
Akhirnya kita pulang. Sesampai di kos aku segera telpon ke kantor, ijin hari ini tidak masuk.
Bener dugaan Gio, kos sepi. Kami duduk di ruang tv. Gio mengambil dua gelas air putih, untukku dan dia sendiri. Aku segera minum, begitupun dengan Gio.
"Sekarang sudah lebih tenang, kan? Kita sudah dewasa, nggak boleh lari menghindari masalah! Kita harus bicara, Van !"
Aku hanya diam. Gio menyelipkan rambutku ke belakang telingaku, lalu menggenggam tanganku. Aku masih diam. Akhirnya Gio memelukku erat. Aku tetap diam tidak menolak dan tidak membalas pelukannya.
Lama kami dalam keadaan seperti itu, sebelum Gio berkata, "Kenapa diem aja? Nggak mau balas peluk aku? Kamu marah?"
Aku tetap diam dan tidak merespon omongan Gio.
Gio menarik nafas panjang. "Kalo memang kamu belum mau ngomong nggak apa-apa,
aku nggak maksa. Mungkin kamu masih perlu waktu untuk berpikir sebelum kamu mau membahas masalah kita...".
Kali ini aku memang masih diam tapi sambil menimbang untuk ngomong apa nggak sama Gio. Setelah kupikir beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk bicara. Ngomong sekarang atau pun nanti sama aja. Semakin ditunda justru semakin membuat aku tersiksa lebih lama. Whatever will be, will be....pikirku dalam hati.
Kutarik nafas panjang supaya lebih tenang. "Gio...., memang ada yang ngeganjel di hati aku yang mau aku sampaikan".
Gio menoleh dengan satu alis naik, aku tau dia nggak suka kalo aku manggil dia dengan nyebut namanya aja. "Kenapa manggil aku seperti itu? ", tanyanya
"Memang salah? Kamu juga sering manggil aku cuma dengan nyebut nama aku !", sahutku dan Gio terdiam, mungkin lagi males debat.
Aku kembali menarik nafas panjang beberapa kali sebelum mulai bicara lagi, "Kemaren saat aku makan di mall xo bersama Fani dan Siska, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan dua orang gadis yang duduk di belakangku".
"Ngapain ngurusin omongan orang? Terus apa hubungannya sama kita? ", tanya Gio dengan nada nggak suka.
"Diem dulu! Mau dengerin aku ngomong nggak? ", bentakku kesel.
"Ya, lanjutin ! ", Gio mengalah.
"Intinya dari pembicaraan mereka , salah seorang gadis itu bilang dia sengaja menjebak seorang pria yang sudah bertunangan saat business trip ke Semarang dua bulan lalu dan sekarang dia hamil". Aku merasa mataku mulai panas......Aku harus kuat, aku nggak boleh nangis.
Kulihat Gio mengernyitkan dahinya.
" Aku bisa melihat wajah mereka dengan jelas saat mereka berjalan melewati mejaku. Kamu tau mereka siapa? ", tanyaku.
"Memang siapa?", Gio balik nanya.
__ADS_1
"Putri dan Tina", jawabku dengan suara tercekat.
"Memang kenapa kalo mereka? Mereka kan nggak ada hubungannya sama aku?", jawab Gio lagi
"Ya kamu pikir aja sendiri....!!! Denger, ya !!! Sekarang aku nanya, dua bln lalu kamu ada bussiness trip ke mana? Semarang, kan?? "
"Ya", jawab Gio singkat
"Apakah Putri ikut? "
"Ya, dia memang ikut", jawab Gio
"Aku nanya lagi, kamu sudah tunangan dan punya calon istri, bener nggak? ", tanyaku lagi
" Iya, kan aku mau nikah sama kamu", jawab Gio dengan polos.
"Sekarang yang jadi pertanyaanku, pas di Semarang apa terjadi sesuatu di antara kamu dan Putri? ".
"Nggak ada ! Kami ketemu klien, meeting, gitu aja. ", jawab Gio
"Apa nggak ada sesuatu yang aneh atau janggal gitu?"
"Coba kamu ingat-ingat lagi !!"
Agak lama Gio berusaha mengingat sesuatu, sebelum akhirnya Gio bilang, "Mungkin ini.... hari kamis malam, sehari sebelum pulang, aku kan bilang sama kamu, diajak Dani ke cafe hotel, di sana kami minum bir. Kami berdua sudah menghabiskan tiga botol bir, saat Putri datang. Aku dan Dani sempat ke toilet sebentar. Setelah balik, aku menghabiskan sisa bir yang ada di gelas. Gelas yang kosong kembali diisi penuh. Aku pun menghabiskannya lagi. Entah kenapa aku merasa sangat haus terus, jadinya aku minum terus. Sampai akhirnya aku ngerasa kepalaku sangat pusing. Aku masih ingat Putri yang memapahku ke kamar, setelah itu aku nggak inget apa-apa lagi ", jelas Gio sambil menggaruk kepalanya, mungkin dia mulai ngerasa ada yang nggak beres.
"Terus apa yang terjadi pas kamu bangun pagi ? "
"Jam 5 pagi aku bangun, kepalaku masih pusing, jadi aku minum obat, terus aku berusaha tidur lagi. Setelah satu jam aku kebangun, sakit kepalaku sudah hilang, aku langsung mandi.
"Cuman itu? Nggak ada yang aneh? ", tanyaku
"Nggak! ", jawab Gio dengan cepat.
"Saat kamu tidur dan saat kamu bangun apa kamu berpakaian lengkap? ", aku mulai melangkah ke pokok masalah.
"Saat aku balik dari cafe ya pasti aku pakai baju lengkap, tapi kan setelah sampai di kamar itu aku nggak sadar. Aku buka baju atau nggak aku nggak ngerasa., yang pasti saat bangun pagi aku cuma pake boxer", jelas Gio
Deg!! Gimana ini? Aku ngerasa apa yang kupikirkan tampaknya mulai jelas dan bener.
__ADS_1
Tanpa sadar airnataku menetes, aku mulai nangis. Gio mau memelukku, tapi segera kutepis, dudukku pun kugeser menjauh dari Gio.
Gio termenung, mungkin dia mencerna omongannya sendiri, dan sekarang dia baru kepikir there was something wrong
happened.
Setelah tangisku reda, aku kembali bicara, "Gio, kamu harus ketemu Putri ! Tanya sama dia apa yang sebenernya terjadi... Kalo kamu nggak tau di mana Putri, tanya sama Tina ! Aku yakin dia tau keberadaan Putri secara kemaren mereka pergi bareng".
"Tapi aku nggak ngelakuin apa-apa sama Putri, Van! ", bantah Gio
"Saat itu kamu mabuk, kan?!", tanyaku
"Ya", Gio mengangguk.
"Kalo orang mabuk itu nggak sadar, kan?! "
"Ya", sekali lagi Gio mengangguk.
"Artinya saat kamu mabuk otomatis kamu nggak sadar dengan apa yang kamu lakukan! Jadi kamu jangan keburu bilang nggak ngelakuin apa-apa! ", sahutku dengan kesal sekaligus ketus.
"Kok kamu kayaknya nuduh dan mojokin aku, sih? ", balas Gio.
"Aku nggak nuduh ataupun mojokin kamu ! Aku cuma bilang kalo dalam keadaan mabuk apa pun yang kamu lakukan, kamu itu nggak ngerasa!".
Gio mengusap wajahnya dengan kasar sambil memejamkan matanya. Sepertinya dia mulai bisa menerima omonganku dan memikirkan masalah ini.
"Kamu yang harus harus cari tau dan membereskan persoalan ini! Sebelum kamu ada kejelasan dari masalah ini jangan temui aku !", aku ngomong dengan nada ketus tapi masih dengan sedikit terisak. Begitu selesai bicara aku langsung masuk kamar, aku kunci pintunya. Aku tinggalkan Gio sendiri di sofa.
**********
Hi.... sori ya late up date, soalnya scriptnya kehapus, jadi aku harus nulis ulang. 🙏
Hi readers.... terimakasih sudah baca novel ini yang judulnya RASA ITU ADA
Gimana? Suka nggak sama cerita yang aku buat? Ikuti terus kelanjutannya ya...
Jangan lupa aku perlu suport dari kalian, aku tunggu komen, saran , like serta vote kalian.
Thanks... 🙏😊😍
__ADS_1