
Argh... Kurentangkan tanganku, kuliukan pinggangku ke kanan dan ke kiri. Meski masih sedikit malas aku paksakan untuk bangun. Hari ini aku sengaja bangun pagi karena mau menyiapkan sarapan, soalnya sudah cukup lama aku tidak memasak untuk mami papi.
Setelah cuci muka dan gosok gigi aku segera ke dapur. Kubuka kulkas, kulihat bahan apa aja yang bisa kuolah.
Kuputuskan untuk memasak ayam rica-rica, tumis buncis teri dan udang goreng tepung.
Setelah satu setengah jam berkutat di dapur, akhirnya tiga menu yang aku masak sudah terhidang di meja makan.
"Hei... Morning sayang... Waduh kamu bangun jam berapa nak? Ini masih jam enam makanan sudah masak semua", sapa mami yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Morning, mi...", balasku. "Vania tadi mulai masak jam setengah lima, mi. Sengaja Vania bangun lebih pagi biar nggak keduluan mami".
"Hahaha.... Anak mami memang the best. Dari baunya aja sudah bikin mami laper, sayang. Pasti endez rasanya", kata mami
"Idih mami...! Mulai kapan mami ngerti bahasa gituan?", candaku.
"Itu... mami ikutan koki baru di cafe, dia sering banget ngomong endez", sahut mami sambil tertawa kecil.
"Good morning my beautiful ladies.... ", sapa papi saat tiba di ruang makan.
"Morning, pi", sahutku
"Morning my handsome man", mami membalas sapaan papi sambil tersenyum manis.
Aku senang merasakan keakraban dalam keluargaku. Papi dan mami saling menatap penuh cinta serta saling melempar senyuman. Iiihh...! Bikin aku baper aja ngeliatnya....
"Ehm... Ehm... ", aku pura-pura batuk.
"Kenapa, sayang", tanya mami.
"Mi, pi, inget dong di sini masih ada Vania, anak mami papi yang masih jomblo. Kok papi mami tega ya pagi-pagi gini sudah menyuguhkan adegan yang mesra dan romantis yang bikin jomblo baper.... ", protesku.
"Hahaha.... ", papi sama mami malah tertawa.
"Makanya buruan pacaran sana biar nggak iri sama papi mami...", sahut mami.
"Iya Van, mami bener, buruan kamu pacaran, terus nanti kita lihat pasangan mana yang lebih mesra, kalian atau kami?", papi menambahkan.
"Pasti lebih mesra Vania sama Vin....", aku segera menghentikan ucapanku, hampir saja terlontar nama Vino dari mulutku.
Ada apa denganku ? kok bisa-bisanya membayangkan Vino adalah pasanganku yang akan mengalahkan kemesraan papi mami....
"Sama Vin.... siapa, Van? ", tanya papi
"Hayo.... Vin siapa? Sepertinya ada yang main rahasia sama kita nih, pi? ", ledek mami.
"Nggak ada rahasia pi, mi. Memang Vania masih belum punya pacar, kok". Aku berusaha membela diri.
Tapi papi sama mami seakan nggak mendengar omonganku. Mereka malah nyuekin aku dan asik ngomong sendiri.
"Pi, nama cowok dengan awalan Vin.... itu apa aja ya? "
"Vincent, Vino, Vin.... apa lagi ya, mi? Kayaknya cuma itu, mi....", sahut papi.
"Iya kayaknya cuma itu. Ayo Van cepet kasih tau siapa nama calon mantu papi? Vincent atau Vino?", desak papi.
"Apaan sih papi mami ini? Beneran. Tadi itu Vania cuma bercanda aja. Vania memang sengaja ngomong kayak gitu untuk isengin papi mami aja". Aku berusaha ngeles.
"Mi.... Apa kita sudah nggak dianggapp lagi ya, mi? Kok cowoknya nggak dikenalin ke calon mertua, ya? ". Papi ngomong sama mami seakan-akan aku nggak ada di sana.
"Biarin aja, pi. Kalau pake main rahasia, nanti kalau ada yang mau melamar, nggak usah diterima, pi", ancam mami.
"Pi, mi, Vania ini anak kalian, lo... Mana mungkin Vania nggak menganggap kalian. Kalian berdua adalah harta Vania yang paling berharga", jawabku, karena aku meresa nggak enak mendengar omongan papi.
"Percaya nggak, mi? ", tanya papi pada mami.
"Ampun deh papi sama mami ini... Kok pada nggak ada yang percaya sama Vania, sih? Padahal Vania kan anak yang jujur, baik hati dan tidak sombong". Aku ingin menetralisir suasana dengan omonganku.
"Anak baik dan tidak sombong, memang bener, tapi jujurnya nggak tuh.... Ya kan, pi? ", sahut mami sambil meminta dukungan papi.
"Hm ehm". Papi manggut-manggut setuju sama mami.
Aku sungguh ngerasa nggak enak hati sama papi mami, akhirnya aku putuskan untuk cerita tentang hubungan online ku dengan Vino.
"Oke pi, mi, Vania akan cerita yang sebenernya", kataku.
Kutarik nafas panjang sebelum memulai ceritaku.
"Sekitar satu bulan yang lalu Vino chat ke wa Vania, dia bilang dia temen lama Vania, tapi Vani ngerasa nggak pernah teman yang namanya Vino. Tapi dia ini punya foto Vania saat sma dan kuliah, dia juga tau makanan kesukasn Vania, tau tempat kerja Vania, pokoknya Vino ini tau macem-macem tentang Vania. Bahkan Vino juga tau kalau Vania pernah trauma sampai nggak berani setir mobil untuk waktu yang lama".
Aku berhenti sebentar. Kulihat papi dan mami menyimak ceritaku dengan penuh rasa ingin tahu.
"Akhirnya kami deket, kami sering chat via wa, tapi kami nggak pernah telponan, nggak pernah video call dan nggak pernah ketemu. Vania sama sekali nggak tau rupa Vino, tapi Vino bilang dia tau Vania".
"Coba kamu inget-inget lagi, nak... Nama temen-temen kamu waktu sd, smp, sma, kuliah, temen kerja di Jogja, temen kerja di Surabaya....siapa tau ada di antara mereka yang namanya Vino", mami mencoba mengingatkan aku.
"Sudah, mi.... tapi memang seingat Vania tuh nggak ada temen Vania dengan nama Vino", jawabku.
"Atau.... Vino ini bukan nama yang dia pakai, tapi nama tengah atau nama panggilan saat di rumah... ", papi memberi masukan.
"Masuk akal juga omongan papimu, nak", sahut mami.
"Iya ya.. Bisa jadi sih. Tapi terus terang Nia banyak nggak tahu nama panjang atau nama panggilan rumah temen Vania", kataku pasrah.
"Sudah nggak usah bingung masalah itu ! Sekarang lanjutin aja ceritanya", minta papi.
"Kami merasa nyaman dengan hubungan pertemanan online ini, sampai akhirnya kami jadian, dengan sebutan kekasih chatting. Meskipun istilahnya kami sudah pacaran tapi kami masih belum pernah bertemu sekali pun. Vino pernah mengajak ketemuan tapi Vania menolak. Vania masih seneng menikmati hubungan pacar chatting", jelasku.
"Menurut papi, meskipun kamu nyaman dengan status kalian saat ini, tapi kamu harus memikirkan mau dibawa ke arah mana hubungan kalian? Kalau just for fun aja, mending sudahi secepatnya ! Tapi kalau ada niatan untuk serius, segera atur pertemuan, dan jalin hubungan secara normal". Komentar papi dengan tegas.
"Sekarang sudah bukan saatnya main-main lagi dalam menjalin hubungan, Van. Usiamu sudah hampir tiga puluh, sudah saatnya kamu serius memikirkan untuk berumah tangga, sayang", mami menasehati aku.
"Iya, pi, mi, Vania tau. Makasih untuk masukannya. Vania akan pikirkan lagi mengenai hubungan Vania dengan Vino".
"Ya sudah! Ayo kita makan aja sekarang. Perut papi sudah laper, nih... ', ajak papi.
"Iya pi, mami juga udah ngiler dari tadi pengen makan masakan calon istrinya Vino", ledek mami sambil mengedipkan matanya ke arahku.
"Apaan sih mami ini.... ". Mendengar omongan mami aku tersipu malu.
"Baru juga dibilang calon istrinya Vino aja mukanya sudah merah gitu, mi..... Gimana kalau nanti dilamar Vino ya, mi? ". Papi ikutan menggodaku.
"Gini nih... Yang bikin Vania nggak mau cerita... Papi sama mami gitu sih... ", aku merajuk dan cemberut.
"Lihat mi! Sudah mau nikah juga masih manja gitu...ngegemesin deh!", kata papi tertawa.dan mencubit pipiku. Mami pun ikutan ketawa. Nggak usah heran! Mereka memang pasangan yang kompak apalagi kalau urusannya ngebully aku...
"Sudah tahan dulu ngerjain Vania, pi. Kita doa dulu sebelum makan", mami menyudahi obrolan kami.
Selesai makan aku mencuci piring, mami membereskan meja makan. Setelah semuanya rapi, aku segera mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.
Hari ini aku tidak langsung ke cafe, tapi aku ada keperluan ke bank dulu.
Jam 10.30 aku baru nyampai cafe.
Begitu sampai, aku langsung disambut Rina.
"Pagi, Bu. Bu barusan omanya Nia telpon konfirmasi tentang kue ultah untuk Nia", lapor Rina
"Omanya bilang apa? ", tanyaku.
"Awalnya nanya apa ada pesanan kue ultah atas nama Nia untuk tanggal 14, saya jawab ada. Omanya nanya lagi tentang spesifikasi kue yang dipesan itu, ya saya jelaskan dan sepertinya omanya suka dengan keterangan yang saya berikan", tutur Rina
"Nggak ada permintaan lain?", tanyaku lagi.
"Itu bu, namanya nggak boleh ditulis Nia aja, tapi minta dituliskan nama panjangnya. Oma minta sebelum jam lima sore kuenya sudah nyampai ke tempat acara. Tadi saya sudah diberi alamat resto dan nama ruangan yang dipakai", sahut Rina.
"Ya nggak apa, turuti aja. Sudah kamu catat semua, kan?", tanyaku untuk memastikan.
"Sudah, bu".
__ADS_1
"Bagus. Makasih ya, Rin".
"Sama-sama, bu".
Setelah urusan dengan Rina beres, aku segera maduk ke ruanganku.
Notif wa ku berbunyi, kubuka tasku untuk mengambil ponsel.
From Vino 10.42
Pagi, sayangku....
Kamu pagi ini keliatan cantik dan fresh banget deh....
To Vino 10.43
Pagi juga...
Sok tau!
From Vino 10.44
Ya taulah.... Kan tadi aku ngeliat kamu. Kamu dari bank bbb, kan?
To Vino 10.45
Hah? Beneran kamu tadi ke bank itu?
From Vino 10.46
Beneran. Kamu pake atasan warna kuning dipadu kulot panjang warna putih, kan?
To Vino 10.47
Ih... Curang!!
From Vino 10.48
Kok curang?
To Vino 10.49
Iya, kamunya tau aku, aku nggak tau kamu
From Vino 10.50
Makanya.... kita ketemuan, yuk!
To Vino 10.51
Nggak ah!
From Vino 10.52
Tuh kan kamu nggak mau ketemu aku. Makanya tadi waktu di bank aku cuma ngeliatin kamu dari jauh aja. Aku nggak nyamperin kamu.
To Vino 10.53
Kamu di sebelah mana, sih? Pake baju warna apa?
From Vino 10.54
Aku kasih tau juga kamu nggak bakalan tau. Tapi kalau kita ketemu, kamu pasti langsung tau, soalnya kita memang sudah kenal.
To Vino 10.55
Kamu siapa sih, Vin?
From Vino 10.56
Kok nggak panggil sayang?
Lagi males sama kamu
From Vino 10.58
Manggil sayang sama pacar itu tergantung mood, ya?
To Vino 10.59
Iyalah.
From Vino 11.00
Kalo aku, bagaimana pun suasana hatiku, panggilan sayangku nggak akan berubah
To Vino 11.01
Masaaaakk?? 😝
From Vino 11.02
Makanya pacaran beneran, yuk.... supaya kamu bisa buktiin sendiri omonganku.
To Vino 11.03
Aku nggak berani
From Vino 11.04
Maksud kamu nggak berani pacaran? Kenapa sayang?
To Vino 11.05
Sori, aku belum bisa cerita apa alasannya
From Vino 11.06
Nggak apa, suatu hari kalau kamu mau, kamu bisa cerita ke aku. Aku siap dengerin.
To Vino 11.07
Makasih pengertiannya.
From Vino 11.08
Yang, udahan dulu ya chat-nya ini ada klien telpon. Bye...
To Vino 11.09
Ok. Bye...
Baru aja ponsel kuletakkan, saat Nia masuk ke ruanganku.
"Tante mommy..... ", teriaknya sambil berjalan menghampiriku.
"Hai... Sini sini...!", panggilku.
Begitu dekat, langsung kutarik tangannya lalu kupeluk dan kucium dia. Seperti biasa Nia nggak akan protes, dia malah bersandar nyaman di dadaku.
"Tante mommy.... ", panggil Nia
"Ada apa sayang? ", tanyaku
"Kemaren Nia sudah ngomong sama oma juga sama aunty"
"Nia ngomong apa sama oma dan aunty", tanyaku pengen tahu.
"Nia bilang Nia sayang sama tante mommy", sahut Nia
__ADS_1
"Mereka bilang apa? ", tanyaku lagi
"Kata oma kalau Nia sayang sama tante mommy nggak apa-apa, tapi kalo Nia nakal atau jahat itu yang nggak boleh", cerita Nia.
"Waktu Nia nyebut tante mommy, oma sama aunty nggak nanya ? kenapa Nia kok manggilnya tante mommy?", tanyaku
"Tanya", sahut Nia singkat
"Terus Nia jawab apa? ", aku makin kepo
"Nia bilang Nia pengen punya mommy, jadi Nia panggil tante dengan sebutan tante mommy", jelas Nia.
"Mereka nggak marah?", tanyaku lagi
"Nggak. Mereka malah pengen kenal sama tante mommy. Nia bilang juga nanti pas Nia ulang tahun mereka bisa ketemu tante mommy".
Mati aku!! Keberadaanku di acara ultah itu akan menjadi sorotan keluarganya Nia.
"Tante mommy, Oma bilang katanya mau telpon, mau nanya kue ulang tahun Nia", lapor Nia.
"Sudah. Tadi oma sudah telpon sama mbak Rina", jawabku.
"Tante mommy jangan lupa ya princess ariel-nya yang gede".
"Iya, sayang.... Tenang aja!! Sudah tante suruh siapin, kok", jawabku santai.
"Beneran ya tante mommy harus dateng ya ke ulang tahun Nia"
"Iya, kan tante sudah janji sama Nia"
"Datengnya nggak boleh telat"
"Tante usahakan, ya...."
"Satu lagi, nanti di ulang tahun itu, Nia panggil tante dengan sebutan mommy".
"Jangan dong, sayang.... Kan di sana ada keluarga Nia. Tante nggak enak sama mereka".
"Di sana ada temen-tenen dan guru Nia, mereka kan taunya tante itu mommy Nia, masak Nia manggil tante mommy?? Nanti Nia diledekin lagi.....dan mereka jadi tau kalau Nia nggak punya, mommy". Nia tampak sedih, dia menundukan kepalanya.
Aku jadi kasihan juga. Aku pikir apa, yang diomongkan Nia ada benernya. Aku nggak mau Nia jadi bahan olok-olok teman-temannnya.
Akhirnya aku mengalah, aku menyetujui keinginan Nia. "Nia boleh panggil tante dengan sebutan mommy di ulang tahun Nia, saat di depan teman dan guru Nia aja. Tapi di depan keluarga Nia, panggilnya harus tante", tegasku.
"Tante mommy, mana bisa kayak gitu? Kalo kebetulan ada temen terus di sana juga ada oma, Nia gimana panggilnya? ", tanya Nia bingung.
Aku juga nggak tau harus menjawab apa.
"Gini aja, tan.... tolong ijinin Nia panggil mommy aja di ulang tahun Nia. Please.... ". Nia memohon padaku.
"Ok, kalau kebetulan ada temen dan keluarga, Nia boleh panggil mommy. Tapi kalau cuma ada keluarga Nia aja, panggilnya tante", kataku.
"Ok, makasih tante mommy.... Nia sayang tante mommy", kata Nia sambil mencium pipiku
Ini anak memang manis kelakuannya. Bikin aku makin sayang dan gemes sama dia...
"Tok... tok... permisi, bu... "
"Ya, Masuk..."
"Bu ada kiriman makanan, nih...dari 'VN.", kata Ani sambil melangkah masuk.
VN... pasti Vino, pikirku.
"Makasih ya, An"
Kukeluarkan isi kantong plastik itu, ternyata bakso dan es teler.
Hmmm..... Pasti yummy dan seger, bikin ngiler deh....
"Ting", terdengar notifikasi di ponselku berbunyi.
From Vino 12.05
Selamat siang sayang
Buruan dimakan baksonya, ya....
To Vino 12.06
Tq. Siang ini kamu makan bakso juga?
From Vino 12.07
Iya, aku tadi pesan dua paket, satu kirim ke cafe, satu lagi kirimnya ke kantor aku.
To Vino 12.08
Kamu suka bakso juga?
From Vino 12.09
Suka dong !! Kan kita dulu sering makan bakso bareng....
To Vino 12.10
Kapan? Di mana?
From. Vino 12.11
Rahasia...!! Sudah dulu ya... Aku makan baksoku dulu, nanti kalo dingin nggak enak.
To Vino 12.12
Ok, aku juga mau makan bakso. Thx untuk baksonya
Selamat makan, sayang....
bye....
From Vino 12.13
Waduh makanku jadi lahap nih, dikasih ucapan selamat makan pake sayang lagi..... 😍
Aku ikutan ah....selamat makan juga sayang.....
Bye.... I love you😘
Akhir-akhir ini Vino sering mengakhiri chat kami dengan kata I love you..... kata-kata itu diucapkan beneran dari hati atau cuma pelengkap omongan aja, ya??
***************
To all readers
Mohon maaf, author uploadnya kemaleman, jadi mungkin tetbitnya subuh, tapi episode ini panjang, ada 2400 kata.
Ikuti terus ya kelanjutan cerita RASA ITU ada sampai tamat. Semoga kalian makin suka sama jalan ceritanya.
Author selalu menunggu vote, like dan komen kalian. Ajakin atau share link cerita ini ke kenalan kalian untuk ikutan baca novel RASA ITU ADA
Untuk yang sudah vote author ucapkan terimakasih banyak. Author masih menunggu vote kalian lagi banyak-banyak, lo.... 😊🙏
Bagi yang belum vote, please dong bantu vote karya author.....
Thank you all
Best regards 🙋😘 😊😇😄😍🙋
**************
__ADS_1