RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 96 KAK JASSON = VINO ??


__ADS_3

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾


DIANA POINT OF VIEW


Aku adalah Zevina Diana Bagaskara, adik dari Zevino Jasson Bagaskara. Kak Jasson adalah kakakku satu-satunya. Ya, kami dua bersaudara. Aku juga tunangan dari Rey kakak angkatnya Vania.


Dulu, sejak aku pacaran dengan Rey... aku, Rey, kak Jasson dan Vania sering pergi berempat. Kesannya seperti double date, tapi waktu itu Vania masih kecil, masih smp.


Setelah lulus sma Rey berangkat ke Amerika, sejak itu pula aku dan kak Jasson nggak pernah kontak lagi dengan Vania. Apalagi setelah aku lulus setahun kemudian, aku pun menyusul Rey ke Amerika.


Di Amerika aku dan Rey melanjutkan studi s1 dan s2, kami juga sempat terima kontrak kerja selama dua tahun di sana.


Beberapa bulan yang lalu, kami balik ke Surabaya. Saat aku, Rey kan kak Jasson ngobrol, kak Jasson banyak nanya-nanya tentang Vania pada Rey. Kami curiga dong... secara kak Jasson saat ini lagi jomblo.


"Perasaan kok dari tadi lo nanyain adek gue melulu? Naksir lo ya?" Rey langsung nembak ke sasaran.


"Apaan sih? Orang gue cuma nanya doang, secara kan dia pacar kecil gue."


"Naksir juga nggak apa, kak. Mumpung Vania masih jomblo. Jadi kalo memang suka, buruan tembak, " kataku.


"Tuh, udah gua kirim ke wa lo nomer hp Vania. Kurang baik apa coba gua sebagai ipar? Buruan contact dia !" kata Rey.


Kami berdua nggak tau gimana kelanjutannya, soalnya kami sibuk dengan urusan kerjaan yang baru kami rintis, juga sibuk dengan rencana pertunangan kami.


Tiga bulan lalu, saat aku dan Rey cerita pada kak Jasson tentang rencana kami untuk mencarikan jodoh teman-teman yang masih jomblo di acara tunangan kami, kak Jasson antusias sekali bahkan request untuk dipasangkan dengan Vania.


Saat itu Rey bilang kalo Vania punya pacar chat, tapi mendengar itu kak Jasson malah senyum-senyum.


Pas di acara tunanganku kemaren, aku beneran kaget ngeliat Vania gandengan sama cowok. Apalagi saat aku denger mereka sudah tunangan dan mau nikah bulan depan. Calon suami Vania ternyata rekan kerjanya Rey.


Aku sedih untuk kak Jasson. Dia pasti sedih sekali pacar kecilnya akan menikah.


Hari ini aku dan Rey ngajak Vania keluar, sebenernya sama kak Jasson juga, tapi nanti dia akan nyusul.


Di perjalanan Rey banyak bertanya tentang hubungan Vania dengan tunangannya. Dari cerita Vania, aku dan Rey bisa menyimpulkan kalau mereka berdua itu saling mecintai. Jadi ya kita cuma bisa mendoakan semoga mereka bahagia.


Menurut aku, seandainya kak Jasson maju duluan, kemungkinan besar Vania mau menerima kak Jasson. Sayangnya, kak Jasson tidak bergerak cepat, dia kurang sigap. Kak Jasson nggak sadar kalau punya saingan dan saingannya lebih duluan bergerak dan menyerang. Bener kata Rey ini tuh cuma masalah waktu.


Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk kak Jasson, selain menghiburnya dan mendoakan agar kak Jasson segera menemukan jodohnya. Perjuangan kak Jasson untuk mendapatkan Vania harus berhenti sampai disini.


🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾


Akhirnya kami sampai di sebuah resto & cafe yang cukup besar. Yang aku suka, tempat ini ada roof top nya, bisa untuk nongkrong.


Kami sudah memesan makanan dan minuman, kami duduk santai, ngobrol dan bercanda sambil menikmati pemandangan malam dari roof top.


"Selamat malam semua", ada orang yang menyapa kami, suaranya dari arah belakangku.


Sebelum aku menoleh orang itu sudah duduk di sebelahku. Kak Jasson.


"Hai... ", kak Jasson menyapaku sambil tersenyum.


"Malam, kak," aku pun membalas senyum kak Jasson.


"Kok baru nyampai bro?" tanya kak Rey.


"Iya, gue tadi pulang mandi bentar", jawab kak Jasson.


"Lo buruan pilih gih mau pesen apa? Kita semua sudah pesen soalnya." Kata kak Rey sambil melambai memanggil waiter.


Setelah waiter mencatat pesanan kak Jasson, kami kembali ngobrol santai, sesekali bercanda sampai makanan yang kami pesan datang.


"Van, gue sama Diana pisah meja, ya.... Kita pengen mojok. Lo di sini aja sama Jasson." Selesai berkata, kak Rey dan kak Diana langsung pindah tempat.


Aku bengong, bingung mau reaksi apa. Mau bilang nggak mau, aku nggak enak sama kak Jasson, tapi kalo berduaan gini nggak enak juga, secara ada Gio di antara kita. Hegh... tapi kalo berduaan gini, mungkin aku bisa nanya tentang kecurigaanku.


"Gimana cafe kamu, Van? Makin rame, ya? " tanya kak Jasson.


"Lumayan, kak. Kakak pernah ke Mini Cafe? ", tanyaku.


"Pernah, tapi yang di pusat kalo yang di tempat kamu belum. Aku takut diusir," kata kak Jasson sambil nyengir.


"Nggak mungkinlah, kak...tamu datang itu kan \= income cafe" sahutku


"Haha... Kamu ini sekarang pikirannya ke sana, ya.. Pacar kecilku sudah gede sekarang."


"Iyalah kak..., umur aku sudah hampir 28, ya pikirannya harus berubah."


"Ada yang nggak berubah, Van," kata kak Jasson sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa, kak?"


"Masih suka cemberut"


"Cemberut itu kadang aja, kak. Kalau nggak ada apa-apa ya aku nggak mungkin cemberut."


"Kak Jasson... "


"Hm... apa ?"


"Sebenernya dari kemaren di acaranya kak Rey itu ada yang mau aku tanyain sama kakak."


"Aku juga ada yang mau aku omongin sama kamu. Tapi kamu dulu aja yang nanya".


"Kak, beberapa bulan terakhir ini ada yang menghubungi aku via chat, dia tau banyak tentang aku, dia juga bilang kalau sudah lama mengenal aku. Namanya Vino. Kemaren di acara kak Rey, aku baru tau kalo kakak punya nama depan Zevino. Jadi aku terus berpikir apa...., apa....maaf sebelumnya ya kak, kalo apa yang aku katakan nanti salah, kakak jangan marah. Apa... Vino itu kak Jasson?" Aku bertanya dengan takut-takut, karena aku takut menyinggung perasaan kak Jasson.


Kak Jasson menatapku sambil tersenyum. "Menurut kamu bener nggak?" Kak Jasson balik bertanya.


"Kayaknya bener".


"Alasannya apa? "


"Kita sudah kenal lama, nama depan kakak Zevino, kata kak Rey kakak request untuk jadi pasanganku di pesta topeng."


"Pinter..., pacar kecilku sudah pinter sekarang, ya.... " canda kak Jasson.


"Jadi? Jadi beneran Vino itu kak Jasson?" Aku bertanya untuk memastikan.


"Iya, Van", sahut kak Jasson.


"Kenapa nggak bilang dari awal? Pake nama Vino segala...Jahil deh!!" Aku mengomel dengan kesel sambil cemberut.


"Tuh kan.. kumat cemberutnya", ledek kak Jasson.


Langsung kuluruskan bibirku supaya nggak cemberut lagi.


"Mau dengerin ceritaku nggak?" tanya kak Jasson.


"Mau", sahutku.


"Tapi janji nggak boleh marah, nggak boleh protes, ya... "


"Dulu kan kita sering pergi berempat, awalnya aku menganggap kamu cuma sebagai adek aja, tapi setelah setahun berlalu aku merasa ada yang lain, tapi aku nggak berani mengungkapkan perasaanku, mengingat kamu masih kecil, masih smp, yang pastinya masih belum boleh pacaran. Jadi aku putuskan mulai saat itu aku memanggilmu pacar kecilku."


Kak Jasson berhenti sebentar, dia meneguk minumannya, lalu melanjutkan ceritanya tadi.


"Setelah Rey dan Diana lulus dan berangkat ke amerika, kita sudah nggak pernah ketemu lagi. Aku pun menjalin hubungan dengan teman kampus, cuma bertahan dua tahun lalu kami putus. Saat kamu kuliah di kampus yang sama denganku, perasaan yang dulu pernah ada, muncul lagi. Tapi saat aku mau mendekati kamu, aku denger cerita dari Rey kalo kamu nggak mau pacaran, mau konsen sama kuliah kamu aja supaya cepet lulus. Mendengar itu aku pun mundur"


Aku serius mendengarkan cerita kak Jasson. Kak Jasson menarik nafas panjang, memberi jedah sebentar sebelum cerita lagi.


"Setelah lulus, aku berangkat ke Australi ambil s2, setelah 3 tahun aku lulus, aku balik lagi ke Indonesia, mulai merintis usahaku. Setelah jalan dua tahun, usahaku mulai keliatan hasilnya, mulai maju dan berkembang. Saat itulah aku kembali ingat kamu. Kata Rey kamu kerja di Jogja. Aku menemui om Ricky dan tante, mau nanya alamat kamu di Jogja, tapi betapa kagetnya aku saat denger kabar dari mereka kalau kamu sudah punya pacar dan mau tunangan. Aku pun kembali mundur."


"Suatu hari aku dikenalin temen sama sepupunya yang seumuran kamu, aku coba jalani, tapi hubungan kami putus setelah jalan setahun. Setelah itu aku putuskan untuk nggak mikirin masalah jodoh lagi. Aku mau konsen kerja aja, jodohku sudah disiapkan Tuhan, tinggal tunggu waktunya dipertemukan aja, pikirku waktu itu."


"Minum dulu, kak... biar nggak haus ngomong terus", kataku sambil menyodorkan sebotol minuman dingin pada kak Jasson, mengingat minuman di gelasnya sudah habis.


"Thank you, Van"


"Sama-sana"


"Aku teruskan, ya... Aku terus sibuk sama kerjaanku, dan aku nggak pernah tau berita tentang kamu. Aku kira kamu sudah nikah. Sampai akhirnya Reyhan balik , dia bawa kabar kalau kamu putus nggak jadi nikah. Aku langsung minta nomer ponsel kamu, tapi aku nggak punya keberanian untuk langsung maju. Jadinya aku mendekati kamu sebagai Vino. Dalam pikiranku, saat kita bertemu, kamu pasti tau siapa aku, tapi ternyata kamunya nggak mau diajak ketemu. Aku ngajakin kamu pacaran online, tujuanku kalau kita sudah nyaman, kita bisa pacaran betulan. Tapi lagi-lagi apa yang aku pikirkan nggak menjadi kenyataan. Mantan kamu kembali, dan kalian baikan lagi." Kak Jasson mengakhiri ceritanya.


"Maafkan aku, kak". Aku nggak ngerti kenapa aku minta maaf.


"Hei.... Kamu nggak salah, nggak perlu minta maaf." Kak Jasson menyadari kalau ini semua bukan kesalahanku.


"Tanpa aku sadar, aku sudah mengecewakan kak Jasson beberapa kali." Aku ngerasa nggak enak sama kak Jasson.


"Kamu kan nggak tau perasaan aku, jadi kamu nggak usah ngerasa bersalah. Aku cerita semua ini ke kamu, tanpa maksud apa-apa. Aku cuma berbagi cerita. Sekarang setelah cerita aku sudah lega, kamu sudah tahu siapa Vino sang kekasih gelapmu itu...", ledek kak Jasson sambil ketawa.


Aku pun ikut ketawa, "Kalo diinget-inget lucu juga, ya....ada kekasih gelap, kekasih terang..."


"Sekarang ini aku sudah bisa terima, Van. Aku sudah rela kamu bersama Gio. Aku doakan kalian bahagia. Aku harap setelah ini kita tetap bisa dekat sebagai adek kakak, meskipun kita tidak berjodoh sebagai pasangan kekasih." Kata kak Jasson dengan tulus sambil tersenyum. Matanya menatapku.


Bibir kak Jasson tersenyum, tapi aku bisa melihat sekilas kilat sedih di mata itu.


"Van, jangan blokir nomer aku yang baru, ya !" pesan kak Jasson.


"Haha... Iya, kemaren aku blokir nomernya Vino, soalnya Gio cemburu. Tapi yang baru ini sudah aku simpen, pake nama kak Jasson."

__ADS_1


"Haha... Soalnya Vino ngeganggu, ya.... Kalo Jasson kan orang baik... "


"Kak Jasson orang baik, pasti nanti dapet kekasih yang baik juga, yang lebih segalanya dibanding aku. Aku mendoakan yang terbaik untuk kak Jasson", kataku dengan tulus.


"Thank you, Van"


"Kak Jasson, aku punya sahabat di Jogja, dia juga lagi jomblo, mau aku kenalin?"


"Nggak usahlah, Van. Biar mengalir aja, kalau sudah waktunya nanti jodohku datang sendiri ."


" Nggak bisa gitu, kak ! Memang bener jodoh itu sudah ditentukan, tapi kalau dari kita nggak ada usaha sama sekali, ya nggak dapet-dapet, kak !! Kak Jasson jangan langsung nolak, kakak liat dulu fotonya." Aku segera mencari foto Siska di galeri, dan kutunjukkan pada kak Jasson.


"Nih liat fotonya... Cakep kan?! Namanya Siska umurnya 29 tahun. Anaknya baik, suka bercanda. Siska ini pribadi yang menyenangkan, kok."


Aku promosi sampai berbusa, Kak Jasson cuma tersenyum aja.


"Ya ampun, kak.... Aku tuh ngomongnya sudah panjang x lebar x tinggi, kak Jasson cuma senyum...Mau ya kak aku kenalin...Nggak usah langsung pacaran, temenan aja dulu... siapa tau cocok... ", aku berusaha membujuk kak Jasson.


Tanpa setahu kak Jasson, aku langsung video call Siska. Begitu nyambung, langsung aku hadepin layar ponselku ke kak Jasson.


"Hah? Kamu siapa? Kok kanu video call pake hp temen aku? "


Terdengar suara cempreng Siska yang kebingungan.


Aku langsung, mengarahkan layar ponsel ke aku dan kak Jasson.


"Dasar si kecil ! Nggak iseng nggak enak ya? Siapa tuh cowok? Gebetan kamu? "


"Bukan " sahutku sambil mengarahkan layar kamera ke arahku. "Sis, cowok itu sudah nggak ada di sini, kamu mau nggak aku kenalin sama dia?"


Padahal kak Jasson masih duduk di situ dan dia tentu saja denger apa yang aku omongkan dengan Siska.


"Mau dong ! dikenalin sama cowok cakep gitu masak aku nolak.... "


"Bagus!! Namanya Jasson, umurnya 32 tahun. Mapan, punya usaha sendiri, dewasa, baik, suka bercanda juga. Kriteria pacar idaman deh pokoknya... "


"Boleh... Boleh... Boleh dicoba temenan dulu, kalo nantinya kita cocok kan artinya rejeki nomplok. Haha... " kata Siska sambil ngakak.


Kak Jasson yang mendengar pembicaraanku dengan Siska tampak senyum-senyum.


"Kak Jasson ngapain senyum-senyum terus? Nih...ngomong sendiri sama Siska...."


Ponselku langsung kuarahkan ke kak Jasson. Saat ini kak Jasson dan Siska berhadapan di ponsel


"Ayo buruan saling nyapa dan kenalan, aku nggak mau ya jadi mak comblang, jadi kalian harus usaha sendiri", kataku sambil ketawa karena ngeliat kak Jasson dan Siska yang sama-sama salah tingkah.


"Udah nggak usah malu-malu, Sis... biasanya juga kan malu-maluin", kuledek Siska, kukedipkan aebelah mataku sambil tersenyum usil.


"Awas kamu ya...!! ", geram Siska.


"Jangan galak-galak ntar kak Jasson takut, lo ! Kalian lanjutin berdua ! aku tinggal, ya.... bye... "


Beberapa detik mereka cuma saling pandang dalam diam, akhirnya kak Jasson yang menyapa duluan.


"Hai... Kenalkan nama ku Jasson"


"Hai juga, aku Siska"


Setelah mereka mulai komunikasi, aku langsung meja kak Rey. Aku tinggalin kak Jasson yang lagi video call sama Siska.


********************************


🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮


Halo readers


Hari ini, masih pagi author sudah up episode 96. Selamat membaca, semoga makin suka sama jalan cerita Rasa Itu Ada.


Terimakasih untuk yang sudah vote, buat yang belum ayo dong mulai beri vote untuk karya author RASA ITU ADA. Author mengharap ada banyak tambahan votenya.


Jangan lupa, terus dukung author dengan memberi vote, like dan komen. Dukungan kaluan tuh booster buat author.


Kalau kalian lagi senggang, bisa gabung di group chat. Author tunggu ya....


Selama beraktivitas


Salam.... 🙋😘😄😇😊😍🙏


🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮🍰🍮

__ADS_1


*********************************


__ADS_2