

__ADS_1


*******************


__ADS_2