RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 108 OLEH OLEH CUCU


__ADS_3

Hari ini kami berangkat bulan madu, papa mama, Gita, Sean dan Nia rame-rame mengantar kami ke bandara.


"Ingat ya sayang, bawain oleh-oleh yang mama minta," kata mama Gio sambil memeluk dan menciumku saat aku pamit padanya.


Aku nggak tau harus jawab apa, aku hanya tersenyum malu. "Ma, nitip Nia, ya..."


"Iya sayang, sudah nggak usah mikirin apa-apa, semuanya pasti beres kalo ada mama. Kalian nikmati aja bulan madu kalian dan konsen unruk bikinin mama cucu."


"Iya, ma", sahutku pelan. Ya ampun ma, ngomong masalah ini kok berkali-kali sih?! kan jadi bikin aku blushing berkali-kali juga...


"Pa, Vania berangkat, ya...", pamitku pada papa Gio.


"Ya, hati-hati. Safe flight, nak.... Enjoy your honeymoon," kata papa Gio.


"Ya, pa. Makasih", sahutku.


"Git, aku berangkat dulu, nitip jagain Nia, ya!" kataku pada Gita setelah berpelukan dan cipika cipiki.


"Tenang aja kakak ipar, pasti aku jagain. Tapi inget ! nggak gratis, ya ! Jangan lupa beliin daftar pesanan aku", kata Gita.


"Iya-iya....", sahutku.


"Nggak usah didengerin, love. Tuh anak memang manja, biarin nggak usah dibeliin pesenan dia", sahut Gio yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.


"Dasar kak Gio pelit !! Aku nitipnya nggak sama kak Gio, kok! kan aku nitipnya sama kak Vania", sahut Gita nggak mau kalah.


"Tapi Vania itu istri kakak, jadi dia pasti dengerin apa kata suaminya. Ya kan, love ?" kata Gio berargumen.


"Tau ah ! ribut aja sendiri kalian berdua !!", sahutku. Males aku dengerin mereka ribut. Aku tinggalkan Gio dan Gita yang masih ribut, aku menghampiri Nia.


"Sayang.....", panggilku.


Mendengar aku memanggilnya, Nia langsung melepaskan gandengan tangan omanya, dia langsung memelukku.


"Mommy...., Nia pengen ikut mommy sama daddy pergi", kata Nia.


"Mommy sama daddy pergi cuma seminggu, sayang, nanti kalau Nia liburan naik kelas, kita pergi bertiga, ya... ", bujukku.


"Beneran ya, mom?!" Nia bertanya penuh harap.


"Iya, asal Nia mau rajin belajar dan nilai raport Nia harus bagus, nanti kita jalan-jalan bertiga, ya....", aku membujuk lagi dan berjanji memberi Nia reward.


"Ya, mommy. Nia mau rajin belajar supaya nilai rapot Nia bagus, biar bisa liburan bertiga", kata Nia dengan senang dan bersemangat.


"Ada apa ini, kok princessnya daddy seneng gitu?" celetuk Gio.


"Kata mommy kalau Nia rajin belajar dan nilai rapot Nia bagus, nanti pas liburan naik kelas diajak pergi jalan-jalan bareng mommy sama daddy", jelas Nia pada Gio.


"Bener itu, daddy setuju sama mommy," sahut Gio sambil mengacak poni Nia.


"Mommy sama daddy pergi dulu, ya..., Nia di rumah harus nurut sama oma, opa dan aunty Gita. Nggak boleh nakal ya, sayang!", pesanku saat aku memeluk Nia, lalu aku cium kedua pipi dan kening Nia.


"Ya mommy", sahut Nia dengan manis.


"Daddy berangkat ya, be a good girl, oke?!" kata Gio pada Nia.


"Yes, daddy. I love you daddy, I love you mommy....", sahut Nia.


"I love you too," sahutku.


"I love you more, princess...", Gio membalas ucapan kasih Nia.


Setelah pamit sama semuanya kami segera masuk ke dalam untuk check in.


Sekarang kami sudah di atas pesawat. Aku duduk di dekat jendela. Saat ini pesawat sudah terbang di ketinggian.


Aku menguap, "Ngantuk, love?" tanya Gio.


"Sedikit," sahutku.


"Sini...", Gio merengkuh bahuku dan membawa ku ke dalam pelukannya dan kepalaku menyandar di dadanya. Karena sudah dalam zona nyaman, aku pun segera memejamkan mata, menikmati pelukan suami tercinta. Sesekali Gio mengecup puncak kepala juga keningku.


Terimakasih Tuhan, karena Kau ijinkan pria yang penuh cinta ini untuk menjadi suamiku. Bagiku, hal utama yang membuat seorang istri bahagia adalah dicintai, diperhatikan dan diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Masalah materi? Tidak munafik, masalah materi pun penting tapi bagiku bukan prioritas yang utama. Untukku, meski hidup cukup-cukup saja asal tidak kekurangan, tidak akan masalah. Meski tidak bergelimang harta selama cinta dan perhatian dari suami berlimpah, itu lah yang membuat seorang istri bahagia. Itu menurut aku, ya.....


Setelah beberapa jam, sampailah kami di tempat tujuan. Kami akan menghabiskan waktu seminggu di Bangkok dan Phuket.

__ADS_1


Setiap hari, dari pagi sampai malam kami berkeliling, mengunjungi obyek wisata yang ada, membeli banyak barang untuk sendiri dan untuk oleh-oleh.


Hari ke lima, setelah makan malam, kami balik ke hotel. Aku merasa badanku nggak fit. Sedikit demam, mataku terasa panas sekali dan tenggorokan sakit, tapi aku nggak mau Gio tau aku sakit.


Aku sengaja memakai jaket, selain untuk menghalau dingin juga supaya kulitku tidak langsung bersentuhan dengan Gio, supaya Gio nggak tau kalau badanku panas.


Begitu sampai di hotel, aku segera ke kamar mandi, meski demam aku tetap mandi sebab seharian jalan, keringat dan debu bikin tubuhku lengket, nggak enak kalau nggak mandi. Kali ini acara mandi kubuat sesingkat mungkin.


Selesai pakai krim malam dan body lotion aku segera naik ke tempat tidur. Aku pakai baju tidur lengan panjang. Aku tarik selimut hingga menutupi dada.


"Love, kenapa? Kok buru-buru tidur?", tanya Gio.


"Ngantuk," sahutku.


"Jangan bobok dulu, tungguin aku mandi sebentar", kata Gio


"Ya."


Begitu Gio masuk ke kamar mandi, aku langsung mengambil obat demam dan obat tenggorokan di koper. Aku nggak mau Gio ngeliat aku minum obat. Aku nggak mau dia kuatir karena aku sakit.


Kenapa ya aku bisa nggak enak badan gini? Secara setiap hari makan tiga kali dengan teratur, tapi setiap hari juga kami selalu jalan dari pagi sampai malam, setiap hari selalu mandi di atas jam 8 malam. Belum lagi doing something special for honeymooners.... hehe... Mungkin aku kecapekan, masuk angin, akhirnya sakit.


Gio sudah selesai mandi dan sekarang sudah rebahan di sebelahku. Gio memelukku dari belakang. Aku memejamkan mata berusaha untuk tidur, karena menurut aku, tidur itu juga salah satu obat supaya cepat sembuh.


Beberapa saat kemudian, Gio mencium pipiku, "Kok panas," kata Gio, lalu tangannya langsung memegang dahiku, " Ya ampun, love... kamu demam!", kata Gio dengan kaget.


"Sudah nggak usah ribut, aku sudah minum obat, nanti saat bangun pagi pasti sudah sembuh," sahutku.


"Nggak bisa gitu, love ! Sini, menghadap aku !" Gio membalikkan badanku hingga sekarang posisiku terlentang.


"Sejak kapan kamu ngerasa demam?" tanya Gio kawatir.


"Sore, setelah dari pantai", jawabku


"Sepertinya kamu masuk angin, soalnya di pantai pas kita liat sunset tadi anginnya kenceng." komen Gio.


Gio mengambil minyak kayu putih, lalu dibalurkannya di punggung, dada dan leherku. Badanku terasa sedikit hangat.


"Selain demam, apalagi yang kamu rasa?", tanya Gio penuh perhatian.


"Tenggorokanku sedikit sakit dan badanku lemas," jawabku.


"Tadi minum obat apa?" Gio menanyai aku lagi.


"Obat penurun panas sama tablet hisap untuk tenggorokan", jawabku.


"Jam berapa tadi minum obat? Kok aku nggak tau?"


"Aku minum obatnya waktu kamu mandi."


"Pusing, love?"


"Sedikit"


"Aku pijit pelipis dan dahi kamu, ya, biar pusingnya hilang", kata Gio sambil mulai menekan pelipisku dengan kedua ibu jarinya, dibuat gerakan memutar sambil sedikit ditekan, lalu kedua ibu jarinya diatarik ke atas, bertemu di dahiku, lalu sedikit ditekan lagi kedua ibu jarinya kembali ke pelipis kiri dan kananku. Gio mengulang-ulang gerakan itu.


Setelah beberapa lama, Gio menghentikan pijatannya. Pusing yang aku rasa, semakin berkurang.


"Gimana, love? Enakan kan?", tanya Gio.


"Hm ehm. Thank you."


"Kamu tengkurap gih, aku pijitin punggung kamu", suruh Gio


"Nggak! Nggak usah, yang ! aku nggak ngerasa capek, kok. Peluk aku aja," kataku.


"Nggak apa, nanti selesai pijit, pasti aku peluk," sahut Gio.


"Nggak mau nanti. Maunya dipeluk sekarang", kataku sambil mencari posisi yang enak dalam pelukan Gio.


"Ya sudah, ayo sini ! Aku suka kamu manja gini, love. Dan aku baru tau ternyata kamu kalo sakit manja, ya...', Gio tersenyum sambil mengusap-usap punggungku.


"Bobok gih! nanti tengah malam aku bangunin, minum obat lagi. Sekarang buruan istirahat, ya ! ", kata Gio sambil mengecup dahiku.


Tengah malam aku dibangunin Gio untuk minum obat. Saat aku bangun pagi, badanku sudah nggak demam dan nggak lemas lagi. Hanya masih ada terasa sedikit sakit di tenggorokanku.

__ADS_1


Aku melepaskan diri dari pelukan Gio, aku segera bangun untuk ke kamar mandi, biasa panggilan alam tapi aku juga mau mandi sekalian.


Baru lima menit aku di kamar mandi, aku mendengar Gio memanggilku, "Love, dimana, love?"


"Aku di kamar mandi", teriakku.


"Gimana keadaan kamu hari ini, love?", tanya Gio sambil menghampiriku yang baru keluar dari kamar mandi. Diletakkannya punggung tangannya di dahiku, "Sudah hilang demamnya", gumam Gio.


"Iya, kan kemaren aku bilang, saat bangun pagi aku pasti sembuh", sahutku.


Gio tersenyum, dipeluknya, pinggangku dan ditariknya badanku mendekat padanya, lalu dikecupnya bibirku.


"Nanti kamu ketularan, lo!", kataku setelah Gio menciumku.


"Aku dari kemaren minum vitamin c dan suplemen untuk kekebalan tubuh, jadi aku nggak akan ketularan," jelas Gio.


"Syukur deh kalo gitu. Aku cuma nggak mau kamu sakit. Soalnya kamu kalau sakit manjanya amit-amit", kataku, ingat saat Gio sakit waktu di Jogja dulu.


"Kamu kemaren juga manja!", sahut Gio nggak mau kalah.


"Jadi keberatan nih saat semalam aku minta dipeluk?" aku merajuk.


"Ya nggaklah, love.... Asal kamu tau ya, semakin kamu manja, aku semakin suka. You know why? Because I love you, baby." Gio mengeratkan pelukannya dan mencium pipiku.


"Sudah ah ! mandi sana! Dari tadi peluk-peluk dan cium aku tapi belum mandi dan gosok gigi. Bau tau !! Rugi aku, sudah wangi gini juga....", aku menggerutu sambil melepaskan diri dari Gio.


Tapi tenaga Gio lebih kuat, dia sengaja makin mengeratkan pelukannya dan menciumiku berkali-kali yang membuatku tertawa geli.


"Ayo... berani bilang bau lagi?! Aku ciumi lagi nanti", ancam Gio.


"Peace..", kataku sambil mengangkat dua jariku. "Suamiku yang ganteng dan wangi, buruan mandi gih, biar seger !", kataku manis.


"Nah gitu kan enak didengernya", kata Gio. Dielusnya pipiku dengan sayang, lalu melangkah ke kamar mandi.


Tanpa terasa, masa liburan bulan madu seminggu telah berakhir. Siang hari ini kami sudah berada di rumah.


Setelah mandi dan bersih-bersih, aku bongkar koper, bagi-bagi oleh-oleh buat semuanya termasuk buat bibik dan pak Min.


Aku masih menyimpan banyak oleh-oleh buat papi, mami kak Rey, kak Diana, Siska, Fani juga buat karyawan Mini Cafe.


"Sayang..." panggilku


"Hm..." sahut Gio tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya.


"Yang...", panggilku lagi mulai kesal.


"Ya ?", sahut Gio lagi, masih tanpa menoleh.


"Tau ah !!" kataku beneran kesal, aku tinggalkan Gio dan langsung aku masuk ke kamar. Sebel aku sama Gio. Memang apa sih yang diliat di ponselnya sampai dia cuekin aku??


Beberapa menit setelah aku tinggalkan, Gio menyusulku ke kamar.


"Love, kok aku ditinggalin?", tanya Gio sambil menghampiriku yang duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Hm...", gumamku nggak jelas. Aku sengaja cuekin Gio, aku buka aplikasi belanja online di ponsel.


"Love, dipanggil kok nggak ngeliat aku!", tegur Gio.


Aku masih sengaja nggak peduli dan tetap konsen ke ponselku.


"Love, your husband is me, not your handphone!", tegur Gio lagi sambil mengambil ponselku.


"How about you? Who is your wife? Me or your handphone?" balasku.


"Maksudnya apa ?" tamya Gio sambil mengernyitkan dahinya dengan bingung.


"Seorang suami itu tauladan bagi istrinya. Tadi di ruang tengah, saat aku panggil kamu nggak peduliin aku, kamu asyik sama ponselmu. Sekarang saat kamu mau ngomong dan aku sibuk sama ponselku, kenapa kamu protes?"


"O.... Jadi ceritanya bales nih ?!", sahut Gio yang mulai ngerti kenapa aku cuekin dia.


"Bukan mau balas, aku cuma mau kamu ngerasa, apa yang aku rasain tadi. Nggak enak kan nggak dipeduliin?!" sahutku masih dengan cemberut.


Ngeliat aku cemberut, Gio malah ketawa dan mengecup bibirku. "Kamu cemberut gitu malah bikin aku gemes, love... Okok, aku minta maaf kalau aku tadi cuek sama kamu, ngeliat ponsel terus saat kamu ajak omong. Jujur, sama sekali aku nggak ada niat untuk cuek ke kamu, love. Aku tadi lagi konsen ngerangkai foto-foto kita pas bulan madu buat dijadiin video", Gio meminta maaf dan memberi penjelasan padaku.


"Oke aku maafin, tapi jangan diulangi lagi ! Aku nggak suka dicuekin, apalagi kamu cuek sama aku cuma gara-gara pegang ponsel," aku mengungkapkan kekesalanku.

__ADS_1


"Iyaaa sayaaang... Sudah dong jangan ngambek lagi. Smile please ! come on baby smile....!" minta Gio sambil menggelitik pinggangku. Otomatis aku ketawa karena geli.


***********************.


__ADS_2