
Saat ini kami lagi duduk di pesawat, otw Jakarta. Aku duduk di samping jendela, Gio tentu saja duduk di sebelahku.
Saat menginjakkan kaki di Jakarta, aku melihat jam di hp ku, sudah 18.40. Kita langsung keluar, kata Gio akan ada yang jemput.
"Kak Gio..., kak Gio...", seorang gadis manis berlari sambil memanggil Gio.
Gio mengajakku mendekati gadis itu, "Hei... dek ! Sudah lama nunggu kakak? ", kata Gio sambil memeluk serta cipika cipiki sama gadis itu.
"Nggak, baru sepuluh menitan aja", jawab gadis itu sambil tersenyum, wajahnya mirip Gio.
"Sayang kenalin, ini adik aku, Gita. Ini kak Vania, dek ", Gio memperkenalkan kami.
"Hallo kakak ipar, aku Gita", mendengar panggilan Gita untukku, Gio langsung ketawa sambil mengacak rambut adiknya.
"Pinter kamu, dek... bisa langsung konek", celetuk Gio.
"Iyalah.... kan selama ini kakak nggak pernah ngajak cewek ketemu keluarga kita, jadinya aku yakin kalo kak Vania ini pasti calon kakak ipar aku".
Mendegar omongan Gita, hatiku berdesir.... se-spesial itukah aku? Aku sempat tertegun sejenak. Supaya nggak kaku, aku segera balik menyapa, "Halo Gita..., makasih sudah jemput kita".
"Sama-sama, kak. Nggak usah sungkan..."
'Ayo kita pulang, biar nggak kemalaman", ajak Gio. Kami pun berjalan menuju mobil Gita.
"Dek, mampir makan dulu sebelum pulang, kakak laper", kata Gio
"Jangan, kak. Sudah disiapin makan malam sama mama. Papa mama sudah kebelet pengen ketemu calon mantu", jawab Gita, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
Gio langsung ketawa, "Denger tuh ! kamu sudah diterima, yang... meskipun orang tuaku belum ketemu kamu".
Aku tersenyum kalem. Padahal... jantungku sudah dag dig dug dueerrr...
"Kakak ipar, nanti tidur sama aku aja, ya... ", ajak Gita, yang dengan entengnya manggil aku dengan sebutan kakak ipar.
__ADS_1
"Aku mau aja, tapi kamunya nggak terganggu ? "
"Ya nggaklah.... Nanti kita ngobrol, aku bakal bongkar aib kak Gio...", canda Gita. Aku ketawa, tapi Gio melotot ke arah Gita. Sedangkan Gitanya cuek aja, malah ngakak.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam, akhirnya kami sampai di rumah keluarga Gio. Rumah yang besar, asri dan cukup mewah. Kami turun dari mobil, pintu utama rumah itu langsung terbuka....
"Gio.... Akhirnya kamu inget jalan pulang, ya nak.... ", terlihat seorang wanita berjalan keluar dan langsung memeluk Gio "Mama kangen, nak", katanya.
Kalo ini mama Gio, berarti pria yang di sebelahnya itu pasti papanya, pikirku dan ternyata benar... "Sudah ma....biar Gio dan temannyra masuk dulu, kita lanjut kangen-kagenan nya di dalam".
Setelah di dalam rumah, Gio berpelukan dengan papanya. Melihat ini semua, aku bisa merasakan kalo Gio dibesarkan dalam keluarga yang hangat, penuh kasih sayang.
Mama Gio mendekatiku, "Nama kamu siapa, nak? "
Pertanyaan mamanya menyadarkan Gio. Dia baru ingat belum memperkenalkan aku.
"Ini Vania, pa, ma...pacarnya Gio"
"Mama yakin, pasti gadis ini yang bikin kamu ingat pulang", kata mama Gio sambil memelukku. "Selamat datang di Jakarta, selamat datang di keluarga kami".
"Hei... panggil mama aja, jangan tante! Panggil kami mama dan papa. Kan kamu calon mantu kami....", goda mama Gio, yang tentu saja disambut tawa Gio, Gita dan papanya.
Aku tersipu. Muka ku pasti sudah semerah saos tomat. Nggak anak, nggak emaknya kok sama ya.... gampang sekali nyeplos, bikin mukaku panas sekaligus sesak nafas .
"Sudah... Sudah... Kasihan kakak ipar digangguin terus. Makan yuk... udah malem nih... ! cacing di perut kak Gio udah bikin konser tuh.... ".
"Tau aja kamu dek...", kata Gio sambil menjentik dahi adiknya pelan.
Kami makan malam berlima. Mama Gio masak sendiri. Masakannya enak. Pantesan Gio suka bilang kangen masakan mamanya.
Setelah kami selesai makan malam, 2 orang art masuk, untuk membereskan meja makan.
Kami lanjutkan ngobrol di ruang tamu. Gio duduk di sampingku, menggenggam tanganku, aku berusaha melepaskan, soalnya aku nggak enak sama orang tuanya, tapi genggaman Gio makin erat.
__ADS_1
Sambil melirik tangan kami, mama Gio ngomong, "Nggak apa, Vania. Mama lihat Gio beneran sayang sama kamu. Dia takut kamu hilang, makanya kamu dipegangin terus".
Omongan mama Gio disambut tawa papa dan Gita. Tuh kan...., tambah malu kan aku jadinya. Dasar Gio! Tapi Gio malah cengar cengir dan nggak ngelepas tanganku.
"Ini sudah malam, kalian pasti capek. Mandi dan istirahat sana... ", kata mama. "Gio, antar Vania ke kamar tamu"
"Nggak usah, ma. Kak Vania tidur sama aku aja...di kamarku. Ayo kak ikut aku... ", ajak Gita. "Kak Gio tolong bawain koper kakak ipar ke kamarku, ya.... "
Setelah pamit pada orang tua Gio, aku mengikuti Gita ke kamarnya di lantai dua.
Masuk kamar, aku langsung siap-siap mandi. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku lihat Gio yang sudah mandi masuk ke kamar dan langsung duduk di ranjang Gita.
"Ih... Apaan sih, kak ! Kak Gio balik ke kamar kakak sana ! Aku kan mau ngobrol sama kak Vania, girls talk tau nggak...? " Gita menarik tangan Gio, menyeretnya keluar. Aku tertawa melihat kelakuan kakak adik itu.
"Dek, Vania itu pacar kakak, masak kakak nggak boleh ngobrol sama pacar sendiri?"
"Tidak boleh untuk malam ini ! Lagian kalian kan tinggal seatap, tiap hari ketemu...Kusus malam ini kak Vania ngobrolnya sama aku aja".
"Ya udah, aku ngalah ! Tapi jangan cerita macem-macem ya... Awas kamu! ", Gio berlagak mengancam Gita.
Sebelum keluar kamar Gio melihat ke arahku, "Sayang, aku balik ke kamar, ya....Good night, I love you'.
"Eish ! Bikin baper aja ! Cepet sana.. !! ", usir Gita sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Makanya cari pacar...., biar nggak gangguin kakak pacaran !", ledek Gio dari balik pintu.
*********
Teman... makasih banyak sudah mau baca novel aku, terimakasih juga untuk dukungan likenya.
Selain itu aku juga perlu lo komen dan saran dari kalian, untuk kemajuan karya aku.
Jadi tolong sehabis baca ceritanya, beri like dan komen juga, ya.....
__ADS_1
Aku tunggu....
Makasih 🙏😍😀