
Aku baru selesai mandi saat ponselku berbunyi, ada panggilan masuk tertulis 'my lovely hubby'.
"Pagi, sayang.... ", sapaku
"Pagi, love... Lagi ngapain? " tanya Gio.
"Aku baru selesai mandi. Ada apa, yang?" tanyaku lagi.
"Kangen, love", sahut Gio.
"Lebay ah! Kan kemaren seharian kita bareng terus. Kita pisah sudah jam 22.30, saat kamu antar aku pulang."
"Memang, tapi nggak tau kenapa sekarang ini aku pengen ketemu kamu", jawab Gio.
"Haha... Harus ditahan sampai seminggu, yang ! "
"Hegh.... Bener kata Dilan, rindu itu berat, " keluh Gio.
"Hahaha....pakai ngebawa nama Dilan segala ! Dilan kan masih remaja, lha situ sudah kepala tiga. Nggak malu apa sama umur?" ledekku.
"Kamu itu ya, mentang-mentang aku lima tahun di atas kamu, selalu aja nganggap aku ini sudah tua ! Tua-tua gini juga kamu cinta, calon suami kamu malah..." Gio balas meledek aku.
"Hahaha....ya namanya sudah nasib aku dapat yang tua, mau gimana lagi? ya tetap harus cinta dong sama calon suami....", sahutku.
"Love, omongan kamu ini bikin dadaku sesak, lo !"
"Belum juga diapa-apain kok sudah sesak? Lha pas first night nanti gimana? Masak pingsan ? Hahaha...", candaku sambil ketawa.
"Eits... Sudah berani ya ngomongin itu !" sahut Gio.
"Ya cuma sampai di situ aja. Jangan dilanjut lagi!", kataku.
"Kamu yang mulai, kamu juga yang nggak berani nerusin. Bingung aku sama kamu, love...."
"Haha...", aku menyahuti dengan ketawa aja.
"Love, padahal ini baru hari pertama, sudah kangen kayak gini, nggak kebayang nanti sampai hari ke tujuh.... " keluh Gio.
"Nggak usah dibayangin, yang ! Dijalani aja, pasti bisa !" sahutku memberi semangat.
"Iya, aku pasti bisa!" kata Gio semangat
"Gitu dong !! Bayangin aja baiknya, setelah seminggu ini berlalu kan kita bisa selalu bersama"
"Iya bener, harus mikir goal-nya aja. Biar tambah semangat dan kuat nahan kangen", kata Gio.
"Yang, btw nanti Fani dan Siska main ke sini", ceritaku.
"Asik dong, ada yang nemenin", sahut Gio.
"Tapi lebih asik ditemeni kamu, yang...." kataku
"Jangan menggodaku, love ! Godaanmu bisa meruntuhkan imanku," sahut Gio.
"Itu kok kayak kata-kata yang biasanya ditulis di baknya truk, ya....hahaha." Aku tertawa mendengar ucapan Gio.
"Haha... Kamu ini ada aja !", Gio ikut tertawa.
"Yang kamu Senin ngantor?", tanyaku
"Iya aku Senin sampai Kamis masih ngantor, Jumat aku baru mulai libur."
"Aku mulai hari ini sudah nggak boleh ke mana-mana, yang.... Ke cafe pun nggak boleh. Awalnya aku kira masih boleh kemana-mana, cuma nggak boleh ketemu kamu aja, tapi ternyata lebih parah", aku berkeluh kesah pada Gio.
"Ya mau gimana lagi, love ?! Sabar ya...., aku bakal sering telpon dan chat supaya kamu nggak suntuk", kata Gio.
"Beneran, ya ?!" Aku memastikan omongan Gio.
"Iya, love...aku janji," kata Gio lagi, bahkan Gio sudah mengucap kata janji.
"Sayang, udahan dulu ya...aku dipanggil mami soalnya"
"Okok.... I love you, Bye...", kata Gio
"Bye sayang.....I love you too", balasku.
"Vania....," terdengar suara mami memanggilku lagi.
"Ya, mi.....sebentar", aku menjawab panggilan mami dengan sedikit berteriak dan aku segera berlari menghampiri mami.
"Ada apa, mi?" tanyaku
"Ini lo, masih ada undangan yang belum terkirim, enaknya gimana ya?" tanya mami bingung.
"Kalau mau cepat ya pakai jasa kurir, mi", jawabku.
"Iya ya... , ya sudah kita pakai kurir aja untuk mengantarkan sisa undangan ini," akhirnya mami memutuskan memakai kurir untuk mengantar undangan yang belum terkirim. Masih lumayan banyak, masih ada duapuluh undangan lagi.
"Van, ingat ya....kamu di rumah aja, nggak boleh ke mana-mana, lo!" Mami kembali mengingatkan aku.
"Iya mami sayang....", sahutku sambil bergelayut manja di lengan mami, lalu kucium pipi mami.
"Pi....lihat anakmu, pi ! Minggu depan mau nikah, tapi masih manja gini....", kata mami pada papi yang baru keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah, papi duduk di sana.
"Biarin aja, mi...puas-puasin seminggu ini anakmu manja-manjaan, soalnya setelah ini dia bakal manja sama suaminya," jawab papi.
"Ya nggak manja sama Gio aja, sama papi mami juga....", protesku.
"Iya, tapi bakal lebih sering manja ke Gio, soalnya kan kalian tinggal bareng," jelas papi.
"Tapi Vania tetap sayang sama papi", kataku sambil menghambur memeluk papi dan mencium pipinya.
Papi membalas memelukku erat.
__ADS_1
"Papi juga sayang sama kamu, nak," sahut papi, ditepuk-tepuknya punggungku. "Nggak terasa, anak papi sudah dewasa, sudah mau berumah tangga", kata papi sambil merenggangkan pelukannya. Aku melihat mata papi berkaca-kaca.
Aku terharu melihat papi dalam keadaan seperti ini.
"Jadi kamu cuma sayang sama papi aja, Van? Sama mami nggak sayang?" Tanya mami yang sudah duduk di sebelah papi.
"Sayang dong ! Vania sayaaaang banget sama mami", kataku dan langsung beralih memeluk mami erat, kucium kening dan pipi mami berulang-ulang.
Mami pun memelukku erat, "Anak mami sudah besar, sudah mau menikah. Kalau boleh, mami pengen kamu tidak beranjak dewasa, sayang... jadi kamu bisa selalu bersama kami. Kamu adalah kebahagiaan kami, nak.", kata mami sambil melepaskan pelukannya. Sekarang aku juga melihat mata mami berkaca-kaca.
Aku merasakan desiran dalam dadaku. Meski aku cuma anak angkat, tapi kasih sayang dan cinta yang mereka limpahkan padaku sangat tulus dan luar biasa. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua seperti papi Ricky dan mami Heni.
"Papi mami, terimakasih sudah menyayangi, membimbing, mendidik dan menerima Vania seperti anak kandung sendiri. Vania nggak tau apa yang akan terjadi pada Vania kalau saat itu tidak ada mami dan papi...", mataku terasa memanas saat aku teringat kecelakaan yang menimpa kedua orangtua ku, saat aku down dan kehilangan, papi dan mamilah orang yang mengangkatku dari keterpurukan, dari duka yang mendalam.
"Vania sayang sama papi dan mami." Aku peluk mereka berdua bersamaan dan kembali kucium pipi mereka. "I always love you pi, mi..."
"Kami juga sangat-sangat menyayangimu, nak...", kata mami.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku. "Vania....., dek....", kudengar ada suara cempreng yang memanggil namaku di pintu depan.
"Sepertinya itu Siska sama Fani, Vania temui mereka dulu ya pi, mi..", pamitku sambil berdiri dan berjalan ke depan. Papi dan mami mengiyakan saja.
"Yaaa, sebentar!", sahutku.
Aku segera membuka pintu depan, bener aja yang datang dua sohibku. Kuajak mereka masuk ke dalam, ketemu papi sama mami, setelah ngobrol sebentar sama mami papi, kami lanjutin ngobrol di kamarku.
"Gimana Van, sudah siap nikah?" tanya Fani sambil bercanda.
"Siap nggak siap ya harus siap, kan sudah nggak bisa ditunda lagi. Seandainya dulu itu nggak ada masalah, aku juga sudah nikah lima tahun lalu," jawabku.
"Bener sih....", sahut Fani.
"Van sori, aku mau nanya, tapi janji kamu jangan tersinggung ya !", kata Siska
"Ih... mau tanya ya tanya aja Sis ! nggak usah sungkan", sahutku
"Ehm, kamu kan sudah tau siapa ibunya Nia, apa kamu yakin bisa terima Nia dalam kehidupan kamu dan Gio?" tanya Siska.
"Awal aku tau itu, aku sempat menjauhi Nia, tapi akibatnya Nia kepikiran sampai akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Saat aku tau Nia sakit gara-gara aku, aku jadi merasa sangat bersalah. Akhirnya aku menegaskan pada diriku sendiri, yang melakukan kesalahan itu ibunya, bukan Nia. Jadi aku nggak boleh melimpahkan kesalahan ibunya pada Nia. Saat ini aku justru bersyukur aku mengenal Nia, soalnya secara nggak sengaja aku bisa balik lagi sama Gio ya karena Nia." Aku menjawab pertanyaan Siska dengan jujur.
"Syukurlah kalau gitu. Semoga kalian bahagia, ya...", doa Siska.
"Amin. Tq, Sis," sahutku
"Van, takut nggak ngadepi first night?" tanya Fani
"Aku nggak mau mikirin itu. Biarkan semuanya mengalir aja. Semua orang yang sudah dewasa pasti bisa melakukan itu, tanpa harus belajar ataupun diajari karena hasrat itu adalah naluri manusia", jawabku.
"Bener itu. Nggak usah takut, nggak usah mikir macam-macam, karena setiap orang yang menikah pasti melakukan itu." Fani membenarkan pendapatku.
Ponselku berbunyi, ada notif wa. Segera kubaca
From my lovely hubby 10.46
From me 10.47
Ya, nggak apa
From my lovely hubby 10.48
Ok. Btw Siska sama Fani sudah datang, love?
From me 10.48
Sudah. Ini lagi ngobrol di kamar
From my lovely hubby 10.49
Ok silahkan dilanjut...bye sweet heart...
From me 10.49
Bye sayang....
"Chat sama siapa, Van? Gio?" tanya Siska.
"Bukan. Aku chat sama kak Jasson," candaku
"Seminggu lagi nikah berani macam-macam, aku aduin Gio", ancam Siska.
"Nih...aduin sono!" kataku sambil memberikan ponselku pada Siska.
"Percuma si Gio itu bucin abis, dia nggak akan mau dengerin aku," jawab Siska.
"Lagian nggak mungkin Gio percaya, orang yang chat barusan dia sendiri. Sis, kamu nggak usah mikir aneh-aneh, ya ! aku sama kak Jasson itu nggak ada hubungan apa-apa, cuma kakak adik aja, lagian aku sudah punya Gio, bahkan kita sudah mau kawin." Aku menjelaslan pada Siska, karena aku nggak mau ada salah paham.
"Iya, Van aku tau. Aku tadi cuma bercanda, kok," sahut Siska.
"Van, aku nggak nyangka lo kalian bakal balikan. Ternyata kalian berdua punya cinta yang luar biasa, tidak terhempas oleh waktu, lima tahun berpisah, tapi akhirnya tetap bersama. Aku salut sama cinta kalian berdua", kata Fani.
"Kalau kata orangtua Gio dan orangtuaku, memang sudah jodohnya. Jadi kalau sudah jodoh, mau gimana-gimana pun akhirnya ya balik lagi", jawabku.
"Menurut aku kamu beruntung, Van, karena dicintai sampai sebegitunya dan Gio tipe cowok yang setia," kata Fani lagi.
"Ya, aku memang ngerasa beruntung banget, Fan. Aku tau kok, Gio sangat mencintai aku dan aku nggak akan pernah menyia-nyiakan itu. Aku akan menjaga dan berusaha agar cinta Gio tidak akan pernah berubah," jawabku dengan sungguh.
"Semoga cinta kalian abadi, dek", ucap Fani dengan tulus.
"Amin. Tq doanya, say...", jawabku.
Lagi kita asik ngobrol, ada yang membuka puntu kamarku berbarengan dengan suara yang memanggilku.
"Mommy......". Nampak Nia masuk ke dalam kamarku, dia langsung menghampiriku, biasa pasti peluk cium dulu.
__ADS_1
"Hai sayang....", aku menyapa balik. "Nia diantar siapa?" tanyaku.
"Diantar daddy, tapi daddy nggak turun dari mobil, cuma nungguin sampai bibik buka pintu untuk Nia. Katanya daddy nggak boleh masuk. Kenapa mom? Mommy lagi marah ya sama daddy?", tanya Nia dengan polos.
"Bukan, sayang. Mommy nggak marah sama daddy. Nia tau kan daddy sama mommy akan menikah?"
"Nia tau, mommy akan jadi mommy Nia beneran, tinggal di rumah bareng Nia sama daddy."
"Iya, bener. Nah, karena mommy sama daddy mau nikah jadi selama seminggu ini kita nggak boleh ketemu. Itu aturannya untuk orang yang akan menikah," aku berusaha memberi penjelasan yang bisa dimengerti Nia.
"O gitu.. kirain Nia, daddy gangguin mommy, terus mommy marah", sahut Nia.
Aku tersenyum sambil mengelus kepala Nia. "Eh, Nia kok nggak kasih salam sama tante Fani dan tante Siska? Ayo kasih salam dulu, sayang....", kataku pada Nia.
"Halo tante Fani..., halo tante Siska", Nia menyapa kedua sahabatku sambil bersalaman.
"Tante boleh peluk dan cium Nia?" tanya Siska.
Nia menatapku seakan bertanya maka aku menganggukkan kepalaku. Dan Nia pun memberi anggukan kepala pada Siska.
Melihat respon Nia, Siska langsung menarik tangan Nia, memeluk dan menciumi Nia dengan gemes.
"Tante Siska sama kayak mommy, suka cium Nia banyak-banyak", komentar Nia setelah Siska melepas pelukannya.
"Haha..., itu artinya tante Siska sayang sama Nia. Tuh tante Fani juga pengen peluk Nia, boleh?" tanyaku.
"Boleh. Kan Nia sudah kenal, tante Fani sama tante Siska kan temennya mommy", sahut Nia.
"Ayo ke sini, sayang...," panggil Fani. Nia pun mendekat dan Fani memeluk Nia serta mendaratkan ciuman di kedua pipi Nia.
Sekarang Nia kembali duduk di pangkuanku. Ponselku kembali berbunyi, ada panggilan masuk dari Gio.
"Ya, sayang...", sapaku
"Love, aku barusan nganter Nia," kata Gio.
"Iya aku tau. Ini Nia lagi sama aku."
"Love, tadi Nia minta bawa baju ganti, katanya mau di sana sampai sore. Nggak ganggu, love?"
"Ya nggaklah"
"Oke deh, bye lovely..."
"Bye sayang..."
"Aku yakin, seminggu ini dalam sehari kamu akan berkali-kali menerima telpon dan ratusan kali bakal menerima chat dari Gio," kata Fani.
"Pengalaman ya, bu?" candaku.
"Iya, Bram yang orangnya sedikit cuek aja gitu, apalagi Gio yang tipe bucin gini....", kata Fani sambil ketawa.
"Haha..., iya aku nggak nyangka lo si Gio itu bucin", tambah Siska.
"Kak Bram bucin nggak, Fan?" tanyaku.
"Nggak, sih. Cuma suka jealous." sahut Fani. "Kalo Jasson gimana, Sis?" Fani bertanya pada Siska.
"Kita kan masih baru banget, jadi aku belum tau," jawab Siska.
"Masih proses, dengan berjalannya waktu, nanti pasti lebih tau sifat dan kebiasaan masing-masing," kata Fani.
"Nia, mommy mau minta tolong"
"Tolong apa, mom?" tanya Nia
"Bilangin bibik suruh bawain puding sama es jeruk, masing-masing empat ke kamar mommy.
"Kok empat, mom?"
"Iya, empat sama Nia. Memang Nia nggak mau?" tanyaku.
"Mau. Nia mau, mommy"
"Ya udah, buruan bilangin bibik, ya.....", kataku lagi.
"Oke mom....", sahut Nia sambil berjalan keluar.
"Makasih, sayang", kataku.
"Anak itu memang lucu dan bikin gemes,"! kata Siska.
"Iya, Nia memang selalu bikin aku gemes. Dulu, awalnya Nia manggil aku tante cantik, terus ganti jadi tante mommy, sampai akhirnya sekarang manggil aku mommy."
"Tante mommy....lucu banget panggilannya", komen Fani.
"Iya, awalnya aku nggak mau dipanggil itu, mauku dipanggil tante aja, tapi Nia ngotot mau manggilnya tante mommy. Katanya Nia tante mommy itu artinya tante-tante yang kayak mommy." Aku menceritakan kejadian lalu pada mereka.
"Hahaha.... ", Fani dan Siska menanggapi ceritaku dengan tertawa.
"Permisi non," kulihat Nia datang bersama bibik yang masuk ke kamarku sambil membawa puding dan es jeruk yang aku minta. "Ini silahkan dinikmati....," kata bibik.
"Makasih, bik," sahut kami.
"Nia, sini sayang...", aku melambaikan tanganku, meminta Nia untuk mendekat. Kuberikan sepiring puding padanya.
"Nia mau mommy suapi?", tanyaku.
"Nggak, mommy. Nia bisa sendiri", sahut Nia.
"Ok..., anak mommy memang pinter," pujiku sambil memgelus kepala Nia dan Nia pun tersenyum.
Setelah makan siang, Nia pun tidur. Aku bersama kedua sahabatku lanjut ngobrol dan bercanda sampai sore.
__ADS_1
******************************