RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 55 JAWABAN


__ADS_3

Hari Minggu malam aku sampai kos. Saat aku tiba kos sudah sepi, maklum jam 23.30 an aku baru nyampai, jadi penghuni kos kemungkinan sudah pada tidur.


Senin pagi aku ngantor. Di kos aku sengaja menghindar supaya nggak ketemu Gio, dan aku berhasil. Jam 06.00 aku sudah berpakaian kerja rapi dan aku pergi ke taman kota. Aku akan menunggu di sana sampai tibanya jam kerjaku.


Aku sudah berencana nanti sepulang kantor aku akan chat Gio, mengajaknya bertemu untuk membicarakan masalah kami.


Gio setuju kita langsung bertemu di cafe, soalnya Gio ada meeting, jadi sepulang meeting dia langsung ke cafe xy.


Jam 19.30, aku sudah duduk di cafe xy, menunggu Gio. Aku pesan coklat panas untukku dan capucino late untuk Gio. Aku juga sudah memesan beberapa makanan ringan. Saat pesanan diantar, pas Gio datang.


"Sori aku telat, sudah lama, Van?", sapa Gio.


"Aku juga baru datang, kok".


"Kamu tiga hari ini ke mana? Kamu nggak jawab telpon maupun chat aku. Aku kuatir, Van", tanya Gio sambil menatapku.


"Aku ke Bali", jawabku singkat


"Sendirian? ", tanya dengan nada kuatir yang jelas terdengar.


"Ya. Aku perlu ketenangan supaya bisa berpikir jernih", jawabku


"Maafkan aku, Van. Ini semua gara-gara aku. Aku sudah membuat kamu terluka", kata Gio dengan penuh rasa sesal.

__ADS_1


Aku terdiam. Gio pun begitu. Akhirnya setelah sekian lama diam, aku berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


"Gio, hampir setahun kita bersama, aku tau bagaimana perasaanmu untukku, begitu juga sebaliknya. Banyak hal manis dan indah yang sudah kita lewati bersama, semua itu bisa kita simpan di memory kita, untuk dikenang. Apa yang pernah terjadi pada kita adalah masa lalu. Sekarang saatnya bagimu untuk menata masa depan bersama Putri dan calon anak kalian", kataku dengan suara yang tercekat sebab aku berusaha menahan tangis.


"Maksudmu? Kamu memutuskan kita berpisah, Van? "


Aku mengangguk.


"Kamu yakin untuk ninggalin aku, Van? Kamu lepasin aku gitu aja? Kamu nggak mau kita bersama? ", tanya Gio dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dengan sangat terpaksa, Gio. Jujur aku sendiri sebenernya berat untuk berpisah, tapi kalo kita tetap bersama, ada dua orang yang akan menjadi korban. Aku bisa aja nggak peduli sama Putri, tapi itu juga akan menyakiti bayi tidak berdosa yang dikandungnya. Bayi itu butuh bapaknya. Daripada ada dua orang yang menderita, lebih baik satu orang aja yang terluka. Karenanya lebih baik kita berpisah." Aku berusaha untuk tetap tenang dan tegar.


"Aku pernah bilang kamu yang berhak memutuskan, jadi kalo memang kamu memutuskan seperti itu, aku akan terima, Van. Aku tau aku sudah sangat menyakitimu. Kesalahanku tidak termaafkan. Aku sudah berhianat. Kamu satu-satunya wanita spesial yang pernah hadir dalam hidupku, Van", kata Gio sambil mengusap sudut matanya.


'Van aku ada satu permintaan dan tolong kabulkan", pinta Gio


"Apa? ", tanyaku


"Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya, boleh Van?", kata Gio sambil merentangkan tangannya.


Saat aku mengangguk Gio langsung memelukku erat. Aku pun merasakan hangatnya pelukan Gio serta nyamannya, bersandar pada dada bidangnya. Ya kunikmati pelukan ini untuk yang terakhir kalinya. Gio juga mencium keningku dalam sebelum dia melepas pelukannya.


"Terimakasih, Van kamu sudah mengabulkan keinginanku. Terimakasih sudah hadir dalam hidup aku, kamu membuatku bahagia pernah menjalani setahun yang indah bersamamu. Sampai kapan pun kamu tetap punya tempat spesial di hati aku". Tatapan mata coklatnya yang teduh itu sudah kembali, hanya saja ada sedikit kabut duka di sana.

__ADS_1


"Van, sekali lagi aku minta maaf. Aku mendoakan yang terbaik untuk kamu".


Sudah tidak terhitung banyaknya kata maaf yang Gio lontarkan, tapi aku tau dia mengatakannya dengan tulus.


"Kamu juga, Gio. Jaga kesehatan, makan yang teratur. Aku pun mendoakan yang terbaik untukmu. Aku juga minta maaf kalo aku ada salah". Kulihat jam di dinding sudah 23.30, maka aku mengajak balik, "Sudah malam, sebaiknya kita pulang".


Gio mengangguk lemah, dan aku jelas melihat ada air yang menetes dari matanya.


Kami sampai di kos sudah hampir jam duabelas malam. Aku langsung pamit dan masuk ke kamarku.


Saat aku berhadapan dengan Gio dan bicara panjang seperti itu, bahkan sampai terakhir aku pamit, aku sama sekali tidak menangis. Aku menanamkan pada diriku sendiri bahwa aku tidak lemah ! aku tidak rapuh !..aku tidak cengeng ! Aku sanggup menghadapi masalah ini ! Aku harus melanjutkan hidupku! Aku mampu menjalani dan menata masa depanku sendiri!


***********


Hai readers.... gimana episode ini? sesuai harapan kalian nggak? Asal kalian tau ya...setelah author nulis dan baca ulang, dada author ikutan sesek. Hehehe...


Ok semua ikuti terus kelanjutan cerita RASA ITU ADA. Jangan lupa terus dukung author dengan vote, like & komen kalian.


Thank you so much.


See you in next episode...🙋😍😊😇


************

__ADS_1


__ADS_2