
Setelah Gita dan Sean pergi, saat ini di ruang tengah cuma ada aku dan Gio. Kami duduk bersebelahan di sofa tapi kami buat posisi kami berhadapan. Seperti kesepakatan kami tadi, kami akan bicara berdua.
"Van..." panggil Gio
"Hm...? ", sahutku
"Aku mau nanya boleh? "
"Apa? "
"Maaf sebelumnya, apa setelah kita berpisah kamu ada menjalin hubungan dengan seseorang? " tanya Gio dengan hati-hati, mungkin kuatir aku tersinggung.
Kugelengkan kepalaku, "Nggak".
"Kenapa, Van? Kayaknya nggak mungkin kalau nggak ada yang mendekati kamu, apalagi kalau alasannya karena kamu masih pengen kita bersama, malah mustahil itu, secara waktu itu kamu yang memutuskan hubungan kita", tanya Gio.
"Memang bukan itu alasannya."
"Terus apa alasannya? " tanya Gio lagi, dengan rasa ingin tau.
Kamu mau tau alasan yang sebenarnya? " aku bertanya balik.
"Ya, aku pengen tau. Katakanlah.... "
"Sebenernya alasannya adalah menyangkut kejiwaanku sendiri. Luka akibat perpisahan itu membuat aku trauma, akibatnya aku nggak punya keberanian untuk memulai suatu hubungan, aku takut terluka lagi." Aku tertunduk, ada rasa perih di hatiku.
"Jadi sampai separah itu efek dari kebodohanku, Van? Maafkan aku". Tampak raut wajah Gio penuh sesal.
"Nggak perlu minta maaf, Gio. Kamu kan nggak salah.... Keadaanlah yang membuat aku seperti itu".
"Ini semua salahku, Van.... Aku terlalu ceroboh dan bodoh hingga saat itu bisa terpedaya dengan mudahnya. Maafkan aku, Van..."
"Gio, please....stop minta maaf dan menyalahkan dirimu sendiri, sebab saat itu kamu juga terluka, kan? "
"Aku terluka, aku menderita, bahkan jika aku jadi gila sekalipun, aku rela, bagiku tidak masalah, aku siap menanggung semuanya. Tapi aku nggak rela kalau kamu juga harus menderita dan menanggung luka, Van. Aku tidak bisa terima jika wanita yang aku cinta menderita dan sengsara."
Mata Gio memerah, kulihat ada sedikit kabut di sana. Rupanya Gio bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya.
Ada cinta yang penuh ketulusan memancar dari sepasang mata coklat yang teduh itu.
"Hei...!! Sudahlah ! Semuanya sudah berlalu ! Nggak usah dibahas lagi luka dan derita di masa lalu itu," kataku sambil menepuk-nepuk punggung tangan Gio.
Tiba-tiba Gio memelukku. Aku mendorong dada Gio, berusaha melepaskan pelukan itu.
"Tolong, Van....ijinkan aku memelukmu seperti ini sebentar", minta Gio dengan suara yang tercekat, seperti orang yang menahan tangis.
Akhirnya aku biarkan Gio memelukku. Pelukan ini..., aku merindukan pelukan ini ! Pelukan yang melindungi yang memberiku rasa aman dan nyaman. Dari yang semula menolak, akhirnya aku justru menikmatinya.
Setelah kira-kira lima menit berlalu, Gio melepas pelukannya.
"Van...., aku pengen kita bisa dekat lagi seperti dulu. Aku mau kita bisa menjalin hubungan kasih lagj". Gio mengungkapkan maksudnya.
Gimana ya.....?? Bohong kalau aku bilang nggak pengen bersama Gio lagi, tapi kalau nanti dia terpedaya lagi gimana? Apa aku mau terluka lagi? Oo.....jelas tidak.!!
Melihat aku diam dan tifak menjawab Gio kembali bersuara. "Van, percayalah aku masih mencintai kamu, sangat mencintaimu. Selama lima tahun ini cuma kamu yang ada di pikiran dan hatiku. Aku nggak pernah berpaling dari kamu dan nggak pernah berhenti mencintaimu, meskipun penantianku itu abu-abu, tapi aku nggak pernah punya niatan untuk menghapus rasa itu. Rasa itu ada hanya untukmu, Vania Putri Rajasa." Gio menyatakan isi hatinya.
"Jujur aku senang dan tersentuh mengetahui kamu mempunyai rasa yang seperti itu untukku. Tapi aku belum berani untuk menjalin hubungan lagi, lebih tepatnya aku tidak mau terluka kembali." Aku menundukan kepalaku lagi.
"Van.... , lihat aku... ", Gio memegang daguku dan mengangkatnya sedikit, hingga kepalaku tidak lagi tertunduk.
"Van, aku pernah melakukan kesalahan hingga hubungan kita hancur berantakan. Dan kamu juga tau hal itu tidak pernah aku inginkan. Kali ini jika kamu memberiku kesempatan, tentu tidak akan aku sia-siakan. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Van. Aku telah belajar banyak dari pengalaman yang menyakitkan itu. Van... Please terimalah cintaku. ". Tatapan mata penuh cinta itu kembali memporak porandakan hatiku.
"Gio, bisakah kamu memberi aku waktu?", tanyaku.
"Tentu, Van....aku akan menunggu jawabanmu. Tapi saat kamu masih memikirkan jawabanmu itu, tolong jangan menjauh dariku. Ijinkan aku mendekatimu. Meski kamu belum mau kita pacaran lagi, tapi aku mau kita jalani hubungan ini sebagai teman tapi mesra. Gimana? Apa kamu setuju? " Gio bertanya sambil menatapku penuh harap.
Kalian mau tau apa reaksiku? Tanpa berpikir, aku langsung menganggukan kepalaku.
"Bener, Van? Beneran kamu mau kita ttm-an?" Gio bertanya untuk meyakinkan, dia tampak sangat senang dan antusias.
"Ya, Gio. Aku mau, karena lewat kita ttm aku mau meyakinkan diriku sendiri bahwa
menjalin hubungan itu tidak salah, dan tidak perlu takut," kataku.
"Satu lagi, sayang.... kamu juga harus berpikir positif bahwa hubungan baru yang terjalin ini akan berakhir kebahagiaan. Secara tidak langsung apa pun yang kita pikirkan, yang menjadi mind set kita, itu biasanya akan menjadi kenyataan."
"Ya, Gio. Makasih, kamu mau menunggu jawabanku dan juga mau membantuku untuk menghilangkan rasa takut itu'. Kataku dengan tulus.
"Nggak usah berterimakasih, Van. Kan aku melakukan ini dengan harapan kita bisa bersama lagj. Jadi hubungan kita ini saling menguntungkan, sayang.... ", kata Gio sambil tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum.
"Van, aku akan panggil kamu sayang seperti dulu, ya..." Gio minta ijin
"Telat, dari kemaren-kemaren kamu sudah manggil aku sayang, kok ijinnya baru sekarang?!" protesku.
"Hahaha..... aku kan sayang banget sama kamu jadi otomatis aku manggil sayang ke kamu," sahut Gio
"Sebenernya aku juga pengen kamu manggil aku sayang kayak dulu.....", kata Gio lagi.
"Mau aku panggil sayang? ", tanyaku dengan senyum iseng
__ADS_1
"Mau banget, yang." sahut Gio
"Dengerin ya.... Syayaanngg....." Aku sengaja memanggil sayang dengan suara sengau, yang dulu sering aku lakukan untuk ngisengin Gio, soalnya Gio nggak suka kalau aku manggil dia seperti itu.
"Ya ampun sayang.... Kamu itu ya.... sudah sekian tahun berlalu kamu masih aja manggil aku dengan gaya itu!!!. Usilmu ternyata nggak bisa ilang, ya !!" omel Gio.
"Hahaha.... ", aku malah ketawa.
"Sayang aku kan pernah bilang, kalau kamu manggil sayang dengan cara itu aku akan menghukum kamu, hukumannya harus cium aku sepuluh kali. Inget kan !!", tanya Gio sambil mengingatkan.
"Itu kan berlaku saat kita pacaran, sekarang kan kita nggak pacaran, jadi hukumannya nggak valid", kataku mengelak.
"Memang sayangku ini jago ngeles, ya.... ", kata Gio sambil mengelus rambutku.
Aku melihat Gio mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. "Sayang, aku mau kamu memakai ini lagi", kata Gio sambil membuka kotak kecil yang tadi dikeluarkan dari kantong celananya. Ternyata.... isi kotak itu kalung bandul hati !! Itu kalung yang dulu pernah diberikannya padaku saat Gio melamarku di hadapan orang tuanya.
"Kamu masih menyimpan kalung itu? " tanyaku tidak percaya.
"Tentu saja. Semua hal yang berhubungan dengan kenangan tentang kamu masih aku simpan dengan baik. Bahkan kalung ini tidak pernah aku lepas dari leherku meski lima tahun ini kita tidak bersama lagi", kata Gio sambil menunjukan kalung bandul hati yang bertengger dileher Gio
Aku sangat terharu. Aku sadar Gio punya cinta yang begitu besar untukku. Aku nggak kuat menahan diri. Airmataku sudah tidak bisa kutahan lagi. Aku menangis dan menghambur memeluk Gio. Bodoh jika aku menyia-nyiakan cinta yang seperti ini. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan segera memberikan jawaban yang pasti untuk pejuang cintaku ini.
Setelah emosiku reda, kulepas pelukanku. Gio menghapus airmataku. Dan dengan seijinku, Gio memakaikan kalung itu di leherku, lalu Gio mengecup keningku.
"Makasih, sayang.... Aku sangat senang kamu mau memakai kalung ini lagi. Aku juga berharap segera mendapatkan jawaban yang pasti, yang membahagiakan aku". Gio kembali menatapku dalam.
Ah....Gio jangan terus-terusan menatapku seperti itu ! Tatapan mata teduhmu itu sungguh menghabyutkan, membuat hatiku makin meleleh dan jantungku ikutan berdebar nggak karuan.
Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala sebagai jawabanku atas omongannya barusan.
"Hai hai hai.....princess Gita pulang..... ", suara cempreng Gita memecah kesunyian malam. Mengganggu orang yang lagi ttm-an. Hehehe....
"Git, jangan berisik ! Jangan ganggu tidur Papa mama dan Nia!" tegurku.
"Maaf kakak ipar, itu tadi reflek. Efek dari hati aku yang senang ngeliat kalian bergenggaman tangan, apalagi tadi kak Gio pake mengelus-elus rambut kakak ipar," jelas Gita.
Ini anak ya.... Masak apa yang kita lakukan dijelaskan semua?! Maluuuuu tau!!!
Kulempar bantal kursi ke arah Gita, dia mengelak dan Sean yang kena lemparan. Gio dan Gita ketawa ngakak. Sementara aku tersipu malu.
"Kak Vania, ini tadi dibeliin ronde sama Gita, katanya kesukaan kakak, ya? " kata Sean sambil meletakan satu kantong plastik di meja. Aku lihat ada beberapa bungkus ronde di dalamnya.
"Thank you.... baik banget sih pake beliin aku ronde... ", kataku.
"Gita gitu loh...!! "
"Iya Gita gadis cantik yang baik hati tapi nyebelin... Haha... " sahutku sambil melangkah pergi, mau mengambil mangkuk dan sendok untuk makan ronde.
"Aku semangkuk sama kamu aja, yang", kata Gio.
"Cie cie.... semangkuk berdua.... So sweet.... Kalo gitu kita juga, kak. Kita juga mau semangkuk berdua", kata Gita nggak mau kalah.
"Nggak ada semangkuk berdua! Aku sudah capek ke dapur ambil mangkuk empat. Semua makan sendiri-sendiri!!" tegasku.
"Lagi ngapapin sih kok ribut?" tegur mama yang tiba-tiba datang bergabung.
"Ini ma... Kak Vania reseh! Masak aku minta makan rondenya semangkuk berdua sama Sean nggak dibolehin, cuma gara-gara kak Vania sudah keburu ngambil empat mangkuk dari dapur", Gita mengadu pada mama.
"Hahaha.... Mama setuju sama Vania, kita itu harus bisa menghargai jerih payah orang lain." Yes!! Mama di pihakku.
"Bela aja ma ! Bela aja terus tuh mantu kesayangan mama.... !" Gita cemberut, kesel dianya.
"Hahaha....lucu kalo manyun gitu", kataku sambil mencubit pipi Gita.
"Kak Vania ini kebiasaan, ya....!! Cubit-cubit pipi aku..., aku bukan Nia, kak ! ", Gita merajuk.
"Emang kamu bukan Nia ! Kamu itu aunty nya Nia, tapi kalo cemberut sudah sebelas duabelas sama Nia", jawabku sambil tertawa.
Mama dan Gio ikutan ketawa. Sean awalnya ketawa juga, tapi begitu dipelototi Gita, langsung deh ketawanya surut......
"Mama mau ronde juga?" tawarku.
"Boleh. Enak nih dingin gini minum yang anget-anget", jawab mama.
Aku kembali ke dapur untuk mengambil dua mangkuk lagi, satu untukku dan satu lagi untuk cadangan kalau papa ikutan bangun.
Saat aku kembali di ruang tengah, bener aja... papa sudah duduk di sebelah mama.
"Papa mau ronde juga? " tanyaku.
"Boleh", sahut papa.
"Wah..... calon mantu mama tanggap nih..., sudah nyiapin satu mangkuk buat papa, padahal pas tadi ke dapur kan papa belum di sini," puji mama.
"Calon istri Gio, ma....", sahut Gio enteng. Aku langsung melotot ke arah Gio, eh tuh orang malah ngakak.
"Amin.... " Lha......, semua yang ada di ruangan ini malah kompak bilang amin....
Keluarga Gio termasuk keluarga yang menyenangkan. Hubungan antara orang tua dan anak sangat dekat dan akrab. Berada di tengah keluarga Gio, sama rasanya seperti saat berada di tengah mami dan papi.
Kami berlima menikmati ronde sambil ngobrol dan bercanda.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepatnya, nggak terasa sudah hampir tengah malam. Kami pun membubarkan diri, menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. .
Aku berjalan beriringan dengan Gio, karena arah kami sama, kamar kami bersebelahan. Saat akan membuka pintu kamar, mati lampu., otomatis keadaan tiba-tiba menjadi gelap, nggak keliatan apa-apa.
Aku yang dasarnya takut gelap, langsung berpegangan erat pada lengan Gio.
"Tenang aja, yang...! Nggak ada apa-apa, kok. Aku ambil ponsel aku di kamar dulu, ya untuk nyalain senternya", kata Gio.
"Aku ikut", jawabku cepat.
"Ayo.... ", Gio segera membuka pintu, masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Saat senternya dinyalakan aku sedikit lega, paling nggak sudah nggak segelap tadi.
"Gio, tolong antar aku ke kamar, ya.... Aku mau ambil ponsel aku"
"Oke...ayo aku antar", Gio menggandeng tanganku, kami berjalan menuju ke kamar sebelah, kamarku dan Nia.
Sampai di kamar, aku segera mencari ponselku, begitu terpegang langsung kunyalakan senternya.
"Kamu di tempat tidur aja. Aku tinggal dulu, ya.... Aku mau ngecek, kenapa lampunya bisa mati... ", pamit Gio.
"Ya, tapi nanti balik sini lagi, ya!" mintaku.
"Iya, sayang.... ", jawab Gio sambil berlalu.
Nggak lama setelah Gio pergi, Nia terbangun.
"Tante mommy...., tante mommy...", Nia berteriak memanggilku.
"Apa sayang?? Tante di sini", jawabku sambil mengarahkan senter ponselku ke arah Nia.
Nia segera menghampiriku dan memelukku erar. "Nia nggak suka gelap! Nyalain lampunya tante mommy...."Nia mulai merengek
"Sstt.... Ini lagi mati lampu, sayang, makanya gelap. Nia nggak usah takut, kan ada tante yang nemeni, Nia nggak sendiri, kok. Ini juga lampu hand phone tante nyala. Kita tunggu di sini, ya.... sebentar lagi daddy ke sini nemeni kita." Aku mencoba menenangkan Nia.
Tiba-tiba senter ponselku mati dan nggak bisa kunyalakan lagi, Nia langsung berteriak keras, untung saat itu juga Gio masuk dengan emergency lamp di tangannya.
"Ada apa sayang? Kok teriak? " tanya Gio sambil mendekat ke tempat tidur. Nia langsung menghambur dan memeluk Gio.
"Ponsel tante mommy mati, Nia nggak suka gelap, daddy," rengek Nia.
"Iya, daddy tau. Ini kan sudah terang, daddy sudah bawa lampu, " bujuk Gio.
"Kenapa mati lampu? " tanyaku.
"Kata security ada perbaikan jaringan. Diperkirakan pemadaman akan terjadi selama dua jam." Jelas Gio.
"Lama juga, ya...... Gio...tolong kamu tungguin di sini sampai lampu nyala, ya !" mintaku.
"Oke.... ", sahut Gio.
"Nia bobok lagi, yuk...!" ajakku.
"Nia mau boboknya sama tante mommy sama daddy juga", rengek Nia.
"Ya udah ayo.... daddy sama tante mommy temani Nia bobok. Kita bobok bertiga", kata Gio menenangkan Nia.
Satu jam sudah berlalu, Nia sudah kembali tidur nyenyak. Gio sepertinya juga sudah tertidur. Hanya aku yang masih terjaga. Aku mencoba memejamkan mata, sudah cukup lama, tapi masih belum bisa membuatku tertidur. Sudah tidak terhitung berapa kali aku membalikan badan ke kanan, ke kiri, telentang, tengkurap, semua pose tidur sudah kucoba... tapi entah kenapa semua usahaku belum membawa hasil juga.
Sampai akhirnya lampu menyala, segera aku bangun untuk mencas ponselku yang kehabisan daya.
Kebetulan colokan untuk mencas itu ada di atas meja kecil, di samping Gio tidur. Setelah mencas ponsel selesai, aku melihat tangan Gio jatuh menggantung di samping tempat tidur. Aku betulkan posisi tangannya, kaos yang Gio pakai beberapa kancingnya terbuka, aku melihat ada tatoo kecil di dada sebelah kanannya yang berupa tulisan. Sepertinya aku dulu nggak pernah ngeliat Gio punya tato...
Kekepoanku bergejolak, sehingga aku nekad, dengan pelan dan hati-hati aku menyingkap kaos Gio lebih lebar, untuk melihat tato itu dengan jelas.
Rasa kaget, senang, terharu, bangga bercampur jadi satu saat aku sudah melihat tato yang diukir di dada kanan Gio. I💗U VANIA. Kecil memang tulisannya....tapi yang terukir itu penuh makna bagiku.
Tidak pernah terpikirkan olehku, Gio sampai melakukan hal itu. Apa benar sebegitu cintanya Gio padaku? Sebegitu berartinyakah aku bagi Gio?
Kurapikan kembali baju Gio. Aku duduk di samping tempat tidur, kupandangi wajah Gio yang tampan dan tampak tenang dalam tidurnya. Kuelus pipinya dengan lembut. Dan aku kembali nekad, kukecup bibirnya sekilas ..... I love you, Gio.... bisikku pelan.
********************************
🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃
Halo halo....
Apa kabar resders? Hari ini libur tanggal merah, tapi nggak kerasa, ya... soalnya kan dihimbau sebaiknya di rumah saja, nggak usah ke mana-mana.
Sudah nggak usah kecewa, santai aja di rumah, baca cerita RASA ITU ADA..., tapi jangan iri, ya sama hubungan Gio dan Vania...
Ayo dong gencarin vote nya......supaya ranking RASA ITU ADA nggak turun. Terimakasih buat pembaca yang sudah partisipasi memberi vote like maupun komen. Author harap jangan kendur dukung author, ya.... Buat pembaca yang belum ikutan dukung, ayo dong..... bantuin author, dukung author dengan vote, like maupun komen kamu. Author tunggu ya..
Oke sekian dulu dari author
Selamat ber apa saja....
Salam.... ❤🙋😘😄😇😊😍🙋❤
🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃
*********************************
__ADS_1