
Pagi ini, saat aku baru balik dari toilet, Bu Nita menghampiriku dan meletakkan setumpuk file di mejaku sambil berkata, "Tolong bantu saya mengerjakan ini dan harus selesai hari ini juga ! Kalo jam lima belum selesai, nanti kamu lembur bareng saya".
"Baik, bu", jawabku. Bekerja di devisiku ini acara lembur adalah hal yang biasa. Minim sekali seminggu aku lembur.
"Lembur ya, Van?", Siska mencolekku. Aku mengangguk. "Tenang aja, aku juga lembur kok.. Mari kita hadapi lembur dengan semangat 45".
Aku tersenyum sambil mengacungkan dua jempolku, "Setujuuu!! ".
Saat jam kantor selesai, aku ambil hp, mau info Gio.
To Gio sayang 17.03
(kata sayang ini Gio yang nambahin pas dia lagi buka hp aku)
Sayang... hari ini aku lembur. Jadi nanti kamu beli makanan aja, ya..
From Gio sayang 17.04
Oke....sayang, kamu lembur sampai jam brapa?
To Gio sayang 17.05
Belum tau, yang
From Gio sayang 17.06
Nanti selesai lembur info ya...., aku jemput
To Gio sayang 17.07
Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, kan deket, yang...
From Gio sayang 17.08
Pokoknya kabari aku, nanti aku jemput.
To Gio sayang 17.09
__ADS_1
Ok
Supaya nggak berdebat lebih lama ya aku bilang ok aja. Beres, kan....!
Aku lembur bersama bu Nita dan Siska. Aku kerjakan tugasku dengan teliti, supaya tidak ada yang salah. Kalau ada kesalahan, harus revisi lagi, makin lama nanti lemburnya.
Arlojiku menunjukkan pukul 20.10, saat aku menyerahkan berkas pada bu Nita. Aku segera membereskan mejaku dan bersiap untuk pulang. Siska sudah pulang 30 menit yang lalu.
Tiba-tiba hp ku berbunyi, ada panggilan dari Gio. Segera kuangkat.
"Halo yang... "
"Ya... " jawabku
"Kamu sudah makan?"
"Belum"
"Kamu selesai jam berapa yang?"
"Ini sudah selesai, sudah mau balik", kataku
"Iya, aku pikir kan kos sama kantor deket, aku nggak mau bikin kamu repot"
"Tunggu aku di sana, 3 menit lagi aku sampai!! "
Gio ngomong dengan suara yang ditekan keras, Gio marah. Selama pacaran baru kali ini Gio marah sama aku.Belum sempat aku bicara lagi sambungan telponnya sudah dimatikan.
Aku pamit pada bu Nita dan segera turun ke bawah untuk menunggu Gio.Tidak lama kemudian Gio datang, aku langsung masuk ke dalam mobil. Gio diam aja nggak ngomong apa-apa.
Aku merasa bersalah. Seharusnya tadi itu aku turuti saja omongan Gio. Toh maksud Gio baik. Dia kuatir, sudah malam seorang perempuan jalan kaki sendirian. Harusnya aku bersyukur punya pacar yang perhatian seperti Gio.
"Sayang, aku minta maaf", kataku. Gio masih diam. Mobil Gio sudah melewati kos kami.
"Mau ke mana ini? Kos kita udah kelewatan", kataku lagi. Gio masih diam, tidak menjawab.
Baru hari ini aku ngeliat Gio marah beneran. Terselip rasa takut di hatiku.
__ADS_1
Akhirnya mobil Gio berhenti di sebuah resto dengan taman yang indah dan suasana romantis.
Kami turun, masih dengan diam kami berjalan berdampingan. Biasanya Gio akan menggandeng atau memelukku. Secara nggak sadar, aku tautkan jemariku di sela-sela jari Gio. Gio menoleh, menatapku sekilas, tapi masih tetap diam. Kami pun berjalan sambil bergandengan sampai ke tempat duduk kami.
Setelah melihat buku menu, Gio memanggil waiter untuk order. Gio bertanya padaku, "Kamu mau pesan apa ? " Meski masih marah tapi Gio tetap perhatian, aku tersenyum senang.
"Tenderloin steak sama orange juice", jawabku.
"Ok, saya order dua tenderloin, dua orange juice".
Sambil menunggu pesanan, aku yang merasa bersalah memulai pembicaraan "Sayang, maaf... "
"Kita bahas itu setelah makan aja", kata Gio.
Pesanan kami datang, kami pun mulai makan sambil mendengarkan putaran lagu-lagu romantis yang bikin baper.
Selesai makan, Gio minta bill, setelah beres, Gio mengajakku ke taman, yang masih dalam lingkup resto. Area resto ini luas sekali, 3/4 bagian digunakan untuk resto, 1/4 bagian dijadikan taman, dengan bangku-bangku, air terjun mini, air mancur, , lampu temaram, bunga warna-warni,....dekornya keren abis.
Kami duduk di pojok, di depan air mancur kecil dengan suara air mengalir, kricik-kricik pelan, menenangkan. Setelah kita duduk Gio menatapku lekat dan memulai pembicaraan, "Van, kamu itu pacarku, sekarang kamu itu tanggung jawab aku. Aku cuma pengen ngasih yang terbaik yang aku bisa untuk kamu. Sebenarnya aku nggak marah. Aku cuma kesel, kenapa kamu nggak bisa terima niat baik aku. Aku kuatir sama kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Itu aja", Gio mengungkapkan kekesalannya.
"Iya, yang. Aku tau maksud kamu baik, aku yang salah. Aku minta maaf". Nggak ngerti kenapa, kok aku pengen nangis, ya... tapi aku tahan, mungkin saat ini hanya ada kabut tipis di mataku, jadi nggak akan kentara.
Gio menarik nafas panjang, "Aku sudah maafin kamu. Nggak usah dibahas lagi masalah ini ! tapi inget ! jangan pernah diulangi lagi ! ", kata Gio dengan tegas sambil menggenggam tanganku.
Rasanya tali yang membelit tubuhku terlepas... plong ! lega rasanya. Saat Gio diam, aku ngerasa sangat nggak nyaman.
"Makasih sudah maafin aku, I love you... ", kataku pelan. Apa yang aku bilang itu beneran yang aku rasakan. Aku ngomong itu begitu aja.... bukan setingan.
Gio tampak sedikit kaget, dia menatapku tajam, "Bilang apa tadi? Coba ulangi ! "
"Makasih sudah maafin aku. I love you...." Aku pikir Gio memang nggak denger beneran, jadi aku mau ulangi supaya dia nggak marah.
Gio langsung memelukku erat, dikecupnya keningku. "Akhirnya setelah aku menunggu tiga bulan, kata-kata itu bisa aku dengar. I love you too...", Senyum Gio mengembang.
Memang selama kita tiga bulan pacaran aku nggak pernah bilang I love you, karena aku memang merasa belum yakin punya rasa itu. Mauku mulut sama hati harus sinkron. Hari ini, saat ada kerikil kecil, aku baru menyadari rasa cinta itu ada.
" Nikah yuk....! ", Gio tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
*********