RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 69 ULANG TAHUN NIA


__ADS_3

Hari ini aku ke kantor dengan membawa baju ganti soalnya nanti dari kantor aku langsung ke pesta ulang tahun Nia.


Selesai mandi dan berpakaian rapi aku segera bersiap untuk berangkat.


Aku menuju ke ruang keluarga untuk pamit. "Pi, mi Vania berangkat dulu, ya.... ". Aku pamit sambil mencium pipi papi dan mami.


"Ya sayang hati-hati di jalan, ya.... Jangan ngebut! ', jawab mami


'Bye sayang.... Salam papi untuk calon mantu, ya..... ", canda papi.


"Hahaha.... Calon mantu online", sahutku sambil berlalu.


"Kalau online terus putusin aja! Papi mau yang nyata!"


"Iya, pi. Masih Vania pikirin"


"Nggak usah banyak mikir ! Biar bagaimana pun yang nyata itu lebih baik daripada yang hanya berupa imajinasi! Papi harap kamu tidak lagi menjalin hubungan online seperti itu! Jadikan hubungan kalian nyata!". Papi memberi teguran padaku.


"Ya, pi. Vania berangkat, ya..."


"Hati-hati nyetirnya! Bye.... ", jawab papi.


Aku segera masuk ke mobilku. Hegh....kutarik nafas panjang. Aku menjalankan mobil sambil memikirkan omongan papi tadi.


Aku memang nyaman dengan hubungan yang aku jalin dengan Vino. Aku juga merasakan sesuatu yang beda saat membaca pesan Vino. Tapi aku belum yakin dengan perasaanku. Aku juga belum yakin dengan Vino. Bagaimana kalau aku salah pilih? Jujur aku tidak siap untuk terluka lagi.


Tanpa terasa, mobilku sudah sampai di bank. Aku melangkah masuk, menuju ke lantai dua. Aku mengurus depositoku yang sudah jatuh tempo. Setelah urusan di bank beres, aku segera bergegas mengemudi menuju ke cafe, sebab aku ada janji ketemu klien jam 10.00.


Jam 09.40 aku sudah sampai di cafe. Klien belum datang. Aku sempatkan ke toilet dan merapikan diri.


Tepat jam 10.00, klienku tiba. Satu cowok, satu cewek. Yang cowok itu sepertinya seumuran aku, sedangkan yang cewek tampak lebih dewasa.Setelah kami berkenalan, mereka segera mengutarakan maksudnya.


"Bu Vania, kami dari GAB Advertising. Perusahaan kami akan berulang tahun yang ke tiga. Kami berencana mengadakan acaranya di Mini Cafe ini. Acara ini hanya untuk karyawan kantor dan keluarganya, bu", kata cewek yang dewasa itu, namanya bu Julia.


"Rencananya untuk berapa orang, bu? ", tanyaku


"Ini acara interen, hanya untuk karyawan kantor dan keluarganya. Kurang lebih seratus orang".


"Kapasitas cafe kami untuk 130 orang. Seandainya lebih dari itu saya sarankan ke Mini Cafe pusat aja, di sana bisa menampung 280 pengunjung", jelasku.


"Saya rasa yang hadir tidak lebih dari 110 orang, bu. Sudah kami data jumlah karyawan dan keluarganya. Itu pun sudah kami lebihkan 10 , kok".


"Baik, kalau begitu. Acaranya untuk kapan?"


"Hari Sabtu, tanggal 4 bulan depan", info bu Julia


"Hari Sabtu, acaranya malam atau siang hari?", tanyaku mendata.


"Acaranya siang, bu"


"Mulai jam berapa ya? Acaranya berlangsung berapa lama?"


"Acaranya mulai jam 11.00, jam 12.00 makan siang, jam 13.00 game dan lain-lain. Perkiraan kami selesai 15.00, bu".


"Berarti empat jam ya...", aku memastikan.


"Benar, bu".


"Bu Julia, untuk paket menu makanan dan macam serta ukuran kue ulang tahunnya, semua ada di map ini. Bisa dibaca-baca dulu, ibu lihat-lihat mana yang sekiranya cocok.... Sementara ibu memilih, saya tinggal sebentar ya, bu". Aku sengaja pamit sebab aku mau terima telpon, dari tadi ponselku bergetar terus.


"Iya, silahkan", jawab bu Julia.


Aku segera masuk ke ruanganku. Ada panggilan masuk dari nomer tidak dikenal, ada 11 panggilan tidak terjawab. Niat banget nelponnya?! Jangan-jangan penting. Aku berniat menelpon balik, saat ponselku kembali bergetar, segara kugeser ke tombol terima


"Halo"


"Halo tante mommy.... "


"Ya ampun Nia.... Kamu ngapain nelpon tante sampai sebelas kali? Ada apa?", tanyaku panik.


"Nia mau ingetin tante mommy, nanti jangan lupa ke ulang tahun Nia. Nggak boleh telat".


"Aduh Nia....tante sampai panik. Tante kira ada apa... Iya nanti tante dateng, kok. Nia tahu no hp tante dari mana? ", tanyaku


"Bibik kemaren nanya sama mbak Rina".


"Ini Nia nelpon dari rumah? ", tanyaku lagi.


"Iya. Sudah dulu ya, tan. Nia mau makan terus bobok, supaya nanti nggak ngantuk. Bye tante mommy.... I love you". Nia mengakhiri panggilannya.


"Oke, bye Nia.... I love you more", balasku.


Selesai telpon dengan Nia, aku segera kembali menemui klienku.


"Bagaimana, bu Julia? Sudah ada yang cocok? ", tanyaku


"Kami ambil pake A+. Saya bisa minta dibuatkan rincian biaya secara lengkap, bu? Saya harus lapor ke pimpinan, kalau beliau setuju langsung saya transfer uang mukanya".


"Sekarang kan Sabtu, kalau hari Senin proposalnya saya kirim via email boleh?"


"Boleh, bu. Alamat email saya ada di kartu nama yang saya kasih ke ibu tadi", kata bu Julia.


"Baik, bu", jawabku.


"Saya rasa sudah cukup, kami pamit dulu bu Vania"


"Baik, bu. Terimakasih", sahutku.


Lumayan..... Ada yang mau booking cafe. Mudah-mudahan jadi.


Aku segera masuk ke ruang kerjaku. Aku buka laptopku dan mulai bekerja.Ponselku kembali bergetar, ada notif wa.


From Vino 11.58


Hai sayang....


To Vino 11.59


Hai juga


From Vino 11.52


Sudah makan, yang?


To Vino 11.53

__ADS_1


Belum laper


From Vino 11.54


Nggak usah nunggu laper, yang!


Kalau sudah jamnya makan, ya harus makan. Inget kamu punya sakit maag, nggak boleh telat makan


To Vino 11.55


Kamu tau dari mana aku punya sakit maag?


From Vino 11.56


Berapa kali harus aku bilang? Aku sangat mengenalmu. Aku tau apa pun tentangmu, sayang...


To Vino 11.57


Lebay!!


From Vino 11.58


Hahaha...


Sayang, hari ini kamu di cafe sampai malam?


To Vino 11.59


Nggak. Nanti sore aku sudah balik. Kenapa?


From Vino 12.00


Nggak apa, sih... cuma nanya aja. Kan biasanya kamu keseringan sampai malem masih di Cafe. Aku kuatir kalo kamu pulang malam sendirian.


To Vino 12.01


Cie cie.....kuatir sama pacar online-nya....


From Vino 12.02


Meski kamu bilang aku pacar chat, pacar online, tapi aku tetep menganggap kamu pacar aku beneran, yang. Jadi aku kuatir beneran.


To Vino 12.03


Meleleh hatiku....😂😂😂😂


From Vino 12.04


Aku serius, yang 😥


To Vino 12.05


Masak sih...???


From Vino 12.06


Tau ah! Orang aku serius malah dibecandain.


To Vino 12.07


Nggak usah ngambek ! Sori kalo aku salah. Sudah dulu ya chat-nya, aku ada perlu soalnya.


From Vino 12.08


Ok, bye....


Aku segera mengakhiri chat dengan Vino, saat aku keinget kado untuk Nia yang belum dikirim dari toko boneka.


Aku segera telpon ke toko itu, katanya sudah dalam perjalanan, mungkin sepuluh menit lagi sampai, info dari penjualnya.


Bener ! nggak lama kemudian


kado untuk Nia sudah sampai. Sudah dibungkus cantik. Aku tempel di sana kartu ucapan yang sudah aku siapkan. Setelah beres, kadonya langsung aku taruh di mobil.


Sekarang aku ke dapur untuk mengecek kue ulang tahun untuk Nia. Kue nya sudah jadi, sudah dihias cantik. Siap untuk dikirim.


Aku kenbali ke depan, ke cake corner, "Rin, kue ultahnya Nia perhatikan jam kirimnya, ya! Ingatkan yang bawa untuk hati-hati". Aku mengingatkan Rina. Aku nggak mau sampai ada yang missed.


Aku mengambil sepotong cake dan sebotol juice untuk mengisi perut, mengingat aku belum makan siang.


Setelah makananku habis, aku kembali ke ruanganku. Aku mulai membuat perincian biaya untuk GAB ADVERTISING.


Sengaja aku buat hari ini, supaya ada banyak waktu untuk mengecek ulang, untuk menghindari kesalahan.


Baru selesai rincian utk GAB aku buat. Aku diinfo oleh karyawanku ada tiga suplier yang datang dan mau bertemu denganku. Tentu saja aku harus menemui mereka.


Waktu berlalu dengan cepat. Ufh... hari ini acaraku lumayan padat. Nggak terasa sudah jam 16.30.


Aku segera keluar ruangan, mencari Rina. "Gimana, Rin? Kue ultah Nia sudah berangkat?", tanyaku.


"Sudah jalan duapuluh menit yang lalu, bu", jawab Rina.


"Ok.... Makasih, ya", kataku


"Sama-sama, bu", sahut Rina.


Sekarang aku bisa menarik nafas lega. Kerjaanku sudah beres. Aku mau istirahat sebentar.


Setelah cukup istirahat, aku segera mandi. Bersiap untuk ke ulang tahun Nia. Acaranya jam 18.00, sekarang masih 17.00, perjalanan ke tempat acara 30 menit. Aku berangkat dari cafe jam 17.20, perkiraanku sepuluh menit sebelum acara aku sudah sampai ke resto abc.


Ternyata bayanganku tidak sesuai kenyataan, perkiraanku meleset. Jalanan macet. Aku yakin aku bakal telat.


Jam 17.45 ada telpon masuk dari nomer ponsel yang tidak aku kenal. Sengaja nggak aku angkat. Aku biarkan terus sampai panggilan ke lima baru aku angkat.


"Halo... "


"Tante mommy kok belum sampai sih?", terdengar suara kesal Nia.


"Ini tante sudah di perjalanan, kok. Cuma jalannya macet, sayang", jawabku.


"Jangan lama-lama, Nia tungguin, lo! "


"Iya. Nia main dulu aja sama teman-teman Nia, ya.... "


"Temen Nia belum ada yang datang. Nia maunya ada tante mommy waktu teman Nia datang", jawab Nia.

__ADS_1


"Kan bisa ditemeni oma, opa, daddy.... "


"Pokoknya Nia maunya sama tante mommy. Makanya tante mommy cepetan, ya..... ". Nia merajuk.


"Tante usahakan secepatnya, ya.... Nia nggak boleh cemberut, menemui teman Nia yang datang, Nia harus senyum. Kalau tante tau Nia nggak senyum, tante nggak jadi ke ulamg tahun Nia", ancamku.


"Iya, tan... Nia senyum, Kok. Nia nggak cemberut. Tante mommy harus cepet ke sininya, ya.... ".


"Ok.... Bye"


"Bye tante mommy"


Setelah terjebak macet cukup lama, akhirnya aku sampai di resto abc.. Nggak lupa aku bawa kado untuk Nia.


Sebelum ke ruang acara, aku sempatkan ke toilet dulu. Aku merapikan pakaian dan dandananku, aku sisir rambutku. Kulihat di kaca penampilan sederhanaku dengan dress selutut lengan pendek warna navy, kulit putihku nampak lebih terlihat terang. Rambut sebahuku kugerai dengan ujung rambut kubuat beromak.


Setelah kurasa semuanya oke, aku segera menuju ke tempat acaranya. Sepertinya aku tidak terlalu terlambat, masih pukul 18.10.


Begitu aku masuk.....


"Tante ommy.....Nia seneng tante mommy sudah datang. Nia sudah tungguin dari tadi", kudengar suara Nia berteriak memanggilku.


Ya Tuhan Nia.... lihat itu!! Semua mata di ruangan ini langsung menatapku.


Aku menoleh, kulihat Nia berlari ke arahku dan langsung memelukku. Aku pun membalas pelukan Nia. Kuberikan kado yang kubawa.


"Selamat ulang tahun, sayang semoga selalu sehat, tambah besar, tambah cantik , harus tambah pinter, tambah nurut sama orang tua dan harus tambah sayang sama Tuhan, ya..." Kucium pipi Nia.


"Makasih mommy, I love you", kata Nia


Tiba-tiba seorang gadis dan seorang wanita paruh baya mendekat dan memanggilku


"Kak Vania...?? .Bener, ma! ini memang kak Vania!", gadis itu langsung memelukku plus cipika cipiki. "Kakak apa kabar? Gita kangen, kak".


Belum pulih kesadaranku, "Vania...anak mama, apa kabarmu, sayang?? Mama kangen, nak! Mama seneng banget ketemu kamu lagi". Aku mendapat pelukan dan ciuman lagi.


Saat ibu itu melepas pelukannya, saat itulah aku baru melihat siapa mereka dengan jelas. Ternyata mereka Ini.... mama dan adik Gio.


Ya Tuhan...., apa ini artinya Nia adalah anak Gio dan Putri? Oh no !!! Aku nggak boleh di sini. Aku nggak mau dibilang nggak bisa move on, aku nggak mau dibilang pelakor...Pikiranku masih ke mana-mana, saat Nia bertanya.


"Aunty sama oma kok peluk-peluk tante mommy? Memang sudah kenal sama tante mommy? ", tanya Nia heran.


Mereka tersenyum mendengar pertanyaan Nia. "Kenal dong!! Tante mommy ini anak oma yang sudah lama pergi", jawab mama Gio.


Tentu saja Nia makin bingung mendengar jawaban omanya, tapi kali ini Nia nggak banyak tanya.


Mama Gio menggandeng dan menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. "Pa..., lihat pa! Lihat siapa yang datang ?" Mama Gio memanggil suaminya.


Papa Gio melihat ke arahku seakan nggak percaya. "Vania...? Kamu Vania...? ". Papa Gio memelukku.


Kuanggukan kepalaku. Papa Gio mengelus rambutku, "Papa senang ngeliat kamu baik-baik aja, nak", kata Papa Gio.


"Mama sungguh nggak nyangka kita bisa ketemu kamu di sini, nak", mama Gio kembali memelukku.


Tampak sekali dari ekspresi wajah mereka kalau keluarga Gio senang bertemu denganku lagi.


Sedangkan aku?? Aku bener-bener kaget dan nggak nyangka ini semua terjadi. Dari tadi aku cuma diam mematung, tanpa ekspresi. Aku shock.


Pelan-pelan kesadaranku pulih, kutenangkan diriku. Aku mencoba bersikap biasa. Aku mulai bisa tersenyum dan balas menyapa mereka.


"Halo Git, mama, papa... Kalian apa kabar?". Aku berusaha bersikap wajar.


"Kita semua baik, kak. Kak Vania tambah cantik", puji Gita


"Kamu bisa aja, Git", kilahku.


"Tante mommy, ayo temeni Nia...", tiba-tiba Nia menarik tanganku.


"Sebentar, ya..... Tante mau bicara sama oma sebentar. Nia main dulu, ya... ".


Aku ajak papa dan mama Gio ke ujung ruangan yang sepi. "Ma, pa, Vania minta maaf, Vania nggak tau siapa Nia. Vania sama sekali nggak ada maksud untuk menganggu kehidupan Gio dan Putri", kataku.


"Vania.... Kamu nggak perlu minta maaf, nak. Kamu nggak salah", kata papa Gio.


"Ada hal penting yang harus kamu tau, nak ! Memang benar Nia anaknya Putri, tapi Nia bukan anak Gio", kata mama Gio dengan tegas.


Aku menatap mama Gio dengan bingung. Apa maksudnya?


"Apa yang mama bilang itu benar, Vania. Nanti biar Gio yang menjelaskan semuanya", kata papa Gio, menegaskan omongan istrinya.


"Vania tetep nggak enak sama Putri, ma. Apa kata Putri nanti? Vania nggak mau Putri salah paham dengan kehadiran Vania di sini. Apalagi Nia manggil Vania tante momny", kataku.


"Putri tidak akan marah atau pun salah paham karena Putri sudah meninggal. Dia meninggal setelah melahirkan Nia", jelas mama Gio.


" Ya Tuhan.... kasihan Nia! Kenapa Nia bilang mommy-nya pergi gara-gara marah sama daddy-nya ?"


"Memang Gio sengaja ngomong gitu ke Nia. Untuk alasannya apa, nanti biar Gio yang cerita ke kamu. Hari ini juga kamu harus ketemu sama Gio. Setelah acara ini selesai, kalian harus bicara", kata papa Gio dengan nada tegas yang tidak mau dibantah.


"Asal kamu tau..., kami sama sekali tidak keberatan Nia memanggilmu mommy", kata mama Gio dengan lembut.


"Gimana dengan Gio, ma? Vania nggak enak sama Gio, ma", keluhku.


"Sudahlah! Percaya sama mama! Nggak akan ada masalah ! Mama yakin Gio nggak akan keberatan", jawab mama Gio dengan mantap.


"Sekarang kamu temani Nia dulu. Gio tadi ada meeting, jadi dia akan sedikit tetrambat, saat ini Gio masih dalam perjalanan ke mari", kata mama Gio lagi.


Kutarik tangan Gita, kuajak untuk menemaniku dan Nia menyambut kedatangan teman Nia. Untungnya Gita tidak menolak.


Memikirkan omongan mama Gio barusan membuat jantungku langsung berdetak kencang. Oh my God... Sanggupkah aku bertemu Gio? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana reaksi Gio nanti saat melihatku di sini? Aku merasa cemas membayangkan pertemuan dengan Gio nanti....


Aku berusaha bersikap setenang mungkin, aku nggak mau terlihat gugup dan salah tingkah di hadapan Gio.


**********


Hai hai hai....


Di episode ini Vania sudah ketemu sama keluarga Gio. Ada yang pengen tau cerita tante mommy ketemu daddy nya Nia? Ikuti aja kelanjutan cerita RASA ITU ADA.


Jangan bosen, ya... author mengingatkan lagi, author perlu banget dukungan dari kalian berupa like, vote mau pun komen.


Ayo ajak kenalan atau kerabat kamu untuk ikutan baca novel RADA ITU ADA.


Author ucapkan terimakasih buat readers yang sudah vote. Tambah banyakin ya votenya.... Bagi readers yang belum vote, tolong dong bantu author untuk vote cerita RASA ITU ADA.


Terimakasih dukungannya

__ADS_1


Salam... 🙋😘😇😊😍🙋


**********


__ADS_2