
Hari ini hari Senin, katanya adalah hari malas nasional. Hehe... Tapi memang bener, tiap hari Senin pagi itu bikin aku males bangun. Pengennya tidur lebih lama, mungkin efek libur hari minggu kali, ya.....bikin aku pengen libur juga di hari Senin
Hoahm......aku terbangun dan menguap lebar saat alaram ponselku berbunyi, pukul 05.30.
Kupaksa untuk buka mata dan bangun dari tidur setelah alaram kumatikan. Kalau alaram sudah mati dan nggak langsung bangun, alias tidur lagi.... alamat kesiangan.
Aku segera menyiapkan baju yang akan aku pakai kerja. Saat akan masuk ke kamar mandi, suara notifikasi wa ku berbunyi...
From Gio 06.21
Pagi Van..... Sudah bangun?
To Gio 06.22
Pagi. Ada apa?
From Gio 06.23
Nyapa kamu. Sudah mandi?
To Gio 06.24
Ini mau mandi.
From Gio 06.25
Ya sudah kamu mandi dulu sana! Biar baunya ilang.. π
Nanti aku chat lagi. Bye Van....
To Gio 06.26
Sembarangan π
Bye
Chat dari Gio aku jawabi singkat-singkat aja. Aku memang sengaja jaga jarak, sengaja nggak mau terlalu dekat, meski sebenernya ada rasa suka menerima chat darinya.
Jam 08.20 aku berangkat ke cafe. Seperti biasa, sesampai di cafe, anak buahku lagi beberes cafe.
Aku segera membuka laptopku, mengecek ulang penawaran untuk GAB advertising. Aku hitung ulang, aku nggak mau ada kesalahan. Setelah aku cek beberapa kali, dan aku telah yakin benar, penawaran itu segera aku kirim via email ke ibu Julia. Semoga mereka setuju dengan penawaran yang aku ajukan.
Baru saja aku keluarkan ponselku dari tas, sudah ada telpon masuk dari Gita, adiknya Gio.
"Halo.... "kataku
"Halo, selamat pagi, kak...., ini Gita"
"Ya pagi Git, ada apa? "
"Sebentar kak, ini mama mau ngomong sama kak Vania"
Telpon pun segera berpindah tangan. Dalam hati aku bertanya ada apa ya mamanya Gio nelpon?
" Halo Vania.....Pagi, nak"
"Selamat pagi, ma. Ada apa ya? "
" Nggak ada apa-apa, sayang.... Mama cuma mau minta nomer ponsel mami kamu, boleh"
"Boleh, ma. Sebentar lagi Vania kirim via wa ke nomer Gita, ya..."
"Oke.... Makasih ya, nak."
"Sama-sama, ma."
Selesai telpon, aku segera mengirim kontak mami ke nomer wa Gita. Ada perlu apa ya, mama Gio minta nomer ponsel mami ?
Suara notif wa terdengar, segera kubaca chat yang masuk.
From Vino 09.50
Halo kekasih terangku, gimana kabar kamu hari ini, sayang!?
Tl Vino 09.51
Halo juga kekasih gelapku. Kabar aku baik, kamu gimana?
From Vino 09.52
Kabarku baik, tapi akan jadi luar biasa kalo kamu mau jadi kekasih nyata aku.
To Vino 09.53
Hahaha.....masih ngarep nih? π
From Vino 09.54
Ngarep banget, sayang..... Mau ya kita pacaran beneran ?!
To Vino 09.55
Saat ini aku masih takut, Vin..
From Vino 09.56
Aku akan sabar nunggu sampai kamu nggak takut lagi, sayang. ..
From Vino 09.56
Eh kok kamu manggilnya Vino? Kan kamu sudah janji mau panggil aku sayang....
To Vino 09.57
Sori aku lupa.
From Vino 09.58
Setelah ini nggak boleh lupa lagi ya !
To Vino 09.59
Aku usahakan, tapi nggak janji...
From Vino 10.00
Van, kamu harus tau, ya... Aku niat serius sama kamu.
__ADS_1
To Vino. 10.01
Aku sangat menghargai niat kamu, aku juga sangat tersanjung kamu mau nunggu. Tapi kalau boleh aku menyarankan sebaiknya jangan menunggu aku karena aku nggak tau kapan rasa takutku hilang. Aku nggak mau membuat kamu dalam ketidak pastian. Jadi kalau kamu menemukan wanita yang cocok, jadiin aja.
From Vino 10.02
Sudah nggak usah dipikirin! Santai aja.... Kita jalani aja pacaran online ini selama kita berdua masih nyaman.
To Vino 10.03
Sebuah hubungan itu memerlukan kejelasan serta kepastian, Vin. Dan aku belum bisa memberikan itu. Sebaiknya kita sudahi aja hubungan ini. Kamu orang baik, pasti kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku .
From Vino 10.04
Lo? Kok udahan? Aku nggak mau udahan
To Vino 10.05
Aku nggak mau egois, Vin. Aku nggak mau ngegantung kamu. Aku mau kamu bisa bahagia dengan orang yang tepat.
From Vino 10.06
Orang yang tepat, orang yang bisa bikin aku bahagia itu cuma kamu, Vania.
To Vino 10.07
Vino... Kamu jangan seperti ini ! Dengan sikap kamu yang seperti ini aku jadi ngerasa bersalah sama kamu, Vin
From Vino 10.08
Kalau gitu kita harus segera ketemuan.
To Vino 10.09
Aku belum siap, Vin
From Vino 10.10
Kan cuma ketemuan aja. Siapa tau setelah kita ketemu, kamu jadi berubah pikiran....
To Vino 10.11
Aku pikirin ya, Vin. Jujur aku nggak pede untuk ketemuan
From Vino 10.11
Kamu itu cantik, Vania. Kenapa nggak pede?
To Vino 10.12
Hegh.... Sudah ah!! Kamu nggak akan bisa ngerti, karena kamu belum pernah mengalami apa yang aku rasakan ini.
From Vino 10.13
Makanya omongin, Van. Keluarin biar kamu lega dan aku jadi tau apa yang ngeganjel di hati kamu itu.
To Vino 10.14
Sori, bukan aku nggak mau cerita, tapi aku belum siap untuk berbagi cerita sama kamu, Vin. Maafkan aku.
Ya sudah nggak apa-apa. Nggak usah sedih. Santai aja Van, kalau sama aku....
To Vino 10.16
Makasih Vin, kamu mau ngertiin aku.
From Vino 10.17
Sama-sama, sayang....
To Vino 10. 18
Sudah ya, Vin ! Ngobrol terus gini nggak ada habisnya ! Aku lanjut kerja ya, Vin... Bye
From Vino 10.13
Oke sayang.... Pikirin untuk kopi darat sama aku, ya....! Happy working....Bye sayang.....
Vino... Vino.... Aku memang suka chat sama kamu, aku juga ngerasa nyaman menjalin hubungan seperti ini. Tapi aku belum siap menjalani secara nyata. Masih ada bayang-bayang kelam masa lalu yang belum bisa aku lupakan.
Tiba-tiba melintas bayangan wajah Gio di pikiranku. Gimana dengan Gio? Dari apa yang pernah dia omongkan, dari candaan yang dilontarkan, aku bisa merasakan kalau rasa itu ada di hati Gio untuk aku. Rasa yang sama seperti dulu. Aku, kalau boleh sonbong, bisa aku katakan Gio nggak bisa move on dari aku. Hehehe... Pede amat kamu Vania!! Batinku.
Aku segera menyelesaikan kerjaan aku, setelah beres, aku bersiap meninggalkan cafe. Saat ini jam 11.00 aku harus pergi, aku belum mau ketemu Nia. Aku mau menghindari dia untuk sementara waktu.
Aku sudah siap untuk cabut, tapi saat aku belum keluar dari pintu cafe, kulihat Nia sudah datang, dia berlari masuk dan segera menghampiriku, dia langsung memelukku, tapi aku tidak membalas pelukannya.
"Tante mommy....Nia suka bantal princess ariel yang tante mommy kasih. Semalam princess arielnya sudah nemeni Nia tidur." Nia bercetita dengan semangat.
Aku cuma menjawab, "Syukur kalo Nia suka"
"Tante mommy kok bawa tas, tante mommy mau pergi, ya? ", tanya Nia.
" Iya, tante ada perlu. Tante tinggal dulu, ya" , jawabku dengan datar.
"Nia pengen sama tante momny"
Aku melihat wajah sedih Nia, aku jadi iba juga. Tapi saat itu juga aku teringat kejahatan Putri dan hatiku kembali beku.
"Nggak bisa, tante harus pergi"
"Nia ikut tante momny, ya....Nia janji Nia nggak nakal. Boleh, ya...", pinta Nia.
"Nggak bisa, Nia. Sudah....tante harus pergi sekarang. Bye.. .", aku segera melangkah pergi dan nggak peduliin Nia.
"Tante momny.....tunggu! "
Aku membalik badanku saat mendengat panggilan Nia. "Ada apa? "
"Tante mommy belum peluk dan cium Nia", katanya sambil berlari ke arahku.
Dengan terpaksa aku peluk Nia dan mencium pipinya sekilas, tidak seperti biasanya, setelah itu aku langsung keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Hari-hari berikutnya pun aku selalu menghindar dari Nia, setiap jam 10.30, aku sudah meninggalkan cafe, jam 13.00 aku baru balik, karena biasanya paling lambat jam 12.30, Nia sudah pulang dari Cafe. Ya, aku meninggalkan cafe hanya untuk menghindar dari Nia.. Setiap aku balik ke cafe, aku selalu menerima laporan dari anak buahku tentang kedatangan Nia yang mencariku, tentang Nia yang selalu menunggu aku balik, dan akhirnya Nia akan pulang dengan sedih bahkan menangis.
Mendengar itu sebenernya aku juga kasihan sama Nia. Apa aku sudah keterlaluan? Apa aku jahat? Tapi madih lebih jahat ibunya Nia! Dalam pemikiran aku, lebih baik aku menghindar karena aku takut kalau sampai aku berkata-kata atau bersikap yang menyakiti Nia saat aku bersamanya.
Tanpa terasa sudah sepuluh hari aku bggak ketenu Nia. Jujur, dalam hatiku ada rasa kangen untuk melewati hari-hari bersama Nia seperti biasanya. Tapi aku juga belum bisa melupakan rasa sakit yang kualami akibat perbuatan ibunya Nia .
__ADS_1
Hari ini, jam 17.30, aku sudah meninggalkan cafe. Aku mau pulang. Entah kenapa aku ngerasa ada yang nggak enak gitu di hati aku.
Sampai di rumah aku langsung mandi terus nyantai di tempat tidur. Aku mau baca novel untuk mengisi waktu. Anehnya, aku nggak bisa konsen baca, aku malah keinget Nia dan mikirin dia. Anehnya lagi, bayangan Nia yang melintas di pikiranku itu adalah wajah sendunya, wajah sedihnya, tangisannya dan wajah kecewanya saat tetakhir kita bertemu. Ada apa ya? Apa sesuatu terjadi pafa Nia.
Saat aku masih sibuk dengan pikiranku tiba-tiba ponselku berbunyi.
"Halo", sahutku
"Halo non mommy, ini bibik"
"Ada apa, bik? "
"Itu non... anu... Non Nia, non.. "
"Nia kenapa, bik? "
"Non Nia sakit, non. Badannya panas, ini mulai menggigil"
"Oma, opa, aunty sama daddy nya mana? "
"Tuan, nyonya sama non aunty sudah balik Jakarta, non. Tuan daddy belum pulang"
"Bibik sudah telpon daddy nya Nia? "
"Sudah, non. Katanya akan segera pulang. Non mommy....non Nia manggil- manggil non mommy terus, sepertinya non Nia kangen sama non mommy"
Aku terdiam mendengar omongan bibik. Ada rasa bersalah dalam hatiku, ada rasa kawatir, juga ada rasa takut. Apa yang harus kulakukan?
"Non mommy, bibik minta tolong non mommy ke sini, temui non Nia"
"Gimana ya, bik.... saya lagi ada urusan soalnya", kataku mencoba memberi alasan.
"Kalo boleh bibik sarankan, tolong non mommy tunda dulu urusannya, non mommy ke sini dulu, temui non Nia"
"Saya usahakan ya, bik...tapi saya nggak janji"
"Baik, non mommy. "
Saat telpon sudah terputus, aku kembali galau.....antara menemui Nia dan nggak. Membayangkan Nia sakit aku beneran kasihan dan pengen jenguk Nia. Tapi egoku ikut bicara, mengingatkan aku lagi akan perbuatan jahat ibunya. Aku masih menimbang-nimbang antara pergi dan tidak.
Tiba-tiba ponselku kembali berbunyi.
"Halo Vania... "
"Ya? ", jawabku singkat
"Van..., aku Gio "
Nggak usah kamu bilang juga, aku masih inget ini suara kamu, kataku dalam hati.
"Van, Nia sakit. Nia nggak sadar, Van. Nia manggil-manggil kamu terus. Sekarang ini aku lagi nungguin Nia di rumah sakit. Dokter menyarankan kamu menemui Nia, untuk mempercepat pemulihan kesadaran Nia"
Mendengar omongan Gio, aku langsung bereaksi.
"Di rumah sakit mana? Aku segera ke sana", kataku.
"Aku jemput kamu sekarang, ya?"
"Nggak usah jemput ! Kamu di sana aja jagain Nia! Aku bisa ke sana sendiri. Kamu share loc aja"
" Oke, aku share location. Kamu nggak usah panik! Nggak usah buru-buru ! Ati-ati nyetirnya !" Gio berpesan padaku.
"Ya, makasih", sahutku mengakhiri telpon Gio.
Aku segera berganti baju, mengambil tas dan ponsel, dandan sebentar, lalu langsung berangkat ke rumah sakit yang alamatnya sudah dikirimkan ke aku.
Aku menyetir dengan penuh kekuatiran. Aku takut terjadi apa-apa sama Nia. Aku menyesali keegoisan dan kebodohanku. Aku sungguh kekanakan ! Tidak dewasa ! Maafin tante, Nia....., maafin tante.... Aku merasa sangat bersalah pada Nia.
Setelah 25 menit mengemudi, akhirnya aku sampai di rumah sakit tempat Nia di rawat.
Aku berlari masuk ke rumah sakit, menuju ke informasi untuk menanyakan ruangan di mana Nia dirawat. Setelah mendapat informasi, aku kembali sedikit berlari menuju ruangan yang di maksud.
Karena terburu-buru....
"Bruukk... ", aku menabrak orang.
"Maaf, saya nggak sengaja, saya buru-buru, ' kataku tanpa melihat orang yang kutabrak. Aku mengambil tas ku yang terjatuh dan bersiap pergi dari situ.
Tapi ada tangan yang menarikku, "Vania..."
Mendengar namaku dipanggil, aku langsung berbalik, " Gio"
"Nggak usah buru-buru gitu, Van ! Ati-ati kalau jalan ! Untung yang jatuh cuma tas kamu. Kamu nggak apa-apa? "
"Aku nggak apa-apa. Kok Nia kamu tinggal?" tanyaku.
"Nia ditemani bibik"
"Sudah sadar? ", tanyaku lagi
"Belum. Aku tinggal dulu, ya... aku mau nebus obat di apotik. Kamu langsung aja ke ruangan Nia, ada bibik lagi nungguin di sana," kata Gio.
"Ya". Kami pun berpisah. Gio ke apotik, aku ke ruangan Nia.
***************
πΊπ»πΊπ»πΊπ»πΊπ»πΊπ»πΊπ»πΊ
Hai readers....
Author minta maaf terlambat up date. Gara2.3 episode kehapus, author jadi nggak semangat mau nulis ulang...., tapi karena rasa sayang author pada para readers, akhirnya author paksain untuk nulis lagi.
Terimakasih kalian masih setia baca cerita RASA ITU ADA. ikuti terus kelanjutan ceritanya sampai tamat, ya....
Author selalu mengharapkan dukungan dari kalian baik berupa vote, like maupun komen.
Buat yang sudah vote author ucapkan banyak terimakasih, jangan bosan utk terus nambahin vote kamu.
Buat yang belum vote, tolong dong dukung author, vote karya author RASA ITU ADA.
Thank you readers
Regards.. ... πππππππ
***************
.
__ADS_1