
Acara perayaan ultah perusahaan Gio yang ketiga ini tambah seru saat masuk sesi kedua, yaitu games. Dalam permainan ini dilakukan berkelompok, satu kelompok dua orang. Ada ketentuannya, harus satu kelompok dengan pasangan masing-masing, bagi yang belum punya pasangan, bebas memilih pasangannya.
Ada seorang anak kecil cowok, cuma dia yang belum punya pasangan. Dia mencari-cari pasangan tapi nggak ada. Sepertinya cowok kecil itu anak dari karyawan Gio. Akhirnya cowok kecil itu melihat Nia. Dia berjalan dengan mantap menghampiri Nia dan mengajak Nia untuk berkelompok dengannya. Nia nya mau menjadi pasangan cowok kecil itu untuk main game.
Gio dan keluarganya mengijinkan Nia mendampingi cowok kecil anak dari karyawan Gio itu.
Saat cowok kecil itu menggandeng Nia, kedua orang tua cowok kecil itu segera maju ke meja Gio dan keluarganya
"Pak Gio, saya minta maaf atas kelancangan anak saya", kata ibu anak cowok itu.
"Maafkan kami, pak", kata ayah anak cowok itu menambahkan
"Memangnya kalian salah apa? Kenapa minta maaf?" tanya Gio.
"Anak saya sudah lancang mengajak anak bapak untuk menemaninya main game", kata sang ibu.
"Nggak apa, bu. Biarkan saja! Anak saya juga senang bisa ikut main. Sudah ibu dan bapak santai saja.", kata Gio.
"Syukurlah kalau bapak mengijinkan. Terimakasih, pak", sahut ayah dan ibu cowok kecil itu.
Permainan pertama dimulai, banyak orang yang tertawa menyaksikan tingkah lucu Nia dan cowok kecil yang bernama Daniel itu dalam bermain. Mereka berdua adalah pasangan terkecil. Nia empat tahun, Daniel enam tahun. Aku tahu mereka nggak akan menang melawan pasangan yang lain, tapi semangat dan kelucuan mereka sangat menarik perhatian dan juga sangat menghibur.
Melihat itu aku berinisiatif memberi apresiasi pada Nia dan Daniel, aku mau membeli hadiah di toko sebelah untuk mereka. Biar mereka seneng.
Diam-diam aku menyelinap pergi. Kebetulan di sebelah cafe ini ada toko alat tulis. Awalnya aku kepikiran untuk beli dua aja, tapi aku ingat, selain Daniel dan Nia ada tiga pasangan kecil lain, meskipun usianya lebih besar dari Daniel dan Nia. Akhirnya aku membeli delapan paket alat tulis lengkap beserta buku, kotak pensil dan tas sekolah. Kusuruh mereka membungkus dengan plastik bening, diberi pita, biar lucu kayak kado ultah
Aku sudah membayar semuanya. Aku minta tolong pada mereka, untuk mengantar ke Mini Cafe, setelah mereka selesai membungkus.
Aku segera kembali ke cafe, baru juga masuk, sudah di hadang Gio.
"Dari mana? Tiba-tiba ngilang tanpa pamit !" omel Gio.
"Sori, aku buru-buru ke sebelah beli kado buat anak-anak kecil yang datang. Mereka kan kemungkinan menangnya kecil., jadi supaya mereka tetap senang meskipun kalah, maka aku beliin hadiah", jelasku.
"Bilang dulu kan bisa! " kata Gio.
"Iya, aku pikir kan nggak lama, jadi aku langsung jalan aja" jawabku.
"Terus hadiahnya mana ?" tanya Goo
"Masih dibungkus, nanti setelah selesai diantar ke sini", jawabku.
"Habis berapa?" tanya Gio lagi.
"Sudah aku bayar, kok", sahutku
"Iya, kamunya bayar berapa?" tanya Gio lagi
"Apaan sih ? cerewet amat ! nanya melulu !! " kataku sambil melangkah pergi meninggalkan Gio.
"Sayang..., biar aku ganti, aku nggak enak sama kamu. Aku yang harus bayar, ini kan untuk keluarga karyawanku" kata Gio sambil menyusul langkahku.
"Mau itung-itungan, ya? Oke, kamu boleh ganti uang untuk beli hadiah ini, tapi setelah ini kalau kita pergi, apa pun yang aku beli untuk keperluanku, aku akan bayar sendiri", ancamku.
Mendengar itu Gio tidak lagi meneruskan niatnya untuk mengganti uangku. Kesel aku!! Selama ini apapun yang aku beli saat bersama dia, selalu dibayarin, sekarang giliran aku yang bayar barang kecil seperti ini aja sudah ribut mau ngeganti...!! Dasar Gio!! Nyebelin!!
"Ya sudah aku terima kamu yang bayarin kali ini. Makasih ya, sayang... sudah peduli sama acara aku". Akhirnya Gio nyerah juga.
Aku juga berpesan pada Fitri dan Rina yang berada tak jauh dariku. "Fit, Rin, kalau ada yang ngirim delapan bungkus kado dari toko sebelah, tolong diterima, ya ! Tolong juga langsung di bawa ke depan.."
"Baik, bu", jawab keduanya.
Setelah itu aku dan Gio kembali ke depan, melihat acara permainan yang menghibur itu.
Acara permainan telah usai, tiba saatnya pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Seperti dugaanku semula, delapan anak kecil ini tidak ada yang menang.
Setelah semua peserta game yang menang menerima hadiah, terakhir Kenzo memanggil nama delapan peserta kecil itu untuk maju ke depan. Aku ikut senang bisa melihat senyum yang merekah, menghiasi raut wajah mereka yang mendadak menjadi cerah, dan yang pasti terlihat adalah kegembiraan mereka yang luar biasa setelah menerima hadiah kecil itu.
Nia aja senangnya bukan main saat mendapat hadiah..."Ye yeyeye ye.... Nia dapet hadiah! Asyik Nia dapet hadiah!" teriak Nia kesenangan.
"Makasih sayang, kamu sudah bikin hati anak-anak ini senang", bisik Gio.
"Sama-sama", sahutku.
Puji Tuhan, acara ultah GAB ADVERTISING telah usai. Tadi itu acaranya berlangsung dengan lancar dan sukses. Itu artinya kerja dari team Mini Cafe pun sukses.
Karyawan Gio sudah meninggalkan Mini Cafe semua. Sekarang yang masih tinggal selain aku, hanya keluarga Gio dan masih ada Kayla serta Kenzo.
Two K turun dari stage, mereka menghampiri keluarga Gio. Mereka peluk cium dengan senua keluarga Gio.
"Om, tante... Apa kabar? " sapa Kenzo sambil menyalami semua keluarga Gio, diikuti Kayla.
"Baik, Ken", sahut papa
__ADS_1
"Ken, kamu kok nggak pernah main ke rumah ? Mentang-mentang sudah punya pacar, nggak inget gua !", tegur Gita.
"Bukan gitu, kak... Cuma kan aku ini masih kuliah, juga lagi bikin tugas akhir, terus manggung juga di sini, jadinya kayak nggak ada waktu untuk main, kak", jelas Kenzo.
"Alasan....! Buktinya gua sering ngeliat lo berdua lagi jalan... ", tembak Gio.
"Itu lain ceritanya, bro. Quality time dengan pacar itu perlu ! Hehehe..... ", Kenzo tertawa dan membela diri. Membuat yang lain ikutan ketawa.
"By the way, selamat ya bro....semoga usaha lo makin sukses dan makin jaya... " doa Kenzo, Kayla juga mengucapkan selamat pada Gio.
"Thank you", jawab Gio.
Aku mulai bingung, kok Kenzo keliatannya akrab banget ya sama keluarganya Gio?? Sepertinya mereka kenal sudah lama.
"Eh, perasaan gua belum ngenalin lo ke kak Vania, tapi kok kalian berdua sudah akrab aja? " tanya Kenzo dengan heran saat ngeliat keakraban aku dan Gio di acara ultah GAB ini.
"Mereka nggak kamu kenalin juga sudah kenal. Orang mereka berdua itu sudah kenal sejak enam tahun lalu, saat sama-sama kerja di Jogja", mama menjelaskan, juga menjawab keheranan Kenzo.
"Ya ampun...., padahal waktu itu aku sempet ngotot, maksa kak Vania supaya mau aku kenalin sama kakak", kata Kenzo lagi.
"Jadi Gio ini sepupu yang kamu maksud waktu itu, Ken? Berarti kalian masih saudara, dong?! " tanyaku bingung
"Iya.... Kamu nggak tau nama belakang Kenzo?" tanya Gio padaku.
"Bramasta....ya ampun !! Awalnya aku sempat ngerasa ada sesuatu dengan marga Kenzo, tapi aku buang pemikiran itu. Ternyata kalian memang masih keluarga", sahutku.
"Kenzo ini anak adiknya papanya Gio. Jadi dia itu adik sepupunya Gita dan Gio", jelas mama.
"Iya, adik sepupu yang murtad, nggak pernah lagi jenguk kita... ", Gita ngomel dengan gaya, sewotnya.
"Lo di Surabaya sampai kapan sih? Hari Minggu besok gue nggak manggung, kalo lo belom balik, gue ke rumah lo besok", Gio mencoba membuat janji dengan Gita.
"Gua balik selasa pagi, kok. Oke, gua tunggu besok, ya. Jam berapa lo mau dateng?" tanya Gita.
"Jam enam-an", sahut Gio.
"Beneran ya, Ken... besok tante masakin makanan kesukaan kamu, kerang saos padang sama ikan gurami bakar", mama Gio menegaskan
"Wuih.... Tante paling bisa bikin Kenzo ngiler.... Iya tan, besok Kenzo pasti datang" jawab Kenzo memastikan.
"Gue tunggu lo besok ! Awas kalo sampe nggak dateng! ", ancam Gita.
"Kak Sean, cewek lo garang.... ", lapor Kenzo pada Sean, yang dijawab Sean dengan senyum aja.
Setelah beberapa saat ngobrol-ngobrol, akhirnya Kenzo dan Kayla pamit pulang pada semua yang ada di sana.
"Bye bye Nia.... " ucap Kayla sambil melambaikan tangannya.
"Bye uncle Kenzo..., bye aunty Kayla.... ", jawab Nia
"Gue sebenernya pengen cium anak lo, bro... tapi gue takut dia nangis kayak waktu itu... " kata Kenzo pada Gio.
"Hahaha....trauma, ya. ?!" sahut Gio sambil ketawa.
"Gue cabut bro.... ", pamit Kenzo sambil berjalan meninggalkan cafe bersama Kayla
"Ayo sayang kamu siap-siap gih, ikut aku pulang !", ajak Gio.
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul, aku kan bawa mobil", kataku.
"Nggak apa, yang... kamu bareng aku aja ! Mobil kamu tinggal aja di sini. Nanti aku anter kamu pulang", kata Gio lagi.
"Harus!! ", sahutku dan Gio tersenyum mendengarnya.
Ya kan memang Gio harus nganter aku pulang kan?!! Secara, yang nyuruh aku ninggalin mobil di cafe kan Gio. Jadi so pasti Gio harus tanggung jawab dengan mengantar aku. Bener nggak??!!
Aku masuk ke ruang kerjaku untuk mengambil tas. Saat aku keluar aku melihat Gio membagi amplop untuk para karyawanku.
Rupanya Gio memberi mereka tips setelah empat jam tadi sibuk melayani di acara ultah perusahaan Gio. Semua anak buahku nampak senang dan berterimakasih pada Gio.
Aku menghampiri mereka. Kebetulan ada Ani, Rina dan Fitri di sana, langsung aja aku isengin mereka....
"Ayo.. siapa yang mau foto bareng pg? Ayo sini saya bantu fotoin. Mumpung masih duijinkan selfie gratis... ", ledekku sambil nyengir ke arah mereka bertiga.
"Ih, bu Vania ini...!" sahut Ani malu.
"Nggak, bu..." sahut Rina
"Kita mah sadar diri, bu", jawab Fitri.
Aku tertawa mendengar jawaban mereka. "Mumpung hari ini saya lagi seneng, jadi saya kasih ijin untuk foto bareng, nanti dan seterusnya nggak akan saya kasih ijin lagi", candaku.
"Nggak bu, makasih", jawab mereka tersipu malu.
__ADS_1
Hahaha.....lucu sekali tampang mereka bertiga yang tersipu malu.
"Foto apa sih, yang?" tanya Gio bingung. Dari tadi Gio hanya diam aja mendemgarkan.
"Nggak, bukan apa-apa, kok", sahutku cepat sambil menahan tawa.
"Ya sudah ayo kita jalan sekarang ! yang lain sudah duluan tuh", ajak Gio.
"Untuk semuanya ayo buruan bersihin cafe !! Nanti jam 17.00 kita sudah open untuk umum", perintahku.
"Baik, bu", jawab mereka serempak.
"Selamat bekerja... Semangat, ya..!! Mari saya balik dulu"
"Ya, bu"
Aku dan Gio segera menuju ke tempat parkir. Aku jadinya ikut di mobil Gio.
Di mobil, Gio bertanya padaku tentang kejadian barusan, rupanya dia masih penasaran
"Sayang, kanu tadi ngomongin apa sih sama anak buah kamu?" tanya Gio.
"Omongan yang mana?" aku balik bertanya.
"Itu yang nawarin foto.... ", sahut Gio
"Oh itu.... hahaha.... ", aku nggak menjawab malah ketawa sendiri.
"Kamu ini!! Ditanya malah ketawa... anda sehat?? " ledek Gio.
"Eh... berani ya ngatain aku?!", ancamku.
"Aku kan cuma bercanda, sayang...," sahut Gio.
Aku abaikan omongan Gio. "Mau denger nggak ceritanya? ", tanyaku
"Mau dong!! "
"Jadi gini, sebelum kita ketemu di ulang tahun Nia, kamu sudah sering main ke Mini Csfe, kan? " aku menulai ceritaku.
"Iya, tepatnya sejak dua minggu setelah Kenzo mulai manggung di cafe kamu,"
jawab Gio jujur.
"Ok, kedatangan kamu di cafe menarik perhatian karyawan cewek di cafe, terutama mereka yang single. Bahkan mereka punya sebutan buat kamu", ceritaku.
"Sebutan apa? ", tanya Gio kepo
"Mereka menyebutmu PG \= PELANGGAN GANTENG. Setiap malam itu kamu datang, besoknya pasti anak buahku ribut cerita tentang kamu. Bahkan aku sempet penasaran, pengen tau orang yang mereka puji dan mereka agungkan itu seperti apa. Beberapa kali saat kamu datang, mereka memanggilku untuk melihatmu, tapi aku nggak pernah mau. Aku sama sekali nggak tertarik untuk itu. Pernah anak buahku cerita, saat dia mengantar pesananmu, kamu mengucapkan terimakasih dan tersenyum, mereka langsung senangnya minta ampun. Mereka berangan-angan untuk bisa selfie sama kamu. Makanya tadi aku godain", jelasku dan mengakhiri ceritaku.
"Jadi kamu obral aku untuk foto sama karyawan kamu, yang? kamu nggak cemburu? "
"Kan aku tau mereka nggak akan mau karena mereka pasti sungkan dan malu. Lagi pula aku memberi kesempatan mereka untuk foto sama kamu hanya satu kali tadi itu aja. Aku tadi kan sudah menegaskan kalau nanti ataupun besok-besok sudah nggak aku bolehin lagi kalo mereka mau foto bareng kamu" kataku.
"Kenapa nggak boleh, yang? "
"O jadi kamu masih ngarep untuk foto bareng mereka?", aku bertanya balik.
"Nggaklah!! Aku tuh cuma pengen foto bareng kamu, my lovely lady" sahut Gio sambil mencubit pipiku.
"Gombal!! Rayuan kamu itu nggak mempan untuk aku"
"Siapa juga yang ngerayu? Aku itu nggak pernah ya ngerayu kamu, soalnya apa yang aku katakan itu jujur dari dalam hatiku", jelas Gio.
"Masak siiih..... ", ledekku
"Sudah berani ngeledek, ya..... " kata Gio
Aku tanggapi omongan Gio dengan tawa.
********************************
🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹
Hai hai hai....
Hari ini author up nya agak sorean, semoga sistemnya nggak ada gangguan, jadi episode 86 bisa cepat terbitnya.
Jangan bosen, ya... author ingetin lagi dan lagi, untuk dukung author dengan vote, like maupun komen. Buat pembaca yang sudah vote, author ucapkan banyak terimakasih. Author masih menunggu tambahan vote kalian, supaya ranking RASA ITU ADA nggak merosot. Buat pembaca yang belum parisipasi, ayo dong ikutan vote cerita ini....author tunggu vote kalian....
Terimakasih sudah membaca cerita RASA ITU ADA, ikuti terus kelanjutannya sampai tamat, ya....
Salam..... 💓😄😘😇😍😊💓
__ADS_1
🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹🍧🍹
********************************