
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
**GIO POINT OF VIEW**
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
Aku masuk ke kamar hotel, tapi aku tidak melihat keberadaan Vania, namun aku lega saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, itu pertanda istriku sedang mandi.
Aku sedang melepas jasku saat ,Vania keluar dari kamar mandi. Aku sengaja menggodanya. "Hai..., sudah selesai mandi, love? Kok nggak nunggu aku? Kan kita sudah boleh mandi bareng", kataku sambil mengedipkan sebelah mata. Kulihat pipinya memerah, aku suka sekali melihat dia dalam keadaan seperti ini, tampak lucu dan menggemaskan.
Bau harum dari sabun dan shampo yang dipakai Vania membuatku ingin memeluk dan menciumnya. Aku mendaratkan satu kecupan di bibirnya, tapi baru juga dipeluk sebentar Vania sudah mendorongku untuk menjauh.
"Sudah buruan mandi sana ! Bau tau ! Mandi dulu baru peluk. Kalo gini rugi aku... secara aku sudah wangi dipeluk sama yang masih bau asem," gerutu Vania.
Mendengar omelan Vania, langsung aja aku cubit pipinya, "Berani ya ngatain suami! tunggu aja balasan dari aku", kataku sambil melangkah ke kamar mandi.
Aku masih bisa melihat senyuman yang terukir di bibirnya. Istriku memang cantik dan imut, sungguh menggoda iman...
Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat istriku sudah tertidur. Nampaknya hari ini dia beneran kecapekan dan ngantuk.
Ah, sudahlah!! Aku juga capek. Kumatikan lampu kamar. Aku pun segera membaringkan tubuhku disebelah istriku. Kupeluk dia dari belakang, karena dia tidur membelakangiku. Tak lama setelah itu aku pun terlelap.
Entah sudah berapa lama aku tertidur ketika aku merasakan ada jari yang menelusuri wajahku. Aku sengaja tidak segera membuka mataku karena aku ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istri tersayangku.
Awalnya ada ibu jari yang mengusap kedua mataku, lalu jari telunjuk yang digerakkan mengikuti bentuk alisku dari pangkal ke ujung alis. Jari telunjuk itu kemudian bergerak dari pangkal hidungku hingga ke ujung hidungku yang mancung. Kemudian jari telunjuk itu juga digerakkan mengikuti bentuk bibirku. Terakhir jari itu bergerak dari dahi turun hingga ke dagu dan naik lagi hingga ke dahi.
Jujur, aku ingin sekali membuka mataku untuk melihat ekspresi wajah istriku saat ini. Aku merasa dia sedang menatap dan mengamati wajahku dari dekat. Aku masih bertahan dalam mode pura-pura tidur.
Tiba-tiba aku merasakan kecupan di dahiku, lalu turun di kedua mataku, berpindah di pipi kiri dan kananku, kemudian di hidungku, terakhir kurasakan kecupan di daguku dan saat ini aku sedang menunggu dia mengecup bibirku. Cukup lama aku menunggu, tapi apa yang kuharapkan tidak terjadi. Hampir saja aku membuka mataku saat kurasakan bibir yang hangat itu menempel di bibirku....
Aku segera memanfaatkan kesempatan ini, kutahan tengkuknya, agar dia tidak bisa menghindar. Dia ingin protes tapi kata-kata yang keluar tidak terdengar jelas sebab bibirku telah mengunci bibirnya....
Dan akhirnya di dini hari itu kami melaksanakan kewajiban kami sebagai suami istri untuk yang pertama kalinya. Ya, kami telah melalui malam pertama kami, tapi kami melakukannya saat dini hari. Apakah harus disebut 'dini pertama'?? Hehe...
Vania, wanita yang kucinta sejak 6 tahun lalu yang berhasil menarik perhatianku saat pertama kali bertemu ini, kini telah menjadi milikku seutuhnya, dia telah menjadi istriku yang sah dan kelak dia juga akan menjadi ibu dari anak-anakku.
"I love you more each day, sweet heart", kucium dahi istriku dalam dan lama. Aku teramat sangat mencintai wanita yang berada dalam pelukanku ini.
Aku hanya berharap kami bisa selalu bersama, saling mencinta, hingga maut memisahkan. Amin.
*************
Aku terbangun saat mentari sudah sedikit terik, kulihat jam di ponselku, sudah jam 08.55. Ya ampun... sudah jam segini dan aku baru bangun
Aku buru-buru mau bangkit, tapi terhalang tangan Gio yang memelukku, saat aku berusaha melepasnya, Gio malah mengeratkan pelukannya.
"Morning, love..", sapa Gio
"Morning, sayang...", sahutku.
Sekarang posisi Gio sudah duduk seperti aku, tapi tangannya masih melekat di pinggangku. Gio menarikku agar lebih dekat padanya lalu dikecupnya bibirku. "A morning kiss for you, baby....I love you", bisik Gio.
"I love you too, my hubby", balasku.
"Ayo lepasin pelukannya, yang ! aku mau pipis", kataku.
Gio pun melepaskan tangannya dari pinggangku, lalu aku segera berdiri. Auw...ada rasa sedikit sakit dan pedih, aku sengaja tidak bersuara, aku nggak mau Gio tau, karena aku malu.... Tadinya aku mau berlari, tapi karena adanya rasa sakit ini, aku jadi berjalan saja.
Dua hari di hotel, kami habiskan waktu kami dengan berenang, spa, massage, karaoke, nge-gym, apa pun fasilitas yang ada di hotel ini kami coba semuanya.
Hari ini kami check out dari hotel. Pagi tadi pak Min sudah mengantar mobil Gio. Dari hotel kami ke rumah papi Ricky. Papi, mami, kak Rey dan kak Diana menyambut kami.
Seperti biasa aku selalu memeluk dan mencium semuanya. Gio hanya peluk cium dengan papi mami aja. Jelaslah..., kalau sama kak Diana sampai Gio berani peluk cium juga, pasti dihajar sama kak Rey. Haha... Gio dan kak Rey bersalaman ala pria.
"Ayo duduk dulu, tuh sudah mami sediain aneka kue basah", ajak mami.
"Hm.... pasti enak ini, mi", kataku sambil mengambil ketan srikaya.
__ADS_1
"Kue apa itu, love?" tanya Gio.
"Ketan srikaya, mau coba?" tanyaku. Gio mengangguk, aku suapkan sesendok ketan srikaya ke mulut Gio.
"Eis... mentang-mentang pengantin baru, pakai acara suap-suapan !" goda kak Rey.
"Apaan sih? Kalau kak Rey ngiri, minta disuapi tuh sama kak Diana," sahutku.
"Rey, jangan gangguin adek kamu ah !", tegur mami.
Rupanya Gio suka ketan srikaya, akhirnya, dia mengambil satu cup sendiri.
Sekarang aku mengambil putri mandi. Hm...yummy...
"Barusan yang kamu makan itu apa namanya, love?" tanya Gio.
"Putri mandi. Enak, yang! di luarnya itu santan rasanya sedikit asin, tapi didalamnya ada kelapa parut + gula jawa yang rasanya manis. Enak ! Cobain aja, kan cuman kecil", kataku.
Gio pun mencobanya. "Gimana? Suka nggak?" tamyaku.
Gio manggut-manggut, "Iya, enak".
Setelah makan kue dan ngobrol-ngobrol, mami ke dapur mau menyiapkan makanan untuk makan siang, papi ke ruang kerjanya. Sekarang di ruang tengah tinggal kami berempat aja.
"Gimana rasanya dek?" tanya kak Rey
"Rasanya apa, kak?", tanyaku polos.
"Rasanya itu....", kata kak Rey sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Itu apa sih, kak? Kalo ngomong itu yang jelas!" omelku.
"Dek, kamu itu sudah nikah, masak sih nggak ngerti apa yang kakak maksud? Atau jangan-jangan Gio nggak ngajari kamu dengan baik ya?"
Blush.... Seketika wajahku terasa panas, karena aku baru paham apa yang kak Rey maksud. Aku tersipu malu.
"Babe....jangan godain Vania ! Kasihan!" kata kak Diana sambil mencubit pinggang kak Rey.
"Bro, lo jangan godain istri gua, dong!", Gio membelaku., digenggamnya tanganku. Mungkin Gio kasihan ngeliat wajahku yang memerah.
"Tuh....denger dek, laki lo ngebelain lo tuh !" kata kak Rey.
"Sudah sejak dulu juga Gio selalu belain aku, nggak kayak kak Rey kerjanya ngisengin aku....", kataku.
"Wah bro.... Lo apain adek gue kok dia jadi ngebelain lo gini?!" kata kak Rey.
Gio tersenyum. "Gua kasih dia cinta tulus.....", sahut Gio.
"Haha.... Bro, gue titip adek gue, ya! sayangi dan cintai dia, perlakukan dia dengan baik, jangan pernah lo sakiti dia, kalo sampai adek gue nangis dan penyebabnya adalah lo..., lo bakal berhadapan dengan gue!" kak Rey menitipkan aku pada Gio sekaligus memperingati Gio.
"Lo tenang aja, bro! Perjuangan gua buat dapetin dia itu sangat berat, jadi gua akan selalu sayang dan cinta sama dia. Gua nggak bisa janji nggak bikin dia nangis, tapi gua janji gua akan berusaha membuat dia bahagia. Dia, adek lo yang cantik ini sudah mengikat hati gua sejak enam tahun yang lalu, gua nggak akan pernah bisa berpaling dari dia", kata Gio sambil menatapku dalam. Omongan Gio membuat dadaku berdesir.
"Syukurlah. Gue jadi tenang karena adek gue tersayang sudah punya body guard," kata kak Rey.
Cukup lama kami ngobrol dan bercanda, sampai akhirnya mami mengajak kami untuk makan siang.
Setelah makan siang kak Rey dan kak Diana pulang. Mami dan papi beristirahat di kamarnya. Aku dan Gio ke kamarku.
"Kamar kamu nyaman juga ya, love...", komen Gio. Memang baru pertama kali ini Gio masuk kamarku.
"Jelas dong...., kalo nggak nyaman, mana betah aku di sini", sahutku.
"Love..."
"Hem..." sahutku sambil membuka lemari pakaianku, aku mau memilih pakaian yang akan aju bawa ke rumah Gio.
"Sudah tiga hari kita nikah, aku harap kita bisa selalu seperti ini selamanya", kata Gio sambil memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Amin...", sahutku. Kuelus lengan Gio yang memelukku.
"Yang, bantuin aku berbenah, ya! Aku mau bawa sebagian baju aku ke rumah kamu", lataku sambil mengambil koper.
"Kan di rumah aku sudah ada satu lemari baju baru buat kamu, love...", kata Gio.
"Hah? Siapa yang beli", tanyaku bingung.
"Mama sama Gita yang milihin", jawab Gio.
"Kok aku nggak tau, yang?" tanyaku.
"Ya memang sengaja, kalo kamu tau kan kamu nggak mau dibeliin," kata Gio, dicubitnya hidungku pelan. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Gio
Selesai berbenah hari sudah sore, kami bergantian mandi, setelah itu kami pamit pulang pada papi dan mami, karena kami ditunggu orang tua Gio untuk makan malam.
Sekitar jam enaman, kami sampai di rumah Gio. Si kecil Nia yang sedang duduk di teras segera berlari mendekati mobil kami.
Begitu aku keluar dari mobil Nia langsung memelukku, diciumnya kedua pipi dan keningku."Nia dari tadi duduk di sana nungguin daddy sama mommy. Nia kangen sama mommy", kata Nia, dia masih memelukku erat.
Aku pun balas memeluk tubuh kecilnya. "Sayang...., mommy juga kangen sama Nia", kataku.
"Ya gitu...sayang-sayangan berdua aja, daddy dicuekin. Daddy pergi lagi aja kalo gitu", kata Gio sambil berbalik badan seakan mau pergi.
"Jangan, daddy ! Jangan pergi ! Nia juga sayaaaaang sama daddy", kata Nia sambil berlari lalu memeluk dan mencium Gio."
"I love you, daddy....", kata Nia.
Gio menggendong Nia, diciumnya pipi Nia, lalu menghampiriku, dipeluknya bahuku dan kami bertiga masuk kedalam rumah.
Papa, mama, Gita dan juga Sean sudah menunggu kami di ruang tengah. Gita dan orang tua Gio memeluk dan mencium kening kami.
"Selamat datang pengantin baru...", teriak Gita saat melihat kami. "Pengantin baru wajahnya berseri-seri, apa sih rahasianya?", canda Gita.
"Anak kecil mau tau aja! Dasar kepo!" sahut Gio.
"Eh sudah nggak kecil ya, kak... Aku tiga bulan lagi tunangan, lo!", sahut Gita.
"O ya ? Terus kapan nikahnya," tanyaku
"Enam bulan setelah tunangan," sahut Gita.
"Wow....Selamat ya, Git, Sean", kataku ikut senang, aku segera menyalami Gita dan Sean.
"Thank you kakak ipar," jawab keduanya barengan.
"Congrat to both of you...", Gio juga memberi selamat pada Gita dan Sean.
"Thank you...", sahut keduanya lagi
"Wah, setelah ini anak mama yang awalnya cuma dua, langsung jadi empat," kata Gio.
"Haha...iya, apalagi nanti setelah kamu dan Gita punya anak, akan makin banyak anggota keluarga kita," kata mami.
"Ayo mari kita makan dulu, ngobrolnya bisa dilanjut sambil makan," ajak papa Gio.
"Persiapan untuk bulan madu kalian gimana? Sudah beres?" tanya mama Gio, saat kami sudah mulai makan.
"Sudah dong, ma....kan kita lusa sudah berangkat masak masih belum siap?!" sahut Gio.
"Syukur deh kalo sudah siap. Ingat ya mama minta oleh-oleh"
"Mama minta oleh-oleh apa? Nanti Vania cariin," kataku.
"Nggak usah nyari ! Mama minta oleh-olehnya cucu", sahut mama Gio.
"Kalau itu urusan gampang, ma. Gio bakal rajin bikin, ma... supaya keinginan mama segera terkabul", jawab Gio dengan entengnya.
__ADS_1
Ya ampun Gio....kok bisa ya ngomong seperti itu ?? Apa sudah mggak punya urat malu?? Aku tersipu malu mendengar jawaban Gio, tapi semua yang ada di ruang makan ini malah tertawa....
***********