RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 103 MINTA DIGEMESI


__ADS_3

Hari Jumat pun tiba, hari terakhir aku boleh bertemu dengan Gio.


Hari masih pagi, aku masih menikmati sarapan bareng papi mami, saat bibik bilang Gio mencariku.


"Suruh langsung masuk ke sini aja, bik", kata papi.


"Baik, pak", sahut bibik, lalu ke depan lagi menemui Gio.


Tak lama kemudian Gio pun masuk.


"Selamat pagi pi, mi, love....", sapa Gio.


"Selamat pagi", sahut papi


"Pagi, nak....ayo duduk sini,, sekalian ikut sarapan", ajak mami


"Iya, mi", sahut Gio sambil duduk di sebelahku.


"Pagi, yang....tumben ke sini pagi-pagi dan nggak ngabarin aku dulu". Aku membalas sapaan Gio dan bertanya dengan sedikit heran.


"Lagi pengen nyamperin kamu," jawab Gio sambil tersenyum, lalu berbisik pelan "Aku kangen."


Aku cibirkan bibirku, "Gombal!!"


"Ayo Gio dimakan dulu nasi gorengnya", suruh mami


"Iya, mi. Enak nasi gorengnya, mi. Siapa tang masak? Mami?", tanya Gio.


"Tuh calon istri kamu yang masak", sahut mami.


"Beneran kamu yang masak love? Enak, lo... ", puji Gio


"Nggak usah lebay!!", sahutku.


"Orang calon suaminya muji kok dibilang lebay....", papi ikutan komentar.


"Iya, pi... Soalnya Vania itu sudah sering bikinin Gio nasi goreng, dan dia selalu sama reaksinya," jawabku.


"Memang nasi goreng buatan kamu enak, love. Iya kan, pi ? Memang enak kan, mi? " Gio mencari dukungan dari papi sama mami.


"Iya, memang enak", sahut papi sama mami kompak.


"Tuh kan.... Apa aku bilang?!", kata Gio dengan senyum kemenangannya.


"Tau ah!! " sahutku.


"Gio, Vania, mami ingatkan ya, hari ini adalah hari terakhir kalian boleh bertemu. Mulai besok, cuma boleh telponan sama chat aja, ya.. "


"Iya, mi", aku dan Gio barengan jawab.


"Mama kamu kapan datang, Gio?" tanya mami.


"Minggu sore, mi. Mama sama Gita yang datang duluan. Papa hari Kamis baru nyusul, mau beresi urusan kantor dulu soalnya," Gio menjelaskan pada papi mami tentang rencana kedatangan orang tuanya.


"Kalian berdua selama seminggu ini nanti jaga kesehatan, ya... Jangan sampai sakit, karena itu akan sangat mengganggu. Acara kalian itu bakal padat, dari pagi sampai malam, jadi harus sehat dan harus punya stamina yang kuat. Konsumsi vitanin yang teratur, istirahat yang cukup, makan yang bergizi dan harus teratur, itu sangat penting," papi menasehati aku dan Gio.


"Iya, pi", sahut kami barengan lagi.


"Kalian hari ini fitting baju terakhir, kan? Janjian jam berapa nanti?" tanya mami


"Janjiannya setelah jam istirahat. Mami mau ikut? Kalau mami mau ikutan, nanti kita jemput di cafe".


"Nggak, mami nggak ikut. Kalian berdua aja ! Mami nanti ada janji sama orang catering," kata mami.


"Mami sendiri fitting kapan?" tanyaku.


"Hari Senin, nanti mami bareng sama mertua kamu", sahut mami.


"Senin fitting, terus kapan jadinya, mi?"


"Waktu lalu bilangnya Senin itu fitting, kalo sudah pas bisa langsung dibawa. Tapi kalo ada yang kurang pas, dipermak lagi dan hari Rabo baru selesai", jelas mami.


"Ayo mi, buruan mandi dan siap-siap, pagi ini kita ada janji ketemu pelanggan yang mau booking Mini Cafe lo, mi"


"Waduh.... Keasikan ngobrol mami sampai lupa ada janji." kata mami sambil memukul dahinya.


"Ayo mi kita siap-siap !", ajak papi.


"Kalian berdua terusin aja ngobrolnya....puas-puasin, sebelum puasa bertemu selama seminggu." Mami tersenyum sambil mengedipkan matanya ke arah kami, membuat aku dan Gio ketawa jadinya.


"Sayang, hari ini aku nggak ngantor. Aku mau menghabiskan sehari ini bersama kamu," kata Gio setelah papi dan mami meninggalkan kami.


"Memang nggak apa kantor ditinggal?"


"Nggak apa, aku sudah pesan sama anak buahku untuk menghandle sebisa mereka, tapi kalau ada masalah yang urgent, aku suruh mereka menghubungiku."


"Kalau gitu habis ini ikut aku ke cafe, ya..."

__ADS_1


"Kalau kamu nggak ada yang urgent, nggak usah ke cafe ya..." Gio menatapku dengan penuh harap


"Terus kita mau ngapain?" tanyaku


"Ngapain aja, yang penting kita bisa berduaan seharian ini," kata Gio sambil merengkuh aku ke dalam pelukannya.


"Sudah ah! Malu diliat bibik", kataku sambil aku melepaskan diri dari pelukan Gio.


Bibik masuk untuk membereskan meja makan saat aku dan Gio, sudah bersiap menuju ruang tengah.


"Love...., ke apartemen yuk," ajak Gio.


"Mau ngapain? " tanyaku


"Pengen berduaan dan supaya nggak ada yang ganggu," Gio mengedipkan sebelah matanya, sambil nyengir.


"Tapi beli makanan sama minuman dulu, di apatemen kamu garing, nggak ada makanan sama sekali," kataku.


"Setelah sekian lama, akhirnya protes juga", goda Gio.


"Iyalah..., sudah nggak bisa nahan lagi aku untuk nggak protes. Apalagi ini nanti pasti bakalan lama di sana, bisa, kelaperan aku... ", aku menanggapi omongan Gio.


"Ya udah buruan kamu siap-siap gih! Nggak pake lama, ya...!" Gio menyuruhku untuk segera bersiap, karena saat ini aku masih pakai baju rumah.


"Oke... ", kucubit pioi Gio sebelum aku berlari ke kamar


"Sakit, love! Dasar usil", Gio menggereutu sambil mengusap pipinya. Aku sahuti dengan suara tawaku.


Setelah aku siap, kami pamit pada papi mami dan langsung berangkat ke mini market terdekat. Aku dan Gio memasukkan macam-macam minuman, snack, biskuit, coklat, es krim, dsb


Setelah puas belanja, kami langsung ke apartemen Gio. Begitu masuk apartemen, langsung aku ambil wadah yang cukup besar untuk menata makanan yang baru kami beli. Tak lupa aku memasukkan minumannya ke dalam kulkas.


Setelah selesai, aku duduk di sofa, aku nonton tv sambil memakan snack. Gio yang tadi menghilang sekarang ikut duduk di sampingku. Gio sudah berganti pakaian, saat ini Gio pakai baju rumah, kaos tanpa lengan dan celana pendek. Gio menyalakan pendingin ruangan


"Sini sayang... ", Gio menarikku untuk merapat padanya. Gio memelukku. Kutenggelamkan kepalaku di dadanya, aku mencium bau wangi parfum Gio yang sangat aku suka, aku juga bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas. Tanganku melingkar di pinggangnya. Kupejamkan mataku menikmati pelukan ini.


Aku selalu merasakan ketenangan dan kenyamanan setiap kali Gio memelukku seperti ini. Berkali-kali Gio mencium puncak kepalaku, tangannya mengusap punggungku lembut.


"Love.... ", panggil Gio


"Hem....," sahutku sambil mendongak menatap Gio


"Cup", Gio mengecup bibirku.


"Aku suka sekali memelukmu seperti ini. Aku akan menghabiskan waktu seharian dengan berpelukan seperti ini," kata Gio.


"Kalau kelamaan nanti tanganmu kaku dan kebas", kataku sambil tersenyum.


"Dasar genit!! "


"Haha... Tapi kamu suka kan...", goda Gio.


Aku hanya tersenyum, tidak mengomentari omongan Gio.


Aku kembali memakan snack yang kubuka tadi, lalu menyuapi Gio juga. Acara tv nggak ada yang menarik, Gio memasang dvd lagu-lagu romantis.


Kami sudah menghabiskan tiga bungkus snack dan menghabiskan dua botol air mineral.


Mungkin karena mendengarkan lagu-lagu romantis dengan udara ac yang sejuk, terus merasa keenakan dipeluk, mataku mulai terasa berat, kupejamkan mataku dan akhirnya aku tertidur.


Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun, aku dalam posisi tidur dalam pelukan Gio, di ranjang dalam kamar Gio. Kulihat Gio pun masih tertidur pulas.


Kulihat jam di dinding, sudah pukul 12.20. Aku sudah tertidur dua jam lebih. Segera kubangunkan Gio, mengingat kami harus fitting baju pengantin siang ini.


Gio sudah bangun, tapi masih memejamkan mata sambil memelukku erat.


"Yang... Ayo bangun! Kita belum makan siang lo..., lagian siang ini kita kan harus fitting," kataku, berharap Gio mau segera bangun.


"Gemesi aku dulu, kayak kamu gemesi Nia! " kata Gio


"Nggak mau! "


"Ya udah kalo nggak mau ya aku nggak mau bangun, biar kita gini terus", sahut Gio kesal.


"Ayo dong, yang... buruan bangun," kataku sambil menarik tangan Gio.


"Gemesi dan cium aku dulu! " Gio kekeh sama keinginannya.


"Ya ampun yang..., kamu itu bapaknya Nia, lo! Masak minta digemesi kayak Nia, sih?! Nggak pantes, yang...!!" protesku.


"Nggak usah pidato.! Mau gemesi nggak?" tanya Gio masih nggak mau ngalah.


"Yang..., tapi kan... ", aku ngomong belum selesai, sudah dipotong sama Gio.


"Kalo nggak mau, aku tidur lagi," kata Gio sambil merem dan membalikan badannya jadi membelakangi aku.


Ini kalo berharap Gio yang ngalah rasanya mustahil, tapi kalo nggak ada yang ngalah, terus masalah fitting bajunya gimana... setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku mengalah. Aku berpindah tempat, hingga sekarang posisiku menghadap Gio, aku telentangkan posisi Gio yang miring, aku cium kedua pipi dan keningnya beberapa kali seperti saat aku gemes sama Nia. Kulihat Gio sudah membuka matanya dan tampak tersenyum senang. Gio langsung duduk dan kembali mengecup bibirku.

__ADS_1


"Ternyata digemesi itu rasanya geli, love..., tapi aku sukaaaa banget. Thank you, love. Gitu dong ! Lihat nih, aku langsung semangat. Inget ya... lain kali kalo bangunin aku itu harus pakai cara seperti ini!!", kata Gio sambil bangun dari tempat tidur.


"Dasar genit !!", omelku


"Sah aja ! Kan aku genitnya sama calon istri sendiri....Nanti kalo kita sudah nikah, aku bakal lebih genit lagi sama kamu", sahut Gio sambil tertawa girang dan melangkah ke kamar mandi.


Daripada menunggu Gio, aku juga membersihkan diri di kamar mandi yang di luar. Maksudku biar barengan selesainya dan nggak buang waktu.


Bener aja, saat aku masuk kamar, Gio sudah ganti baju.


"Gantengnya calon suamiku, wangi lagi... ", kataku begitu masuk kamar.


"Sudah pinter gombal ya.... ", sahut Gio.


"Nggak gombal, memang kamu ganteng, kok. Kata anak buahku, waktu kamu masih jadi pelanggan, banyak pelanggan cewek yang suka caper dan deketi kamu."


"Masak sih? Aku nggak ngerasa tuh dan lagi aku nggak merhatiin mereka. Soalnya aku kan naksirmya sama si pemilik cafe," sahut Gio sambil tersenyum dan menaik-naikkan alisnya.


Aku ikut tersenyum melihat ekspresi Gio. "Eh, yang... Tadi itu perasaan aku tidurnya kan di sofa, ya.... Kok pas bangun sudah di tempat tidur?" Aku baru ingat, tadi aku mau nanya tentang ini sama Gio.


"Iya, memang awalnya kamu tidur di sofa, ngeliat kamu tidurnya nggak pw, aku nggak tega. Jadi aku gendong kamu, aku tidurin di ranjang, biar tidurnya lebih enak. Ngeliatin kamu pules, aku jadi ngantuk dan ikut ketiduran juga." Cerita Gio.


"Mestinya nggak usah dipindah nggak apa, yang. Bela-belain gendong aku nanti encokmu kumat lo, yang... ", ledekku.


"Eh... Berani ngeledek, ya! Kamu pikir aku sudah tuwir apa sampe encok kumat segala! Sini kamu, aku gelitiki biar tau rasa!". Gio sudah memgambil ancang-ancang.


Aku segera berlari, karena Gio mengejarku, mau gelitiki aku. Aku berusaha untuk menghindar tapi gerakan Gio lebih cepat, dia berhasil menangkapku dan langsung menggelitiki aku. Aku ketawa geli, tubuhku bergerak seperti cacing kepanasan, aku nggak tahan geli soalnya.


"Sudah, yang ! Sudah ! Ampun !" kataku sambil mengangkat satu tanganku.


"Ayo omongannya diralat yang bener dulu !" perintah Gio.


"Okok. Ehm ehem", aku sengaja batuk-batuk dulu.


"Ayo buruan, nggak usah pura-pura batuk segala", omel Gio.


"Sayang, harusnya kamu nggak usah gendong aku, aku nggak mau kamu capek, yang...", aku ngomong dengan manis...


"Nah... Gitu kan enak didengernya, bikin hati aku adem," kata Gio sambil mengelus pipiku.


Aku segera merapikan dandanan dan pakaianku lalu mengajak Gio berangkat fitting, pulang dari fitting, kita baru makan siang.


Bener aja, begitu sampai di tempat fitting, kita sudah ditungguin. Baju pengantinnya pas melekat di badan aku. Aku suka ngeliat penampilanku dengan baju pengantin ini.


Aku lagi mematut diri di cermin, saat Gio mengetuk pintu ruang fittingku. "Sayang, yang.., aku mau liat kamu," panggil Gio


Aku pun segera membuka pintu. Gio memakai jasnya. "Gimana menurutmu, yang?" tanyaku.


Gio diam tidak menjawab, dia tertegun sambil menatapku lekat.


"Hei... ", kataku sambil melambaikan tanganku di depan mata Gio.


"Eh...,eh... apa? " tanya Gio dengan gelagapan


"Ngapain ngelamun? Diajak ngomong nhgak jawab malah ngelamun! " tegurku.


"Aku terpesona, yang.... kamu cantiiik banget pake baju ini", puji Gio.


"O.... pake baju ini aku baru keliatan cantik, berarti selama ini maksud kamu itu aku jelek, gitu?"


"Nggak gitu juga, yang ! Calon istri aku kan wamita tercantik, cuma kalo pakai baju ini, aura pengantinnya itu keluar, sehingga kecantikannya berlipat," jelas Gio.


"Nggak usah perez!"


"Memang istri aku cantik, kok," sahut Gio.


"Masih calon", protesku.


"Nggak ngaruh, yang... cuma kurang seminggu doang", kata Gio.


Aku tersenyum sambil menjentik pipi Gio pelan. Gio ikutan senyum. juga


"Selfie yuk, love.... ", ajak Gio.


"Ok.... "


Kami selfie di ruang ganti dengan bermacam-macam pose. Aku nggak nyangka Gio ternyata suka selfie juga. Setelah puas, Gio keluar dan aku memanggil mbaknya untuk membantuku melepas gaun pengantin ini.


Urusan fitting baju pengantin sudah beres. Sekarang, kita mau makan siang.


"Yang, makan ikan bakar aja, ya.... ", ajakku.


"Kamu lagi pengen makan ikan bakar, ya?" tanya Gio.


"Iya, yang... aku lagi pengen, kamu mau nggak?" tanyaku lagi


"Boleh. Kita memang sudah lama nggak makan ikan bakar", sahut Gio.

__ADS_1


Mobil Gio langsung menuju ke resto ikan bakar langganan kami. Aku sudah rencana mau pesan es campur juga. Hm..., udara panas gini minum es campur, pasti segeeer banget. Baru bayangin aja aku sudah ngiler....


******************************


__ADS_2