
Selesai honeymoon, aku dan Gio menjalani aktivitas seperti biasa. Pagi, sebelum Gio ngantor di GAB Advertising, Gio mengantar aku ke Mini Cafe dulu. Sekarang setiap hari Nia selalu tidur siang di cafe dan pulang bersamaku saat Gio menjemput.
Hari-hari berlalu, tanpa terasa empat bulan sudah kami menikah.
Hari ini hari Sabtu, Gio dan Nia libur. Sejak menikah, tiap Sabtu dan Minggu aku juga ikutan libur, kecuali kalau ada urusan yang penting yang harus aku handle, baru aku ke Cafe.
Sejak bangun pagi tadi aku ngerasa nggak enak badan, tapi tetap aku paksakan masak makanan untuk sarapan. Setelah semua makanan terhidang, aku masuk ke kamar untuk bangunin Gio, sekalian mau mandi.
Aku berasa seperti masuk angin. Badanku lemas dan keluar keringat dingin, kepalaku pusing dan perutku mual. Aku paksain melangkah karena aku mau ke kamar mandi. Baru juga dua langkah..... "Bruuk...", aku terjatuh di karpet, karena kakiku lemas, mataku nanar, nggak lama setelah itu semua gelap.
Aku tersadar saat aku mendengar suara tangisan dan aku juga merasa ada yang menepuk-nepuk pipiku. Kubuka mataku....
"Puji Tuhan, love.... akhirnya kamu sadar. Kamu tuh bikin aku kuatir dan ketakutan, tau!", kata Gio sambil tersenyum, digenggamnya tanganku dengan erat.
"Mommy, mommy, mommy jangan pingsan lagi, ya..! Nia takut", kata Nia masih dengan terisak.
"Lo anak mommy kok nangis? Nanti bedaknya hilang lo kena airmata", candaku.
Nia tersenyum malu, dan langsung memelukku, " Nia sayaaang sama mommy, Nia nggak mau mommy sakit", kata Nia sambil mencium pipiku.
"Kamu kenapa love? Kok tiba-tiba pingsan, aku sampai panik, love," kata Gio.
"Aku juga nggak tau, mungkin aku masuk angin. Sejak bangun aku sudah ngerasa nggak enak badan," jawabku.
"Aku sudah panggil dokter Effendy, paling sebentar lagi datang. Minum teh hangat dulu, love," kata Gio, lalu membantuku duduk untuk minum teh manis hangat.
"Thank you".
"Sama-sama", sahut Gio sambil mengelus kepalaku.
"Tuan, dokternya sudah datang," kata bibik
"Suruh langsung masuk sini aja, bik", sahut Gio.
"Nia, mommy akan diperiksa sama dokter, Nia keluar dulu, ya ! nanti kalau opa dokternya sudah selesai meriksa mommy, Nia boleh temani mommy lagi, ya...", bujuk Gio.
"Ya, dad. Mommy, Nia keluar dulu, ya...", pamit Nia padaku.
"Ya, sayang", sahutku. Nia pun meninggalkan kamarku.
"Selamat pagi, om", sapa Gio saat dr Effendy masuk ke kamar. Dr Effendy adalah teman sma papanya Gio.
"Halo, selamat pagi...", sapa balik dr Effendy dengan ramah.
"Istri kamu kenapa, Gio?" tanya dr Effendy
"Badannya lemas, kepalanya pusing, keluar banyak keringat dingin, mual dan tadi juga sempat pingsan, om", Gio memberi penjelasan pada dokter.
"Oke, om akan periksa istri kamu dulu."
Setelah beberapa saat memeriksa, kulihat dokter Effendy tersenyum, lalu bertanya padaku, " Kapan terakhir datang bulan?"
"Bulan lalu", sahutku.
"Istri saya sakit apa, om?" tanya Gio
"Istri kamu baik-baik aja, dia nggak sakit, kok", sahut dr Effendy
"Kalau nggak sakit kenapa istri saya sampai pingsan, om?" kejar Gio.
"Istri kamu memang nggak sakit, tapi istri kamu hamil", jelas dr Effendy.
__ADS_1
"Apa ??", sahutku dan Gio barengan.
"Beneran om istri saya hamil?", tanya Gio dengan senang, bibirnya menyunggingkan senyuman yang lebar.
"Iya beneran. Selamat buat kalian berdua, ya.... Gio, om nggak buka resep untuk istri kamu, sebaiknya kamu sesegera mungkin periksakan istri kamu ke dokter kandungan, ya !" kata dokter Effendy.
"Baik, om. Gio secepatnya akan bawa Vania ke dokter kandungan. Makasih banyak om", kata Gio.
"Ok, om balik dulu ya, om mau ke rumah sakit soalnya," pamit dokter Effendy
"Makasih, dokter", ucapku.
"Sama-sama. Jangan terlalu capek, ya...", pesan dr Effendy.
"Makasih banyak, om," kata Gio sambil mengiringi langkah dokter tersebut ke luar.
Setelah mengantar dr Effendy, Gio kembali menemuiku. Aku sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Love...I"m very happy today," Gio duduk di sebelahku, Gio memelukku erat dan berkali kali menghujaniku dengan ciuman. Aku pun tersenyum senang.
Gio mendekatkan wajahnya pada perutku. "Halo sayang, ini daddy, nak. Jangan nakal, ya ! Jangan bikin mommy sakit, kasihan mommy nya, nak. Kamu di dalam baik-baik ya, yang sehat, sampai nanti saatnya bertemu daddy sama mommy, sayang..", kata Gio sambil mengelus-elus perutku dan menciumnya.
"Jadi yang disayang cuma babynya? mommy nya nggak?" aku pura-pura kesel.
"Jelas yang paling disayang ya mommy nya dong.!" sahut Gio.
"Gombal !"
"Rasa sayang dan cintanya daddy buat mommy tuh nggak perlu diragukan lagi, kadarnya lebih dari 24 karat, dalamnya tak terselami, luasnya tak terhingga dan tingginya tak terukur....", Gio mengeluarkan gombalannya.
"Pinternya ngegombal, tapi nggak mempan tuh buat aku."
Aku tidak mendebat lagi, aku hanya tersenyum saja. Satu tangan Gio menggenggam tanganku erat, tangan yang satunya mengelus perutku yang masih datar.
"Nia..., Nia...", tiba-tiba Gio berteriak memanggil Nia
"Ya, daddy," teriak Nia sambil berlari ke kamar kami.
"Ada apa, dad?", tanya Nia
"Nia mau punya adek?" tanya Gio
"Mau, dad. Nia mau punya adek," sahut Nia.
"Sini sayang," Gio melambai ke arah Nia, Nia pun mendekati Gio.
"Sekarang di perut mommy ada adeknya Nia", kata Gio sambil memeluk Nia.
"Beneran daddy?" tanya Nia
"Iya, beneran", sahut Gio dengan mantap.
"Yes yes yes !!! Asyiik !!! Nia punya adek, Nia punya adek....", teriak Nia sambil loncat-loncat senang.
"Adeknya cowok apa cewek, mommy?" tanya Nia padaku.
"Untuk saat ini masih belum tau, beberapa bulan lagi baru bisa ketauan adeknya Nia cewek atau cowok," jawabku.
"Adek cewek, adek cowok nggak apa-apa, yang penting Nia punya adek," kata Nia dengan senyuman di bibir mungilnya.
"Daddy, ayo video call oma ! Kalau oma tau, pasti oma akan ke sini", ajak Nia.
__ADS_1
"Iya bener, daddy sampai lupa nggak ngabarin oma opa." Gio segera mengambil ponselnya dan langsung melakukan video call pada mama.
Saat ini Gio duduk di sampingku, ikutan sandar di kepala tempat tidur, Nia duduk di pangkuan Gio.
"Halo ma..."
"Halo oma..."
Sapa Gio dan Nia kompakan, mereka juga melambaikan tangan saat melihat mama di layar ponsel.
"Hai...tumben pagi gini sudah video call," sahut mama Gio.
"Oma, Nia mau punya adek. Adeknya sekarang masih bobok di perut mommy", lapor Nia.
"Hah? Apa maksud Nia, Gio?" tanya mama Gio
"Keinginan mama untuk punya cucu terkabul, ma. Vania hamil", jawab Gio sambil tertawa.
"Hahaha..... Puji Tuhan, doa mama sudah terjawab. Syukur tetimakasih, Tuhan. Selamat ya, nak! Mama seneng banget dengernya," kata mama, lalu mama pun berteriak memanggil papa dan Gita. "Pa...., papa...kita akan segera punya cucu, pa!", lapor mama saat papa mendekat.
"Beneran, ma?", tanya papa
"Tuh ada Gio, papa bisa nanya langsung", kata mama sambil mengarahkan ponselnya ke papa.
"Halo nak..., beneran nih mantu papa hamil?"
"Bener, pa. Tadi pagi Vania jatuh dan pingsan, Gio takut Vania sakit apa gitu, terus Gio panggil om Effendy untuk memeriksa, ternyata Vania nggak sakit, tapi hamil.", Gio menceritakan apa yang terjadi pada papanya.
"Hah? Vania jatuh dan pingsan? Ada yang sakit atau kebentur nggak?", tanya mama panik.
"Nggak apa-apa kok, ma. Kebetulan jatuhnya di karpet", sahutku.
"Syukurlah kalau gitu. Hati-hati ya, sayang....ingat sekarang ada satu nyawa yang bergantung padamu ! Usahakan jangan kecapekan, ya ! Eh Gio, kamu harus segera bawa Vania ke dokter kandungan ! Mama akan suruh Gita booking tiket, nanti sore mama akan ke Surabaya." Mama mengingatkan Gio dan menasehati aku.
"Iya, ma. Makasih perhatiannya", kataku.
"Sama-sama, sayang...", sahut mama.
"Pasti, ma. Tapi ini hari Sabtu, dokternya nggak praktek. Hari Senin Gio akan ajak Vania ke dokternya, ma", jawab Gio.
"Ya sudah nggak apa, tapi harus lo Senin itu, jangan ditunda lagi ! Nanti kalau kamu nggak bisa, mama yang akan temani Vania. Kan hari ini mama akan ke Surabaya", sahut mama.
"Pesenin tiket buat papa juga, ma. Papa juga mau ikut," kata papa Gio
"Ada apa sih kok rame banget?", tanya Gita yang baru muncul
"Kamu akan punya ponakan lagi, Git ! kakak iparmu hamil," mama berbagi kabar dengan tersenyum lebar.
"O ya? Wah seneng aku.. Selamat ya kak Gio dan kakak ipar," Gita pun tampak senang.
"Kamu buruan pesenin tiket ke Surabaya buat papa sama mama, Git," suruh papa.
"Ok bos..., tapi Gita ikutan, ya", sahut Gita.
"Iya, buruan booking !" sahut mama.
"Ok pa, ma udahan ya, sampai ketemu nanti. Jangan lupa kabari pesawatnya nyampai jam berapa, nanti Gio suruh pak Min jemput di airport", kata Gio.
"Ok, nanti mama wa kamu. Jagain baik-baik mantu dan cucu mama, ya! Bye..." Mama mengingatkan Gio sekalian menyudahi video call kami.
************************
__ADS_1