
Saat kakiku sudah mendekati pintu masuk kantor, aku mendengar langkah orang yang berlari mendekat serta memanggil namaku, aku pura-pura tidak mendengar dan tetap meneruskan langkahku.
Ya... orang itu adalah Gio. Sekarang dia sudah berdiri di hadapanku dengan wajah paniknya. "Kamu dari mana, yang? ", tanya Gio sambil menarik tanganku menjauhi pintu masuk kantor.
Gio membawaku masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu nggak apa-apa, sayang? " tanya Gio sambil mengelus pipiku. Gio tampak menguatirkan keadaanku. Dari matanya aku melihat sorot kecemasan.
"Ada apa sebenernya, Van? Semalem dari jam 7 aku pulang, aku liat kamu belum pulang. Aku tunggu sampai jam sembilan, tapi kamu belum pulang juga. Aku telpon, aku chat, aku sms kamu nggak jawab. Kamu semalam ke mana, yang?", Gio memberondongku dengan pertanyaan yang bernada panik dan kuatir.
"Semalam aku pulang ke kos", jawabku.
Aku berusaha menjawab pertanyaan Gio dengan tenang, meskipun sebenernya dari mulai Gio narik aku masuk ke mobilnya, aku berusaha menahan supaya nggak nangis.
"Kalo semalem kamu pulang ke kos, kenapa pas aku ketuk kamarmu nggak kamu jawab?"
"Pas kamu ketuk pintu mungkin aku sudah tidur".
"Terus kenapa pulang dari pergi nggak langsung nemui aku dulu? "
"Ya nggak apa-apa ! kemarin pulang dari mall kepalaku pusing, jadi aku langsung ke kamar, pengen cepet istirahat".
"Terus kenapa telpon dan chat aku nggak direspon sama sekali? "
"Ponselnya aku silent, karena aku mau tidur", sahutku.
__ADS_1
"Meskipun silent, kan tetep bergetar kalo ada panggilan atau notif. Masak kamu nggak denger? Kayaknya nggak mungkin deh! ".
"Aku denger tapi aku memang lagi nggak pengen diganggu".
"Aku ini tunangan kamu lo, yang ! Masak cuma untuk ngasih kabar ke aku kamu keberatan ?"
"Memang kemaren aku lagi nggak enak badan, jadi mau apa pun aku males".
"Ok, aku terima alasan kamu. Terus kenapa hari ini pagi-pagi kamu sudah pergi tanpa pamit? Telpon sama chat aku kamu cuekin....Ada apa, Van? ", Gio nanya terus
"Memang nggak ada apa-apa ! Semalem memang aku tidur cepet. Kalau pagi tadi aku pengen ke taman kota, ngadem sambil ngeliat orang olah raga".
Aku terus menjawab setiap pertanyaan yang Gio ajukan, meskipun jawabanku kesannya mengada-ngada. Aku nggak peduli.
"Selama kita pacaran, kamu nggak pernah tuh seperti semalem, secapek dan sengantuk apa pun kamu pasti sempetin nyamperin aku ! Dan kamu juga nggak pernah ngadem sendirian ke taman kota ! Ada apa sebenarnya, Van? "
"Kalo nggak ada apa-apa kamu nggak mungkin seperti ini, Van ! Aku tau kamu itu sengaja menghindari aku, kan? Aku salah apa? Ngomong, Van ! Jangan cuma diam, menghindar ataupun pergi tanpa kejelasan ! Sikap kamu yang seperti ini bikin aku senewen, Van! Aku nggak suka kamu kayak gini!(", Gio tampak mulai kesal.
Dari awal Gio mengajak bicara, aku selalu menunduk, aku memang nggak mau menatap Gio karena aku nggak akan bisa bohong kalo menatap mata coklatnya yang teduh.
Gio mengangkat daguku, agar wajahku mendongak, "Kalo ngomong tatap aku ! Jangan menunduk! Ngomong sambil nunduk itu artinya menutupi kebohongan !", kata Gio.
Entah kenapa mendengar kata kebohongan emosiku langsung tepancing, "Apaan sih??" Aku tepis tangan Gio dengan kasar. "Kalo aku bilang nggak ada apa-apa ya nggak ada apa-apa !! Kamu kali yang nyembunyiin sesuatu tapi justru ngelempar ke aku", jawabku semakin nyolot.
"Memang apa yang aku sembunyiin, yang? Aku nggak pernah aneh-aneh di belakang kamu ! ", Gio berusaha menjelaskan.
__ADS_1
"Aku mana tau? Kamu yang berbuat kok malah nanya aku? "
"Aku berbuat apa, yang? Tolong jelasin!", Gio
mencoba menggenggam tanganku, tapi aku kibaskan. Berkali-kali dia mencoba dan aku terus menepisnya. Akhirnya Gio berusaha memelukku, aku menolak, tapi karena tenagaku tidak sebanding dengan Gio, akhirnya Gio berhasil memelukku.
Aku berusaha meronta, tapi aku nggak bisa bergerak dalam pelukannta yang erat. Aku tidak bisa menolak dada bidang yang memberiku kenyamanan.... Aku larut dalam pelukan Gio dan tangis yang kutahan pun pecah.
Gio semakin bingung melihatku menangis, berkali-kali dia menghapus airmataku, mengelus rambut dan pipiku. Aku berusaha menenangkan diri, berusaha berhenti menangis.
"Sayang... kalo ada apa-apa itu ngomong dong, yang ! Entah kamu ada yang ganjel di hati kamu, entah kamu curiga, entah kamu marah... aku mau kamu ngomong, yang! "
Aku diam saja tidak menyahut. Kulihat jam tanganku, sudah jam 08.40.
"Ini sudah terlambat, aku harus kerja", sahutku tanpa mempedulikan omongan Gio barusan.
"Hari ini kita nggak usah kerja! Kita harus selesaikan masalah kita ! Aku nggak suka menggantung masalah. Kita balik ke kos, kita harus bicara! Jam segini kos sepi, semua sudah pada berangkat kerja", Gio memutuskan dan dia langsung menjalankan mobilnya tanpa nanya pendapatku.
**********
Hi readers.... terimakasih sudah baca novel aku yang judulnya RASA ITU ADA
Gimana? Suka nggak sama cerita yang aku buat? Ikuti terus kelanjutannya ya...
Jangan lupa aku perlu suport dari kalian, aku tunggu komen, saran , like serta vote kalian.
__ADS_1
Thanks... 🙏😊😍
**********