
Setelah makan siang, kami kembali ke apartemen. Sampai di apartemen sudah jam 15.05. Gio langsung ke kamar katanya mau ganti baju. Aku duduk di sofa nonton tv dan makan coklat.
"Ting", ada suara notif wa. Segera kuambil ponselku dari dalam tas dan kubaca pesan yang masuk.
From Siska 15.11
Pengumuman pengumuman, bagi ibu Gio yang bertempat tinggal di Surabaya, dengan ini kami beritahukan bahwa, Siska, Fani dan Bram telah tiba di Surabaya.
From me 15.12
Kalian lagi di mana?
From Fani 15.13
Lagi duduk manis di gazebo hotel bxx , di bagian belakang hotel, say.... Kamu sendiri lagi di mana?
From me 15.14
Lagi di apartemen Gio
From Fani 15.15
Astaga Vania ! Sabar Van... tahan dulu! kan cuma nunggu seminggu lagi !
From me 15.16
Maksudnya apa? 😧
From Siska 15.17
😊😀😂
Maksudnya sekarang harus bisa nahan, seminggu lagi setelah kalian nikah baru boleh macem-macem.
From Fani 15.18
Sedang uji coba ya, Van? 😜😊
From me 15.18
Apaan sih kalian! Pikirannya ngeres semua!! Aku memang cuma berdua sama Gio di apartemen, tapi kami bukan pasangan mesum, ya!! Kami masih tau batas !! Lagian kita nunggu lima tahun aja sanggup kok masa nunggu seminggu nggak kuat??
From Fani 15.19
Wuih...si kecil langsung ngegas, Sis...
From Siska 15.19
Hahaha.... Sabar say....
From Fani 15.20
Haha... Bercanda, dek....
From me 15.20
Kalian berdua itu bikin sebel tau!!
From Fani 15.20
Van, kamu nggak nyusul ke sini?
From me 15.21
Aku baru balik, say... tadi abis fitting baju terus makan siang.
From Siska 15.22
Iya, Van buruan nyusul gih.! Nanti kita barengan keluar makan malam dari hotel.
From me 15.22
Aku nanya Gio dulu, soalnya aku nggak bawa mobil sendiri.
Kebetulan Gio yang sudah ganti baju, sekarang sudah duduk di sofa.
"Yang, Fani sama Siska sekarang lagi di hotel, mereka minta aku ke sana. Gimana, yang?"
"Kita istirahat di apartemen aja, ya... Nanti malam aja kita ketemu mereka. Aku masih pengen berduaan, secara mulai besok sudah nggak bisa ketemuan." Gio menjelaskan maksudnya.
"Ehm... aku alasan apa, ya ?" tanyaku
"Bilang aja capek, ngantuk pengen tidur", sahut Gio.
"Waduh jangan pake kata tidur, nanti diledekin lagi. Fani sama Siska tuh otaknya pada mesum soalnya.... "
"Haha... Memang mereka bilang apa, love? " tanya Gio kepo.
"Ya katanya nggak boleh macem-macem, suruh sabar nunggu seminggu lagi", kataku dengan pipi yang terasa panas.
"Memang kamu sudah nggak sabar ya, love?"
"Ih... kamu kok ikutan mereka sih?! Ya udah kalo gitu, sekarang aku nyusul mereka sendiri aja. Kamu nggak usah ngantar, aku naik taxi aja.
"Eh, siapa yang ngijinin kamu pergi? Kan aku minta ditemeni kamu," kata Gio.
"Males aku di sini ! Soalnya kamu sudah ketularan mesum," sahutku.
"Bercanda, sayang.... Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu sebelum kita sah," kata Gio sambil mengelus pipiku.
"Nanti malam sudah bareng sama mereka, bahkan besok dan lusa kamu masih ada waktu untuk bareng mereka. Tapi waktu kita berduaan cuma sampai jam enam sore ini aja. Jadi kita habisin waktu di apartemen aja, ya.... Temeni aku, please..." kata Gio sambil menatapku dalam.
Hegh! Tatapan mata itu selalu bisa meluluhkan aku. "Iya, aku temeni di sini," akhirnya aku menuruti kemauan Gio.
"Gitu dong ! Bikin calon suami seneng itu dapet pahala lo, love... "
Aku cuma tersenyum menanggapi omongan Gio. Segera kuambil ponselku, untuk memberitahu Siska dan Fani.
From me 15.28
Sis, Fan, sori aku nggak bisa nyusul. Nanti malam aja kita ketemuan.
From Siska 15.28
Ya...., kamu nggak asik ah !
From Fani 15.29
Kamu sih belum ngalami, Sis! Seminggu nggak boleh ketemu pacar itu beraaaat banget, kangennya bukan main. Jadi nggak heran kalau mereka mau menghabiskan waktu seharian ini untuk berdua, mau dipuas-puasin barengan, secara mulai besok sudah nggak boleh ketemu.
From Siska 15.30
Aku ldr, aku juga jarang ketemu, tapi nggak sampe kayak gitu...
From me 15.30
Kamu memang nggak bisa ketemu langsung, tapi masih mending bisa ketemu via video call...., lha ini cuma boleh telponan sama chat aja
Fron Fani 15.31
Ya udah, aku maklum kok, Van. Lanjutin deh quality time nya bareng om Gio.
__ADS_1
From me 15.32
Eh....kok om sih?! Sembarangan ngatain tunangan aku yang jelas masih muda dan ganteng
From Siska 15.32
Hahaha... Nggak terima dia Gio dikatain
From me 15.33
Ya iyalah aku nggak terima. Memang kenyataannya dia masih muda, kok. Baik secara umur maupun penampilannya
From Fani 15.34
Iya bu Gio. Suami anda memang masih muda dan ganteng, tapi kalau anak saya kan harus manggil om sama suami situ.
From me 15.35
Calon, Fan ! Dasar pinter ngeles!! Ya udah ah.. sampai ketemu nanti. Siska jangan lupa info tempatnya Bye...
From Siska 15.36
Ok. Bye...
From Fani 15.36
Bye mrs Gio
From me 15.36
Masih will be, mrs Bram.....
From Siska 15.37
Nggak masalah kan cuma kurang seminggu 😜😄
Aku tidak menanggapi lagi. Kuletakkan ponselku di meja. Aku lihat Gio mengambil semangkuk eskrim dari kulkas.
"Banyak banget ngambil es krimnya, yang?" tanyaku saat ngeliat es krim yang dibawa Gio.
"Kan buat kita berdua", sahut Gio
sambil makan es krimnya, lalu menyuapi aku juga.
"Yang, aku putar cd drama korea, ya... ", ijinku.
"Boleh. Kamu puter aja, nanti aku ikutan nonton", kata Gio.
Aku sudah memutar filemnya. Es krim sudah habis, Gio merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.
"Mau makan camilan apa, yang?" tanyaku
"Popcorn yang keju ada?"
"Ada", aku segera mengambil popcorn rasa keju dan segera membuka bungkusnya.
"Suapin, love", minta Gio, kumat manjanya tapi aku turuti aja.
"Nia aja sudah bisa makan sendiri, tapi daddy nya malah minta disuapi", aku menggerutu.
"Biarin! Aku suka dimanjain kamu. Itung-itung ini kenangan yang akan aku ingat selama kita puasa bertemu seminggu nanti."
Gio mengubah posisinya, saat ini wajahnya menghadap ke perutku, kedua tangannya melingkari pinggangku.
Mataku terpaku pada film yang aku tonton, tangan kananku mengusap-usap kepala Gio, hingga tanpa aku sadari ternyata Gio sudah tertidur.
Aku teruskan nonton drakor sendiri, karena banyak adegan sedih aku jadi banyak mengeluarkan air mata juga.
Saat aku kembali dari toilet, Gio belum bangun, aku duduk di karpet, badanku bersandar pada sofa yang ditiduri Gio. Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Gio.
"Sudah bangun, yang? Apa aku pindahin tadi yang bikin kamu bangun?" tanyaku sambil melihat ke arah Gio.
"Nggak, aku baru bangun, kok", sahut Gio. "Hei.... Kamu habis nangis? Ada apa love?" tanya Gio dengan bingung.
"Aku nggak apa-apa, kok. Ini itu cuma gara-gara drama korea yang aku tonton tadi", sahutku dengan malu karena keliatan cengeng, nangis sampai sembab cuma gara-gara filem.
Kulihat Gio tertawa kecil. "Kamu ini! Aku kira kamu mikirin apa, atau ada masalah apa sampai nangis gitu, ternyata cuma gara-gara drakor." Gio mengelus pipiku lembut.
"Sudah jam lima lebih, nggak mandi, yang?" tanyaku
"Mandi bareng yuk! " ajak Gio
Kutoyor dahinya, "Dasar otak mesum!!" Aku langsung berdiri, mengambil bajuku di paper bag yang aku taruh di sofa dan segera ke kamar mandi
"Hahaha..... Namanya juga usaha, kali aja kamu mau, kan artinya aku dapat rejeki nomplok...", teriak Gio sambil tertawa.
"Buruan mandi, yang.! Aku pakai kamar mandi luar, kok", teriakku tanpa meladeni omongan Gio.
"Iya, ini aku sudah jalan ke kamar, love", balas Gio.
Aku sudah selesai mandi, kuketuk kamar Gio sebelum masuk, Gio lagi menyisir rambut, masih pakai baju rumah, tapi sudah selesai mandi, sudah wangi.
Aku segera menghadap ke depan kaca, mengoles make up tipis, lalu merapikan rambutku. Sentuhan terakhir, semprotan parfum. Beres. Aku sudah siap.
"Nggak usah dandan cakep-cakep, yang," protes Gio.
"Nggak dandan pun aku sudah cakep kok," sahutku dengan enteng.
"Bener juga sih...," sahut Gio sambil sambil memeluk pinggangku.
"Sudah nggak usah peluk-peluk, nanti baju aku lecek", kataku sambil melepaskan tangan Gio dari pinggangku. Bukannya melepas pelukannya, tapi malah makin dipererat sama Gio.
"Yang, nanti leceknya malah makin parah, lo", protesku lagi
"Iih kamu kok milih baju kamu rapi daripada aku peluk?", sekarang ganti Gio yang protes
"Ya, soalnya aku nggak bawa baju ganti lagi, yang", sahutku.
"Ya udah kalo nggak mau dipeluk, aku nggak akan peluk kamu lagi", kata Gio dengan kesal. Gio segera melepaskan pelukannya dan bergegas keluar dari kamar.
Waduh... Harus segera diberesi ini ! Soalnya besok sudah nggak bisa ketemu, nggak lucu kalo marahan sampai hari h.
Aku segera berlari keluar menyusul Gio. Dia sedang berdiri di depan jendela. Kudekati Gio, kupeluk dari belakang, Gio diam saja tidak bereaksi.
"Yang..., jangan marah, dong! Waktu ketemu kita tinggal beberapa jam lagi, lo.... Maaf kalo kamu tersinggung sama sikapku tadi", aku tulus meminta maaf.
"Tadi nggak mau dipeluk, ngapain sekarang malah meluk aku? ", kata Gio masih dengan nada kesal.
"Aku bukan nggak mau dipeluk, aku cuma nggak mau baju aku lecek, soalnya kalau bajuku lecek, nanti si Siska sama Fani pasti ngatain aku yang macem-macem. Aku nggak mau jadi bulan-bulanan mereka..", aku berusaha menjelaskan masalahnya dan berharap Gio mau mengerti. Kueratkan pelukanku.
Gio mengelus tanganku yang memeluknya. "Sudah nggak usah dipikirin! Aku nggak apa, kok. Aku tadi cuma kesel aja, karena aku ngerasa kamu nggak suka aku peluk", jawaban Gio bikin aku tenang, setidaknya Gio sudah nggak marah lagi.
Gio membalikkan badannya, sekarang posisi kita berhadapan, kujinjitkan kakiku dan, "Cup.." kucium pipi Gio.
Gio tersenyum, dielusnya rambutku dengan sayang.
"Ting", terdengar suara notif wa.
"Kayaknya chat dari Siska itu, mau info tempat ketemuannya", tebakku.
"Ya kamu liat dulu sana ! Aku mau ke kamar dulu, mau ganti baju," kata Gio.
__ADS_1
Aku segera membaca chat dari Siska.
From Siska 18.18
Hei kecil..., ayo buruan berangkat ke resto abc, lantai paling atas, ruang vip, reservasi atas nama bapak Jasson.
From me 18.19
Iya, bawel ! Memang kamu sudah berangkat?
From Siska 18.20
Otw. See you there, bye...
From me 18.20
Ok, bye...
"Sudah tau mau ketemu di mana, love?", tanya Gio yang tau-tau sudah ada di belakangku. Gio sudah ganti baju, sudah rapi.
"Sudah. Di resto abc, lantai paling atas. Mereka sudah otw. Apa kita berangkat sekarang?" tanyaku.
"Boleh, aku sudah siap kok", kata Gio sambil memakai jam tangannya.
"Ok, Let's go... ", ajakku pada Gio, kulingkarkan tanganku di lengan Gio.
Gio menatapku, aku balas dengan tersenyum manis. "Kalau kamu lagi sweet gini, bikin aku gemes, love... ", Gio tersenyum sambil mengelus pipiku.
Perjalanan dari apartemen ke resto abc, perlu waktu sekitar 40 menit. Dengan bergandengan kami masuk ke ruang vip yang sudah dipesan kak Jasson.
Saat kami sampai, Siska, Fani, kak Bram sama kak Jasson sudah pada duduk manis. Ada kak Rey dan kak Diana juga. Begitu melihat kedatangan kami langsung deh ribut, pada banyak yang berkomentar....
"Cie cie calon pengantin, baru datang sambil bergandengan", sambut Siska, dia menghampiriku, cipika cipiki dan aku pun memberi selamat pada Siska.
"Selamat ya, Sis semoga selalu rukun dan segera dilamar", kataku. Gio juga menyalami dan memberi selamat pada Siska.
"Makasih untuk ucapan dan doanya", jawab Siska.
"Habis ngapain aja kok datang paling akhir, Van?" sambung Fani, yang sudah di belakang Siska. Setelah peluk cium denganku, Fani tos dengan Gio.
Belum sempat aku jawab komen dari Siska dan Fani, sudah terdengar pertanyaan dari kak Rey.
"Dek, lo dari mana? Tadi gue mampir ke rumah, kata mami lo pergi sama laki lo dari pagi."
"Hayo.... Dari mana aja hayo....", tambah kak Diana
"Rahasia dong ! Mau tau aja kalian ! Pada kepo deh.... ", sahutku enteng. Kulihat Gio cuma senyam-senyum mendengar keributan ini.
"Adik gue lo bawa ke mana, bro?", tanya kak Rey pada Gio.
"Gua culik adek lo seharian ini", sahut Gio sambil tertawa kecil.
"Gue maklum deh..., mengingat besok lo sudah nggak boleh ketemu, makanya hari ini dipuas-puasin, ya ?!" kata kak Rey sambil tertawa juga.
Aku menghampiri kak Diana dan kak Rey, setelah memberi peluk cium pada mereka, aku bersalaman dengan kak Bram dan kak Jasson, nggak lupa, aku juga memberi selamat pada kak Jasson atas jalinan kasihnya dengan Siska.
Sementara Gio bersalaman pada semuanya. Kusus pada kak Jasson selain bersalaman Gio juga memberi selamat.
Di ruangan ini tempat duduknya berupa sofa, terus ada meja panjang untuk tempat makanan dan minuman. Aku segera duduk di tempat kosong, di sofa yang untuk berdua, Gio pasti dong duduk di sebelahku.
"Rasain kangennya nanti kalau seminggu nggak bisa ketemu....", komen kak Bram yang dari tadi cuma diam.
"Curhat pengalaman pribadi ya, bro?" sahut Gio.
"Haha...iya, bro", jawab kak Bram jujur sambil mengaruk-garuk kepalanya. Dan itu membuat kita pada tertawa.
"Berhubung sudah pada datang semua, ayo kita mulai makan..." Kak Jasson mengajak kami untuk menikmati makanan yang sudah terhidang
Meskipun kami bersiap untuk mengambil makanan, tapi kami masih meneruskan obrolan kami.
"Eh, waktu aku dipingit ada cerita lucu lo... Saat itu si Bram sempet curi-curi video call ke aku, pas dia vc pas ada mama aku. Langsung aja mama terima telponnya, jadinya Bram vc sama mamaku," Fani bercerita sambil ngakak. Kontan saja kita semua ikutan ketawa membayangkan Bram yang pasti salah tingkah karena ketauan sama mertuanya.
"Sumpah gua malu banget waktu itu...", kata kak Bram setelah tawanya reda.
"Tuh dengerin yang ! jangan sampai kamu bernasib kayak kak Bram," kataku sambil menyenggol lengan Gio pelan.
Gio cuma tersenyum, dia berbisik di telingaku," Padahal aku sudah punya rencana untuk vc kamu, love".
Kucubit lengan Gio. "Kan sudah dibilangi nggak boleh, kok malah mau sengaja?" omelku.
"Itu langkah emergency, love.. Kalo sudah nggak kuat nahan kangen", bisik Gio lagi.
"Waduh calon pengantin ini bisik-bisik apa, ya...? Ngrencanain ketemuan saat dipingit ya?", terdengar suara cempreng Siska yang sekarang sudah berada di depanku dan Gio.
"Mau tau aja urusan rumah tangga orang", sahutku asal, dan ternyata omongan asalku itu berbuntut panjang.
"Eits.. Fan, kamu denger barusan Vania bilang apa? Adek kecil kita sudah nyebut-nyebut rumah tangga segala...", teriak Siska pada Fani yang berdiri bersama Bram, yang nggak jauh dari kami.
"Aku denger, apa yang barusan dibilang sama Vania. Aku nggak nyangka adek kecilku sudah dewasa, sudah siap mengakhiri masa lajangnya dan berumah tangga...", komen Fani sok tua.
"Hei.. Kakak tuaku nggak usah sok tua, ya.... Ingat! Umur kita tuh cuma beda dua tahun aja !" Omelku.
Aku heran lo sama Fani dan Siska ini, setiap aku ngomel mereka tuh bukannya nggak enak atau gimana, tapi pasti malah ketawa-ketawi... Saat ini pun seperti itu.
Mendengar keributan kami, tentu saja menarik perhatian yang lain.
"Ada apa ini? Bagi-bagi dong ! kalo seneng jangan ketawa sendiri! " kata kak Rey yang mendekati tempat kami berdiri, sambil membawa sepiring makanan.
"Ini lo, kak... adek kakak tersayang, masak aku nanya, jawaban dia : 'mau tau aja urusan rumah tangga orang', gitu kak jawaban Vania", Siska mengadu pada kak Rey.
"O.. Jadi adek kecilku kakak, sudah gede nih.... Sudah bisa ngomong masalah rumah tangga segala... ", goda kak Rey.
"Perasaan nikahnya masih seminggu lagi, lo...", sahut kak Diana.
"Gio, si Vania sudah pengen cepet nikah tuh! Resepsinya ganti besok aja nggak usah nunggu minggu depan", tambah Fani.
Aku malu diledekin kanan kiri seperti ini. Mukaku terasa panas. "Tuh mukanya langsung merah, kasihan adek kecil gue diledekin masal... " tambah kak Rey lagi.
"Yang... bantuin ! Aku dikeroyok tuh... ", aku mengadu pada Gio.
"Manjanya.... Pakai ngadu lagi!" komen Fani.
"Yang... ", aku meggoyangkan tangan Gio, menatapnya minta bantuan.
Gio tersenyum sambil mengangguk, digenggamnya tanganku erat.
"Hei sudah dong...! Jangan digangguin terus tunangan gua. Harusnya hari ini tuh bintangnya kan Siska, kalian salah sasaran, lo!" Gio melerai dan berusaha mengalihkan perhatian.
"Bener juga kata si Gio, harusnya yang jadi pembahasan kita tuh si Siska sama Jasson. Sis, aku sudah nikah, Vania minggu depan nikah, kamu kapan??" Fani mulai melalukan serangan.
Siska mukanya merah, "Jadian aja baru sudah ditanya masalah nikah", sahut Siska. "harusnya yang ditanya gitu bukan aku, Fan", sambung Siska.
"Wah... Ada kode dari Siska tuh, kak Jasson !" aku ikutan godain mereka.
"Jawab dong bro....", kali ini kak Rey yang ngomong.
"Doain secepatnya ya... ", sahut kak Jasson sambil menatap Siska dan tersenyum, wajah Siska sedikit merona. Dan jawaban kak Jasson mendapat sahutan kompak dari kita semua.
"Amiiin.... "
***************************
__ADS_1