
Seminggu berlalu dengan cepat, hari ini sudah nyampai hari Sabtu, saatnya kita ke Surabaya. Aku sengaja nggak ngasih kabar ke mami papi kalau mau pulang. Biar surprise aja...
Gio maunya naik mobil. Aku ngajak naik kereta, supaya Gio nggak capek nyetir. Soalnya kita balik Minggu, Seninnya kan kerja. Gio ngotot mau naik mobil, katanya biar bisa berduaan. Ya aku ikuti aja maunya....
Kami berangkat dari Jogja jam 05.00 pagi, di perjalanan kami berhenti untuk sarapan. Gio memilih lewat jalan tol, perkiraan sebelum tengah hari kita sudah sampai Surabaya.
Tidak banyak barang yang kami bawa. Kami membawa gudeg dan makanan khas jogja lainnya untuk oleh-oleh.
Sampai di rumah mami. Aku ketuk pintunya... seorang pembantu keluar, sepertinya art baru, karena aku tidak mengenalnya.
"Permisi....bu Heni atau pak Ricky ada, mbak?" tanyaku.
"Ada, non. Sebentar saya panggilkan. Ini non siapa? "
"Saya Vania"
"Tunggu sebentar, non... saya panggilkan nyonya".
Selang 5 menit aku mendengar langkah kaki yang terburu-buru bersamaan dengan suara yang memanggil namaku.
"Vania... sayang.... kamu pulang, nak? Kok kamu nggak ngabari mami kalo mau pulang sayang...", begitu pintu pagar terbuka mami langsung memelukku, menciumiku. Aku pun membalas pelukan dan ciuman mami. "Mami kangen nak..., mami kangen", mata mami sudah basah.
"Vania juga kangen banget-banget sama mami", kueratkan pelukanku dan kucium lagi pipi mami.
"Ayo masuk dulu, sayang... ", ajak mami.
Saat itu aku baru teringat Gio. Aku berbalik, menarik dan menggandeng tangan Gio, "Kenalin, mi... ", kataku
"Apa ini yang namanya Gio?", tanya mami
"Iya, tante. Saya Gio", kata Gio sambil menyalami mami.
"Vania banyak cerita tentang kamu. Ayo masuk, nak.... Ayo... ", ajak mami ramah.
"Papi mana, mi? ", baru aku selesai nanya, terdengar suara mobil papi datang. Nggak lama papi masuk.
Aku langsung menghampiri papi. Papi kaget campur senang, seperti mami, papi memelukku erat dan menciumku, aku pun membalasnya. Aku bisa melihat ada kabut di mata papi.
Dalam situasi seperti ini aku makin bisa merasakan begitu besarnya rasa sayang papi dan mami kepadaku.
"Pi...kenalin, pi... Ini Gio", aku memperkenalkan Gio pada papi.
__ADS_1
"Selamat siang, om. Saya Gio", Gio memperkenalkan diri, berjabat tangan dengan papi.
"Iya... Iya..., saya Ricky Bastian, papinya Vania", sambut papi ramah.
"Sayang... Kok kamu nggak info mami papi sih kalau mau pulang? ", tanya mami lembut
"Biar surprise, mi", sahutku.
"Anak bandel ! Lain kali harus bilang, ya.! Kalian sampai kapan di surabaya? "
"Besok siang sudah balik, mi. Hari senin kita kerja".
"Cepet banget ! mami masih kangen, sayang... ", mami mengelus rambutku.
Sementara Gio sudah asik ngobrol sama papi, cepat sekali mereka akrabnya.
Beberapa lama kemudian nami mengajak kami untk makan siang. "Ayo kita makan siang dulu, makan seadanya, ya.... Mami nggak siap soalnya. "
Siang itu kami makan bersama. Mami masak sayur asem, sambal terasi, empal goreng, ikan asin dan tumis kangkung plus gudeg yang aku bawa dari Jogja. Masakan rumahan yang mami hidangkan memang biasa aja tapi rasanya.... yummy luar biasa.
Setelah makan, aku antar Gio ke kamar tamu untuk meletakkan tasnya dan istirahat.
Begitupun aku, aku ke kamarku, kamar yang kurindukan. Begitu masuk kamar aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Aku capek dan ngantuk. Aku pun tertidur lelap.
Pukul 17.30 kami semua sudah rapi, siap untuk pergi. Kami pergi ke food festival. Banyak pilihan makanan di sana.
Setelah makan kami ngobrol dan bercanda. "Gio sudah lama kenal sama Vania?" tanya papi.
"Kenalnya 10 bulanan, om, sejak Vania masuk kos, kebetulan saya juga kos di sana dan kamar kami bersebelahan. "
"Bagaimana hubunganmu dengan anak saya?", tanya papi lagi.
"Saya menjalin hubungan dengan Vania sudah delapan bulan lebih. Sejak pertama berkenalan dengan Vania saya sudah merasa tertarik dan suka padanya, om", jawab Gio.
"Apa kamu mencintai anak saya? ", papi kembali bertanya pada Gio
"Sangat ... Saya sangat sayang dan cinta sama anak om. Sebenarnya saya datang ke Surabaya ini untuk meminta ijin pada om dan tante untuk melamar Vania. Saya merasa sudah mantap dan yakin mau menjadikan Vania calon istri saya. Apa om dan tante mengijinkan?", Gio berkata dengan lancar dan penuh keyakinan.
"Pada dasarnya om dan tante terserah sama Vania, karena yang menjalani kan dia. Gimana sayang? Apa kamu mau terima lamaran nak Gio? ", tanya papi
"Iya, pi ", aku menganggukan kepalaku.
__ADS_1
"Nak Gio sudah dengerkan jawaban Vania..?! terus kapan lamarannya? ", tanya papi
"Dua minggu lagi orang tua saya akan datang kemari untuk melamar sekaligus kami bertunangan", jawab Gio
"Cepat sekali... .", sahut mami
"Iya tan, karena saya sudah merasa mantap dengan Vania, jadi saya mau segera meresmikan hubungan kami", jawab Gio dengan serius.
"Kalau memang kalian sudah yakin dan sudah ada kepastian seperti itu kami akan mempersiapkan segala sesuatunya. Kami akan menunggu kedatangan orang tua kamu, Gio", kata papi.
"Ada satu hal lagi yang mau saya sampaikan om, tante..."
"Apa itu? Katakan saja... ", sahut papi
"Kalau om dan tante setuju, saya berencana untuk menikahi Vania enam bulan setelah pertunangan. Apa om dan tante tidak keberatan? "
"Kalau Vania setuju, kami pun tidak keberatan. Kamu sudah siap, sayang? ", tanya papi padaku
Aku menatap papi dan menganggukkan kepalaku.
"Anak kita sudah gede, mi... sudah dilamar orang... ", kata papi pada mami. Mami pun tersenyum dan memelukku dengan mata berkabut.
"Saya mohon doa dan restu dari om sama tante.", mohon Gio.
"Tentu kami akan mendoakan dan merestui kalian. Tapi nak Gio.... mulai sekarang panggil kami papi mami, sama seperti Vania", jawab mami. Papi pun mengangguk, tanda setuju dengan omongan mami
" Baik pi, mi", sahut Gio.
**********
Terimakasih sudah baca novel aku yang berjudul RASA ITU ADA.....🙏🙏🙏
Semoga kalian suka., ya... ❤❤❤
Jangan lupa ikuti terus kelanjutan
ceritanya....😄😊😍
Aku selalu menunggu komen dan like
kalian 👍👍👍
__ADS_1
Salam.... 🙋
**********