RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 74 NIA SAKIT


__ADS_3

Aku memasuki kamar tempat Nia dirawat. Di kamar ini ada dua tempat tidur, yang satu untuk pasien, yang satu lagi untuk penjaga pasien. Bibik duduk di sebelah tempat tidur, menjaga Nia. Melihat aku mendekati tempat tidur Nia, bibik langsung berdiri dan menjauh.


Saat ini aku berdiri di samping tempat tidur Nia. Kuamati wajah Nia yang imut, pipi chubby itu tampak sedikit tirus. Badannya pun tampak sedikit lebih kurus. Dahinya ditempeli plester penurun demam, di tangan kirinya menempel jarum infus. Nia tampak lemah dan tak berdaya. Hatiku berdesir, aku tidak tega melihat Nia dalam keadaan seperti ini. Tidak ada lagi senyum cerianya, tidak terlihat lagi Nia yang lincah dan aktif, tidak terdengar lagi tawa dan kecerewetannya.... Maafin tante, sayang.... maafin tante.... kataku dalam hati.


Aku masih mengamati Nia, aku melihat Nia tampak gelisah dalam tidurnya, tak lama kemudian dia menyebut namaku sambil terisak, "Tante mommy... Hiks... Tante mommy... Hiks... "


"Sshhss sayang.... Tante di sini.... sshhss... tenang, ya.... ". Aku berusaha menenangkan Nia. Beberapa saat kemudian Nia kembali tenang. Kuelus-elus tangan Nia. Badannya masih terasa panas saat kusentuh.


"Sejak kapan Nia demam, bik? ", tanyaku


"Dari pagi, non mommy. Setelah bangun tidur, non Nia memang sudah demam, non mommy. Sudah bibik minumkan obat penurun panas juga tapi panasnya nggak berkurang sampai siang tadi. Malah sejak sore tadi suhu panasnya naik lagi dan mulai menggigil juga mengigau, manggil-manggil non mommy terus. Bibik sampai takut, non mommy. Bibik langsung telpon tuan daddy. Karena non Nia manggil non mommy terus, bibik akhirnya nelpon non mommy juga. Maaf ya, non mommy, bibik ganggu", cerita bibik.


"Iya, bik. Nggak apa kok bibik nelpon saya, nggak ganngu".


"Bibik ada nelpon omanya Nia? ", tanyaku.


"Iya, non mommy. Tadi bibik juga telpon Nyonya. Katanya nyonya usahakan datang malam ini".


"Nia sakit gini apa tadi bisa makan, bik? "


"Tadi pagi masi makan meski cuma sedikit


Siang juga makan tapi cuma tiga sendok, sudah nggak mau makan lagi.Setelah itu nggak makan lagi sampai sekarang ini, non mommy", jelas bibik.


"Non mommy akhir-akhir ini banyak kerjaan di luar kantor, ya? " tanya bibik padaku


"Iya, bik", jawabku dengan tidak enak hati karena aku membohongi bibik.


" Non Nia itu seperti biasa non, tiap pulang sekolah, selalu minta main ke Mini Cafe tapi sudah sepuluh harian ini tiap main kesana nggak pernah ketemu non mommy. Non Nia selalu kecewa dan sedih tiap pulang dari cafe, kadang malah nangis. Tiap ke sana dan nggak ketemu non, non Nia selalu duduk diam menunggu. Akhir-akhir ini non Nia jadi pendiam, nggak cerewet dan banyak bicara seperti biasanya. Sekarang jadi sering melamun. Non Nia juga suka ngomong sama saya kalo dia anak nakal makanya non mommy nggak mau main sama non Nia lagi".


Ada yang terasa sakit di dalam dadaku mendengar penuturan bibik. Kembali kupandangi wajah Nia, rasa bersalahku pada Nia semakin besar. Rupanya sikap egoisku terlalu berlebihan, hingga aku tega melukai hati seorang anak kecil, yang tak bersalah ini, aku bahkan membuatnya jatuh sakit sampai opname. Ampuni aku, Tuhan....


Tuhan kumohon campur tanganMu untuk kesembuhan Nia. Jamahlah Nia, pulihkanlah kesehatannya, agar dia bisa segera bangun dan sadar. Amin. Aku mau berusaha memaafkan Putri, aku mau membuang rasa benci ini. Aku tidak akan melampiaskan sakit hatiku pada Nia lagi. Aku menyayangi Nia. Aku merasakan sakit melihat keadaan Nia yang seperti ini.


Nia kembali gelisah dan mengigau lagi.. "Tante mommy... Tante mommy..."


"Ya, sayang... Tante di sini, tante temeni Nia, ya... " Aku jawab panggilan Nia. Tangan kananku menggenggam tangan Nia, tangan kiriku mengelus kepala Nia.


"Nia denger tante, ya.... Tante sayang banget sama Nia. Nia harus sembuh, ya.... Nanti kalau Nia sembuh, kita main lagi, ya"


Pelan-pelan Nia kembali tenang.


"Non Nia ini sayang banget sama non mommy. Karena lama nggak ketemu non mommy, kayaknya non Nia kangen, non. Saking kangennya non Nia akhirnya sampai sakit.", jelas bibik.


"Ceklek", terdengar suara pintu dibuka, masuklah seorang dokter yang masih muda, wajahnya tampan dan tampak simpatik. Lumayan seger sih kalo jaga di rumah sakit, tetus dokter yang visit seperti ini.... Hehehe....


"Vania ? Apa kamu Vania?", tanya dokter itu.


"Iya. Maaf, dokter siapa ya ?", tanyaku sambil berusaha mengingat-ingat.


"Aku Hans, Vania. Aku temen sma nya Rico", dokter itu mengingatkan aku.


"Oh....dokter Hans ini dulu temen sekelasnya Rico....iya-iya, aku baru inget. Sori, dok "


"Nggak apa-apa, kan sudah sekian tahun berlalu, wajar kalau kamu lupa. Ngomong-ngomong jangan panggil aku dokter, Van. Kita kan temen, panggil nama aja seperti dulu", kata dokter Hans.


"Nggak ah! Nggak sopan! Kalo dulu kan memang belum apa-apa jadi ya nggak apa dipanggil nama, kalau sekarang kan sudah jadi pak dokter. Kalau nggak jam kunjungan pasien boleh panggil nama", kataku.


"Kamu ini ada-ada aja,! "


"Ini yang sakit si... ", dokter Hans belum selesai bertanya saat pintu kembali terbuka.


Kutoleh ke arah pintu, tampak Gio melangkah masuk dengan membawa kantong plastik berisi obat. Gio meletakkan obat di atas meja.


Gio mengangguk sambil tersenyum pada dokter Hans, begitu pun sebaliknya.


"Jadi yang sakit ini siapa, Van? " tanya dokter Hans padaku.


Mendengar itu, aku melihat kening Gio sedikit berkerenyit, dan menatapku dengan pandangan meminta penjelasan.


Aku langsung memperkenalkan keduanya. "Ini Dokter Hans, dr ini kakak kelas aku waktu sma. Ini Gio, daddy nya Nia"


Mereka berdua saling berjabat tangan. Lalu dokter Hans mulai memeriksa Nia.


"Hiks... Tante mommy.... Tante mommy... Hiks... ", terdengar suara Nia mengigau.


Kudekati Nia, kugenggam tangannya dan kutepuk-tepuk bahunya. "Sshhss.... Jangan nangis...! Tante di sini, sayang..."


Kali ini aku bisa merasakan Nia balas meggenggam tanganku. Tak lama kemudian Nia kembali tidur.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?", tanya Gio.


"Tenggorokannya merah karena radang. Kalau demamnya selain akibat radamg juga karena kepikirin. Sepertinya anak ini merindukan tante mommy nya", jelas dr Hans.


"Iya, dokter. Non Nia dari sore tadi manggil-manggil tante mommy terus", bibik ikutan nyeletuk.


"Kalau bisa bapak ajak tante mommy nya ke sini. Meski anak bapak dalam keadaan tidak sadar, tapi dia bisa mendengar. Jadi kalau tante mommy nya datang dan mengajak dia komunikasi, itu akan sangat membantu pemulihan kesehatannya", jelas dr Hans lagi.


"Dokter, Nia ini sekarang apa dalam keadaan pingsan? ", tanyaku. Aku sengaja bertanya untuk menghindari pembicaraan tentang tante mommy.


"Iya, saat ini memang pingsan, tapi sepertinya nggak lama lagi sadar, kok. Ini demamnya juga sudah mulai turun", kata dr Hans.


"Bapak tadi sudah membeli obatnya? " tanya dr Hans.

__ADS_1


"Sudah, dok. Ini... ", jawab Gio sambil menunjjukkan seplastik obat yang tadi dibelinya .


Setelah memeriksa obat itu, dr Hans berkata, "Obat ini serahkan saja pada suster, pak. Nanti suster yang akan mengatur jadwalnya anak bapak minum obat".


Gio sudah akan melangkah, tapi bibik mengambil alih. "Biar bibik saja yang nganter ke suster, tuan".


"Jangan lupa bilang dari kamar A-2, pasien atas nama Giovania, bik", Gio mengingatkan bibik.


"Ya, tuan", jawab bibik.


"Baiklah, tugas saya telah selesai, saya pamit dulu, ya... "


"Makasih dr", sahut Gio.


"Sama-sama", jawab dr Hans.


Aku antar dr Hans sampai depan pintu. Bukannya langsung jalan, tapi dr Hans malah ngajak ngobrol."


"Van, baru-baru ini Rico ngedeketi kamu lagi, ya ? tapi kamu tolak, iya kan?"


"Kok kamu tau? Apa dia cerita sama kamu? " tanyaku.


"Iya. Bahkan dia menunjukkan foto kamu ke aku. Makanya tadi begitu ketemu kamu, aku langsung inget"


"Foto aku? Dapet dari mana? " tanyaku bingung.


"Halah, Van... Palingan kamu di foto pakai ponsel dia jadi kamu nggak ngerasa", sahut Frans enteng.


"Kasihan Rico, Van. Gara-gara kamu tolak, dia terpaksa setuju nikah dengan gadis pilihan orang tuanya", tutur dr Hans.


"Habis mau gimana lagi, Hans? Aku nggak ada rasa sama dia, masak mau dipaksakan? Nanti ujung-ujungnya malah kita berdua saling menyakiti", jelasku.


"Iya juga sih. Ya udah Van, aku jalan dulu, ya.... Bye... "


"Thank you Hans, bye... ".


Setelah itu aku kembali masuk ke kamar Nia. Aku lihat Gio sedang duduk di kursi, di samping tempat tidur Nia. Gio mengelus - elus kepala Nia dengan sayang.


Mumpung kita hanya berdua aku sempatkan untuk bertanya pada Gio, dua pertanyaan yang selama ini berputar di otakku.


"Gio.... ", panggilku


Gio menoleh ke arahku, "Ada apa? "


"Aku mau tanya"


"Tanya apa? "


"Suatu hari nanti, bila saatnya tiba, aku akan memberi jawabannya meskipun kamu tidak bertanya"


"Aku boleh tanya lagi? "


"Silahkan"


"Kenapa kamu membohongi Nia tentang ibunya? "


"Maaf, Van.. dua pertanyaan kamu ini tidak bisa aku jawab sekarang. Tapi suatu hari nanti akan aku jawab secara bersamaan", jawab Gio.


Aku masih ingin mendebat, karena aku tidak puas dengan jawaban Gio, tapi terdengar suara pintu yang dibuka, bibik yang masuk.... terpaksa aku diam dan tidak bertanya lagi.


"Tuan daddy sama non mommy silahkan makan dulu, ini sudah malam. Non Nia biar saya yang jaga", kata bibik.


"Saya panggil makanan via online aja, bik. Bibik sama pak Min suka nasi padang? " tanya Gio.


"Kita apa aja suka, tuan", jawab bibik.


"Ikannya apa? Rendang? Sama apa? ", tanya Gio lagi.


"Kita ngikut aja, tuan", jawab bibik lagi.


"Ok, bik. Kamu lauknya seperti biasa ya, Van?! " tanya Gio


"Aku nggak usah. Ini sudah malam, aku nggak mau makan", sahutku.


"Badan kurus gitu masih pake acara diet segala... ", gumam Gio


"He... Aku denger, ya...! "


Gio hanya tersenyum, tidak menanggapi omonganku.


"Tante mommy...Tante mommy..."


Mendengar suara Nia, aku segera berlari ke samping tempat tidur Nia. Kugenggam tangannya.."Apa sayang? Tante di sini", jawabku.


Aku, Gio dan bibik berdiri di samping tempat tidur semua. Pelan-pelan Nia membuka matanya....Diamatinya kami satu persatu. Saat matanya menatapku....Nia langsung mengulurkan tangannya minta dipeluk, dia berusaha untuk duduk. Nia memanggilku sambil menangis, "Tante mommy...hiks hiks..Nia kangen sama tante mommy ...hiks hiks. ."


Kupeluk Nia erat, kucium pipi dan keningnya. Terimakasih, Tuhan sudah kau sadarkan teman kecilku...


"Nia sayang tante mommy, Nia janji nggak nakal lagi, Nia akan nurut sama tante momny tapi tante mommy jangan tinggalin Nia lagi', Nia menangis tersedu-sedu.


"Sshhss.... Sudah sayang! Tante juga sayang sama Nia. Sudah...! Tante nggak pergi, tante ada di sini. Sshhss.... Jangan nangis lagi, ya! Kalau Nia nggak nangis lagi, malam ini tante akan temani Nia tidur"


"Nia mau bobok dipeluk tante momny", pinta Nia.

__ADS_1


"Iya, nanti tante peluk Nia bobok Sekarang Nia harus makan dulu, ya.... ", bujukku.


"Disuapin tante mommy", rengek Nia


"Iya, ayo Nia makan dulu bubur ayam ini, ya.." Aku mulai menyuapi Nia sesendok demi sesendok, tanpa terasa habislah bubur sepiring itu.


"Nia pinter banget, ya.... Makannya sudah habis. Sekarang Nia minum obat dulu, ya... biar cepat sembuh", kataku sambil menberikan tiga macam obat pada Nia.


"Nia sudah pinter ya, tante mommy... makannya sudah habis, Nia juga sudah minum obat... tante mommy sudah nggak marah sama Nia lagi ?"


"Nggak, sayang....tante nggak marah kok sama Nia", elakku.


"Tante mommy harus janji ya....tante mommy nggak boleh ninggalin Nia lagi...ayo janji kelingking". Nia mengulurkan kelingkingnya dan segera kutautkan kelingkingku pada kelingking Nia.


"Iya, tante janji", kataku.


"Daddy... Besok Nia mau pulang ke rumah sama tante mommy"


"Loh? Maksudnya apa? "


"Mulai besok tante momny tinggal di rumah Nia, supaya tante mommy nggak ninggalin Nia", jawab Nia.


"Nia sayang.... Nggak bisa gitu, dong! Ini tante, sayang. Tante... bukan momny Nia, jadi tante nggak bisa tinggal di rumah Nia" Aku berusaha memberi penjelasan pada Nia.


"Kalo gitu tante mommy mulai besok jadi mommy Nia aja. Boleh kan dad? "


Kalian mau tau apa jawaban Gio ??


"Boleh aja, asal tante mommy nya mau" Gio menjawab dengan entengnya sambil tersenyum menatapku.


"Gio!! ". Aku menatap Gio dengan mata melotot, tanpa sadar kucubit pinggang Gio yang berdiri di sebelahku.


"Auw... Sakit Van... ", jerit Gio, dielus-elusnya pinggangnya.


"Makanya kalau mau ngomong itu dipikir dulu ! " kataku.


Posisiku sekarang duduk dan menyandar di kepala ranjang Nia, sedangkan Nia menyandar di dadaku.


Kuusap kepala Nia. "Nia, kalau dari rumah sakit pulang ke rumah Nia, tante mau nemeni Nia. Tapi tante nggak mau tinggal di rumah Nia.", kataku tegas.


"Nia takut tante mommy nggak mau ketenu Nia lagi", rengek Nis.


"Tante kan sudah janji..., Nia nggak percaya sama tante? Tante sedih, nih... " Aku memasang wajah sedih.


"Percaya. Nia percaya sama tante mommy " , jawab Nia cepat dambil memelukku erat


"Kalau gitu Nia harus mau denger omongan tante, ya....?! "


"Ya, tante mommy" sahut Nia.


"Daddy pergi aja, ah.... kayaknya Nia sudah nggak sayang sama daddy lagj. Dari tadi yang dipeluk dan dicium cuma tante mommy doang... " Gio padang muka sedih dan kecewa.


Mendengar itu Nia segera menghambur ke pelukan Gio. Diciuminya wajah Gio berkali-kali. "Nia sayaaang sama daddy. Nia nggak mau daddy pergi", kata Nia sambil memeluk Gio erat.


"Malam ini Nia mau bobok sama daddy dan tante mommy"


"Hah??? Nggak! Nggak bisa! Nggak boleh! ", teriakku kelabakan.


Kulihat Gio malah tertawa.


"Boleh! Pokoknya Nia mau bobok sama daddy dan tante mommy. Tante mommy sama Nia bobok di ranjang Nia, daddy di ranjang itu, tapi tempat tidurnya dijejerin jadi satu", bantah Nia.


"Tadi Nia bilang apa? Nia tadi kan bilang mau nurut sama tante? Bener nggak? kok sekarang Nia nggak nurut? "


"Soalnya Nia pengen seperti temen-temen Nia, bisa bobok bareng sama mommy daddy-nya". Kuluhat ada mendung di tatapan mata Nia.


Hegh.....karenan rasa bersalahku dan juga karena rasa kasihanku pada Nia, akhirnya kukabulkan keinginan Nia.


Bibik pulamg bersama pak Min, istirahat di rumah. Aku dan Gio yang menemani Nia tidur di rumah sakit malam ini.


Nia dan Gio tidur dengan saling berhadapan, sedangkan aku, menghadap punggung Nia. Aku memeluk Nia dari belakang.


***************


⛅🌻🌺⛅🌻🌺⛅🌻🌺⛅🌻🌺⛅


Hai.... readers


Masih semangat mengikuti cerita RASA ITU ADA? semoga kalian mau membaca cerita ini sampai tamat nanti.


Seperti biasa, author minta dukungan vote, like dan komen dari kalian semua. Ayo dong dukung author, say.....


Buat yang sudah vote, makasih banyak, author tungguin tambahan vote berikutnya. Bagi readers yang belum vote, please dukung karya author dengan vote dong....


Ajakin ketabat dan kenalan kalian untuk ikut baca cerita ini.


Terimakasih untuk atensi kalian


Selamat pagi dan selamat beraktivitas


Salam.... 🙋😘😊😇😄😍🙋


***************

__ADS_1


__ADS_2