RASA ITU ADA

RASA ITU ADA
EPISODE 63 TANTE MOMMY


__ADS_3

Seperti biasa.....sepulang sekolah Nia main ke cafe. Jam sebelas lebih sedikit Nia sudah masuk ke ruang kerjaku.


Hari ini tidak seperti biasanya, mukanya Nia cemberut, matanya sedikit sembab seperti bekas nangis.


Begitu masuk ruang kerjaku Nia langsung menghampiriku, duduk di pangkuanku, memelukku, membenamkam wajahnya di dadaku dan langsung menangis.


"Ada apa, sayang? ", tanyaku "Ayo cerita sama tante, jangan cuma nangis, karena tante nggak akan tau apa masalah Nia kalau Nia nggak cerita". Kuelus rambut Nia, aku berusaha membujuk Nia untuk mau ngomong.


"Hiks.. Hiks.. Hiks..., besok hari Ibu, semua murid disuruh datang sama mommy-nya. Mommy Nia kan lagi pergi, besok berarti Nia datang sendirian lagi tanpa mommy. Nanti temen-temen bakal ngatain dan ngejek Nia nggak punya mommy kayak waktu itu....hiks hiks hiks hiks..."


" Cup sayang....sudah.... Nia tenang ! brentiin dulu nangisnya.! Nanti kita cari solusinya, ya.... ", kataku berusaha menenangkan Nia.


Pelan-pelan tangisnya pun berhenti. Kuusap airmatanya dengan tissue. Kuambilkan segelas air mineral untuk diminumnya, supaya lebih tenang.


"Nia besok mau bolos, tan", kata nia.


"Lo kok bolos ? Jangan bolos, dong! Gimana kalo Nia ajak daddy aja...."


"Daddy kan cowok, tan... Masak daddy pake bajunya oma.... kan kasihan daddy, Nia juga malu kalo daddy pake baju cewek ke sekolah".


"Hahaha.....", aku nggak kuat menahan tawaku denger omongan Nia barusan. Apalagi aku membayangkan pria muda, ngegandeng tangan anaknya ke sekolah tapi pake daster...... Hahaha......


"Tante cantik nyebelin ! Diajakin ngomong beneran kok malah ngetawain Nia sih... ", Nia cembetut


"Maaf, sayang..... tante tadi ketawa karena bayangin omongan Nia tadi. Tante bayangin daddy kamu pake daster.... Makanya tante ketawa", jelasku sambil ketawa lagi.


"Ketawa aja terus.....! Nanti Nia laporin daddy kalo tante cantik udah ngetawain daddy", ancam Nia.


"Eh.. Kok gitu sih! Jangan dong ! Nanti kalo daddy marah, terus Nia nggak boleh main sama tante lagi, gimana...? ", aku sedikit menakuti Nia.


"Iya deh nggak jadi Nia laporin daddy. Besok enaknya Nia gimana, tan?", tanya Nia lagi.


"Nia ajak oma aja gimana? ", usulku


"Oma lagi nggak di sini, tan. Lagian oma kan sudah tua, masak mommy nya Nia nenek-nenek.... "


"Ajak bibik aja, ya... ", aku kembali memberi usul pada Nia.


"Tante ini gimana sih? Kalo bibik kan semua orang di sekolah sudah tau bibik, jadi nanti nggak akan ada yang percaya kalo bibik itu mommy-nya Nia".


"Habis gimana dong...? " Aku juga kehabisan akal.


"Tante cantik aja besok yang ikut ke sekolah, tante cantik aja yang jadi mommy-nya Nia", Nia mengungkapkan keinginannya dengan penuh semangat.


"Hah...?? Menurut tante, daddy kamu juga bakalan marah, lo kalau tau tante yang jadi mommy nya Nia di acara sekolah besok", aku memprotes omongan Nia.


"Kalo daddy marah, Nia juga marahin daddy.... Kan daddy yang bikin mommy marah sampe nggak pulang-pulang", jawab Nia dengan nada ketus.


Ini anak.... masih kecil tapi kok otaknya bisa mikir sampai sana, ya....


"Pokoknya tante aja yang jadi mommy Nia besok", Nia memastikan.


"Kok jadi tante sih? "


"Soalnya tante yang paling cocok jadi mommy nya Nia. Tante kan cantik, Nia juga cantik, kita kan sama-sama cantik, jadi cocok. Pasti temen-temen Nia percaya kalo tante cantik mommy nya Nia", jawab Nia dengan alasan yang dipaksakan, menurutku.


"Mommy sama anak itu biasanya wajahnya mirip. Kalo Nia sama tante kan nggak ada miripnya...", aku berusaha mengelak dengan memberi alasan yang masuk akal.


"Bik...., bibik... ", tiba-tiba Nia membuka pintu ruanganku dan memanggil pengasuhnya.


Bibik pun segera datang dan masuk ke ruang kerjaku. "Ada apa, non? Non Nia kenapa? ", tanya bibik dengan kawatir.


Nia langsung duduk di pangkuanku dan menempelkan pipinya ke pipiku.


"Bibik lihat, ya.... Nia sama tante cantik mirip, kan? Sama-sama cantik kan? ", tanya Nia.


Aku memberi kode pada bibik dengan membelalakan mataku dan menggeleng sedikit, maksudku supaya bibik bilang nggak. Tapi bibik nggak paham.


"Iya, non... Non Nia mirip sama tante cantik", jawab bibik. Bibik memang nggak tau ceritanya, dan aku tau bibik pengen bikin Nia seneng, makanya bibik jawabnya seperti itu.


"Kalo gitu Nia cocok kan jadi anaknya tante cantik, bik? ", tanya Nia.


"Cocok banget, non", sahut bibik


Ya ampun bibik....., kok makin memperkeruh keadaan sih...?? , pikirku.


Sebaliknya Nia justru kegirangan mendengar jawaban bibik.


"Tuh kan tan.... Nia bilang juga apa?! Tante cantik yang paling cocok jadi mommy Nia besok".


"Iya, non cantik, tolongin non Nia, besok tolong temeni non Nia ke sekolah, non cantik cocok kok jadi mommynya non Nia", sekarang ganti bibik yang minta tolong padaku.


Hegh... Pusing aku!! Di satu sisi aku kasihan sama Nia, nggak tega kalo dia diolok-olok temannya. Tapi aku juga takut kalau sampai keluarga Nia tau, terutama mommy sama daddy-nya, aku takut mereka tersinggung atau pun marah. Aku kuatir mereka salah paham sama aku, secara mereka kan nggak kenal sama aku.


Sebenernya kalo aku pribadi sih pada dasarnya aku tuh nggak keberatan, kan jadi mommy-nya juga cuma tiga jam aja.


Aku diam, sambil terus berpikir gimana sebaiknya.

__ADS_1


"Mau ya tan besok jadi mommy Nia.... Mau ya.... Mau ya.... Please .... ", Nia memohon samvil mengatupkan kedua tangannya di dada.


Aku menarik nafas panjang... "Ok, besok tante bakal temeni kamu ke sekolah" jawabku.


"Yei...! Yeyeye... ! Asiik tante cantik mau jadi mommy Nia.... Thank you, mommy.... ", Nia berteriak kegirangan.


"Nia.....apaan sih? Ini tante, bukan mommy", kataku tegas.


"Tante cantik kok marah, kan tadi sudah mau jadi mommy Nia", tanya Nia


"Kan acaranya besok, bukan sekarang. Jadi msnggil mommy nya juga mulai besok!", sahutku.


"Ya kan Nia harus latihan, supaya besok pas di sekolah nggak salah manggilnya, mom.." Nia kembali memanggilku mommy.


Aduh...anaknya siapa ini ya.... Masih kecil kok sudah encer otaknya, pandai sekali berargumen.


Akhirnya aku mengalah. "Oke Nia boleh panggil tante dengan sebutan mommy cuma hari ini sama besok saat di sekolah, sepulang sekolah harus panggil tante lagi. Janji....", kataku sambil mengajak Nia janji kelingking.


Nia diam aja, tidak merespon, aku nggak tau apa yang lagi dipikirkan Nia.


"Kalo Nia nggak mau janji, besok tante nggak mau ke sekolah Nia", ancamku.


"Ya deh... Nia mau janji", ditautkannya kelingkingnya ke kelingkingku.


"Makasih mommy... Nia sayang sama mommy", Nia memeluk dan menciumku.


Setelah Nia menhabiskan makannya, bibik mengajaknya pulang. "Non Nia, kita pulang yuk... Hari ini kan non Nia ada les piano...".


"Iya, bik. Mommy cantik Nia pulang, ya.... Besok sebelum ke sekolah Nia jemput mommy di sini, ya.... ".


Ini anak lemes bener ya mulutnya..., Nia dengan entengnya dan nggak canggung sama sekali manggil aku mommy.


Aku cuma bisa geleng kepala ngeliat sikap Nia. Akhirnya aku cuma menjawab, "Ya, sayang.... ".


Aku gandeng tangan Nia dan kuantar ke depan, menuju ke mobilnya.


KEESOKAN HARINYA....


Jam menunjukkan pukul 07.30, saat Nia datang, begitu masuk cafe Nia langsung teriak.... "Mommy cantik.... Nia udah dateng.... Mommy.... "


Aku segera mengambil tas ku dan berjalan mendekati Nia.


"Mommy, kita kompakan, baju kita kembaran warnanya... ", celetuk Nia.


Eh.., kok bisa ya... Padahal kan nggak janjian, aku sama Nia bisa sama-sama pakai dress warna pink.


"Wah... Jodoh ini, non... ", sahut bibik. Apa juga maksudnya jodoh... ?? Bibik ngaco deh!!


"Waduh.... mommy sama anaknya kompak banget ya.... bajunya sama-sama pink, wajahnya juga sama-sama cantik. Bu Vania sudah pantes jadi mommy, lo.... ", komentar Rina.


"Iya bu, ibu pantes jadi momny nya Nia" tambah Fitri.


"Kita itu kan cuma mengungkapkan apa yang kita lihat, bu. Memang kenyataannyya kalian itu sudah seperti ibu dan anak beneran", Ani ikutan komen.


"Kalian ini apaan sih? Pagi-pagi sudah ribut!! Sana beberes mumpung masih pagi, belum ada tamu ! ", tegurku.


"Iya, bu.... ini juga sambil kerja, kom", sahut Rina yang sedang mengelap etalase cake.


"Ya sudah... Saya tinggal bentar, ya... Jaga cafe yang bener.... ", kataku pada anak buahku.


"Ya, bu", jawab mereka kompak.


"Bye mbak Rina, bye mbak Ani, bye mbak Fitri...", pamit Nia dua orang karyawanku yang ada di sana.


"Bye Nia... ", balas Rina, Ani dan Fitri sambil melambaikan tangan.


"Mommy nya digandeng terus, ya.... ", canda Ani.


"Iya, mbak Ani", jawab Nia polos


Sesampai di sekolah, sudah lumayan ramai, di depan ada beberapa guru yang menyambut kedatangan kami.


"Miss Angel, Miss Silvy, ini mommy Nia", Nia mengenalkan aku pada guru kelasnya


Kami pun bersalaman," mommy-nya Nia cantik ya...., sama kayak Nia", komentar salah satu guru itu. Nia tampak tersenyum senang.


Aku hanya tersenyum kecil. Salah satu dari guru itu mengantar kami ke aula.


Saat memasuki aula, dan bertemu dengan teman-temannya, Nia langsung memamerkan aku sebagai mommy nya.."Nih liat... Aku dateng sama mommy aku. Aku punya mommy, ini mommy aku..."


Sesaat setelah pamer, tiba-tiba Nia memanggil seorang anak cowok, "Bernard... Bernard... Sini kamu! "


"Apa? ", , jawab seorang anak cowok sambil mendekati kami


"Ini Mommy...ini yang namanya Bernard, dia tuh suku ngejek Nia katanya Nia nggak punya mommy. Eh, Bernard kamu liat ya....! Ini mommy aku! ", Nia memarahi temennya dan mengadu padaku.


Kulihat anak itu sedikit takut, dia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Nia..., Bernard..., sama temen itu harus rukun nggak boleh saling mengejek, nggak boleh berantem, ya.... Ayo damai ! salaman !". Akhirnya Bernard dan Nia bersalaman.


Tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekati kami katanya, "Hayo Bernard nakal, ya....bunda nggak suka ya kalo Bernard seperti itu sama temen. Ayo minta maaf sama Nia juga sama tante". Rupanya itu bundanya Bernard.


"Bernard minta maaf, tante. Nia maafin aku, ya.. ", kata Bernard.


"Ya", jawab Nia sedikit ketus.


"Nia nggak boleh gitu.. kan Bernard sudah minta maaf...ayo jawabnya yang bener", aku menegur Nia


"Ya, Bernard", jawab Nia dengan manis.


"Nah... gitu dong. Anak baik harus mau memaafkan, ya...", aku menasehati Nia.


Nia mengangguk, " Iya, mommy".


"Ya Sudah...setelah ini Bernard harus temenan sama Nia, ya... nggak boleh betantem lagi", kataku.


"Ya tante", jawab Bernard.


"Ya mommy", jawab Nia.


Akhirnya aku dan bundanya Bernard berkenalan. Kami pun mencari tempat duduk.


Tempat duduk yang disediakan di aula ini sudah di atur per kelas, anak dan ibunya duduk bersebelahan. Tiap kursi sudah ditulisi nama siswa, jadi nggak ada lagi yang berebut tempat duduk.


Saat kami sudah duduk, "Mommy ayo foto dulu pake hp mommy", ajak Nia.


Aku pun segera mengambil ponselku. Beberapa kali kita selfie sampai acara dimulai.


Seperti biasa, acaranya sambutan dari kepala sekolah, terus hiburan dari siswa-siswi, tiap kelas menampilkan dua acara.


Kelas Nia menampilkan modern dance, tapi Nia nggak ikut. Nia tampil solo nyanyi lagu judulnya BUNDA, diiringi permainan piano oleh gurunya. Suara Nia bening dan empuk, aku nggak nyangka suara Nia bagus kalo nyanyi.


Aku merekam penampilan Nia dengan ponselku. Denger Nia nyanyi lagu itu aku sangat tersentuh, aku sampe nangis, karena aku tau sedikit cerita tentang Nia.


Setelah Nia nyanyi, banyak yang memberi tepuk tangan sambil berdiri, termasuk aku. Andai mommy dan daddy Nia ada di sini, pasti mereka bangga pada Nia, pikirku.


Akhirnya tiba di acara puncak, semua ibu duduk, anaknya berdiri di hadapan ibunya sambil memegang setangkai bunga mawar.


Guru di depan mengucapkan kata-kata yang harus diikuti oleh para siswa...


"Bunda terimakasih untuk kasih sayang dan perhatian bunda padaku. Untuk membalas kebaikan bunda aku berjanji aku akan berusaha melakukan yang terbaik, sehingga suatu saat nanti aku bisa membuat bunda bangga padaku. Aku sayang sama bunda".


Setelah itu siswa memberikan bunga pada ibunya masing-masing, tentu saja ditambah peluk cium.


Meski aku cuma mommy untuk tiga jam saja , tapi aku merasakan hatiku berdesir saat mendengar kata-kata itu. Apalagi saat Nia memeluk dan menciumku. Aku sangat terharu dan jadi baper.


Aku nggak tau apa yang ada di pikiran Nia, tapi aku melihat mata Nia merah dan basah. Nia mengusap matanya dengan tangan kecilnya, aku bisa melihat masih ada bagian yang basah di pipinya. Mungkin Nia keinget sama mommy dia yang sebenernya.


Poor you, Nia... Kuusap air matanya dengan lembut, kupeluk Nia erat.


Doa bersama menjadi penutup acara itu. Saat akan keluar aula, tiap orangtua dan anaknya mendapatkan goody bag.


Kami pun segera pulang, ke cafe tentunya.


Nia di ruang kerjaku sedang menikmati makanan dari sekolahnya tadi, disuapi bibik. Jatahku kuberikan pada bibik.


"Mommy thank you, sudah nemeni Nia hari ini", kata Nia sambil mengunyah makanannya.


"Sama-sama, sayang... ", jawabku


"Tapi sesuai janji Nia kemaren, Nia nggak boleh panggil mommy lagi, panggilnya balik ke tante lagi, ya.... ", aku mengingatkan Nia.


"Iya, Nia nggak panggil mommy, Nia panggilnya tante mommy", sahut Nia dengan entengnya.


"Kok tante mommy sih? Kalo gitu kan sama aja, Nia.... ", protesku.


"Ya nggak samalah.... Tante mommy itu tante-tante yang kayak mommy. Kalo mommy aja itu ya mommy yang beneran", jawab Nia nggak mau kalah.


"Ya kan bik? Tante mommy sama mommy itu kan nggak sama, ya...?! ", Nia mencari dukungan dari bibik. Dan bibik lagi-lagi berpihak pada Nia.


"Iya, nggak sama non Nia".


Hadeh..... Pacar aja nggak punya sudah dipanggil mommy meskipun pake embel-embel tante. ...


***********


Halo semua


Author berharap kalian masih setia mengikuti kelanjutan cerita RASA ITU ADA.


Author usahakan bisa tiap hari up.


Supaya author makin semangat nulis cerita ini, dukung author dong dengan vote, like dan komen. Aku tunggu ya.....


Sampai ketemu di episode selanjutnya...

__ADS_1


Dah....


salam 😇😊😘😀😍😎


__ADS_2