RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 93 KEJUJURAN DAN KETERBUKAAN


__ADS_3

Beberapa hari ini, aku marasa ada ganjalan dalam hatiku. Masalah Vino. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi Vino? Sempat kepikiran untuk memblokir nomernya Vino, tapi aku ngerasa nggak tega, soalnya Vino tidak melakukan pemaksaan atau penekanan padaku. Maksud aku gini, Vino memang menginginkan aku menerima cintanya, tapi dia bilang dia akan berusaha untuk mendapatkan cintaku dalam waktu yang tersisa sebelum hari pernikahanku, jadi lebih kurang hanya sebulan ini saja dia mendekatiku. Nanti saat hari aku menikah, dia akan menghapus keinginannya itu dan memilih untuk berteman saja denganku.


Itu kan artinya Vino sadar diri dan dia nggak jahat. Makanya sampai saat ini aku masih ragu untuk melakukan blokir pada Vino. Sebenernya permintaan Vino untuk bertemu, memintaku untuk menjadi pacarnya itu sedikit mengganggu, tapi sekali lagi karena Vino tidak melakukan paksaan, dan nggak bertindak yang aneh-aneh, jadi aku menganggap masalah ini masih bisa diatasi.


Jujur, sebenarnya beberapa waktu ini aku juga ngerasa nggak enak sama Gio, tentang masalah Vino ini. Selama ini aku belum pernah cerita tentang Vino. Aku ada rencana untuk ngomongin tentang Vino ke Gio, tapi aku takut Gio salah paham dan marah. Di sisi lain aku juga takut, kalau aku nggak cerita dan suatu hari nanti masalah ini terungkap, pasti Gio marahnya akan jadi lebih parah. Kalau sudah begitu pasti efeknya akan buruk untuk hubungan kita. Amit-amit, aku nggak mau sampai itu terjadi.


Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya aku putuskan untuk menceritakan apa adanya tentang Vino. Gio mau marah, kesel atau apa aku harus bisa terima. Di sini yang penting aku sudah bersikap jujur dan terbuka pada Gio. Semoga Gio bisa menerima dan mau memahami.


Kuambil ponselku, kucari nama Gio dan langsung aku telpon. Telpon tersambung


"Halo sayang.... Kok tumben nelpon? Kangen ya, yang?" Begitu telpon diangkat langsung terdengar suara Gio menyapaku.


"Halo juga. Sayang, kamu lagi ngapain? Lagi repot nggak?" tanyaku


"Aku baru selesai mandi, rencananya habis ini aku mau nyamperi kamu di Cafe. Emang kenapa, yang?"


"Ehm..., ada yang mau aku omongin sama kamu. Ya udah buruan siap-siap gih, biar bisa cepet nyampai sini !"


"Tumben nyuruh aku buruan, beneran kangen ya, yang?"


"Hem..., bisa dibilang kangen juga sih, yang...." kataku sambil tersenyum sendiri.


"Cie cie... ternyata ada yang kangen nih.... Oke deh, sekarang juga aku berangkat. Tungguin aku, love.. Muach... See you soon"


'Ati-ati, yang ! Nggak usah pake ngebut, ya... Biar lambat asal kita bisa ketemuan. See you soon, bye.... "


"Siyap sayangku.... bye... "


Duapuluh lima menit setelah telpon, Gio sudah masuk ke ruanganku.


"Hai sayang....", panggil Gio sambil merentangkan tangannya.


Aku segera menghampiri Gio dan menghambur dalam pelukan Gio. Rasa takut dan kuatir kalau Gio tidak bisa terima masalah Vino, kembali merasuki pikiranku. Jantungku berdetak keras. Kupeluk Gio erat-erat.


"Hei....meluknya kenceng banget? kangen beneran atau apa? Hm? Ada apa yang? Ayo sini..., sini... duduk dulu sini !" Masih dalam posisi berpelukan Gio membawaku duduk di sofa.


Mungkin dari caraku memeluknya, Gio bisa merasakan detak jantungku yang nggak normal, atau dari gesture tubuhku, Gio ikut merasakan ketakutan dan kekuatiranku.


Gio mengambil segelas air mineral dan menyuruhku minum. " Diminum dulu airnya, supaya lebih tenang."


Kuteguk habis segelas air mineral itu. Kutatap sepasang mata coklat milik Gio, untuk merasakan ketenangan yang terpancar dari tatapan mata itu.


Kugenggam sebelah tangan Gio dengan kedua tanganku yang mulai dingin.


"Ada apa sebenarnya love? Tangan kamu sampai dingin gini? Mau ngomongin masalah apa?", tanya Gio dengan lembut.


Kutarik nafas panjang dulu sebelum aku memulai ceritaku. "Sayang, selama ini kamu kan nggak pernah nanya apa yang aku lakukan atau apa aja yang terjadi padaku selama lima tahun belakangan ini, kan?"


Gio mengangguk. "Aku memang nggak pernah nanya, karena menurut aku nggak ada gunanya mempermasalahkan hal yang sudah berlalu. Bagi aku yang penting adalah saat ini dan ke depannya." Gio mengungkapkan pemikirannya.


"Kalau aku ceritakan, apa kamu mau dengerin?", tanyaku.


"Kalau memang kamu mau berbagi cerita, tentu saja aku akan mendengarkan."


"Mami selalu mengulang-ulang pesan yang sama padaku sejak kamu melamar aku di apartemen kamu itu. Pesan mami :


1.Bereskan semua masalah.


2.Kejujuran dan keterbukaan adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum menikah, sehingga saat memulai kehidupan rumah tangga, semuanya benar-benar start from zero.


"Bisa dijelaskan maksudnya, bereskan semua masalah itu yang gimana, yang ? " tanya Gio.


"Maksudnya gini, seandainya ada rahasia, atau ada hal yang tidak diketahui oleh pasangan, entah itu hal yang baik, hal yang buruk atau bahkan hal yang memalukan sekalipun, harus diungkapkan, sehingga tidak akan ada masalah yang dibawa saat menikah. Kalau sudah nggak ada hal disembunyikan lagi itu artinya sudah siap untuk menempuh hidup baru bersama pasangan dan memulainya dari nol."


Gio manggut-manggut mendengarkan penjelasanku.


"Memang ada yang kamu rahasiakan? Atau ada yang aku nggak tau tentang kamu, yang?" Gio mulai bertanya padaku.


"Ada dan itu menggangguku, membuat hati dan pikiranku tidak tenang. Maka dari itu aku putuskan untuk menceritakan semuanya sama kamu. Aku berharap setelah mendengar apa yang aku katakan kamu bisa menerima dan tidak berpengaruh pada hubungan kita. Tapi apa pun respon kamu setelah ini, baik atau pun buruk akan aku terima."


"Mau ngomong apaan sih love? Kamu yang mau ngomong, aku yang deg degan dengernya," komen Gio.


"Aku mulai, ya..." Kembali aku menarik nafas panjang.


"Relax, love... cerita aja nggak apa, aku siap dengerin". Gio mencoba menenangkan aku, dielusnya rambutku dengan lembut.


"Setelah kita berpisah lima tahun lalu, aku pindah ke kantor pusat Sawit Nusantara di Surabaya. Di sini aku punya tiga sahabat, mereka bertiga sudah pada punya pasangan semua, bahkan ada, yang sudah menikah. Mereka bertiga sangat aktif mencarikan aku pasangan. Sehingga aku sering jalan dengan cowok yang berbeda untuk sekedar nonton atau pun makan malam, tapi aku tidak pernah berpacaran dengan satu pun dari mereka. Orang yang nggak tau pasti mengira aku play girl, karena tiap pergi cowoknya beda-beda terus."

__ADS_1


"Aku nggak akan kepengaruh karena aku yakin kamu bukan cewek seperti itu. Ngomong-ngomong, banyak pilihan gitu kok nggak ada yang masuk nominasi, yang? Kayaknya kamu terlalu cinta sama aku tuh... jadinya ngeliat mereka nggak minat," canda Gio.


Aku balas candaan Gio dengan tersenyum, "Iya kali... "


"I love you, lovely.. ", kata Gio sambil mengedipkan sebelah matanya.


"I love you too, my future hubby," sahutku.


"Hhm... Sweet banget....," Gio mengelus pipiku.


"Mau aku lanjutin nggak?" tanyaku


"Mau dong !"


"Kamu masih ingat Rico?", tanyaku


"Rico mantan kamu itu kan?" Gio balik bertanya padaku.


"Iya. Sekitar enam bulan lalu dia menemuiku, meminta kesediaanku untuk menikah dengan dia."


"Rupanya dia masih mencintai kamu, yang... tapi kenapa terlambat sekali dia baru nembak kamu... "


"Saat aku masih bekerja di kantor pusat, Rico mencoba mendekati aku, kami sering jalan bareng ke mall, nonton, ke cafe, dll, tapi aku selalu jaga jarak dan memberi batasan kalau kita dekat hanya sebagai teman, tidak lebih." Aku menjelaskan pada Gio tentang hubunganku dengan Rico.


"Sayang, sebenernya saat kamu menolak Rico itu aku tau karena saat itu aku sedang ada di cafe ini. Aku mengawasi kalian dari sudut cafe. Dan apa masalah Rico pun aku tau. Aku tau dari Kenzo." Aku nggak nyangka Gio tau masalah Rico.


"Ternyata diam-diam kamu ngawasi aku, ya....! Terlanjur cinta ya, yang?" candaku.


"Haha... 100% bener!! "


"Makasih sayang... ", kataku.


"Nggak tau kenapa ya.... Aku tuh benaran nggak bisa move on dari kamu, yang. Tiap ada cewek yang deketin aku, atau tiap kali aku dikenalin sama cewek... bayangan kamu selalu hadir di benakku, sehingga pikiranku mengatakan, ngapain sama mereka, aku kan sudah punya cewek."


"Kamu bikin aku tersandung, yang, hahaha....", candaku.


"Tersanjung kali...., pake plesetan lagi! ", Gio ikutan ketawa.


'Serius lagi ya, yang... "


"Oke... " sahut Gio


Aku berhenti sebentar, aku ambil air mineral dan meminumnya untuk membasahi tenggorokanku yang kering.


"Terusin, yang.... "


"Meski aku kenal dia hanya lewat chat, tapi aku menilai dia orang yang baik dan dia juga suka bercanda. Jujur aku menikmati chatting sama dia. Setiap hari kami selalu chatting. Makin lama makin akrab. Sampai suatu hari dia memintaku untuk menjadi kekasih online nya."


"Aku mulai nggak suka, yang... Hati aku mulai panas nih.... ", kata Gio dengan wajah yang mulai kesal.


"Yang, dengerin cerita aku sampai selesai dulu, ya...", kataku, kupeluk lengan Gio.


"Ya udah terusin lagi.... "


"Dalam pemikiranku yang dimaksud pacar online itu cuma main-main aja. Toh selama ini kita nggak pernah bertemu, nggak pernah video call juga nggak pernah telponan. Yang kita lakukan cuma chat via wa doang. Jadi saat dia memintaku untuk menjadi pacar online-nya aku terima aja. Toh cuma online, bukan kenyataan, maka kita pacaran juga nggak pake hati."


"Hah? Kamu terima dia jadi pacar kamu, yang?" tanya Gio kaget.


"Iya. Saat kita liburan di Batu, apa kamu ingat kamu sempat ngeliat aku chatting dan kamu nanya aku lagi chat sama siapa?"


Aku mengingatkan Gio akan peristiwa itu.


"Iya aku inget. Aku nanya soalnya aku liat kamu senyum-senyum sendiri", jawab Gio.


"Saat itu aku chat dengan dia. Tapi sejak hari itu dia berhenti chat denganku dan selama dia berhenti chat, aku pun nggak pernah mengirim pesan padanya, karena saat itu kita mulai ttm-an. Tapi tiga hari yang lalu dia mulai chat aku lagi."


"Chat lagi? Maunya dia apa? Wah nggak bisa dibiarin ini, yang.! Aku nggak mau ya kamu ladeni dia!" Gio mulai emosi.


"Sabar, yang....dengerin dulu ! cerita aku belum kelar... kalo kamu emosi gini aku nggak berani nerusin, dan kamu nanti jadi nggak tau masalahnya." Aku berusaha menenangkan Gio dan memberinya pengertiam.


Gio berusaha menenangkan dirinya. Dihabiskannya air mineral di meja, bekas aku minum tadi.


Tiba-tiba Gio memelukku. "Apa pun yang terjadi jangan pernah pergi dari aku, yang... I love you so much, I can't live without you in my side, sweet heart."


Aku balas pelukan Gio. "I love you too, honey... I'll stay beside you till the end apart."


Gio mencium keningku dalam dan lama. "You are mine, Vania."

__ADS_1


"Sayang..., boleh aku lanjut ceritanya? ", tanyaku.


"Ya, kamu bisa lanjutkan", sahut Gio.


"Tapi janji untuk kontrol emosi kamu ! Okey? " Aku meminta Gio untuk mengontrol emosinya, karena apa, yang akan aku sampaikan ini , aku yakin akan membuat Gio makin tersulut amarahnya.


"Aku nggak bisa janji, tapi aku akan berusaha mengontrol emosiku."


"Oke...aku lanjutkan ceritaku. Tiga hari yang lalu Vino kembali menghubungiku. Vino tau aku sudah balikan sama mantan aku, dia juga tau kalau sebulan lagi aku akan menikah." Aku kembali memberi jedah pada ceritaku.


"Bagus dong kalau dia tau!!" Gio berkomentar.


"Karena dia tau, dia mau berjuang untuk mendapatkan cintaku di sisa waktu yang ada sebelum kita menikah. Bila sebulan kemudian aku tetap menikah denganmu, Vino tidak akan mengejarku lagi. Dia akan rela hanya menjalin hubungan pertemanan saja denganku."


"Ngelunjak ya itu orang!! Sudah tau kamu punya tunangan dan mau nikah kok malah mau maju terus... Nggak waras kayaknya itu orang !"


Aku mengelus punggung Gio, memintanya ubtuk sabar, aku nggak mau dia emosi, karena emosi yang berlebihan bisa menimbulkan penyakit dan aku nggak mau Gio sampai sakit. Gio berangsur tenang


"Love, do you love me?", tanya Gio


"Of course, I do, honey", sahutku cepat dan yakin.


Gio kembali menarikku ke dalam pelukannya. "Sayang, jangan ladenii dia! Abaikan dia! Aku nggak rela kamu jadi pacar online dia. Aku cemburu. Hatiku sakit, yang....". Gio menatapku dalam, tatapan yang meluruhkan hatiku, untuk menuruti kemauannya.


"Sayang..., sebenernya aku kepikiran untuk blokir nomer dia, tapi aku takut dia marah atau tersinggung dan akhirnya malah nekad. Soalnya selama ini dia itu cuma menghubungi aku via chat aja. Dia juga nggak pernah memaksa atau menekan aku."


"Kamu masih menyimpan chat dia?", tanya Gio.


"Masih sebagian, chat yang awal-awal sudah banyak yang aku hapus. Kalau kamu mau, kamu boleh baca chat kami, tapi jangan sakit hati, soalnya di situ perbincangan kami seperti sepasang kekasih, ada panggilan sayang juga kata-kata cinta, meskipun bagi aku itu semua cuma sekedar hiburan saja karena menurutku yang namanya pacar online itu tidak nyata bahkan bisa dibilang tidak ada". Aku nggak mau menyimpan bangkai, jadi aku mau Gio tau semuanya. Aku juga mempersilahkan Gio membaca chat kami, sebab menurut aku Gio punya hak untuk mengetahui secara dia adalah calon suami aku dan kami akan menikah sebulan lagi.


Gio masih diam, tidak memberiku jawaban, tapi aku tetap mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja, kubuka aplikasi wa, kucari nama Vino lalu kubuka dan kutunjukkan pada Gio chat kami. Gio menerima ponselku dalam diam, tapi matanya menatap ponselku tajam, aku tau Gio mulai membaca chat itu. Pelan-lelan Gio mulai menggeser kursor untuk membaca chat berikut-berikutnya.


Aku memberi Gio waktu untuk membaca semua chat itu. Sementara aku hanya duduk diam menunggu, sambil memperhatikan raut wajah kekasihku. Ada raut kesal, jengkel, marah, cemburu, semua rasa campur aduk jadi satu.


Cukup lama aku menunggu, akhirnya Gio selesai juga membacanya. Gio kembali menatapku.


"Sayang, aku cemburu, sangat cemburu. Hatiku sakit membaca chat itu. Tapi aku tidak buta, aku tau setelah kita menjalin hubungan, tidak ada lagi balasan berupa kata-kata mesra atau pun panggilan sayang darimu. Kamu juga meminta dia untuk mengakhiri semua ini. Ada sedikit rasa lega, saat aku mengetahui itu. Love, kalau aku memintamu untuk memblokir nomer dia, apa kamu mau?"


"Kalau memang itu mau kamu dan itu adalah solusi yang terbaik untuk masalah ini,, tentu saja aku akan melakukannya."


"Sayang, apa kamu keberatan kalau nomer ponsel kamu aku bawa, jadi aku bisa kontrol chat atau panggilan masuk dari dia?"


"Pada dasarnya aku nggak masalah, cuma nomer itu juga aku pakai kerja. Bagaimana kalau ada klien atau suplier yang menghubungiku?"


"Aku paham. Oke aku nggak masalah nomer ini tetap kamu pakai yang penting kamu blokir aja nomer dia ! Seandainya dia menghubungimu dengan nomer baru, tolong kamu cerita sama aku." Gio memutuskan dengan tegas.


"Iya, yang", jawabku dan langsung kublokir nomer Vino saat itu juga di hadapan Gio.


"Makasih sayang kamu mau jujur dan terbuka seperti ini. Memang ada rasa sakit di hati, tapi akan terasa lebih sakit lagi bila aku tau aku sudah dibohongi. Dengan kejujuranmu ini membuatku yakin, aku telah mencintai orang yang tepat. Dan aku tidak akan pernah meragukan cintamu, sayang... "


Gio memelukku dengan erat, seakan dia tidak mau melepas pelukan ini lagi. Berkali-kali Gio membisikan ungkapan rasa cintanya di telingaku. Aku teramat sangat bahagia mendengarnya, aku bersyukur menerima cinta yang luar biasa dari pria yang teristimewa bagiku.


Aku tersenyum senang. Gio tidak marah, dia bisa menerima kenyataan ini dan mau memahami masalah ini juga. Aku bangga dengan sikap dewasa Gio.


Hilang sudah rasa takut dan kuatirku tadi, berganti dengan rasa lega campur senang dan terharu, hingga membuatku meneteskan air mata.


Terimakasih Tuhan, Kau sudah mengirim Gio untuk menjadi jodohku. Amin.


*********************************


🌈☀🌈☀🌈☀🌈☀🌈☀🌈


Halo readers


Gimana? Masih setia nungguin kelanjutan cerita Rasa Itu Ada? Semoga aja jawabannya iya. Hehe....


Readers, ranking RASA ITU ADA, sedikit turun, dari 120-an, sekarang jadi 260 lebih. Ayo dong bantu author, kencengin votenya, tambahin yang banyak supaya rankingnya bisa, terus naik. Buat yang belum pernah vote, ayo dong ikutan vote, author tunggu ya.... Buat yang sudah bantuin vote, author cuma bisa bilang terimakasih banyak 🙏🙏🙏


Jangan lupa ya semua....untuk selalu memberi dukungan pada author dengan vote, like dan komen kalian. Tanpa dukungan kalian, lunturlah semangat author.


Oh ya, kan di noveltoon ada ruang untuk chat tuh, ayo dong ikutan gabung di sana, chat kalian pasti author balas.


Oke semuanya....


Bye.... 💓🙋😘😊😇😀😍🙏💓


🌈☀🌈☀🌈☀🌈☀🌈☀🌈

__ADS_1


*********************************


__ADS_2