
Gio dan Nia tadi mengantar aku dulu, sebelum mereka pulang. Saat ini aku sudah santai, rebahan di tempat tidur. Terdengar ada suara panggilan, kulihat ponselku, ternyata ada video call dari Gio. Segera kuterima panggilan itu.
"Halo sayangku.... ", sapa Gio saat melihat aku.
"Hai...., sudah nyampai dari tadi?" tanyaku
"Sudah setengah jam-an. Love, kamu mau nggak aku boncengin naik motor?" Tiba-tiba Gio ngajak naik motor.
"Memang kenapa? Tumben banget ngajak naik motor?" aku balik bertanya
"Dulu, waktu belum ketemu kamu, hampir setiap hari Sabtu dan Minggu aku selalu menyisir jalan mulai pagi sampai petang naik motor, berharap bisa ketemu kamu di jalan."
"O ya? Kok sekarang nggak pernah ngeliat kamu naik motor lagi?" tanyaku
"Setelah berhasil nemuin kamu, motorku pensiun", jelas Gio.
"Terus kenapa sekarang ngajak naik motor lagi?" tanyaku.
"Tadi pas perjalanan pulang, di lampu merah, aku ngeliat cowok cewek lagi boncengan naik motor mesra banget... Aku jadi pengen boncengan kayak gitu sama kamu", sahut Gio.
"Haha... Kamu ini ada aja ! Masak ngeliat orang boncengan ngiri sih?!" kataku sambil tertawa.
"Mau ya..., besok pagi aku jemput, aku bonceng naik motor, ya?!" Gio kembali mengutarakan keinginannya untuk boncengan naik motor.
"Boleh juga dicoba. Dari dulu kita pacaran nggak pernah naik motor, ya... Aku jadi pengen ngerasain pacaran naik motor. Kata temen kantor aku dulu, pacaran naik motor lebih terasa sensasinya daripada naik mobil." Aku menyetujui ajakan Gio.
"Oke, besok kita coba dan kita rasakan gimana sensasinya pacaran naik motor. Aku sudah nggak sabar nunggu besok. Love, besok aku jemput pagian ya, jam 05.30 gitu nggak apa kan?" Gio memastikan.
"Siyap bos.... "
"Nggak usah sarapan, love.. Nanti kita sarapan di jalan aja", kata Gio.
"Oke.... ", sahutku.
"Bawa jaket, ya ! soalnya kalau pagi kan masih dingin."
"Iya, sayang... "
"Ya udah, buruan bobok gih..., biar besok bisa bangun pagi"
"Ok, nite sayang.... See you tomorrow", aku mengucap salam.
"Kiss dulu dong...", minta Gio
"Muach... ", kuberi cium jauh
"Tq. Muach... Selamat tidur, mimpiin aku, ya...bye sayang.." Gio membalas cium jauhku dan mengakhiri panggilan.
Aku harus segera tidur, supaya besok nggak kesiangan. Aku memasang alaram pukul 04.30.
KEESOKAN HARINYA....
Pukul 04.30, alaramku berbunyi, kumatikan alaramku dan aku segera bangun, langsung ke kamar mandi.
Jam 05.10, aku sudah siap. Aku ke ruang makan, mau bikin susu coklat dulu. Pagi gini minum susu coklat hangat memang paling nikmat. Aku juga bikin kopi yang aku taruh di botol kecil, buat Gio.
Aku dengar suara motor, aku segera keluar, beneran Gio yang datang. Bibik sudah membukakan pintu pagar, jadi aku pakai jaketku sambil jalan keluar menghampiri Gio.
Gio pake motor cowok warna biru metalik, model jok motornya yang bagian belakang lebih tinggi. Gio pakai kaos dipadu celana jeans, sama jaket. Gio dengan dananan seperti itu terus bawa motor cowok.... kereeenn banget !!
Beberapa saat aku sempat terpaku mengagumi Gio yang keliatan makin ganteng dan keren pagi ini.
"Morning love... Jangan ngeliatin terus nanti nafsu lo....!"
"Ngomong apa sih?!" kataku sambil mencubit pinggang Gio.
__ADS_1
"Pagi-pagi nggak dikasih morning kiss, malah ducbit, " Gio menggerutu.
"Makanya ngomong yang bener...", kataku
"Haha..., habis kamu ngeliatin aku sampe ileran gitu... "
"Sembarangan.! Masak cewek cakep gini ileran??"
"Eis... pe-de banget ya tunangan aku.... tapi memang bener kok, kamu cakep, love." Kata Gio sambil menarik tanganku, memeluk pinggangku dan mengecup pipiku.
"Nih helemnya ! kamu pakai helem dulu, love.." Gio membantuku mengaitkan helem saat tuh helem sudah nangkring cantik di kepalaku.
"Motornya agak tinggi, kamu bisa naik, love ?"
"Bisalah", sahutku sambil naik dengan berpegangan pada bahu Gio.
"Sudah enak duduknya?"
"Sudah".
"Pegangan dong..." Gio mengambil kedua tanganku dan melingkarkan di pinggangnya. Motor Gio pun mulai melaju.
Udara pagi sudah sejuk, ditambah naik motor, lebih terasa mantap sejuknya udara pagi.
"Dingin, love?" tanya Gio
"Ehm... dikit", sahutku.
"Peluk aku yang erat kalo dingin, love", kata Gio sambil mengelus punggung tanganku.
"Tangan kamu dingin, love. Masukin tangan kamu ke kantong jaket aku aja", kata Gio lagi
"Nggak usah, enakan gini. Cuma dingin dikit nggak apa, yang", sahutku.
Kami berhenti sebentar di lampu merah. Entah karena udara yang agak dingin atau memang aku yang lagi kebawa suasana.... Dari tadi aku memeluk Gio erat, kedua tanganku bertemu di perut Gio dan daguku kutempelkan di bahu kiri Gio. Kulihat Gio tersenyum menatapku dari kaca spion. Aku pun ikutan tersenyum.
"Aku suka kamu manja kayak gini," sahut Gio sambil menepuk-nepuk punggung tanganku.
Lampu lalu lintasnya sudah hijau, motor Gio kembali melaju. Sepertinya matahari belum mau menampakan diri, karena cuaca sedikit mendung, sehingga sejuknya, udara pagi masih terasa.
Gio menghentikan motornya, di depan kedai bubur ayam. "Ayo kita sarapan bubur di sini dulu , love...," ajak Gio.
"Ok", sahutku sambil turun dari motor. Gio membantu melepaskan kaitan helemku.
"Pak bubur ayamnya dua, teh manis hangat dua ya..." Gio memesan ke bapak penjual bubur sebelum kita duduk.
"Aku ada bawa kopi, yang. Kamu mau minum kopi?" kataku sambil mengeluarkan botol kecil berisi kopi dari tasku.
"Hm...boleh." Gio membuka botol itu dan langsung meminum setengah botol kopi itu. "Thanks, love".
Pesanan kami sudah datang, kami pun segera makan. Sarapan bubur di pagi hari memang nikmat... Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan lagi.
Kami memang nggak ada tujuan pasti sih, rencana awal kami cuma jalan-jalan naik motor. Cukup lama kami boncengan keliling Surabaya. Sepanjang jalan kami ngobrol ringan, diselingi candaan juga, meskipun kami ngomongnya harus sedikit lebih keras.
Beneran lo pacaran dengan boncengan gini kerasa lebih mesra....dibanding naik mobil.
Setelah cukup lama boncengan, pinggang mulai pegal, kebetulan posisi kami di dekat apartemen Gio, jadinya Gio langsung memarkir motornya di basement apartemen nya.
"Love, istirahat di apartemen bentar, ya... Lama nggak naik motor, pinggangku pegal, " kata Gio.
"Iya, nggak apa. Pinggangku juga pegal, kok," sahutku.
Begitu masuk apartemen, aku langsung lari ke toilet, aku sudah nggak kuat, aku sudah nahan dari tadi soalnya. Ngeliat aku lari-lari Gio menertawakan aku.
"Haha.. Buruan, love ! awas ngompol !!", teriak Gio
__ADS_1
Keluar dari toilet, aku ngerasa lega banget. Aku ngerasa haus, maka aku langsung menuju kulkas, "Yang, aku ambil minuman di kulkas, ya... ", teriakku.
"Ya, ambil aja. Aku juga haus, kok", sahut Gio
Aku ambil orange juice dari kulkas dan dua buah gelas, langsung aku tuang dan aku minum. Wuih.. segernya... Aku langsung habis dua gelas, Gio juga.
"Gimana love? Suka nggak tadi naik motor? ", tanya Gio
"Suka banget", sahutku sambil mengangguk.
"Aku juga seneng banget pacaran naik motor kayak tadi, kayaknya lebih gimana gitu..., kapan-kapan kita ulangi lagi, ya....," ajak Gio.
"Boleh.."
"Love, dua minggu lagi kan kita nikah..., kata mama mulai Sabtu minggu depan kita nggak boleh ketemu lagi, sampai hari pernikahan kita.
"Iya, waktu itu mami juga bilang gitu. Kita cuma boleh telponan sama chat aja, video call juga nggak boleh.", jawabku.
"Kalo kangen gimana, ya... ?"
"Ya telpon sama chat itu solusinya", sahutku.
"Aku nggak suka deh pake ada aturan seperti itu. Kayaknya seminggu itu nanti bakal bikin aku bete, deh... "
"Ya mau gimana lagi, yang? Aturannya gitu...", kataku.
"Kamu kok keliatannya nyantai, love... kamu nggak kangen apa seminggu kita nggak boleh ketemu?" tanya Gio
"Ehm... Nggak tau, kan belum pernah pisah seminggu, tapi kayaknya bakal kangen", jawabku dengan polos.
"Jadi selama ini aku tinggal beberapa hari ke Singapore, ke Jakarta, waktu itu kamu nggak pernah kangen sama aku?" kayaknya Gio mulai kesel.
"Kangen ! Tapi setelah itu kan kita video call, jadi nggak begitu terasa", jawabku jujur, tanpa aku sadar kalo Gio lagi kesel dengan jawabanku.
"Kalo aku, meskipun kita sudah video call, tapi aku masih kangen, masih pengen ketemu kamu langsung, love. Meskipun aku di Surabaya, sehari aja nggak ketemu kamu, aku ngerasa ada yang kurang." Gio menjelaskan apa yang dirasanya.
"Apa kamu nggak cinta aku, love?" tanya Gio.
"Ih.. Ngomong apaan sih? Kalo aku nggak sayang sama kamu, apalagi nggak cinta sama kamu, aku nggak bakalan terima lamaran kamu dan aku juga nggak bakalan mau kawin sama kamu meskipun orangtuaku memaksa," aku langsung emosi, denger omongan Gio.
"Ya wajar kan aku ragu, orang kamu tadi bilang kita jauhan beberapa hari tapi kamunya nggak kangen", Gio merajuk.
"Yang bilang nggak kangen siapa? Aku kan bilang, kangen tapi karena kita bisa video call, rasa kangennya nggak begitu terasa," jelasku masih dengan nada kesel.
"Love, tadi awalnya aku lo yang kesel, kok sekarang malah kamu yang lebih ngegas, ya?"
"Habisnya aku sebel sama kamu! Pake ngomong nggak cinta, segala ! Aku kan pernah bilang kalo kamu nggak percaya sama aku, kamu ragu sama aku mending dipikirin lagi, atau diundur aja dulu nikahnya, mumpung undangan belum dibagi" sahutku makin nyolot.
"Love, dengerin ya !! Nggak ada cetitanya diundur atau dipikirin lagi!! Sudah fix kita akan nikah dua minggu lagi, titik !" Kata Gio, nggak mau dibantah.
"Kalau memang sudah fix mau nikah, harus punya rasa percaya dan yakin sama pasangannya!. Lha kamunya kurang yakin dan percaya gitu sama aku... Memang apa, sih yang bikin kamu meragukan aku?" Akhirnya, pertanyaan yang selama ini sering muncul di pikiranku, aku keluarkan.
"Sori kalo kamu kesel gara-gara omongan aku. Aku tuh terlalu cinta sama kamu, love dan aku takut kamu tinggal. Apalagi waktu itu ada Vino, ada Jasson, aku takut kamu terpikat sama cowok lain dan akhirnya ninggalin aku. Secara aku dulu pernah lalai, aku takut kena karma. Akhirnya aku jadi seperti ini, seperti nggak percaya sama kamu, padahal aku tau kamu punya cinta yang tulus buat aku, secara kita sudah pisah sekian lama, tapi kamu masih mau terima aku lagi." Gio minta maaf, karena dia ngerasa salah.
"Kalau kamu sadar akan hal itu, harusnya kamu percaya dan nggak ragu sama aku. Yang, aku harap ini terakhir kali kita ribut masalah kayak gini, kalau lain kali tertulang lagi, aku bakal diemin kamu," kataku.
"Iih.. Jangan didiemin dong! Mending kamu marah, cubit atau pukul aku, tapi jangan pernah diemin aku, love." Protes Gio, dia nggak setuju.
"Nggak ada tawar menawar !"
"Ya deh, tapi senyum dulu, buang semua jengkel dan keselnya!" Gio menangkup pipiku, menatapku dalam. Lagi-lagi aku melihat ketulusan dan cinta dari pancaran sepasang mata coklat itu yang bikin aku meleleh.
Akhirnya aku tersenyum, Gio menarikku dalam pelukannya. Diciumnya puncak kepalaku beberapa kali.
"I love you... I love you more and more....", bisik Gio di telingaku.
__ADS_1
Aku balas memeluk Gio. Sampai kapan pun aku akan selalu menginginkan pelukan ini, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, sayang..., bisikku dalam hati.
*****************************