
Sudah cukup lama aku tertidur, saat Fitri menggoyang-goyangkan bahuku untuk membangunkan aku.
"Bu, bangun bu ! Bu Vania bangun ! bu..., bu..."
"Apa sih Fit? Bangunin kok berisik sekali.! " aku ngomelin Fitri, saat aku terbangun.
"Itu, bu... di depan ada yang bikin keributan, bu.. Ayo bu, buruan keluar!" lapor Fitri dengan panik
"Iya, iya..." aku pun segera bergegas keluar bersama Fitri.
Baru saja pintu ruang kerjaku dibuka Fitri, lampu padam. Seketika gelap. Aku langsung menggapai - gapai, berusaha mencari Fitri yang barusan bersamaku, tapi Fitri menghilang.
"Fit.. Fitri..! Fitri kamu di mana?" aku pun berteriak, mulai ketakutan.
Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Aku langsung meronta, berusaha melepaskan diri.
"Hei lepasin! Siapa kamu! Lepasin!! " teriakku makin ketakutan.
"Tolong. aku... .! tolong.... ! He, lepasin! Lepasin! ", aku masih berusaha melepaskan diri sambil berteriak.
"Sstt... tenang! Jangan berisik!" terdengar suara bisikan dari orang yang memelukku. Seketika aku terdiam. Suara itu..., bau parfum ini...
"Gio...?? " sebutku
Saat itu juga lampu menyala, beneran Gio yang memelukku.
Terdengar Two K membawakan lagu selamat ulang tahun, yang diikuti oleh semua yang hadir sambil bertepuk tangan... Ruangan cafe sudah dihias cantik. Ada banner kecil yang digantung bertuliskan "Happy birthday Vania"
Semua orang terdekatku ada di sini. Mulai dari Gio, papi, mami, kak Rey dan kak Diana, mama papa Gio, Nia, Gita dan Sean, bahkan sahabatku dari Jogja, Siska dan Fani plus kak Bram pun hadir di sini. Ditambah lagi semua karyawan Mini Cafe.
Rasa nggak enak yang mengganjal dari pagi langsung menguap, berubah jadi rasa senang dan terharu yang membuat mataku berkaca-kaca.
"Happy birthday, love.. Best wishes for you. Sori kalo seharian ini sudah bikin kamu sedih...," Gio memberi selamat padaku, lalu mengecup bibirku.
Sontak terdengar suara teriakan dan tepuk tangan riuh...
"Hooiii.... banyak orang di sini hooii... !!" teriak kak Rey yang disambut tawa semua yang hadir.
"Mending di depan orang seperti ini bro, kalo nggak ada orang gua nyosor, malah bahaya..", sahut Gio sambil tertawa, dibarengi juga sama semua yang ada di sini.
Aku tersipu malu. Aku cubit pinggang Gio, soalnya gara-gara dia aku jadi diketawain. Gio malah tertawa ngeliat aku yang salah tingkah.
"Nggak usah malu! Kan kamu tunangan aku", bisik Gio sambil memeluk pinggangku.
Gita menghampiri kami dengan kue ulang tahun di tangannya.
"Ayo kakak ipar, sebelum tiup lilin make a wish dulu," kata Gita.
Aku pun segera menutup mata. Yang aku minta aku bisa selalu bersama dan bahagia dengan orang-orang yang aku sayangi ini. Amin. Kutiup lilinnya, mereka bertepuk tangan untukku.
Gita memberiku selamat lengkap dengan peluk ciumnya juga.
"Happy birthday my sister in law, wish you always healthy and happy."
"Thank you, Gita... ", sahutku.
Papi dan mami mendekatiku, aku langsung menghambur memeluk mami, mami mencium pipi dan keningku "Selamat ulang tahun sayang., semoga diberi panjang umur dan kamu selalu bahagia."
"Makasih, mi"
Papi memelukku, ditepuk-tepuknya punggungku, papi juga menciumku. "Happy birthday, sayang...semoga apa pun yang kamu harapkan bisa tercapai, selalu semangat, ya..."
"Thank you, pi"
"Kakak ipar, ayo sekarang potong kuenya dulu.... ", ajak Gita
Aku memotong kue dengan didampingi Gio. Aku mengambil 3 potong kue, yang 2 potong masing-masing untuk mami sa papi.
"Thank you,, sayang... ", kata mami dan papi saat menerima kue dari aku.
Sisa sepotong terakhir akan kuberikan pada calon suamiku tercinta.... siapa lagi kalo bukan Gio Alviano Bramasta.
Aku sudah berdiri di hadapan Gio, mata kami saling tatap dan senyum menghiasi bibir kami. Aku potong kecil kue itu dengan sendok dan aku suapkan pada Gio.
"Thank you, love", kata Gio sambil mencium pipiku yang disambut tepuk tangan lagi.
Nia mendekatiku, dia memeluk aku erat, diciumnya pipi dan keningku. "Happy birthday mommy..., Nia sayaaaanngg sama mommy". Aku pun membalas pelukan Nia.
"Makasih sayang... Mommy juga sayaaanng sama Nia", kataku sambil tersenyum. Nia pun tampak tersenyum senang.
"Selamat ulang tahun, calon mantu mama....mama doakan semua yang terbaik buat kamu, ya.... ", kata mama Gio sambil mencium dan memelukku.
"Selamat ulang tahun, nak semoga panjang umur dan sukses, ya... " papa Gio pun memberiku ucapan selamat.
Giliran Fani dan Siska, mereka memeluk dan menciumku juga. "Hapyy birthday, adek kecil... Semoga selalu sehat, panjang umur, berkat melimpah, dan always happy....."
"Thank you my best friends untuk doanya, dan thank you juga kalian sudah bela-belain dateng,. Ngomong-ngomong siapa yang ngundang kalian?" tanyaku.
"Siapa lagi kalo bukan calon suami kamu. Dia infonya baru kemaren sore, jadi kita pagi tadi buru-buru berangkat", sahut Siska sambil melirik Gio, yang dilirik cuma tersenyum aja.
Kulihat kak Rey dan kak Diana mendekati kami.
"Selamat ulang tahun, sayangku," kata kak Rey sambil memeluk dan mencium pipiku.
"Makasih, kakak ganteng... ", sahutku.
"Happy birthday Van..... Wishing you all the best", ucap kak Diana.
"Thank you", sahutku.
Saat aku melihat ada Siska dan kak Diana di dekatku, aku langsung teringat sama kak Jasson...
__ADS_1
"Sis, Fan, ayo kenalin ini kakak aku dan kakak iparku!! Yang ganteng ini kak Rey, nah yang di sebelah kak Rey ini, tunangannya, namanya kak Diana."
Mereka berempat berkenalan, berjabatan tangan. Isengku kumat.
"Siska... Just info ya... kak Diana ini adiknya kak Jasson," kataku sambil senyum iseng.
"Asal kak Diana tau aja, Siska ini sering contact sama kak Jasson. Mereka lagi pdkt, nantinya kalo mereka jodoh, kak Diana akan jadi adik iparnya Siska.....", jelasku.
"Apaan sih kamu kecil!!" Siska kesel, pipinya memerah. Siska mencubit lenganku.
"Auw... Sakit, Siska! " teriakku.
"Makanya jangan asal nyeplos!! Bikin aku salah tingkah aja!" kata Siska setengah berbisik.
Kak Diana, kak Rey, Fani dan Gio justru tertawa bersamaku, cuma Siska aja yang cemberut.
"Kok Siska bisa kenal sama Jasson? Sejak kapan Siska kenal sama Jasson, love? " tanya Gio sambil berbisik di telingaku
"Aku yang ngenalin mereka, seminggu yang lalu", aku pun menjawab dengan bisikan.. Gio cuma manggut-manggut.
"Nggak usah malu, Sis. Yang diomongin Vania kan bener. Aku dukung kalian. Aku juga berharap kalian berjodoh", kata kak Diana sambil menepuk pundak Siska.
"Cie cie... sudah dapat restu dari adik ipar nih ye..... ", ledekku
Wajah Siska makin merah, meski tersembul senyum malu-malu di bibirnya. Pemandangan ini bikin kita ketawa.
"Kak Diana, bilangin sama kak Jasson, Siska lagi di Surabaya, tapi besok sudah balik Jogja lagi. Suruh kak Jasson manfaatin waktu, jangan lelet kalo nggak mau missed", kataku.
"Iya, bener kamu, Van. Sekarang juga kakak telpon kak Jasson. Nggak apa kan kalo kak Jasson ikut datang ke sini?" kak Diana meminta ijinku.
"Jelas nggak apa-apalah, kak. Kak Jasson kan juga kakak Vania, sama seperti kak Rey dan kak Diana," jawabku.
"Fan, ada yang hatinya ser-seran tuh.... seneng tapi malu-malu...", aku mengajak Fani berkomplot ngeledek Siska.
"Iya, orang yang biasanya paling cablak, sekarang mendadak jadi kalem," tambah Fani.
Si Siska pipinya makin merah, dia makin tersipu, menbuat kami pun makin iseng godain Siska.
"Si Gio nggak cemburu, dek?" bisik kak Rey di telingaku.
"Nggak akan, selama aku nempel sama dia dan nggak deket-deket sama kak Jasson," jawabku sambil nyengir. Kak Rey langsung menjentik dahiku.
Semua yang hadir memberiku selamat, memberiku ciuman dan pelukan hangat. Aku sangat senang dan bahagia, berada di tengah-tengah orang yang aku sayangi.
Semua karyawan Mini Cafe yang hadir di acara ini, mereka bergiliran menyalamiku dan mengucapkan selamat padaku.
"Bu, maaf kalo kami baru sekarang kasih selamatnya. Kami nggak pernah lupa hari ulang tahun ibu, tapi kami disuruh pura-pura lupa karena kekasih ibu mau memberi kejutan", Rina memberi penjelasan padaku.
"Nggak apa, Rin. Makasih, ya... "
Bukan hadiah dan ucapan selamatnya yang aku harapkan, tapi perhatian dan kasih sayang mereka yang aku inginkan.
"Selamat malam semuanya, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menghadiri acara surprise party tunangan saya, Vania Putri Rajasa. Silakan dinikmati hidangan yang telah kami sediakan." kata Gio.
"Malam ini saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk tunangan saya, judulnya Cinta Terbaik"
**Jujur saja 'ku 'tak mampu
Hilangkan wajahmu di hatiku
Meski malam mengganggu
Hilangkan senyummu di mataku
'Ku sadari aku cinta padamu
**Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski 'ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
**Jujur saja 'ku 'tak mampu
'Tuk pergi menjauh darimu
Meski hatiku ragu (uh...)
Kau 'tak di sampingku setiap waktu
'Ku sadari aku cinta padamu
**Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski 'ku bukan bintang di langit
Tapi cintaku yang terbaik
Gio menyanyi sambil menatapku dalam dengan senyum memghias bibirnya. Kata-kata lagu itu tampak sederhana, tapi dalam maknanya.
Memang Gio bukan orang yang pertama mengisi hatiku, tapi cinta Gio yang terbaik untukku.
Saat menyanyikan reff yang terakhir, Gio turun dari stage menghampiriku, menggenggam tanganku, ditaruh didadanya. Hatiku beneran tersentuh, mataku berkaca-kaca meski bibirku tersenyum. Kamu berhasil memporak porandakan hatiku, sayang....
Saat Gio selesai nyanyi, Gio memelukku erat dan aku pun membalas pelukannya. Suara tepuk tangan begitu ramainya...
Gio berbisik di telingaku, " I love you more and more, my lovely."
__ADS_1
"I love you too", aku balas berbisik.
"Ambil makanan, yuk... ", ajak Gio.
Gio menggandengku menuju meja tempat hidangan disediakan.
"Sepiring berdua aja, love...", kata Gio saat melihat aku mengambil dua piring.
"Iih... apaan sih, yang!! Malu tau diliatin orang banyak", aku menolak keinginan Gio.
"Ayolah, yang... Kan kita makannya gantian, bukan suap-suapan, jadi buat apa malu?" debat Gio.
"Ya sudahlah... Aku turuti mau kamu, " kataku sambil mulai mengambil makanan.
"Gitu dong.... Sekali-kali bikin tunangannya seneng ! Kalau kamu bikin calon suami kamu seneng, kamu akan dapat pahala lo, yang....", kata Gio sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Gio.
"Mau makan apa?" tanyaku pada Gio
"Kamu aja yang pilih, love. Aku ikut kamu aja, " sahut Gio.
Setelah mengambil sepiring makanan, aku dan Gio duduk di pojok, tempat duduk untuk berdua. Kami pun makan bersama, bergantian.
"Aku ambil minum dulu ya, yang... ", pamit Gio.
"Ya, " jawabku.
Gio kembali dengan membawa segelas orange juice dan segelas lemon tea.
"Kamu mau yang mana, Yang?" tanya Gio.
"Sembarang aja ! Dua-duanya aku suka, kok" sahutku.
"Kalo gitu dua-duanya kita share aja, ya... ",. Gio memutuskan
"Dengan minum bersama dari bibir gelas yang sama itu artinya secara nggak langsung bibir kita berciuman lo, yang....", kata, Gio sambil nyengir.
"Ngaco kamu ah! " sahutku.
Selesai kami makan, kak Jasson bersama kak Rey menghampiri kami.
"Happy birthday, Van wish you all the best, ya....". Kak Jasson memberi selamat padaku.
"Thank you, kak.. ", sahutku.
"Halo... ", kak Jasson menyapa dan menyalani Gio juga.
Gio mengangguk sambil tersenyum pada kak Jasson. "Ayo silahkan makan dulu.... ", Gio mempersilahkan.
"Sayang, aku mau samperi Siska sama, Fabi, kanu ikutan nggak?" aku panit sekaligus nanya pada Gio.
"Kamu sendiri aja, aku mau samperi keluargaku." sahut Gio.
"Ok, aku duluan ya... " Baru juga berjalan satu langkah, Gio memanggilku.
"Ada apa? " tanyaku bingung.
"Jangan deket-deket sama Jasson. Aku nggak suka," bisik Gio dengan sura yang ditekan.
"Ita, sayang....aku cuma mau deketun Siska sama kak Jasdkn. Aku pengen mereka jadian", kataku.
"Inget pesenku, ya.... ", Gio kemvali mengingatkan aku.
Aku segera menghampiri Siska yabg asyik ngobrol dengan Fani dan kak Bram.
"Sis, kak Jasdkn sudah datang. Apa kamu sudah ketemu kak Jasson? " tanyaku.
"Belum"
"Lo kok belum sih?! Kalian sudah makan belum?" tanyaku
"Belun, Van"
"Nunggu apa?? Ayo buruan ambil makanan!! Terutama kanu, Sis....buruan! Tuh liat ada kak Jasson di sana. Ayo cepetan ke sana bareng sama Fani dan kak Bram, biar nggak kentara," kataku pada Siska.
"Fan, kak Bram, ayo buruan temeni Siska menjemput jodoh.... ," kataku sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku.
"Oke... ayo aku temeni, supaya kamu cepet jadian sama Jasson dan nggak jones.lagi," Fabi ikutan ngeledek.
Mereka bertiga berjalan menuju meja tempat hidangan, aku mengikuti dari belakang.
"Kak Jassin... kok ambil makan sendiri, sih?. Bih ada Suska, ajakin bareng dong.... ", kataku.
Kebetulan ada kak Rey dan kak Diana yang bersama kak Jasson.
" Iya, kak Jasson ini gimana, sih?" Kak Diaba ikutan ngomelin kak Jasson.
Kak Jasson dan Siska tampak malu-malu.
"Kak Jasson, kenalin ini sahavat aku dan sahabatnya Siska juga, nananya Fani, yang di sebelahnya itu suaninya, kak Bram". Aku memperkenalkan Fani dan kak Bram pada kak Jasson.
Aku mendekati kak Rey, kutarik tangannya sedikit menjauh dari kak Jasson.
"Kak Rey, aturin supaya kak Jasson sama Siska bisa makan bareng satu meja", kataku.
"Siyaap, dek.." sahut kak Rey.
"Usahakan juga besok pagi kak Jasson sama Siska bisa sarapan bareng di luar, kak. Kalo kak Jasson masih sungkan, barengin kak Rey sama kak Diana, ya... Soalnya kalo senakin sering mereka barengan, kemungkinan untuk jadian makin besar". Aku berkomplot dengan kak Rey untuk mendekatkan kak Jasson dan Siska.
*************************
__ADS_1